Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMOHONAN
Malam itu, rumah besar milik keluarga Rey tampak berkilauan diterangi lampu-lampu terang yang menyala di setiap sudutnya. Dari luar pagar saja sudah terlihat betapa ramainya kedatangan tamu undangan. Deretan kendaraan mewah berjejer rapi sepanjang jalan menuju gerbang, sementara para penjaga yang berbadan tegap dan petugas keamanan sibuk mengatur lalu lintas tamu yang terus berdatangan. Suasana begitu megah dan penuh wibawa — jelas sekali bahwa acara malam ini bukanlah pertemuan biasa.
Joe melangkah masuk melewati gerbang yang terbuka lebar. Belum jauh berjalan, ia berpapasan dengan Billy dan ibunya yang kebetulan baru saja tiba dan hendak melangkah masuk juga.
"Kamu datang juga," sapa Mama Billy dengan senyum yang lebar dan matanya langsung menatap Joe dari ujung kepala hingga kaki. "Ayo, jangan berdiri di luar terus. Di dalam sudah ramai sekali, dan sepertinya kalian sudah ditunggu."
Mereka bertiga pun berjalan bersama menuju pintu utama. Begitu masuk, Joe terpana melihat betapa luas dan mewahnya ruangan itu. Ruang tamu yang besar sudah dipenuhi orang-orang yang berbicara dengan suara rendah namun penuh wibawa — para pengusaha sukses, pejabat negara, dan orang-orang berpangkat yang namanya sering muncul di berita. Kerumunan itu meluas hingga ke halaman taman depan rumah yang telah dihias indah dengan lampu gantung dan bunga segar. Udara malam terasa hangat oleh tawa dan percakapan penting yang saling bersahut-sahutan.
Joe berjalan menuju meja panjang yang berisi minuman dingin dan camilan beraneka ragam. Ia mengambil segelas minuman bening, lalu menoleh ke arah Billy yang berdiri di sampingnya.
"Mari kita cari Rey," ajak Billy sambil menunjuk ke arah sayap samping rumah yang agak sepi.
Mereka berjalan menyusuri lorong terbuka menuju teras samping rumah besar itu. Di sana, Rey sedang duduk santai di kursi empuk yang terbuat dari rotan halus, sendirian sambil memandangi keramaian di kejauhan. Saat melihat mereka datang, ia tersenyum lebar dan mengangkat tangan memberi isyarat agar mendekat.
"Kalian datang tepat waktu," ucap Rey sambil menepuk tempat duduk di sebelahnya. "Duduklah sebentar."
Belum lama mereka duduk, sosok Alex muncul dari arah beranda bersama ayah dan ibunya yang mengenakan pakaian resmi yang sangat rapi dan mewah. Setelah berpamitan singkat dengan orang tuanya, Alex berjalan menuju kelompok mereka dan segera duduk tanpa menunggu dipersilakan. Wajahnya tampak tidak terlalu gembira.
"Jujur saja," ucap Alex sambil menyandarkan punggungnya ke kursi dan menghela napas panjang, "gue sama sekali tidak menyukai acara yang seramai ini. Semua orang tersenyum namun tidak ada yang benar-benar tulus."
Billy tertawa pelan sambil memutar gelas di tangannya. "Sudah biasa begini, Lex. Ini dunia orang-orang besar — banyak senyum, banyak kata-kata manis, tapi di belakangnya ada kepentingan masing-masing. Loe belum terbiasa juga ya?"
Rey ikut menyambung dengan nada lelah yang tulus. "Gue pun sudah kelelahan. Sejak sore tadi, gue harus berdiri dan menyapa setiap tamu yang datang satu per satu. Kaki gue pegal, mulut gue kering. Padahal ini baru permulaan. Loe bayangkan saja, sampai kapan gue harus berdiri terus?"
Joe hanya diam mendengarkan sambil sesekali melirik ke arah kerumunan tamu yang terus berdatangan. Matanya mengamati setiap wajah yang lewat, menyimpan ingatan tentang siapa saja yang hadir malam ini — mungkin di antara mereka ada nama yang pernah didengarnya dari cerita masa lalu.
Billy lalu bercerita lebih lanjut sambil menunjuk ke arah orang-orang yang berdiri berkelompok di halaman. "Sebagian besar orang di sini gue sudah kenal sejak kecil. Ayah sering mengajak gue bertemu mereka — pejabat, pemilik pabrik, pengusaha perkebunan. Semua orang yang punya pengaruh besar di daerah ini. Tapi ayah gue sendiri belum bisa hadir malam ini. Dia masih di kota lain, sedang menyelesaikan urusan penjualan sebagian aset besar milik keluarga. Urusannya belum selesai, jadi hanya mama gue yang mewakili malam ini."
Belum lama berselang, terdengar suara wanita memanggil nama Alex dari kejauhan — ibunya melambaikan tangan memberi isyarat agar segera bergabung. Alex menghela napas berat lalu berdiri. "Mama gue memanggil. Gue harus pergi dulu untuk berkenalan dengan beberapa pejabat penting. Loe bertiga saja dulu ya."
"Pergilah, jangan sampai ortu loe marah," ucap Rey sambil melambaikan tangan pelan.
Tak lama kemudian, pelayan datang menyampaikan pesan kepada Rey. Ayahnya — tuan rumah acara — memintanya segera hadir di ruang tengah untuk menyambut rombongan tamu istimewa. Dengan wajah pasrah, Rey ikut berdiri dan menoleh ke arah Joe dan Billy. "Gue dipanggil Ayah. Kalian tunggu di sini dulu ya, gue akan segera kembali."
Kini hanya tinggal Joe dan Billy di teras itu.
Baru saja Rey menghilang di balik pintu, Mama Billy berjalan mendekat dengan senyum manis yang tak pernah lepas dari wajahnya. Ia berhenti tepat di depan Billy lalu berkata dengan nada lembut namun tegas, "Nak, sepertinya tas Mama tertinggal di dalam mobil. Di sana ada ponsel yang Mama butuhkan. Tolong ambilkan ya? Mobilnya terparkir agak jauh di ujung jalan karena tempat di halaman sudah penuh sekali."
Billy mendengus pelan, wajahnya tampak keberatan. "Hah? Jauh sekali, Ma. Di ujung sana?"
"Iya, sayang. Maaf ya merepotkan," jawab ibunya sambil menepuk bahu putranya pelan. "Cepatlah sebentar, ya."
Billy menggelengkan kepala sambil berdiri. "Ya udah, ini diambil sekarang." Ia pun berjalan enggan menuju arah gerbang keluar, meninggalkan Joe sendirian bersama Mama Billy di teras itu.
Saat hanya tinggal berdua saja, Mama Billy segera duduk di kursi yang baru saja diduduki Rey, tepat di samping Joe. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah pemuda itu, menatapnya lekat-lekat dengan pandangan yang tidak lagi menyembunyikan ketertarikannya.
"Tante suka sekali lelaki yang memiliki bentuk tubuh bagus seperti kamu, Joe. Tegap, berisi, dan kuat terlihatnya," ucapnya pelan dengan suara yang terdengar lebih lembut dan berbisik.
Joe sedikit terkejut namun tetap berusaha tenang. "Terima kasih, Tante. Saya hanya rajin berolahraga saja."
Wanita itu tersenyum miring, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin rendah dan pribadi. "Jujur saja, Tante sudah bosan. Suami Tante — ayah Billy — orang yang sibuk, tua, dan jarang sekali pulang ke rumah. Bahkan saat pulang pun ia lebih banyak mengurusi urusan bisnis daripada memperhatikan Tante. Hidup Tante sepi meski rumah ini penuh orang."
Joe menelan ludah, berusaha menjawab dengan hati-hati dan sopan. "Saya mengerti, Tante. Tapi saya mohon maaf... saya tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman, apalagi sampai membuat Billy merasa tidak nyaman."
Mama Billy justru tertawa pelan, tangannya perlahan menyentuh lengan Joe sekali lagi — sentuhan yang sengaja dan berani. "Kamu tidak paham, Joe. Tante tidak suka penolakan. Justru Tante semakin tertarik melihat pemuda yang berani dan sedikit pembangkang seperti kamu. Jangan takut, Tante yang akan menanggung segalanya."
Ia lalu merogoh saku tas kecilnya dan menyerahkan selembar kertas kecil bertuliskan nomor telepon. "Simpan ini. Hubungi Tante kapan saja — saat sepi, saat malam, kapan pun kamu mau. Dan pastikan... jangan sampai Billy mengetahuinya."
Baru saja Joe menyelipkan kertas itu ke saku baju, terdengar langkah kaki mendekat dengan suara mendengus kesal. Billy muncul dari keramaian tamu undangan sambil membawa tas kecil di tangannya.
"Ini tasnya. Jauh juga mobilnya terparkir, Ma," keluhnya sambil menyerahkan tas itu kepada ibunya.
Joe menahan napas, hatinya berdegup kencang. Apakah Billy tadi mendengar percakapan mereka? Apakah ia tahu apa yang baru saja terjadi?
Namun Mama Billy tampak tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tersenyum ramah kepada putranya. "Terima kasih ya, Nak. Sekarang Mama harus kembali menyapa rekan-rekan bisnis Ayahmu." Ia pun beranjak pergi dengan langkah anggun, meninggalkan Joe dan Billy berdua saja di teras yang mulai sepi.
Joe segera menarik napas panjang lalu menoleh ke arah Billy. "Loe tadi bilang ada hal penting yang mau dibicarakan secara rahasia. Sekarang cuma berdua kita, apa sebenarnya hal itu?"
Billy menatapnya sebentar, lalu menunduk dan menghela napas panjang. Wajahnya yang biasanya santai kini tampak serius dan gelisah. "Gue sedang mengalami krisis kepercayaan. Terhadap seseorang yang gue kenal. Gue takut orang itu mendekati orang yang tidak seharusnya didekati — orang yang paling dekat dengan gue."
Jantung Joe seakan berhenti berdetak sejenak. Apakah Billy sudah tahu? Apakah ia menyadari apa yang baru saja dilakukan mamanya?
"Maksud loe?" tanya Joe dengan suara yang berusaha tetap tenang.
Billy diam sejenak, menatap lurus ke arah keramaian tanpa melihat Joe. Lalu ia berkata dengan suara pelan namun jelas. "Orang yang gue maksud adalah mama gue sendiri. Gue butuh bantuan loe, Joe. Gue mau loe membantu gue mengawasi mama gue sendiri."
Joe ternganga, terkejut bukan main mendengar permintaan itu. Ia sama sekali tidak menyangka hal yang akan dikatakan Billy ternyata bukan tuduhan, melainkan permintaan bantuan yang justru semakin menjeratnya dalam situasi yang rumit.