NovelToon NovelToon
27 Hari Setelah Melahirkan

27 Hari Setelah Melahirkan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cerai / Ibu susu / Tamat
Popularitas:849.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Septi.sari

Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.

Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.

Sudah cukup!

Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Sementara itu, setibanya di rumah sakit, Hana dan Madha langsung menuju ruang rawat di lantai 8. Setiap langkah itu, ada getaran rasa bersalah, gejolak kesakitan yang tak mampu mereka berdua bayar setiap detiknya.

Hana sudah berniat, mungkin setelah ini ia akan lebih fokus menjaga ibunya, atau mungkin pulang ke kampung halaman untuk merawat Bu Laksmi.

Pintu terbuka dari dalam, dan membuat Hana serta Madha menghentikan langkahnya. "Ibu sedang di periksa lagi, Mas... Han," katanya menatap kedua saudaranya itu.

"San... Bagaimana keadaan Ibu?" Madha bertanya dengan raut wajah cemas.

Tampak wajah cantik berkacamata itu memerah, mungkin sempat menangis karena terkejut. "Alhamdulillah darahnya normal, Mas. Hanya saja... Kaki Ibu sebelah satu katunya sulit di gerakan. Itu sedang di terhapi kayaknya."

Hana ikut menimpali. "Mbak, tapi ibu nggak papa 'kan? Ibu masih bisa bicara 'kan?" suara itu terdengar rendah, namun nadanya bergetar.

"Bisa, Han! Tapi masih lemes."

Madha sedikit maju kearah pintu, mengintip pada celah kaca. "Udah... Setelah sembuh nanti, Ibu nggak usah bekerja lagi!" katanya sembari membalikan badan menatap kedua adiknya. "Nanti biar Ibu ikut Mas saja...."

Sanas menggelengkan kepala lemah, "Bagaimana bisa? Ibu biar sama Sanas saja! Mas Madha bagaimana mau ajak Ibu, sementara Mas Madha harus membuat persetujuan dari kedua orang tua Mas Madha. Udah benar ikut Sanas aja."

"Mbak... Mas... Nggak usah! Biar Ibu sama Hana saja!" keputusan Hana membuat ke-dua kakaknya terpaku. "Mas Madha sibuk, harus bekerja... Sementara Mbak Sanas... Mbak juga memiliki keluarga, dan... Dan pasti Mbak akan kualahan. Mungkin jika nanti Ibu nggak mau tinggal di rumah... Biar Hana mengalah untuk pulang ke desa saja!"

Sanas langsung memeluk adiknya. Air matanya kembali berlinang, merasa sesag tidak dapat menjaga Ibunya setiap waktu. "Mbak pasti akan sering-sering pulang ke rumah. Mbak minta maaf belum bisa jadi anak yang berbakti."

Hana melerai pelukan itu. Ia usap air mata kakaknya meskipun air matanya juga berlinang. Jika menyangkut masalah Ibu, pasti tak ada yang mampu bersua selain rasa nyeri yang menusuk.

"Mas juga akan ikut pulang untuk sementara waktu. Apalagi kaki ibu sebelah satunya belum bisa di gerakan. Pasti itu akan lebih memakan waktu dalam aktivitas Ibu. Dan... Dan kamu tidak bisa sendirian dalam mengurus. Mungkin ini waktunya untuk Mas menebus semua hari-hari keterlambatan itu." Madha mendongak sekilas, tidak ingin terlihat rapuh di hadapan kedua adiknya.

Deritan pintu kembali terbuka dari dalam. Seorang Dokter dan satu perawat keluar, berhenti sejenak ketika Madha langsung menghadangnya.

"Dok, bagaimana keadaan Ibu kami?"

Dokter itu mengulas senyum lembut. "Bu Laksmi keadaanya cukup baik. Tapi, kaki sebelah kirinya masih cidera, dan belum dapat di gerakan. Mungkin, nanti setelah di terhapi setiap hari, saya yakin pasti bisa berjalan kembali. Untuk keseluruhannya normal. Gula darah, hipertensinya juga normal semua. Kalau begitu kami permisi! Mari...."

Madha mengangguk. Setelah itu ia langsung bergegas masuk bersama kedua adiknya.

*

*

Di temani Asistennya, Danish masuk ke lobi dengan wajah datar serta raut wajah sangat tegas. Satu staff sudah menyambut, "Mari, Pak Danish...."

Danish menghentikan langkah staff pria tadi. "Sebentar! Apa kamu tahu, jika pagi tadi ada Ibu-ibu yang di larikan ke sini?"

Staff tadi agak berpikir, "Alangkah baiknya jika Pak Danish bertanya langsung pada petugas IGD. Mari...."

Langkah Danish lebih dulu bergerak, dan masih sama di ikuti Asisten Jim serta Staff tadi.

Petugas IGD tersentak, saat putra pemilik rumah sakit itu datang tanpa aba-aba. Ke-4 perawat itu bangkit saling melempar tatap.

"Selamat pagi, Pak Danish... Ada yang bisa kami bantu?" seorang wanita berjilbab hijau muda membuka suara.

Danish berdehem kecil, "Apa fajar tadi ada Ibu-Ibu yang di larikan ke rumah sakit ini?"

"Untuk fajar tadi, ada 5 orang yang datang, Pak! Kalau saya boleh tahu, siapa nama Ibu-Ibu yang Bapak maksud?" sahut perawat satunya.

Danish menarik napas dalam. Ia sejujurnya juga tahu siapa nama Ibunya Hana. Dan pastinya, jika ia menyebutkan nama Hana, nama wanita itu sudah tidak tertera di kartu keluarga Ibunya. Jadi, hal itu membuatnya sedikit pusing.

"Saya juga nggak tahu siapa namanya," jawab Danish berusaha berpikir.

Asisten Jim mendekat, sedikit berbisik, "Maaf, Pak Danish... Anda bisa menyebutkan alamat tinggal, atau anggota keluarga yang tertera."

Baru saja Danish akan menjawab, ia di kejutkan dengan kehadiran Madha dari arah dalam.

"Dan... Loh, kamu disini juga?" Madha menepuk bahu temanya itu.

Danish menoleh. Senyumnya mengembang kaku, dan hal itu membuat para perawat cukup terkejut dengan pemandangan langka tadi. "Kamu juga ada di sini? Siapa yang sakit?"

"Ibuku fajar tadi di larikan ke rumah sakit, Dan! Jatuh dari kamar mandi," jawab Madha agak sendu.

Danish sedikit mengernyit. Seperti kebetulan, tapi... Perawat tadi bilang ada 5 orang yang di larikan. Mungkin, Ibu temanya itu salah satunya. "Aku turut prihatin, Dha! Nanti setelah ini aku sempatkan mampir. O ya, di ruangan apa Ibumu di rawat?"

"Lantai 8, nomor-"

"Mas Madha...." suara seorang wanita memekik, membuat Madha dan juga Danish reflek menoleh.

Sanas sudah berdiri di depan pintu lift. Niatnya tadi sekalian mau ambil charger, tapi ia lupa jika sudah ia masukan dalam tasnya. "Mas, jangan lupa pipetnya!"

Danish spontan melebarkan mata. "Loh, siapa wanita itu? Kok bisa wajahnya mirip sama Hana? Tapi, wanita tadi sedikit lebih dewasa saja," bisik batinya merasa semakin bingung.

"Iya, Mas tahu!" jawab Madha kembali membalikan badan.

Danish dengan sorot mata penasarannya, kini memegang bahu temanya itu. "Siapa, Dha?"

"Oh, dia tadi adiku nomor dua, Dan! Ya udah... Aku tinggal dulu ya, mau beli minum sama perlengkapan lainnya," Madha menepuk sekilas lengan Danish, lalu segera pergi dari sana.

Sementara Danish, ia masih mencoba berpikir, kenapa ada orang yang sangat mirip sekali dengan Ibu susu putrinya itu. Wajah Sanas dan Hana memang bak pinang di belah dua.

Itulah sebabnya, dulu sebelum menikahi Sanas, Anas lebih dulu mengenal Hana dan berniat meminang wanita cantik itu, namun Bu Laksmi menolak lamaran Anas, sebab pada saat itu Sanas sendiri belum menikah. Dan lagi, usia Hana pada waktu itu masih 18 tahun.

Danish memutuskan menghubungi Ibunya sejenak, namun lagi-lagi panggilannya kepada Bu Ana tak terjawab. "Mamah juga kemana sih? Nggak di angkat lagi," gerutunya tak jelas.

Asisten Jim mendekat. Ide cemerlang baru saja melewati pikiran cerdasnya. "Tuan... Jalan satu-satunya kini harus menemui staff penanggung jawab masalah Cctv. Jadi Anda akan tahu Mbak Hana pasti tadi melewati IGD ini."

Danish tersadar. Ia langsung bergerak menuju ruangan Cctv berada.

1
Rina Anggraeni
bagus cerita nya ..ga byk drama yg berkepanjangan .yg penting happy ending semuanya ...visual ny cocok cantik n ganteng meaki lokal 🤭💕💕💕
Ig:@septi.sari21: makasih kak rina atas dukunganya😍🙏
total 1 replies
guntur 1609
aneh. masa org gak bisa menolak lamaran orang
guntur 1609
jangan bilang adiknya lukman nanti suka sama madha🤭🤭
guntur 1609
dasar Tono gila. yg hamilin kan dia. seharusnya dia lah yg harus disalahkan
guntur 1609
mngkn jodoh sanas si lukman x
guntur 1609
kkwkwk🤣🤣🤣 kena pancing kau kan
Anonim
veritanya agak ngaco, banyak tokoh muncul tapi sosik ayah dari keduanya ga muncul2
guntur 1609
beghhh rupanya aprilia mamanya si anak yg jadi pebinor
guntur 1609
brti danish nya ja yg bodoh. Sioe ghianat pandu gak ada hak lagi sama kalian. semenjak dia selingkuh. jadi kno semua permintaanya kau turuti
guntur 1609
kkwkw🤣🤣🤣 ada yg mulai cemburu
guntur 1609
loh kok langsung putusan. seharusnya kan ada mediasi. dan yg lainya. maximal 3 kali pertemuan kalau gak salah
Lies Atikah
yang dicinta tetap mantan walau bertepuk sebelah tangan kasian si bodoh Danis gak jelas loh mash mepet2 sama mantan gliran si Hanna sama laki lain marah cemburu sakit sendiri dasar lemot berengsek lagi si hana juga bego kaya gak ada laki lain aja
guntur 1609
gak tahu ja kau nyet.. kesuksesan mu tu karna dia hana istrimu. bukan karna si lacur mona
guntur 1609
ia.... sih mona tu teman penghianat mu. dia selingkuh sm laki mu yg tingkahnya sprti binatang
Delia ATA
ya ampun, punya suami yang cuma lihat tampang auto stres perempuan. Astoge
Nasiati
🤣🤣🤣kepanasan kamu zaki
Andi Sofian
Mantap
Eomma azqi
dengerin hana tuh kata kk nya gk usah berharap sama laki² bejat kek dy lg
Eomma azqi
dasar laki pea klw manis di awal pacaran ama nikah doang giliran kelamaan malah banding²in bini nya ama orng laen pea klw udh gk suka jgn suka banding²in klw mau selengki selegki aja jgn nyari kesalahan bini yg baik
Nina Rochaeny
adat apaan sihhh...Hana juga ga bisa tegas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!