NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:540.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 19 - Rumah untuk Bu Ratna

Arman datang lagi tiga hari kemudian.

Kali ini ia tidak masuk sebagai pasien.

Ia datang sore hari setelah klinik tutup, ketika Ratna sedang menyapu ruang tunggu. Mobil hitamnya berhenti tidak tepat di depan pintu, melainkan agak jauh di dekat musala, mungkin agar tidak terlalu mencolok. Tetap saja, di Kampung Cempaka, mobil seperti itu tidak bisa tidak mencolok.

Bu Rini sudah melihat dari warung.

Ratna juga melihat Bu Tati membuka gorden.

Ia meletakkan sapu dan berdiri di depan klinik.

"Pak Arman, kalau tekanan darah Bapak naik lagi, besok pagi saya buka jam delapan."

Arman tersenyum. "Saya datang bukan untuk berobat."

"Kalau begitu untuk apa?"

"Membawa sesuatu."

Dari mobil, sopirnya mengeluarkan map besar. Arman mengambil map itu sendiri, lalu menyerahkannya kepada Ratna.

Ratna tidak langsung menerima. "Apa ini?"

"Alamat rumah."

Ratna menatapnya.

"Saya tidak mencari rumah."

"Saya tahu."

"Lalu?"

"Saya punya beberapa unit rumah di cluster kecil dekat kecamatan. Salah satunya kosong. Tidak terlalu besar, satu lantai, dua kamar, dekat pasar, dekat Puskesmas, dan tidak jauh dari klinik Ibu. Saya ingin Ibu melihatnya."

Ratna tertawa pendek karena terlalu terkejut.

"Pak Arman, kita sudah membahas batas."

"Saya ingat."

"Ini melewati batas."

"Belum. Saya baru menawarkan melihat."

"Untuk apa saya melihat rumah kosong milik Bapak?"

Arman menatap kamar kecil di belakang klinik. Ia tidak menyembunyikan arah pandangnya, tetapi juga tidak tampak merendahkan.

"Karena kamar itu tidak layak untuk Ibu."

Ratna menegang.

"Saya bisa menentukan sendiri apa yang layak untuk saya."

"Tentu."

"Kalau begitu jangan tentukan."

Arman mengangguk pelan. "Baik. Saya ubah kalimatnya. Saya khawatir melihat Ibu tidur di ruang yang terlalu sempit, dengan dokumen penting dan obat-obatan bercampur. Kalau Pak Bambang membuat keributan, Ibu tidak punya jarak aman."

Ratna diam.

Kalimat itu tidak memerintah. Ia menyentuh hal yang memang Ratna pikirkan setiap malam. Kamar klinik bisa dikunci, tetapi terlalu dekat dengan rumah utama. Bambang bisa datang kapan saja. Sari bisa muncul kapan saja. Tetangga bisa mengintip kapan saja.

"Saya tidak menerima rumah dari laki-laki yang baru saya kenal."

"Saya tidak meminta Ibu menerima begitu saja."

Arman membuka map, mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

"Ada pilihan sewa resmi. Ibu bayar sesuai kemampuan, sisanya saya anggap kosong daripada tidak terpakai."

"Itu tetap bantuan."

"Iya."

"Saya tidak mau berutang."

"Kalau begitu bayar penuh."

Ratna menatapnya tajam.

Arman tidak bercanda. "Harga sewanya di bawah pasar karena unit itu milik perusahaan saya dan sudah lama kosong. Kita buat kontrak. Notaris. Tidak ada hubungan pribadi dalam dokumen."

"Kenapa repot-repot?"

Arman menatapnya cukup lama.

"Karena saya ingin Ibu aman."

Jawaban itu membuat Ratna tidak bisa langsung membalas.

Ia sudah terlalu lama mendengar laki-laki bicara dengan alasan. Bambang membantu Sari karena kasihan. Bambang membeli rumah karena Sari butuh tempat. Bambang memesan makam karena Sari takut sendirian. Semua alasan itu pada akhirnya melukai Ratna.

Arman juga memberi alasan.

Karena saya ingin Ibu aman.

Bedanya, alasan itu tidak mengambil apa pun darinya.

Justru memberi ruang.

"Kalau saya menolak?"

"Saya pulang."

"Kalau saya menerima melihat?"

"Kita lihat rumah. Ibu pulang. Ibu pikirkan. Tidak ada keputusan hari ini."

Ratna menimbang.

Di seberang, Bu Rini sudah pura-pura menata pisang goreng terlalu lama.

Ratna berkata, "Saya pergi dengan motor sendiri."

"Lutut Ibu?"

"Sudah sembuh."

"Baik. Saya ikuti dari belakang."

"Tidak. Bapak beri alamat. Saya datang sendiri."

Arman tampak ingin menolak, lalu mengalah. Ia menulis alamat di kartu nama.

"Saya tunggu di sana tiga puluh menit. Kalau Ibu tidak datang, saya pulang."

Ratna menerima kartu itu.

Ia masuk ke klinik, mengganti sandal dengan sepatu, mengambil motor matik tuanya. Ketika ia keluar, Arman sudah kembali ke mobil. Ia tidak mendesak.

Perjalanan ke cluster itu sekitar lima belas menit.

Ratna melewati jalan kecamatan, pasar kecil, lalu belok ke perumahan baru yang tidak terlalu mewah tetapi rapi. Ada gerbang sederhana, satpam, dan deretan rumah satu lantai dengan taman kecil.

Arman sudah menunggu di depan rumah nomor 17.

Rumah itu bercat putih gading. Pagarnya pendek. Ada pohon kamboja kecil di halaman. Terasnya cukup untuk dua kursi. Bukan rumah megah. Bukan istana. Tetapi bersih, tenang, dan punya pintu yang jauh dari rumah Bambang.

Ratna turun dari motor.

"Ini rumah perusahaan?"

"Awalnya untuk dokter tamu rumah sakit kami yang bertugas di daerah sini. Programnya berubah, unit ini kosong."

Ratna masuk setelah Arman membuka pintu.

Ruang tamunya tidak besar. Ada dua kamar, dapur kecil, kamar mandi bersih, halaman belakang sempit. Cahaya sore masuk dari jendela samping. Tidak ada bau rokok. Tidak ada foto lama. Tidak ada suara Bambang.

Ratna berdiri di tengah ruang tamu.

Dadanya tiba-tiba sesak.

Arman tidak bicara.

Ratna berjalan ke kamar utama. Ada lemari kosong dan tempat tidur tanpa sprei. Ia menyentuh dinding, lalu cepat menarik tangan.

"Berapa sewanya?"

Arman menyebut angka.

Ratna menatapnya.

"Itu terlalu murah."

"Rumah kosong juga mengeluarkan biaya perawatan."

"Pak Arman."

"Baik. Ibu tentukan angka yang menurut Ibu pantas. Kita tulis."

Ratna hampir tersenyum. "Bapak buruk dalam berbisnis?"

"Tidak. Saya hanya tahu kapan tidak perlu mengambil untung."

"Itu tetap buruk dalam berbisnis."

"Mungkin karena ini bukan bisnis."

Ratna menatapnya.

Arman berkata pelan, "Bu Ratna, saya tidak akan pura-pura ini murni urusan properti. Saya ingin dekat dengan Ibu. Tapi saya juga tahu Ibu sedang dalam proses yang berat. Jadi saya mulai dari hal yang paling masuk akal: Ibu butuh tempat aman."

Ratna menunduk.

Kata-kata itu terlalu jujur.

"Saya takut orang bilang saya belum cerai sudah menerima rumah dari laki-laki lain."

"Orang akan bicara apa pun."

"Mudah bagi Bapak. Hidup Bapak jauh dari grup WA RT."

Arman tersenyum tipis. "Ibu belum melihat grup komisaris perusahaan. Lebih kejam."

Ratna tertawa kecil sebelum sempat menahan.

Arman tampak senang mendengarnya.

Ratna berjalan kembali ke ruang tamu. Ia membayangkan meja kecil di sudut, rak obat pribadi, sajadah di kamar, panci di dapur. Ia membayangkan tidur tanpa takut Bambang mengetuk pintu. Membayangkan menerima anak-anak tanpa harus melewati halaman rumah lama.

Membayangkan punya rumah.

Bukan rumah Bambang.

Bukan rumah anak.

Bukan kamar klinik.

Rumah untuk Ratna.

Matanya panas.

Ia cepat memalingkan wajah.

Arman melihat, tetapi pura-pura tidak melihat. Ia berjalan ke jendela, memberi ruang.

"Saya mau sewa," kata Ratna akhirnya.

Arman menoleh.

"Dengan kontrak resmi. Harga wajar. Saya bayar dari rekening saya sendiri. Tidak ada hadiah."

"Baik."

"Dan jangan kirim perabot mahal."

"Kalau kursi?"

"Kursi biasa."

"Kulkas?"

"Saya punya tabungan."

"Kompor?"

Ratna menatapnya.

Arman mengangkat tangan. "Baik. Tidak ada perabot mahal."

Ratna menahan senyum lagi.

Malam itu, ketika Ratna pulang ke klinik, ia membawa salinan draft kontrak dan kunci sementara untuk pengecekan. Bu Rini melihat kunci itu saat Ratna membuka tas.

"Bu Dokter... itu kunci apa?"

Ratna menjawab jujur, "Rumah sewa."

Bu Rini membelalak. "Bu Dokter mau pindah?"

"Sepertinya."

"Yang carikan Pak Arman?"

Ratna menatapnya.

Bu Rini langsung menutup mulut, tetapi terlambat.

Dalam waktu kurang dari satu jam, Bambang sudah tahu.

Ia berdiri di teras rumah utama, memandangi klinik dengan wajah merah padam.

Di ponselnya, pesan Sari masuk.

Sari: Lihat? Dia sudah disiapkan rumah. Kamu masih merasa bersalah?

Bambang menggenggam ponsel begitu keras hingga buku jarinya memutih.

Ratna mau pindah.

Bukan ke rumah anak.

Bukan kembali kepadanya.

Ke rumah yang disiapkan laki-laki lain.

Untuk pertama kalinya, Bambang merasa kursi di rumahnya sendiri terlalu dingin.

Di kamar klinik, Ratna meletakkan kunci sementara di atas meja periksa.

Ia tidak langsung menyentuhnya lagi.

Kunci kecil itu tampak biasa saja, tetapi bagi Ratna terasa lebih berat daripada gelang emas yang pernah ia jual untuk biaya pernikahan anak. Kunci itu bukan hadiah cinta. Bukan juga jawaban untuk semua masalah.

Namun kunci itu membuka kemungkinan.

Kemungkinan untuk tidur tanpa menunggu langkah Bambang.

Kemungkinan untuk bangun pagi dan memasak hanya jika ia ingin.

Kemungkinan untuk pulang ke tempat yang tidak dipenuhi pengkhianatan.

Ratna menyentuh kunci itu dengan ujung jari.

"Rumah sewa," bisiknya, seolah mengingatkan diri sendiri.

Tapi hatinya, diam-diam, menyebutnya rumah pertama.

1
ika
Bu Rini skrg di apartemen???
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
Ida Yudiawati
bagus banget ceritanya
Tismar Khadijah
untuk menjadi penguat diri
ika
Bambang ma bu Ratna udah resmi cerai kah?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ika
gagal paham dech
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ika
ntar ntar...
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
Annisa
sedih nangis bombay/Sob//Sob//Sob/
Rika Yudesni
emosi oii
emosiiii akuuuuu
Annisa
bukannya ayah nya Arman sudah meninggal?
Bernadette Ivonne
😍💪Bu Ratna bina keluarga baru penu kebahagiaan
tris tanto
bisa move on gk aku dr nopel ini
tris tanto
sari gimn ituu
tris tanto
part dimana akan direal kehidupan kita dan semoga diusia senja kita sll ingat ALLAH SWT
santi suryaatmaja
😁😁 kadang agak membingungkan jalannya cerita, meskipun begitu masih dg bahasa yg tertata.
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan
santi suryaatmaja
katanya di rmh sewa, tp bu Rini koq masih bisa dengar dn pak Mahfud jg bisa langsung keluar dr pagar 😵‍💫
Bernadette Ivonne
👍
arniya
tetangga pada kepo
santi suryaatmaja
kalimat terakhir itu semua sama persis, dn sdh 33 th,, sakit memang meskipun semua bukan soal selingkuh 😔
Anita Tanjung
luarr biasa.. memberi batasan... itu penting. terimakasih author.. ini bagus sekali
Sri Supriatin
Say setuju alur ceritany bagus 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!