Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia direnggut kehormatannya dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Mobil baru saja berhenti di halaman kediaman keluarga Baskara, pintu terbuka dan mereka melangkah masuk dalam keheningan yang menyesakkan. Begitu pintu utama tertutup rapat, Tuan Darius berbalik, menatap putranya dengan sorot mata yang tajam dan tak bisa dibantah.
"Haris," panggilnya rendah namun tegas, langkahnya mendekat hingga jarak di antara mereka sangat dekat. "Katakan dengan jujur pada, Ayah. Apa yang sebenarnya terjadi pada Kania dulu? Mengapa dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar? Apakah kalian... kalian menyembunyikan sesuatu dariku?"
Haris menunduk dalam, tangannya mengepal erat. Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba, menekan rasa bersalah yang selama ini ia pendam sendirian. Ia menelan ludah susah payah, tak berani menatap mata ayahnya.
"Aku... aku tidak tahu harus berkata apa, Ayah..." suaranya terdengar parau dan lemah. "Malam itu... aku..."
Belum sempat Haris menyelesaikan kalimatnya, Nyonya Astrid bergegas melangkah mendekat dan merangkul lengan suaminya, mengusapnya dengan lembut.
"Mas..." panggilnya pelan, memasang wajah cemas, "Jangan paksa Haris. Kita semua tahu jika Kania pergi dengan laki-laki lain dan sudah memilih mengkhianati putra kita ini."
Tuan Darius mengerutkan kening, matanya menyelidik tajam ke arah istrinya, "Bukankah kamu begitu menyukai dan menyayangi Kania, apa kamu juga percaya begitu saja dengan cerita itu, Astrid?"
Nyonya Astrid berusaha tetap memasang wajah tenang, "Mas, ini bukan soal percaya atau tidak. Tapi pada kenyataannya Kania tidak pernah muncul lagi beberapa bulan ini."
Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Dan soal wanita yang berdiri di samping Tuan Victor tadi, aku rasa itu hanya kebetulan mirip saja, Mas. Aku sangat mengenal Kania, dan wanita tadi itu... dia bukan Kania kita. Dia orang lain yang kebetulan wajahnya mirip dengan Kania."
"Tapi di dunia ini tidak mungkin ada orang yang wajahnya benar-benar mirip kecuali mereka kembar," sanggah Tuan Darius. "Bagaimana jika tadi memang Kania? Apa laki-laki yang dimaksud pergi dengan Kania adalah Tuan Victor?"
"Itu tidak mungkin, Mas." potong Nyonya Astrid cepat, "Tuan Victor itu orang yang sangat misterius dan sulit untuk ditemui, mana mungkin Kania bisa mengenal sosok seperti Tuan Victor. Laki-laki yang pergi dengan Kania bukan Tuan Victor, Melani pernah menunjukkan fotonya padaku waktu itu. Dan aku sangat yakin sekali jika itu bukan Tuan Victor."
"Sudahlah, Mas. Ini sudah sangat larut, sebaiknya kamu masuk kamar dan beristirahat." Nyonya Astrid berusaha mengalihkan obrolan, "Kamu masuk duluan, aku ingin bicara dengan Haris dulu berdua."
Tuan Darius menghela napas, lalu mengangguk pelan, "Baiklah. Tapi aku akan tetap mencari tahu siapa Kanaya Aurelia itu sebenarnya."
"Terserah kamu saja, Mas." sahut Nyonya Astrid, "Sekarang istirahatlah dulu di kamar."
Tuan Darius menatap Haris sebentar, lalu berbalik dan melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Setelah sosok itu menghilang dari pandangan matanya, Nyonya Astrid menoleh ke arah putranya yang masih berdiri menunduk.
"Haris..."
"Bu," potong Haris cepat, mengangkat wajahnya dan menatap mata ibunya. "Sebenarnya aku sudah berbohong. Aku tahu apa yang terjadi pada Kania sebenarnya malam itu. Kania di perkosa dan aku malah... aku malah meninggalkannya begitu saja..."
Nyonya Astrid melangkah mendekat, mengusap lengan putranya dengan penuh perhatian, "Haris, dengarkan Ibu baik-baik."
Suasana hening sejenak, Nyonya Astrid menatap putranya lekat-lekat. "Kebenaran itu... biarlah tetap menjadi rahasia."
Haris menatap ibunya tak percaya, matanya membelalak lebar. "Ibu sudah tahu? Bu, aku sudah melakukan kesalahan dengan membiarkan kebohongan besar ini terjadi!"
Nyonya Astrid mencengkeram bahu putranya erat, wajahnya tegang namun suaranya berbisik mendesak. "Dengar Ibu, Haris! Jika pun kebenaran itu terungkap, semua sudah tidak ada gunanya. Kamu sudah bertunangan dengan Luna, dan kamu harus menerima kenyataan ini."
Haris mundur selangkah, wajahnya pucat dan matanya berkaca-kaca, "Aku... aku tidak seharusnya meninggalkan Kania malam itu dan langsung membuang cincin pertunangan kami..."
Air mata akhirnya jatuh membasahi pipi Haris, rasa penyesalan yang selama ini ia tahan meledak tak terbendung.
"Sudah, Haris... sudah... jangan menyiksa dirimu sendiri," bisik Nyonya Astrid sambil mengusap punggung putranya. "Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Yang terjadi sudah terjadi. Sekarang kamu harus berpikir jernih. Jika kamu terus mengungkitnya, kamu hanya akan menghancurkan dirimu sendiri dan semua orang yang ada di dekatmu."
Setelah mengatakan itu, Nyonya Astrid pergi menyusul suaminya ke kamar. Tertinggal Haris sendirian di ruang tengah yang kini terasa begitu dingin dan sunyi. Ia membiarkan tubuhnya merosot jatuh ke lantai, lututnya tak lagi sanggup menopang beban penyesalan yang menghimpit dadanya. Isak tangisnya tertahan di kerongkongan, menyakitkan namun tak lagi mampu ia tumpahkan sepenuhnya.
-
-
-
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk lewat kaca jendela lantai tertinggi gedung perkantoran yang kini mulai beraktivitas normal. Kania berdiri di depan kaca besar yang memantulkan bayangan dirinya. Di belakangnya, papan nama besar yang baru saja dipasang bersinar tegas.
AURORA GROUP
CEO: KANAYA AURELIA
Suara langkah kaki terdengar mendekat, lalu sebuah map tebal diletakkan perlahan di atas meja kerja. Victor berdiri di sampingnya, menatap nama yang terukir di sana dengan sorot mata penuh pengakuan.
"Kau berhasil menyelesaikan tugas pertamamu dengan sempurna," ucapnya rendah namun tegas. "Kau yang mengumpulkan setiap bukti, merangkai setiap jejak, hingga akhirnya tikus itu masuk ke perangkap dan kini mendekam di balik jeruji besi."
Kania menatap pantulan dirinya sendiri, jari-jarinya perlahan menyentuh permukaan meja yang dingin. Tidak ada rasa kemenangan yang meluap-luap, hanya rasa lega yang perlahan menyatu dengan tekad yang semakin bulat.
"Itu baru awal, Vic," jawabnya pelan namun tegas. "Tuan Wirawan hanyalah peran kecil. Masih ada yang lain... mereka yang menghancurkan hidupku hingga aku kehilangan harga diri dan hal paling berharga dari diriku."
Kania menoleh perlahan, menatap mata pria yang telah menyelamatkan dan mengubah hidupnya. Sebuah senyum tipis namun tulus mengembang di bibirnya. "Vic, boleh aku meminta tolong satu hal?"
Victor menatapnya lekat-lekat, melihat kilatan api yang tak lagi bisa dipadamkan di balik ketenangan tatapannya. Ia mengangguk perlahan.
"Katakan," ucapnya tegas. "Apapun akan kulakukan."
Kania menarik napas panjang, menahan getaran yang mulai merambat di dadanya setiap kali kenangan kelam itu kembali menghantui.
"Aku ingin kamu menyelidiki kejadian malam itu," ucapnya pelan namun penuh penekanan, matanya tak beralih sedetik pun. "Malam di mana segalanya direnggut dariku. Temukan siapa laki-laki brengsek itu... dan bawa dia hidup-hidup ke hadapanku. Aku ingin melihat wajahnya dan membuat perhitungan dengannya."
Suaranya tak bergetar, namun setiap kata membawa beban ribuan luka yang belum sembuh. Victor menatapnya lama, lalu perlahan meletakkan tangannya di bahu wanita itu dengan perlindungan yang tak tergoyahkan.
"Akan kulakukan," janjinya teguh. "Tak akan ada satu pun jejak yang terlewat. Dan saat dia berdiri di hadapanmu nanti, kau boleh melakukan apa saja yang kau inginkan. Aku akan memastikan dia tidak bisa lari ke mana pun."
Kania mengangguk pelan. Di sampingnya ada pria yang tak hanya memberinya tempat berlindung, tapi juga memberinya kekuatan untuk kembali berdiri dan menuntut keadilan yang sempat hilang.
-
-
-
Bersambung...
semangat trs untuk karya² selanjutnya kk 😘
kamu dan karyamu sangat keren🥰🥰
peluk jauh🤗
teruslah berkarya thor💪🏼