Sejak lahir, Varren Kaelor tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.
Di balik wajah tampan yang dikagumi banyak orang, tersembunyi sebuah rahasia yang bahkan tidak boleh ia akui pada dirinya sendiri. Setiap langkah, setiap senyum, bahkan setiap hubungan yang ia jalani hanyalah bagian dari sandiwara yang dipaksakan oleh seseorang.
Ketika harus memasuki sekolah paling bergengsi di negeri itu, Varren yakin ia hanya perlu bertahan seperti biasanya.
Namun, semuanya berubah saat seseorang mulai menembus tembok yang selama ini ia bangun.
Semakin dekat orang itu, semakin sulit Varren membedakan mana kebohongan yang harus dipertahankan, dan mana perasaan yang tidak seharusnya pernah tumbuh.
Lalu... apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keluarga Kaelor?
"Aku tidak takut jika dunia membenciku. Aku hanya takut... saat dunia mengetahui siapa diriku sebenarnya." — Varren
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan Buatan Sang Pewaris..
Pagi ini Varren memilih jogging di sekitar luar sekolah. Rupanya tak jauh dari sini ada jualan sayur. Karena rindu masak, Varren membeli beberapa bahan makanan sebab di asrama nya ada dapur.
Sejujurnya Varren sangat menyukai dunia dapur. Masak semua aneka ragam makanan. Dulu, jika Shena tidak ada di rumah, dirinya bisa masak banyak makanan bersama pembantu dan koki pribadinya.
Tapi saat dirinya ketahuan sedang di dapur dan masak, Varren akan kena hukuman yang tidak akan anak lain bayangkan. Shena menganggap memasak adalah pekerjaan perempuan, dan Varren—sebagai "putra" Kaelor—tidak boleh melakukan hal itu. Akhirnya kadang jika Varren ingin masak, ia harus menunggu Shena keluar kota dan dirinya bisa masak sambil menonton tutorial di YouTube.
Varren membeli daging ayam, kembang kol, buncis, wortel. Varren sedang ingin makan sop ayam. Dirinya tidak lupa membeli beberapa bahan lain seperti cendawan untuk dimasak sambal terasi. Usai membeli semuanya, Varren pulang dalam keadaan lelah.
Semua orang belum ada yang bangun sebab sekarang memang masih pukul setengah enam.
Varren segera ke dapur dan memotong-motong semua sayuran, membersihkan ayam. Masak sop tidak terlalu lama, ia hanya perlu membersihkan ayam dan sebagainya sembari menunggu semua bumbu dimasak. Varren juga sekalian membuat sambal terasi dan memasak nasi untuk dimakan. Memang karena ini kamar eksklusif, di sini sudah ada rice cooker sendiri, tempat masak sendiri dan juga beberapa barang lainnya. Sedangkan di kamar asrama biasa tidak, mereka hanya ada kamar yang bahkan tidak tersekat satu sama lain. Alias tidak ada pemisah kamar.
Seusai menunggu ayamnya matang, Varren mematikan kompornya dan segera mandi dan menggunakan seragam—butuh waktu dua puluh menit. Saat Varren keluar, ia menaruh sarapan itu di ruang tengah. Tepat saat Reja, Tavian, dan Sylas keluar. Varren melirik mereka.
"Wah apa nih Ren?? Kok baunya enak?" tanya Tavian mengusap tangannya. Dasi Tavian belum terpasang rapi.
Varren duduk di paling ujung. "Tadi gue jogging nggak sengaja lihat mamang jual sayur. Jadi gue beli sayur deh buat kita sarapan. Yuk makan." jelas Varren kepada mereka.
"Wahh loe bisa masak Ren?" tanya Reja semangat duduk dan mengambil nasi di dekat Tavian. Sedangkan Sylas di sana berdiri tak tahu harus melakukan apa, tapi perutnya sedikit memberontak mencium aroma makanan buatan Varren.
Varren mengangguk. "Yoi. Sebagai lelaki idaman kita harus bisa masak biar ciwi-ciwi semakin kegait." jelas Varren sambil makan dengan riang.
Semua terbahak.
"Yaampun… enak banget Ren. Kaldunya beuh.. gila sih ini Ren, masakan nyokap gue aja kalah." jelas Tavian melotot sambil menyicip kuah kaldu dari sop buatan Varren.
"Ini sambelnya juga makjos. Yaampun enak banget padahal cuma pake nasi. Ren fiks sih kalo loe cewek gue udah jatuh cinta." jelas Reja pecinta pedas dengan semangat, membuat Varren terbahak pelan di sana.
Tak sengaja tatapan Varren berpindah pada Sylas yang hendak pergi. "Pak Bos sini lah dulu makan kita, masih jam segini belum akan masuk itu guru." panggil Varren. Membuat Reja dan Tavian melirik Sylas dengan kekehan.
Pasti Sylas malu karena kemarin dirinya tidak mengajak Varren sarapan sedangkan hari ini Varren punya makanan banyak. Takut tidak di ajak.
Sylas melirik Varren dan berdehem. "Nggak usah." jelasnya tegas.
"Eh nolak rezeki dosa loh bos." ujar Tavian di sana tenang.
"Mana enak gini." gumamnya dan makan dengan semangat. "Gue yang nggak suka sayur aja jadi suka." lanjutnya lagi merayu.
Sylas berdehem segera mendekat. "Kalian yang maksa yah, kalo kalian nggak maksa nggak mau gue." ujarnya melirik Varren yang mengangguk sembari menahan tawa. "Tavian yang maksa yah buat gue." jelas Sylas.
Varren mengangguk lagi tenang mendengarnya. "Iya bos, santai. Ayo ayo makan." ujar Varren di sana.
Sylas mengangguk mengambil nasi dan juga sop yang dimasak. "Katanya dipaksa. Tapi ambil ayamnya tiga." bisik Reja pada Tavian. Tavian mendengarnya hampir terbahak juga. Varren hanya menggeleng pelan melihatnya. Mereka ini sangat lucu sekali dimatanya.
Sylas diam makan dengan tenang. Memang benar, semuanya sangat enak, diluar dari apa yang dirinya pikirkan. Kuah sop yang sangat segar, gurih dan nikmat, ditambah menggunakan nasi, sayurnya pun tidak terlalu matang dan kuahnya meresap sampai ke tulang-tulang ayam.
Tanpa sadar Sylas menghabiskan satu piring besar nasi dan tiga potong ayam. Varren di sana hanya makan secukupnya senang melihat makanannya dimakan. Varren sangat suka jika makanannya disukai. Mungkin benar jiwa perempuan di dirinya tidak bisa dihapuskan.
"Makasih yah Ren. Sumpah enak banget." ujar Tavian memegang perutnya. "Auto ngantuk pas belajar nih." lanjutnya terkekeh.
Varren berdehem pelan. "Kalian bawain mangkok kotor ke belakang, biar nanti sore kalian cuci yah. Soalnya kayaknya gue pulang malem lagi deh hari ini." jelas Varren tenang.
"Masih harus latihan lagi?" tanya Reja.
Varren berdehem mengambil pulpen di atas meja lalu ia taruh di sakunya. "Yuk lah." Mereka mengangguk segera menaruh mangkok ke belakang meninggalkan Sylas yang di sana duduk kaku melirik Varren.
"Tunggu kita taro ke belakang bentar..!!!!" teriak Tavian.
Varren juga hanya mengangguk saja di sana sembari menunggu yang lain.
"Thanks yah. masakan loe enak."
Varren melirik Sylas yang tiba-tiba bicara dan memujinya. Terlihat wajah Sylas kikuk melihat Varren.
Varren tersenyum dan mengangguk. Sylas sampai terdiam di tempat dengan perasaan yang berbeda. "Yoi. Santai lah hehe."
---
Mereka berangkat ke kelas bersama. Sepanjang perjalanan, Reja dan Tavian terus memuji masakan Varren.
"Ren, serius deh. Loe kalo buka restoran, gue bakal jadi pelanggan setia." ujar Reja.
"Udah ah, lebay." jawab Varren sambil tersenyum.
"Beneran Ren. Loe tuh kayak cowok idaman banget. Tampan, bisa masak, keren." timpal Tavian.
Varren hanya menggeleng. "Ntar gue malu."
Sylas berjalan di belakang mereka, mendengarkan percakapan dengan diam. Tatapannya sesekali tertuju pada Varren—pada senyumnya, pada caranya berinteraksi dengan Reja dan Tavian.
Ada sesuatu tentang Varren yang membuat Sylas penasaran.
Tapi ia tidak akan bertanya.
Tidak pernah.
Bersambung...