NovelToon NovelToon
Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:141k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.

Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.

Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.

Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa yang Berani

Saat papan kayu itu terangkat tinggi, suasana di dalam toko seolah membeku dalam ketegangan.

Shut!

Tapi dalam sekejap, sebuah batu kecil melesat entah dari mana dan menghantam kening Mo Jiung dengan tepat.

“Ah!” teriak Mo Jiung kesakitan, tangannya refleks melepas papan kayu yang langsung jatuh ke lantai. Ia memegangi keningnya sambil meringis, tubuhnya sedikit terhuyung.

Keempat temannya langsung panik dan melepaskan cengkeraman mereka dari ketiga pangeran. “Tuan Muda!” seru mereka bersamaan, bergegas mendekat.

Orang-orang di dalam toko juga ikut ribut, beberapa berlari menghampiri dengan wajah cemas. “Apa yang terjadi?” tanya salah satu pelayan dengan gugup.

Mo Jiung masih memegangi keningnya, napasnya memburu karena marah dan sakit. Perlahan ia menurunkan tangannya, dan seketika wajahnya berubah ketika melihat cairan merah di telapak tangannya.

“Darah?” gumamnya tidak percaya, matanya membesar.

Amarahnya langsung meledak, ia mengangkat kepala dan berteriak keras. “Siapa yang berani melukaiku?!” suaranya menggema penuh kemarahan.

Ia menatap sekeliling dengan tajam, membuat semua orang langsung menunduk ketakutan. “Aku ini adik dari Permaisuri Mo Yuuran!” bentaknya. “Siapa pun yang melakukannya akan kubuat menyesal!”

Suasana menjadi sunyi, tak ada satu pun yang berani menjawab. Namun tatapan Mo Jiung perlahan beralih, berhenti pada tiga pangeran di hadapannya.

Matanya menyipit penuh kecurigaan. “Kalian .…” desisnya dingin. “Pasti kalian yang melakukannya!”

Zi Rui langsung melangkah maju dengan wajah kesal. “Jangan sembarangan menuduh!” balasnya keras. “Kami bahkan sedang ditahan saat itu!”

Zi Cheng menatap lurus tanpa gentar. “Gunakan akalmu sebelum berbicara,” katanya dingin. “Kalau kami yang melakukannya, kau tidak akan berdiri seperti itu sekarang.”

Zi Xin menyilangkan tangan, ekspresinya datar namun tajam. “Kami tidak punya waktu untuk bermain kotor seperti yang kau pikirkan,” tambahnya singkat.

Amarah Mo Jiung semakin memuncak tentu tidak percaya dengan alasan itu, rasa sakit di keningnya justru membuatnya kehilangan kendali.

Ia menunjuk tajam ke arah tiga pangeran dengan wajah penuh kebencian. “Prajurit!” bentaknya keras. “Potong tangan mereka!”

Perintah itu membuat suasana toko seketika gempar, namun bukan karena penolakan.

Beberapa orang justru berbisik dengan penuh semangat, menikmati pemandangan itu. “Berikan saja pelajaran pada mereka,” terdengar suara samar dari kerumunan.

Prajurit dari kediaman Jenderal Mo yang ikut mengawal segera melangkah maju tanpa ragu. “Baik, Tuan Muda,” jawab mereka patuh, tangan sudah bersiap menangkap target.

Melihat itu, Zi Cheng dan Zi Xin langsung bergerak cepat, berdiri di depan Zi Rui untuk melindunginya. “Tetap di belakang,” ujar Zi Cheng singkat dan tegas.

Keduanya memasang kuda-kuda seperti yang mereka pelajari di akademi, tubuh mereka tegang siap menghadapi serangan. Zi Xin menatap tajam para prajurit, meski jelas perbedaan kemampuan sangat jauh.

“Jangan sentuh adik kami,” katanya dingin.

Tapi prajurit itu jelas bukan tandingan mereka. Dalam beberapa gerakan cepat, pertahanan Zi Cheng dan Zi Xin dipatahkan dengan mudah.

Zi Rui yang mencoba membantu juga ikut ditangkap, ketiganya kini tidak berdaya di bawah cengkeraman kuat para prajurit.

Melihat pemandangan itu, senyum puas muncul di wajah Mo Jiung. Ia menyeka darah di keningnya dengan angkuh. “Sekarang kalian tahu akibatnya,” katanya sinis.

Ia mengangkat dagunya, matanya penuh kemenangan. “Lakukan,” perintahnya tanpa ragu. “Potong tangan mereka.”

Zi Cheng langsung berusaha memberontak, urat di tangannya menegang. “Berhenti!” bentaknya marah. “Kau sudah melampaui batas!”

Zi Xin juga berusaha melepaskan diri, meski sia-sia. “Kau akan menyesal melakukan ini,” katanya tajam, napasnya mulai memburu.

Sementara itu, Zi Rui menatap kakaknya dengan cemas namun tetap mencoba melawan. “Lepaskan kami!” serunya.

Para prajurit tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun.

Saat salah satu prajurit mengangkat pedangnya, bersiap menebas tangan Zi Xin, suasana menjadi begitu sunyi hingga napas pun terasa berat. Namun dalam sekejap, sebuah jarum kecil melesat cepat dari arah yang tak terlihat dan menancap tepat di leher prajurit itu.

Shut!

Jleb!

Prajurit itu langsung terhenti, tubuhnya menegang sebelum akhirnya roboh ke lantai.

Brugh!

Mulutnya berbusa, matanya membelalak sebelum napasnya benar-benar terputus.

“A–apa?” suara seseorang bergetar, dan seketika seluruh toko diliputi kepanikan. Orang-orang mundur beberapa langkah, wajah mereka dipenuhi ketakutan.

“Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?” tanya orang-orang di sana merasa terkejut.

Mo Jiung membeku di tempatnya, matanya membesar melihat prajuritnya jatuh tak bernyawa. Untuk kedua kalinya hari itu, ia dipermalukan di depan banyak orang.

“Siapa yang berani melakukan ini?!” teriaknya marah, suaranya menggema penuh amarah dan sedikit ketakutan yang tersembunyi. “Keluar sekarang juga!”

Ia mengepalkan tangan, menahan rasa sakit di keningnya. “Siapa pun yang berani menentangku bersiaplah untuk mati!” bentaknya lagi.

Orang-orang di dalam toko saling berpandangan, tak satu pun berani bersuara. Ketegangan terasa begitu pekat, seolah bahaya mengintai dari segala arah.

Lalu, sebuah suara terdengar jelas dari arah pintu masuk. “Aku.”

Suara itu tenang, namun membawa tekanan yang membuat semua orang tanpa sadar menahan napas. “Aku yang berani.”

Mo Jiung langsung menoleh dengan wajah penuh amarah, siap memaki tanpa ampun. “Kau—” ucapannya terhenti begitu melihat siapa yang berdiri di sana.

Di ambang pintu, sosok wanita berdiri tegak dengan aura dingin yang menekan seluruh ruangan. Tatapannya tajam, wajahnya tanpa ekspresi.

Mo Jiung terkejut, suaranya tercekat. “Kak … Kakak?”

Permaisuri Mo Yuuran melangkah masuk perlahan, setiap langkahnya membuat suasana semakin mencekam. Ia menatap lurus ke arah Mo Jiung, tanpa sedikit pun emosi di wajahnya.

“Aku datang,” katanya datar. “Dan sepertinya aku datang tepat waktu.”

1
Evi 060989
up
Ari Peny
ini benar selir apa ibu suri y
Ari Peny
moga ketiga pangeran terlindungi
💟노르 아스마💟
ayooo...up lagi dong hyung
Osie
habislah para selir dibantai yuuran..jgn ksh celah ya yuuran..langsung cras lepaskan dr tubuh mereka
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Duo selir gatel jadi tumbal ibu suri selir maruk /Facepalm/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Nah ibu Yuran datang
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Ari Peny
kok pangeran masih gk d kasih pelayan n pengawal c
Cantika Jelita
😘😘
Ari Peny
kok keluar dr p.peonik bknnya skrang tinggal d p. naga
Ari Peny
la aq suka ini jd cerdas dan tegas setelah kmbl
chataleya
wah... selir tau diri emang.
ku tunggu pembalasan permaisuri pada mereka
Aditya hp/ bunda Lia
penggal kepalanya si mantan selir itu lalu gantung didepan gerbang istana tuman wae
merry
apkah yuran bkln tebas pala ibu Tri ya suami ya
Lyvia
untungnya g terlambat slamatin mereka 😃
Ridho Sitanggang
cerita yg selalu di nantikan
Ahmad Hamball
lanjut thor
SENJA
hmmmm cari mati mereka 😤
SENJA
satu juga kalau kalian lemaaah yah kalian kalah woeee sampah 🤮🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!