Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Sementara itu, di area kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, suasana sibuk lalu lalang penumpang tak mampu meredakan gumpalan kekesalan di wajahnya David. Setelah menempuh penerbangan panjang, pria itu melangkah lebar disusul istrinya, Amanda. Langkahnya tergesa, jemarinya dengan gusar mengusap layar ponsel untuk menghubungi putra tunggal mereka, Aldo, yang seharusnya sudah bersiap menyambut.
Di tempat lain, di dalam sebuah unit apartemen mewah di pusat kota, suasana justru memanas oleh pergulatan gaira4h.
"Sayang... Kau benar-benar jago kalau main beginian!" bisik Aldo dengan napas memburu. Pria itu berbaring terlentang di atas tempat tidur tanpa sehelai benang pun, menikmati permainan sengit bersama wanita cantik yang berada di atas tubuhnya sejak sejam lalu.
"Kau baru tahu ya kalau Dona yang cantik ini selalu bisa membuatmu melayang di udara?" sahut Dona penuh percaya diri. Ia semakin menaikkan ritme permainannya, membuat Aldo merem-melek menikmati sensasi memabukkan itu.
Namun, di tengah puncak kenikmatan mereka, ponsel Aldo yang tergeletak di atas nakas mendadak berdering nyaring. Aldo sempat mengabaikannya, namun dering berulang yang memekakkan telinga akhirnya mengusik kenyamanannya.
"Ish! Ganggu saja... Tidak tahu apa aku sedang bersenang-senang!" gerutu Aldo kesal seraya menghentikan gerakannya.
Dengan malas ia meraih ponsel tersebut. Namun, begitu nama sang ayah tertera jelas di layar, matanya seketika membelalak kaget. Kepanikannya memuncak.
"Dona, sudah dulu! Papahku telepon, sepertinya orang tuaku sudah tiba di bandara!" perintah Aldo terburu-buru.
Dona mendengus pelan, namun menuruti kemauan kekasihnya. Ia menghentikan pergerakannya, lalu merangkak pelan dan menyandarkan kepalanya di dada bidangnya Aldo yang masih bersimbah keringat.
"Sayang... jangan lupa kamu kenalkan aku dengan kedua orang tuamu ya? Aku tidak mau hubungan kita cuma sebatas di atas ranjang seperti ini saja. Ingat, tiga bulan yang lalu aku sudah mengikuti keinginanmu untuk menggugurkan anak kita!" ujar Dona menuntut kepastian.
"Iya, Sayang, aku janji! Setelah ini aku pasti akan mengenalkan kamu pada kedua orang tuaku. Tapi sekarang kamu diam dulu ya, aku tidak mau Papah mengomel," bisik Aldo menenangkan Dona seraya menggeser tombol hijau di layarnya.
"Iya, Pah... Ada apa?" sapa Aldo berakting seolah-olah sibuk.
"Anak sialan! Kau ke mana saja, hah?! Mana orang yang katanya mau jemput Papah?!" suara David menggelegar dari balik telepon, menyemburkan amarah yang ditahannya sejak tadi.
Aldo meringis, mencoba mengarang alasan secara spontan. "Maaf, Pah... Aldo sedang sangat sibuk dengan urusan pekerjaan di kantor. Tapi tadi Aldo sudah menghubungi Pak Santana untuk segera menjemput Papah dan Mamah. Tunggu saja sebentar, mungkin beliau terjebak macet di jalan. Ya sudah ya Pah, Aldo sedang rapat penting, tidak bisa diganggu!"
Tanpa menunggu balasan dari sang ayah, Aldo langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia melempar ponselnya kembali ke nakas, lalu berbalik menatap Dona dengan seringai liar, melanjutkan kembali aktivitas terlarang mereka.
Di bandara, David menatap layar ponselnya yang mendadak mati dengan napas memburu dan rahang mengeras. Rasa murka memuncak di dadanya mendapati perlakuan sang putra.
"Dasar anak sialan! Kau benar-benar tidak becus mendidik putramu!" omel David kasar sambil menoleh penuh kekesalan ke arah Amanda.
Amanda yang tak tahu apa-apa dan merasa dipojokkan di depan umum langsung membelalakkan mata, tidak terima disalahkan.
"Loh! Kenapa jadi aku yang kena omel, Pah?!" balas Amanda kesal sambil menepis tangan suaminya. "Anakmu itu memang keras kepala dari dulu, jangan melimpahkan kesalahanmu padaku!"
*
*
Aruni mendadak terbangun dari tidurnya. Saat melirik jam dinding di kamar, matanya membelalak kaget. Hari sudah melewati pukul sebelas siang!
Dengan langkah terburu-buru dan rambut yang sedikit berantakan, ia berlari ke luar kamar. Bik Sumi yang sedang menyapu lantai di ruang tengah sampai terkejut melihat majikannya panik.
"Non Aruni mau ke mana terburu-buru begitu?" tegur Bik Sumi heran.
"Bik Sumi lupa ya tidak membangunkan Aruni? Aruni telat menjemput anak-anak di sekolah!" seru Aruni panik sambil celingukan mencari kunci motor.
"Loh... Bibi kira Ayahnya si kembar yang menjemput. Makanya Bibi tidak berani membangunkan Non Aruni yang kelihatan lelah sekali," sahut Bik Sumi jujur.
Belum sempat Aruni membalas, suara deru mesin mobil mewah terdengar berhenti tepat di pekarangan rumah. Tak lama berselang, dua suara khas bocah cempreng menggema riang.
"Bunda.... Kami pulaaang!" teriak Rayyan dan Zayyan serempak.
Napas Aruni yang tadinya memburu perlahan berangsur lega. Ia bergegas menuju pintu depan. Di sana, Edgar berjalan mengiringi si kembar dengan kemeja yang digulung hingga siku. Tatapan matanya yang tadi sempat gugup seketika berubah teduh saat menangkap sosok Aruni.
‘Baru ditinggal beberapa jam saja aku sudah serindu ini padanya dan anak-anak. Bagaimana kalau sampai berhari-hari nanti di Jakarta? Bisa mati berdirikah aku karena rindu?’ batin Edgar menggebu, bibirnya tak tahan untuk tidak mengulas senyum manis.
Aruni melangkah mendekat, mencoba menutupi rasa canggungnya. "Terima kasih, Tuan, sudah menjemput anak-anak. Aku sangat khawatir karena tadi sempat ketiduran."
Edgar terkekeh pelan. "Sama-sama, Aruni. Oh iya..." Ia menyodorkan ponsel pintarnya yang canggih ke hadapan Aruni. "Boleh aku minta nomor ponselmu? Jadi kalau ada hal seperti ini lagi, aku bisa mengabarimu terlebih dahulu. Dan saat aku kembali ke Jakarta nanti, aku bisa menanyakan kabar anak-anak padamu."
Aruni sempat bergeming sejenak. Namun, mengingat pria di hadapannya adalah ayah kandung si kembar yang memang berhak tahu perkembangan anak-anaknya, Aruni meraih ponsel tersebut dan mengetikkan rentetan angka di layarnya.
"Sudah, Tuan," ujar Aruni mengembalikan ponsel tersebut.
"Terima kasih," balas Edgar sumringah. "Nah, sesuai janjiku tadi, aku ingin mengajak kalian jalan-jalan. Kamu ganti baju dulu sana bersama anak-anak, aku tunggu di sini."
Bik Sumi yang memperhatikan dari samping segera menyela dengan sungkan. "Tuan, sebaiknya tunggu di dalam saja... Maaf kalau rumah ini begitu kecil dan sempit."
Edgar tersentak pelan, merasa tak enak hati. "Eh, bukan begitu maksud saya, Bu..."
"Sudah, tidak perlu dijelaskan Tuan. Ayo mari, silakan masuk dulu!" potong Bik Sumi ramah. Rayyan dan Zayyan pun langsung menarik tangan kiri dan kanan Edgar, memaksanya duduk di sofa ruang tamu.
Sambil melangkah menuju kamar, Aruni sempat menoleh. "Bik, Laras ke mana?"
"Dia di tempat laundry, Non Runi. Kan Non dan anak-anak mau pergi, lagipula Laras memang bekerja di sana. Nanti Bibi juga mau menyusul membantu. Non Runi bersenang-senang saja bersama anak-anak dan Tuan Edgar. Jangan memikirkan pekerjaan terus, sesekali refreshing!" tutur Bik Sumi penuh kasih sambil menepuk lembut bahu Aruni.
Sekitar pukul satu siang, mereka berempat sudah berada di dalam mobil mewahnya Edgar. Setelah bersiap rapi, Edgar melajukan kendaraannya membelah jalanan Sukomakmur yang asri.
"Aruni, di sini objek wisata apa yang paling menarik?" tanya Edgar fokus memegang kemudi seraya melirik Aruni lewat kaca spion tengah.
"Kita bisa pergi ke Terasering Sitegong... Atau bahasa populernya Negeri Sayur Sukomakmur," petunjuk Aruni lembut.
"Wah, benar itu, Bun! Tempat itu memang paling bagus untuk berwisata. Ayo kita ke sana, Yah!" seru Rayyan bersemangat dari kursi belakang.
"Asyik! Pasti seru nih!" timpal Zayyan sambil menepuk-nepuk tangannya.
Mendengar antusiasme keluarga kecilnya, Edgar menyunggingkan senyum lebar penuh semangat. Dengan petunjuk arah dari Aruni yang duduk di sampingnya, Edgar menginjak pedal gas menuju hamparan hijau lereng bukit yang indah itu.
Pov keluarga idaman 😌🤗
Bersambung...
sebenarnya aruni jugaa udah tumbuh cinta tp dia masih takut n trauma..
semangat Edgar kamu harus extra meluluhkan hatinya n jangan lupa waspada n hati-hati sm paman mu..
jangan sampai seperti 7tahun yg lalu..
kamu baru memulai nya jangan di buat kacau hanya karena ular pyton mu tegak..🤭🤭
genjar terus Edgar s aruni nya soalnya s Rama juga suka n kamu ada saingan nya🤣🤣🤣
s kembar emang is the best deh
kamu aja kalah sama anak mu Edgar 🤣