NovelToon NovelToon
Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Ketika Istri Pendiamku Berubah Bar-Bar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:29.7k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

"Baguslah kamu ada di sini. Tolong urus makan malam mas Ardy juga ibu mertuaku! Aku mau belanja dan bersenang-senang pakai kartu kreditnya."

Selama tiga tahun pernikahan, Kirana dikenal sebagai istri yang penurut, pendiam dan selalu mengalah.

Bahkan ketika tahu suaminya, Ardy, memelihara wanita lain. Kirana hanya bisa menangis di pojok kamar, menerima semua makian dari mertua dan manipulasi dari keluarga suaminya sendiri.

​Sampai sebuah kecelakaan tragis mengubah segalanya.

​Saat Kirana membuka mata, ketakutan di jiwanya lenyap tanpa bekas.

​Ardy mengira dia masih memegang kendali atas hidup Kirana, sampai akhirnya pria itu sadar, Kirana yang sekarang bukanlah Kirana yang dulu.

Dan saat Ardy mulai berlutut memohon cintanya kembali, Kirana sudah menutup pintu hatinya untuk pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 12 Hilang Selera

Dengan panik, Siska mengambil pisau dapur dan mulai mengikis bagian hitam dari roti itu.

"Tidak apa-apa! Mas Ardy pasti tidak akan sadar kalau ku tutupi!" gumamnya menyemangati diri.

Ia lalu mengambil mentega dan selai keju. Karena panik rotinya masih terlihat gosong, ia mengoleskan selai keju itu setebal mungkin hingga roti itu nyaris tenggelam dalam lautan keju kental.

"Selesai! Sekarang tinggal kopinya!"

Siska menyambar toples kopi dan menaburkannya ke dalam cangkir. Tangannya gemetar hebat. Ia menuangkan air panas, lalu matanya tertuju pada toples putih di sebelahnya. Karena pikirannya sudah kacau dan ia tidak terbiasa di dapur, tangan Siska secara refleks menyendok isi toples putih itu.

Sayangnya, karena gugup yang luar biasa, gula yang seharusnya dilarang keras oleh Ardy justru masuk dengan indahnya ke dalam cangkir tersebut.

"Nah selesai. Mudah-mudahan mas Ardy suka," ucap Siska menghela napas lega sembari menyeka keringat dingin di dahinya.

Siska menata semuanya di atas nampan dan membawanya ke meja makan dengan tersenyum manis.

"Mas, sarapan spesialnya sudah siap," ucap Siska meletakkan piring dan cangkir itu di depan Ardy.

Ardy yang sedang sibuk mengecek ponsel, langsung meletakkannya.

"Terima kasih."

Tanpa curiga sedikit pun, Ardy mengambil sepotong roti yang terlihat tebal oleh keju itu. Gigitan pertama langsung masuk ke mulutnya.

Kening Ardy perlahan berkerut. Ia pun menghentikan kunyahannya.

"Aneh. Kenapa Rasanya sangat berbeda," batin Ardy.

Rotinya terasa sekeras batu di pinggirannya, berbau sangit seperti benda terbakar dan rasa pahit arang langsung menyengat lidahnya, bertabrakan dengan rasa asin keju yang terlalu berlebihan hingga membuat enek.

Ardy buru-buru menelan paksa roti itu, lalu segera meraih cangkir kopinya untuk menetralisir rasa tak karuan di mulutnya. Ia menyesap kopi hitam itu.

Sedetik kemudian, mata Ardy melebar. Ia menjauhkan cangkir itu dari mulutnya dengan wajah bereaksi jijik.

"Kopi apa ini?!" seru Ardy tajam.

Bahu Siska seketika melonjak kaget. Jantungnya serasa copot dari tempatnya.

"Kenapa, Mas? Kopinya kurang panas?" tanya Siska terbata-bata, matanya mulai bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri.

Ardy menatap cangkir kopi dan roti di depannya bergantian selama beberapa detik, lalu menatap Siska dengan pandangan menusuk yang penuh kecurigaan.

"Siska. Bukankah tadi aku bilang kopi hitam tanpa gula? Ini manis sekali seperti air sirup! Dan roti keras dan gosong rasanya!"

Siska langsung gelagapan. Wajahnya pucat pasi. Kedua telapak tangannya mulai berkeringat dingin dan ia meremas ujung bajunya dengan kuat.

"Itu... anu, Mas... mungkin tadi gulanya tidak sengaja tumpah ke dalam cangkir waktu aku mengaduk. Iya, tumpah," ujar Siska beralasan.

"Dan kalau soal rotinya, pemanggangnya sepertinya rusak, Mas. Jadi tingkat panasnya tidak stabil. Iya, salah pemanggangnya."

Ardy meletakkan rotinya kembali ke piring dengan kasar. Ia menatap Siska, membuat wanita itu semakin mengecil di tempatnya.

"Bukankah dulu kamu yang setiap pagi selalu membuat sarapan yang sempurna untukku?"

Siska tak mampu menjawab. Ia hanya bisa tersenyum kaku. Dalam hatinya, ia berdoa semoga Ardy tidak menyadari kebohongan besarnya bahwa selama ini, sarapan enak yang selalu dipuja-puja oleh Ardy, sama sekali bukanlah hasil buatannya.

"Sudahlah. Selera makanku jadi hilang," ucap Ardy menggeser piring berisi roti gosong berlumur keju itu menjauh dari pandangannya.

Siska yang sejak tadi berdiri di samping meja makan langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia meremas ujung piyamanya kuat-kuat, memasang wajah memelas penuh penyesalan.

"Maaf, Mas. Aku benar-benar tidak fokus pagi ini karena perutku sakit sekali," cicit Siska dengan suara bergetar dan nyaris menangis.

Ardy mengembuskan napas panjang seraya memijat pangkal hidungnya. Ia terlalu lelah dengan urusan kantor dan drama di rumah ini untuk memperpanjang masalah hanya karena sepotong sarapan yang gagal.

"Sebaiknya kamu istirahat saja di kamar," putus Ardy sambil bangkit dari kursinya dan meraih tas kerjanya.

"Tapi, Mas—"

"Aku bisa beli sarapan di jalan," potong Ardy cepat. "Jangan lupa minum obatmu. Kalau ada apa-apa atau sakitnya bertambah parah, hubungi aku."

Siska mengangguk pelan, air mata buaya menggenang di pelupuk matanya.

"Iya, Mas. Hati-hati di jalan. Maafkan aku ya."

Siska mengantar Ardy hingga ke depan pintu utama. Ia melambaikan tangannya dan tersenyum manis bak istri idaman sampai mobil sedan mewah pria itu benar-benar keluar dari gerbang halaman rumah.

"Kesal banget," gumam Siska menghentakkan kakinya ke lantai.

"Kenapa sih dia tiba-tiba harus minta aku yang masak?! Bikin jantungan saja!" Ia mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustrasi.

"Tadi itu hampir saja ketahuan! Kalau mas Ardy sampai sadar selama ini aku beli roti itu di kafe, habis sudah citra sempurnaku!" gerutunya dengan napas memburu.

"Sayang, sudah jangan dipikirkan lagi."

Siska langsung berbalik dan memeluk wanita paruh baya itu erat.

"Tante maafkan Siska. Aku benar-benar lupa cara buat roti sialan itu. Aku panik, Tante!"

Sarah membalas pelukan itu dan tersenyum penuh kasih.

"Sudah, tidak apa-apa, Nak. Jangan menangis. Nanti Tante yang akan ajarkan kamu diam-diam. Atau kalau perlu, Tante akan panggil koki privat ke rumah ini saat Ardy sedang kerja."

Siska mendongak dengan mata berbinar. "Beneran, Tante?"

"Iya, Sayang. Pelan-pelan saja. Yang paling penting sekarang adalah Ardy tetap memilih kamu, bukan si Kirana." Sarah mengusap kepala Siska dengan sayang.

Mendengar janji itu, Siska akhirnya bisa menghela napas panjang dan tersenyum lega.

"Iya, Tante. Makasih."

Jauh di lubuk hati Siska yang terdalam, rasa cemas itu mulai tumbuh subur bak gulma. Untuk pertama kalinya sejak ia merebut kembali hati Ardy, pria itu menatapnya dengan tatapan meragukan. Siska tahu, ia harus bermain jauh lebih pintar sekarang.

*

*

Sementara itu, di sebuah...

"Rana!" Seorang wanita melambaikan tangannya penuh semangat dari sudut ruangan.

Kirana yang baru saja tiba, tersenyum tipis lalu melangkah menghampirinya. Belum sempat Kirana duduk, Vanessa langsung berdiri dan memeluknya erat-erat, nyaris mencekiknya.

"Ya ampun, Rana! Gimana keadaan kamu? Kamu baik-baik aja, kan? Kepalanya masih sering sakit? Kamu makan teratur, kan di rumah neraka itu?" tanya Vanessa sambil menangkup kedua pipi Kirana, memeriksa sahabatnya itu.

Kirana tertawa kecil, perlahan melepaskan tangan Vanessa dan duduk.

"Bisa nggak sih tanyanya satu-satu, Nes? Kamu ini mirip wartawan infotainment banget."

Vanessa mencibir, ikut duduk dan melipat tangannya.

"Namanya juga khawatir. Kalau nanti kepalamu sakit lagi, aku mau kenalkan kamu sama dokter spesialis saraf kenalan Bang Rajendra."

Kirana menggeleng santai sambil memberi isyarat pada pelayan untuk memesan latte.

"Nggak usah repot-repot, Van. Aku baik-baik aja sekarang. Lagian, tujuan kita ketemuan hari ini bukan untuk bahas rumah sakit atau kesehatanku."

Vanessa mengernyitkan dahi bingung. "Terus? Tumben kamu ngajak keluar pagi-pagi begini?"

Senyum di bibir Kirana melebar. Perlahan, ia membuka ritsleting tas di pangkuannya. Tangannya merogoh dompet dan mengeluarkan sebuah kartu kredit metalik berwarna hitam berkilau.

Mata Vanessa langsung membelalak sempurna.

"Ya Allah! Rana itu black card kan?"

"Iya," jawab Kirana tenang.

Vanessa refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya bergantian menatap kartu itu dan wajah Kirana.

1
🇦 🇵 🇷 🇾👎
cakep jgn lm x satu bln
Nice1808
tuh Ardy krna kau mulaimencintai kirana tp kau gk mengakui perasaanmu🤣🤣🤣
Sri Rahayu
apa mungkin Siska hanya pura2 hamil agar Ardi selekasnya menikahinya 😇😇😇.... semoga Tristan mendpt kan bukti2 kejahatan dan kebohongan Siska...lanjut Thorr😘😘😘
stela aza
jangan lama2 donk Thor bikin Ardi jadi gembel ,,, q udh g sabar liatnya 🤭
Senja: Hehehe sabar y kak🤣
total 1 replies
Esther
Nanti kalau sakit beneran, gak akan ada orang yang percaya Siska, terlalu banyak berbohong sih.
Heni Fitoria
g sabar lihat kehancuran nya Ardy, perusahaan bangkrut, tahu kenyataan klu anak yg dikandung Siska BKN anaknya 🤭🤭🤭
Heni Fitoria
doa mu tak aamiin kan Kirana
Deasy Suryandari
lanjoooot
mau lihat gimana si siska setelah ardy bangkrut dan pasti itu bukan anaknya ardy
Nice1808
tuh org diam di ganggu dia akn melebihi singa ngamuk🤣🤣kirana akan bertindak dan kalian akn jd gembel ardy, sarah dan kau siska🤭🤣
Nice1808
gak sadar kau ardy, kau yg berkhianat malah nuduh kirana selingkuh, bagus kirana lawan aja tuh ardy yg sok berkuasa🤣
Sri Rahayu
ayo cepet bantu Kirana bikin Ardi bangkrut, kahilangan segalanya Tristan... dan buka kedok sprt apa Siska sebenarnya...lanjut Thorr😘😘😘
sunaryati jarum
Ah emak tidak sabar melihat kemiskinan Ardy dan runtuhnya kesombongannya ibunya dan Siska.Emak juga ingin tahu reaksi Ardy jika terbongkar anak yang dikandung Siska bukan anaknya.
sunaryati jarum
Benar balikan tuduhan padamu ke Ardy yang tidak berkaca pada dirinya sendiri, semoga dalang terjadinya kecelakaan padamu segera terungkap dan pelakunya ditangkap bersama bukti yang tidak bisa dibantah
stela aza
ceritanya keren, karakter toko utama perempuan nya hebat ,,, g cengeng kaya di novel lain ,,, yg bisanya cuma nangis,,, pokoknya best bgt ceritanya ❤️❤️❤️❤️
stela aza
good job Kirana ,, q suka gayamu ❤️❤️❤️
🇦 🇵 🇷 🇾👎
yes😀
Elina thea
benar Kirana buat si Ardy bangkrut...dgn dia bangkrut maka selingkuhannya juga pergi karna gak tahan hidup miskin
Margaretha Indrayani
ardy tidak berkaca dirinya lebih parah karena malah membawa pulang siska
🇦 🇵 🇷 🇾👎
good
🇦 🇵 🇷 🇾👎
bntr lg jd suami tan🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!