NovelToon NovelToon
Pacar Kecil Tuan Muda

Pacar Kecil Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Beda Usia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:28.3k
Nilai: 5
Nama Author: mul

" Aku menyukai dia sejak pandang pertama, jadi dia harus menjadi pacarku " ucap Arasya menatap penuh damba pria dewasa yang duduk bersandar di sofa restoran masih dengan stelan jas kerjanya .

......

Sean Brisbane menjadi terheran-heran memikirkan gadis yang sudah beberapa hari ini selalu mengejar nya bahkan berusaha mendekati nya tanpa ragu .

" Sangat centil " ucap Sean mengambil lipstik di tangan Ara lalu membuangnya ke lantai agar bodyguard yang lain tidak melihat dia memakai lipstik lagi .

" Kenapa? apa aku terlalu cantik hingga Kakak tidak kuat menatapku memakai lipstik?" tanya Ara memungut lipstik nya yang di jatuhkan Sean .

" Cantik?" ulang Sean dengan tatapan geli nya pada gadis kepedean itu.

" Ayolah Kak jadi pacar Ara aja , Ara suka sama Kak Sean, ganteng !" gemas Ara dengan tampang cegil nya mencuri kesempatan untuk memeluk sebelah lengan Sean yang masih melek mendengar apa yang barusan dia katakan.


next

yuk baca cerita Ara , sicegil Bang Sean

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 Sedikit Kecewa

"Kenapa, kamu keberatan dengan usiaku?" pertanyaan Sean memegang dagu Ara agar tidak menunduk lagi dan menatapnya.

"Sedikit," kata Ara dengan polos dan ekspresi wajah separuh sedihnya.

"Jadi, mau putus?" pertanyaan Sean melihat wajah Ara yang menggambarkan lebih banyak keberatannya walaupun gadis itu bilang sedikit.

"Mmmmh, nggak mau. Ara suka sama Sayang," kata Ara memeluk Sean.

"Lah, kalau begitu kenapa wajahnya keberatan banget?" pertanyaan Sean yang sampai merasa tidak nyaman melihat wajah kecewa Ara.

"Ara cuma merasa ketipu aja sama wajah Sayang yang masih muda," lesu Ara.

"29 tahun memang masih muda, Baby," kata Sean mengelus-elus kepala Ara.

"Muda apanya? Daddy Ara aja pas usia dia 29 tahun, Ara udah sekolah TK," ucap Ara yang membuat Sean langsung melotot.

"Jadi kamu menyarankan aku menikah sekarang agar tidak punya anak di usia tiga puluhan nanti?" pertanyaan Sean.

"Sayang nggak boleh nikah sekarang, apalagi sama wanita lain. Sayang cuma bakalan nikah sama Ara aja," pernyataan Ara dengan tegas.

"Kalau nikah sama wanita lain?" pertanyaan Sean mengangkat sebelah alisnya.

"Nggak boleh. Ara bakalan bakar pelaminan kalian," kata Ara yang terdengar tidak main-main.

"Kalau cuma bakar pelaminan, kan masih bisa," ucapan Sean belum selesai, Ara sudah menyambungnya.

"Ara bakar pelaminannya sekalian sama kalian berdua," ucap Ara tanpa belas kasih.

"Katanya kamu mencintaiku, lalu kenapa tega membakar?" pertanyaan Sean menatap Ara dengan detail, bahkan memperhatikan setiap ekspresi di wajahnya.

"Karena Sayang nggak balas cinta Ara. Mending lihat Sayang mati daripada nikah sama yang lain," pernyataan Ara yang cukup membuat Sean terkejut.

.....

Ting!

"Boss, sudah hampir 3 jam aku menunggu. Apa meeting diundur besok saja?" pesan singkat Bimo.

Sean juga terkejut melihat jam di pergelangan tangannya. Ternyata sudah hampir tiga jam dia menghabiskan waktu bersama Ara, namun rasanya baru sebentar.

"Astaga, Ayang lupa, ya, kalau harus balik ke kantor," kata Ara begitu melihat jam juga terkejut. Padahal rasanya baru sebentar mereka mengobrol, rupanya sudah tiga jam saja.

"Meeting-nya sudah diundur besok, jadi kita akan mengobrol lebih lama hari ini," kata Sean yang tiba-tiba memilih mengundur meeting karena masih ingin menghabiskan waktu bersama Ara.

"Nggak apa-apa kalau diundur?" pertanyaan Ara yang tidak ingin Sean kena masalah.

"Meeting-nya diundur besok karena Presdir yang mengundurnya," jelas Sean yang membuat Ara langsung tersenyum senang.

"Wahhhhh, berarti Ara bisa main lebih lama lagi sama Sayang dong," senang Ara sampai meronta-ronta kesenangan memegang tangan Sean.

"Ayo kita jalan," ajak Ara berdiri menggenggam tangan Sean.

"Sayang tahu nggak, Ara senang banget bisa jalan sama Sayang, soalnya semenjak Daddy dan Mommy pergi ke Australia kemarin Ara jadi kesepian," cerita Ara terus berjalan menggenggam sebelah tangan Sean.

"Memangnya Daddy pergi berapa hari?" pertanyaan Sean yang jadi iba melihat pacar kecilnya ditinggal orang tua. Pasti merasa sangat kesepian untuk anak yang terbiasa dengan belaian orang tua seperti Ara.

"Katanya sebulan, soalnya perusahaan Daddy lagi ada masalah di sana," kata Ara tiba-tiba dengan wajah sedihnya.

"Sudah, jangan sedih lagi. Jika nanti kamu merasa kesepian, hubungi saja aku dan kalau ada waktu senggang, mainlah ke kantorku," ucap Sean mengelus kepala Ara yang berjalan menyandarkan kepala di lengan Sean.

"Nanti Ara malah ganggu Sayang kerja," kata Ara dengan polos.

"Ya makanya jangan mengganggu, Baby, tapi menemani," kata Sean membayangkan betapa senangnya jika bekerja ditemani pacar kecilnya yang manis ini.

"Emang di kantor Sayang boleh bawa pacar?" tanya Ara dengan serius.

"Kalau cuma beberapa jam boleh, asalkan jangan sepanjang hari karena dapat mengganggu profesionalitas dalam bekerja," jelas Sean dengan alasan logis seolah dia juga harus mematuhi aturan kerja yang ketat.

"Emangnya Sayang kalau ada Ara jadi nggak profesional dalam bekerja, ya?" tanya Ara lagi terus berjalan sampai mengajak Sean berjalan di trotoar pinggir jalan raya.

"Bukan tidak profesional, tapi pikiranku teralihkan melihat pacar kecilku yang manis ini," gemas Sean mengacak rambut Ara.

"Ayang, rapikan rambut Ara kembali," rengek Ara yang masih berjalan manja memeluk sebelah lengan Sean di tengah keramaian.

"Iya-iya, maafkan aku," tawa Sean merapikan rambut Ara.

"Ohhhh Tuhan, kenapa bersama Ara rasanya sangat nyaman sampai aku lupa jati diri sendiri?" ucap Sean yang jadi mencintai kehidupan merakyat setelah bersama Ara.

Sean merasa kembali seperti remaja diajak Ara pacaran di tempat-tempat umum yang banyak sekali orang. Tidak mewah, tapi Sean sangat bahagia.

"Ayang kenapa bilang Ara pacar kecil? Emang Ara masih kurang besar, ya? Walaupun pendek, tapi kan nggak kecil-kecil banget," suara lesu Ara yang membuat Sean langsung tertawa.

"Ayang kenapa malah tertawa?" Ara mencubit perut Sean.

.......

Hampir jam lima sore Sean baru pulang ke rumahnya.

"Selamat sore, Tuan Muda," sapa bodyguard dan pelayan yang sudah berbaris rapi menyambut Sean.

"Ada tamu?" pertanyaan Sean pada pelayan yang mengambil jas dan tas di tangan Sean.

"Iya, Tuan Muda. Nona Shania dan orang tuanya," jawab pelayan dengan sopan.

Sean melanjutkan langkah memasuki rumah utama yang sangat luas dan mewah itu.

"Sean," panggil Ibu ketika Sean akan menaiki tangga.

"Iya, Bu," ucap Sean tersenyum dengan mood baiknya, akan berjalan menghampiri Ibunya yang duduk di ruang tamu.

"Kau sudah pulang?" pertanyaan Ayah yang berjalan dari arah berlawanan juga akan menuju ruang tamu.

"Sudah," kata Sean dengan tiba-tiba memeluk Ayahnya yang sangat jarang dia peluk sampai pria paruh baya itu berdiri terdiam dan perlahan membalas pelukan anak semata wayangnya.

"Ji, jika lelah, mandilah dulu, baru ke ruang tamu. Ada beberapa hal yang ingin Papa Shania katakan," ucap Ayah dengan nada rendah begitu Sean melepaskan pelukannya.

"Baiklah, aku mandi dulu," kata Sean kembali menaiki tangga.

"Pelayan, siapkan makanan untuknya," perintah Ayah yang membuat langkah Sean berhenti di seperempat tangga.

"Ayah, aku sudah makan," kata Sean menatap Ayahnya dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya.

"Makan di mana?" tanya Ayah karena Sean baru pulang dari kantor.

"Makan di luar," jawab Sean dengan senyum lebarnya kembali menaiki tangga.

"Ada apa dengan anak itu?" ucap Ayah melihat Sean yang jadi versi jauh berbeda semenjak tinggal kembali di rumah utama hampir sebulan ini.

"Ayah!" panggil Ibu melihat suaminya yang hanya terdiam saja.

Ayah berjalan menuju ruang tamu dan duduk di samping istrinya.

"Silakan diminum," kata Ayah pada ketiga tamunya.

"Aku membawakan Om dan Tante brownies cokelat. Cobalah, aku membuatnya sendiri," ucap Shania yang setiap datang selalu membawa buah tangan.

Ayah malah jadi teringat bolu pandan yang dibawa Sean waktu itu, bahkan sampai sekarang Ayah belum mendapatkannya lagi.

1
Linda Ayu Tong-Tong
bagus sean...dan ara ayolah dewasalah sedikit..umurmu jg gk remaja lagi lo..hey
Linda Ayu Tong-Tong
katerlaluan gk sih thor ara ini..jgn gtu lah..kasih dia sifat dewasa dikit..
Yel
ara kapan sih bisa dewasanya 🤣 bikin salah paham trs, ksian sean
Linda Ayu Tong-Tong
akhirnya nicholas koit jg..jahat sih🤣🤣🤣
Linda Ayu Tong-Tong
gaaaaass lanjut kak..iiih keren daddy nya ara..tuh kamu harus banyak belajar dri daddy ara sean...
Dewi kunti
semangat seaaaaann
Yel
sean sweet bet 😭
Dewi kunti
hadeeeeehhh cinta buta
Dewi kunti
melupakan kali yaaaa
Yel
chapter 100 pun gas ini mah 🤣
Arin
Kalau sampai Nicholas tau Ara di mana, berarti Irene yang bocorkan informasi nya
Linda Ayu Tong-Tong
waduh masa ara mau diculik
Adinda
Ara anaknya Alex sama lala ya Thor,berarti lala punya kakak cowok dua ya
Yel
nikah nikah nikah 🤭
Arin
Namanya perempuan.... biarpun Ara dari keluarga kaya. Kalau di belikan pacar pasti gak nolak lah..... apalagi kalau yang di belikan barang mahal yang limited edition🤭🤭🤭
Yel
jgn lupa acara nikah nya thor, udh 50an chap soalny 😍
Linda Ayu Tong-Tong
kpn mreka nikah thor..dah gk sabaaarrr
Linda Ayu Tong-Tong
iiih baguussss🤣🤣
Linda Ayu Tong-Tong
wakakaka ara lu ngajari camermu ngambekk🤣🤣🤣🤣🤣
Yel
ihiww double date 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!