NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Bos Naga Emas

"Nyonya Bos?"

Kayla mengulang sapaan itu sambil menatap Adrian.

Laki-laki itu mengulurkan tangan, seolah dua baris staf yang membungkuk bukan hal aneh.

"Kita sebaiknya masuk sebelum mereka pegal."

Kayla turun dari mobil tanpa melepaskan tatapannya. "Interogasimu belum selesai."

"Saya sudah menyiapkan ruang yang kedap suara," kata Manajer Mahdi dengan wajah serius.

Nico batuk untuk menyembunyikan tawa.

Naga Emas bukan sekadar restoran. Lantai pertama dipenuhi ruang makan privat, sedangkan lantai atas memiliki ruang pertemuan dan lounge anggota. Ornamen emas pada dinding tidak berlebihan, tetapi jelas mahal.

Setiap staf yang berpapasan menyapa Adrian dengan hormat. Mereka menyebut Kayla nyonya bos tanpa sedikit pun ragu.

Di dalam ruang VIP, Vincent dan Sean sudah menunggu.

"Akhirnya bos membawa pemilik rumah ke tempat kerjanya," kata Vincent.

"Saya kira tempat kerja Adrian ada di kokpit," balas Kayla.

Sean menggeser setumpuk dokumen menu agar Kayla bisa duduk. "Itu pekerjaan yang memberinya seragam. Tempat ini yang membayar tagihan kami ketika baru dibuka."

Adrian duduk di samping istrinya. "Aku pemegang saham utama bersama Ci Michelle. Mahdi mengelola operasional. Vincent menangani jaringan anggota, Sean membantu urusan keamanan penerbangan kalau ada acara maskapai, dan Nico mengurus terlalu banyak hal."

"Termasuk merahasiakan aset dari istri bos," tambah Nico.

"Gajimu bulan ini perlu ditinjau," kata Adrian.

Pintu terbuka. Ci Michelle masuk membawa amplop merah tebal.

"Angpao untuk pengantin baru." Ia menyerahkannya kepada Kayla. "Bukan dari Gunawan. Dari uangku sendiri, jadi aman diterima."

"Terima kasih, Ci. Tapi ini terlalu tebal."

"Kalau terlalu tebal, salahkan pecahan uangnya."

Michelle duduk dan memesan teh. Ia menceritakan bahwa Naga Emas dibangun enam tahun lalu ketika Adrian menolak masuk Argatama penuh waktu. Modal awal berasal dari hak waris mendiang ibu Adrian yang dikelola keluarga Sanjaya, lalu keuntungan diputar ke perusahaan teknologi logistik dan investasi lain.

"Jadi kalau Herwan bilang Adrian akan miskin tanpa Gunawan, jangan dipercaya," katanya. "Dia bahkan tidak tahu penghasilan anaknya sendiri."

Kayla melirik Adrian. "Berapa banyak perusahaan lagi?"

"Tidak banyak."

"Angka."

"Tiga yang aktif, dua investasi minoritas."

Manajer Mahdi meletakkan laporan bulanan di depan Adrian untuk ditandatangani. Kayla sempat melihat angka jumlah karyawan, program asuransi kesehatan, dan dana pelatihan di halaman pertama.

Adrian tidak sekadar menaruh uang lalu menunggu keuntungan. Ia mengingat nama kepala dapur yang istrinya baru melahirkan, menanyakan perbaikan ruang istirahat staf, dan menolak rencana menaikkan iuran anggota sebelum Mahdi menjelaskan manfaatnya.

Kayla akhirnya memahami perbedaan yang ingin ditunjukkan Adrian.

Kekayaan Gunawan adalah sesuatu yang bisa dipakai keluarga untuk memanggilnya pulang. Naga Emas adalah sesuatu yang dibangun Adrian agar ia bisa memilih jalannya sendiri.

"Dan cicilan besar?"

Vincent tertawa keras. "Cicilan yang dia ceritakan kepada keluarga Halim itu biaya hanggar dan pembelian armada kendaraan perusahaan."

Adrian mengambil teh dengan tenang. "Secara teknis, tetap cicilan."

Kayla mencubit sisi pinggangnya di bawah meja. Adrian hampir tersedak.

Ci Michelle menatap mereka bergantian, lalu tersenyum puas. "Bagus. Ada yang akhirnya bisa menghukum dia."

Percakapan bergeser ke gala beberapa hari lalu. Ketika nama Vanessa disebut, Michelle mendengus.

"Ema masih ingin menjodohkan Adrian dengannya karena mengira Vanessa putri kandung keluarga Wijaya yang sempurna."

"Mengira?" tanya Kayla.

Michelle menurunkan suara. "Ini belum pernah diumumkan. Keluarga Wijaya sendiri masih mencari bukti. Tapi di kalangan lama ada cerita bahwa bayi mereka tertukar di rumah sakit. Vanessa mungkin bukan anak kandung."

Kayla teringat Selina yang menggenggam tangannya terlalu lama di lobi hotel. "Mereka mencari anak yang lain?"

"Sudah bertahun-tahun. Reyner tidak pernah berhenti."

"Apa mereka punya petunjuk?"

"Belum cukup kuat. Jangan bicarakan ini di luar. Kalau salah, akibatnya besar."

Kayla mengangguk. Ia hanya merasa kasihan kepada ibu yang mencari anaknya selama puluhan tahun. Tidak terlintas sedikit pun bahwa cerita itu berkaitan dengannya.

Setelah makan malam, Kayla pergi ke toilet. Ketika keluar, seseorang berdiri di ujung koridor.

Wilson Chandra.

Ia mengenakan kemeja mahal dan bau alkohol. Dua rekan bisnisnya menunggu jauh di belakang.

"Ternyata benar kamu ada di sini," katanya.

Kayla berhenti menjaga jarak. "Minggir."

"Kamu menikahi pilot itu hanya untuk membuatku cemburu?"

"Saya menikah agar tidak perlu mendengar kalimat sebodoh ini lagi."

Wilson mendekat. "Dia akan membuangmu setelah bosan. Kamu tahu siapa yang tetap bisa memberimu hidup nyaman."

Kayla mengangkat ponsel dan mulai merekam. "Ulangi lebih jelas."

Wajah Wilson berubah. Ia mencoba meraih ponsel itu.

Sebuah tangan menangkap pergelangannya sebelum menyentuh Kayla.

Adrian berdiri di antara mereka.

"Saya sudah memperingatkanmu di rumah saya," katanya.

Wilson berusaha menarik tangan. "Lepaskan! Ini urusan saya dengan Kayla."

"Tidak ada urusan antara kalian."

Wilson mendorong bahu Adrian. Dalam satu gerakan, Adrian memutar lengannya dan menjatuhkannya ke karpet koridor. Tidak ada pukulan kedua. Dua petugas keamanan segera menahan Wilson.

"Kalian tahu siapa saya?" teriaknya.

Manajer Mahdi datang membawa rekaman CCTV pada tablet. "Kami tahu. Karena itu bukti masuk tanpa undangan dan pelecehan terhadap tamu sudah disimpan."

Nico menyerahkan selembar surat pernyataan.

"Tulis bahwa Bapak tidak akan mendekati, menghubungi, atau mengirim orang kepada Nyonya Kayla," katanya. "Kalau menolak, kami serahkan rekaman ini kepada polisi dan pihak yang sedang berbisnis dengan Bapak."

Wilson memandang sekeliling. Vincent, Sean, dan empat petugas keamanan telah menutup koridor. Tidak ada jalan untuk berpura-pura bahwa ia korban.

"Kalian mengancam saya."

"Kami menawarkan pilihan hukum sebelum laporan dibuat," jawab Nico.

Wilson akhirnya menandatangani dengan tangan gemetar. Nico memotret dokumen, memeriksa kartu identitasnya, lalu menyuruh keamanan mengantar Wilson ke pintu belakang.

Kayla ikut menandatangani sebagai pihak yang menerima pernyataan. Manajer Mahdi dan satu petugas keamanan menjadi saksi. Rekaman CCTV, rekaman ponsel, dan dokumen dipindai dalam satu folder dengan waktu kejadian tercatat.

"Kalau dia menghubungi sekali saja, jangan jawab panjang," pesan Nico. "Simpan tangkapan layar dan kirim kepada saya."

"Saya juga akan mengirimnya ke polisi kalau ancamannya berulang," kata Kayla.

Adrian mengangguk. Kali ini ia tidak mengambil keputusan atas nama istrinya.

Sebelum pergi, Wilson menatap Kayla penuh kebencian.

"Kamu akan menyesal."

Adrian melangkah setengah langkah ke depan. Wilson segera memalingkan wajah.

Setelah koridor kosong, Adrian memeriksa tangan Kayla. "Dia menyentuhmu?"

"Belum sempat."

"Kamu takut?"

"Lebih jijik daripada takut."

Adrian mengambil ponselnya. "Mulai malam ini, keamanan rumah ditambah."

"Dia sudah menandatangani surat."

"Orang seperti Wilson menganggap tanda tangan hanya tinta sampai ada akibat."

Kayla tidak membantah. Ia menyimpan rekaman suara dan foto surat ke penyimpanan daring, lalu mengirim salinannya kepada Tiana.

Saat mereka kembali ke ruang VIP, ponsel Kayla berbunyi.

Sebuah pesan suara masuk dari nomor luar negeri yang sangat dikenalnya.

Suara laki-laki yang hangat memenuhi pengeras kecil.

"Kayla, ini Om Jack. Aku sudah mendarat di Jakarta. Jangan marah, aku ingin memberi kejutan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!