BERTAHUN-TAHUN DIANGGAP MANDUL, TERNYATA ITU ADALAH JEBAKAN SUAMI DAN ORANG KETIGA. SETELAH MENGETAHUI KEBENARANNYA, AKU PUN MULAI MEMBALAS DENDAM!
Novel ini misi dari editor, jika ada kesamaan dengan author lain, berarti kita sedang sama-sama mengerjakan tugas misi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Ini pertemuan kembali Kemuning dan Aditya setelah kejadian malam penggerebekan. Kemuning menatap Aditya lama dengan tatapan tajam. Seolah mencoba memastikan bahwa pria di hadapannya benar-benar orang yang dulu ia cintai. Rasa yang dulu pernah menggetarkan hati mereka, sudah tidak ada. Sekarang yang ada hanya rasa benci.
“Jangan pernah datang ke sini lagi! Aku tidak mau melihat kamu lagi. Pergilah!” ucap pria itu dingin.
“Aku datang bukan untuk menemui kamu,” balas Kemuning tidak kalah dingin.
“Lalu, mau apa lagi datang ke sini sekarang, hah?!” bentak Aditya, maju selangkah.
“Aku cuma mau ambil barang milikku,” kata Kemuning tegas.
Aditya mendengus. “Barang?”
“Semua barang milikmu sudah aku buang!” teriak Bu Ratih tersenyum culas.
“Kenapa Ibu buang barang milikku?”
Kemuning marah karena ada beberapa barang peninggalan orang tuanya di dalam lemari baju. Dahulu, dia belum sempat mengamankan barang-barangnya. Dia baru menyamankan aset harta kekayaannya saja.
“Kamu bilang kenapa?” Bu Ratih melotot. “Terus kenapa juga aku harus simpan barang rongsokan milik kamu itu di rumahku, hah?!”
“Benar kata Ibuku,” lanjut Aditya. “Rumah kami tidak menampung barang rongsokan.”
Bu Ratih tersenyum sinis. Sementara Kemuning, menahan rasa amarah.
“Jadi, sebaiknya sekarang kamu pergi! Kamu enggak punya barang apa-apa lagi di sini. Ini rumah orang tuaku.” Aditya mengusir Kemuning.
“Iya, benar,” sahut Bu Ratih sambil mendorong bahu Kemuning. “Pergi kamu dari sini! Kami sudah cukup sabar menghadapi kamu.”
“Baiklah.” Kemuning mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia berbalik. Langkahnya meninggalkan rumah itu terasa ringan, meski di dalam dadanya, ada sesuatu yang benar-benar selesai.
Baru saja beberapa saat Kemuning mengendarai motornya, seseorang memanggilnya. Mau tidak mau dia berhenti.
“Mbak Kemuning, barang-barang milik Mbak yang dibuang sama Bu Ratih ke tempat sama, sekarang ada sama aku,” ucap Seruni, anaknya Pak RT. Rumahnya cuma terhalang tiga rumah dari rumah Bu Ratih.
Seruni mengeluarkan dua dus besar dari dalam rumahnya. Dari semua barang milik Kemuning, yang paling berharga baginya adalah album foto keluarga. Kemuning memeluknya erat.
“Terima kasih, Mbak Seruni!” Kemuning menangis bahagia.
Belakangan Kemuning memang tinggal di peternakan. Bukan karena takut pulang ke rumah Bu Ratih, tetapi rumah itu selalu dalam keadaan terkunci. Selain itu, dia juga memang akan mengakhiri pernikahannya dengan Aditya.
Di kantor peternakan memang ada kamar yang biasa dipakai Aditya untuk beristirahat atau menginap jika lembur. Sebuah ruangan kecil yang hanya bisa memuat ranjang berukuran single dan sebuah lemari kecil. Tempat yang sangat sederhana. Bahkan jauh dari kata nyaman.
Sekarang di sanalah Kemuning sekarang tinggal. Kamar itu juga jadi tempat dia menyusun kembali hidupnya yang sempat hancur.
Malam-malamnya yang dilalui oleh Kemuning sekarang terasa sepi. Ia sering duduk sendirian, menatap lampu redup, membiarkan pikirannya berkelana. Tentang masa lalu yang dikira indah, tentang mimpi membangun keluarga bahagia yang gagal, dan tentang dirinya yang dulu terlalu percaya kepada Aditya.
Setiap kali rasa itu datang, Kemuning hanya menarik napas panjang. Ia tidak lagi menangis. Air matanya seolah sudah habis, yang tersisa hanya tekad untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Kemuning menemui Arkatama di kantor pengacara miliknya. Dia ingin menanyakan perkembangan proses gugatan perceraiannya dengan Aditya.
“Aku akan sekuat tenaga agar kamu bisa mendapatkan keadilan,” kata Arkatama serius. Pria itu sempat kesal dan marah karena Aditya dan Lavanya bisa ke luar dari penjara.
“Yang aku inginkan saat ini adalah lepas dari Mas Aditya,” balas Kemuning lirih.
Sebuah panggilan masuk lewat ponsel milik Arkatama, di waktu yang bersamaan Aryasatya datang membawa sebuah tas berukuran cukup besar.
“Kakak, nih, barangnya!” ucap pemuda itu sambil meletakan di atas meja kerja.
“Eh, ada Mbak Kemuning! Lagi bicarakan masalah perceraian, ya?” tebak Aryasatya menyeringai nakal.
“Mbak Kemuning, aku tinggal dahulu sebentar.” Arkatama berjalan menuju pintu, keluar dari ruang kerja.
Kini di dalam ruang itu tinggal Kemuning dan Aryasatya. Keduanya duduk berhadap-hadapan.
“Mbak Kemuning jangan khawatir. Kak Arka akan menegakkan keadilan untuk para istri yang terzalimi,” kata Aryasatya dengan nada jenakan.
“Wah, berarti di pahlawan, dong!” balas Kemuning tertawa geli.
“Iya. Kak Arka itu menjadi pahlawan untuk orang lain, tetapi tidak bisa untuk dirinya sendiri,” ujar pemuda itu lirih. Senyum nakalnya hilang, digantikan dengan tatapan sendu.
“Maaf kalau pertanyaan aku ini terlalu lancang. Memangnya Mas Arka kenapa?” tanya Kemuning penasaran.
“Seperti yang aku bilang tadi, Kak Arka itu banyak membela para istri yang dizalimi. Sementara dia sendiri, dizalimi oleh istrinya sendiri,” jawab Aryasatya. Dari sorot matanya terlihat jelas ada kemarahan.
Mulut Kemuning terbuka. Dia tidak menyangka Arkatama mengalami hal seperti itu.
“Apa Mbak Kemuning tahu, kenapa Kak Arka menjadi pengacara? Terutama pengacara yang menangani perceraian,” tanya Aryasatya.
Tiba-tiba pintu terbuka, Arkatama pun masuk sambil membawa beberapa amplop berukuran besar. Sehingga pembicaraan Kemuning dan Aryasatya pun berakhir.
“Kita sudah mendapatkan waktu kapan sidang perceraian akan digelar,” kata Arkatama tersenyum tipis kepada Kemuning.
“Semoga sidangnya berjalan lancar dan sukses, Kak!” Aryasatya memberi dukungan kepada kakaknya.
***
Hari persidangan akhirnya tiba. Ruang sidang terasa penuh sesak pagi itu. Kursi-kursi hampir tidak tersisa, dipenuhi warga yang penasaran ingin menyaksikan kelanjutan perkara yang sudah berhari-hari menjadi bahan perbincangan. Udara di dalam ruangan terasa hangat, bercampur dengan bisik-bisik yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Kemuning duduk tenang di kursinya. Punggungnya tegak, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Wajahnya tampak tenang, tetapi di dalam dadanya, ada sesuatu yang terus berdenyut pelan. Bukan lagi ketakutan, melainkan sisa luka yang belum benar-benar sembuh.
Di sisi lain, Aditya duduk dengan wajah kaku. Rahangnya mengeras, matanya sesekali melirik ke arah Kemuning, lalu cepat-cepat membuang pandangan. Di sampingnya, Bu Ratih tampak gelisah, jemarinya tidak berhenti meremas ujung bajunya sendiri.
“Sidang dimulai!” Suara hakim menggema, membuat seluruh ruangan langsung hening.
rasain kmu Aditya 🤣
hhmmm lavanya, skrg kamu makin terjerumus