Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.
Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.
"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."
Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Sunyi
Embun masih menggantung di ujung dedaunan ketika cahaya matahari perlahan menyelinap masuk melalui celah gorden kamar.
Niken terbangun dengan mata yang sembab. Sesaat, ia menoleh ke sisi ranjang yang kosong. Bantal di sisi Danendra bahkan masih terlihat rapi, seolah lelaki itu tak pernah tidur di sana semalam. Ia lalu menghela napas pelan, dadanya kembali terasa sesak ketika mengingat semua yang terjadi beberapa jam yang lalu.
Kakinya terayun ke bawah dari tempat tidur, kemudian beranjak ke kamar mandi, lalu membasuh wajah yang masih dipenuhi jejak air mata. Hari itu seharusnya menjadi pagi pertama sebagai seorang istri yang dipenuhi kebahagiaan, namun kenyataannya jauh berbeda.
Saat keluar dari kamar, aroma kopi memenuhi rumah utama keluarga Pradipta. Di meja makan yang panjang, Danendra sudah duduk bersama kedua orang tuanya.
Pradipta Wiratama terlihat sedang membaca koran pagi, Sementara Ratih Maheswari tersenyum tipis melihat putra semata wayangnya.
"Niken, sini duduk." Ujar Ratih.
Niken mengangguk sopan. "Selamat pagi, Ayah...Ibu."
"Pagi," jawab Pradipta ramah.
Ratih memperhatikan wajah menantunya sekilas. "Semalam tidurnya nyenyak?" tanyanya.
Petanyaan itu membuat Niken yang hendak mengambil gelas sedikit gemetar. "Iya, Bu."
Ratih mengalihkan pandangan kepada Danendra. "Kamu kenapa diam saja dari tadi?"
Danendra hanya mengangkat cangkir kopinya. "Capek," jawabnya singkat.
Suasana di meja makan mendadak berubah canggung, lalu Pradipta mencoba mencairkan suasana dengan bertanya pada Danendra.
"Hari ini kamu ke Lereng Mahitala?"
"Iya, Yah. Ada rapat dengan investor."
Pradipta hanya mengangguk, kemudian beralih ke arah Niken. "Lalu Niken?"
Niken tersenyum kecil, "hari ini saya mau masuk mengajar lagi di TK Tunas Arunika."
"Wah, anak-anak pasti sudah menunggu, ya?" kata Pradipta.
"Iya, Yah."
Baru kali itu sejak duduk di meja makan, Niken benar-benar tersenyum. Ia memang selalu merasa tenang ketika membicarakan murid-muridnya. Sayangnya, senyum itu tidak bertahan lama, ketika ibu mertuanya kembali bersuara.
"Nanti sore, pulanglah lebih awal. Ada beberapa kerabat yang ingin bertemu dengan kalian sebagai pengantin baru."
"Baik, Bu." Jawab Niken yang membuat Danendra langsung bangkit lebih dulu.
"Aku berangkat."
Danendra mengucapkan kalimat itu tanpa menatap Niken, bahkan tanpa senyuman, apalagi berpamitan kepadanya. Niken hanya mampu menatap punggung suaminya yang semakin menjauh sebelum akhirnya pintu tertutup pelan.
* *
Perjalanan menuju TK Tunas Arunika selalu menjadi bagian favorit dalam hidup Niken. Hamparan kebun sayur membentang di kanan kiri jalan. Kabut tipis masih menyelimuti perbukitan Wonosobo. Biasanya pemandangan itu mampu membuat hatinya terasa damai, namun tidak untuk hari ini.
Sesampainya di sekolah, suara riang anak-anak langsung menyambutnya.
"Bu Niken...!" teriak seorang anak perempuan kecil sambil berlari memeluk pinggangnya. "Bu Niken, aku kangen."
Niken membalas pelukan itu sambil tersenyum hangat. "Iya, Bu Guru juga kangen sekali."
Satu persatu murid datang menghampirinya. Ada yang menunjukan gambar baru, ada yang bercerita tentang liburan, ada juga yang langsung mengandeng tangannya menuju kelas.
Di hadapan anak-anak itu, Niken kembali menjadi dirinya sendiri. Perempuan yang sabar serta penuh kasih. Hingga tak seorang pun tahu bahwa semalaman ia menangis sampai hampir kehabisan air matanya.
Di tempat lain...
Danendra berdiri di balkon kantor utama Agrowisata Lereng Mahitala. Hamparan kebun stoberi dan sayuran organik terbentang luas di hadapannya, tetapi pikirannya tidak berada di sana. Bayangan wajah Niken yang menangis semalam terus muncul.
Ia menggenggam cangkir kopinya semakin erat. "Apa benar, tidak semua perempuan akan berdarah?"
Pertanyaan itu muncul untuk pertama kalinya, namun sayangnya rasa penasaran itu masih kalah oleh gengsi yang memenuhi hatinya.
* *
Jam menunjukkan pukul sebelas siang ketika bel istirahat berbunyi. Suara tawa anak-anak memenuhi halaman TK Tunas Arunika. Sebagian berlarian mengejar gelembung sabun yang ditiup salah satu guru, sebagian lagi menikmati bekal yang dibawakan orang tua mereka.
Niken tersenyum melihat tingkah lucu murid-muridnya. "Pelan-pelan makannya, ya. Jangan sambil berlari," ucapnya lembut.
"Iya, Bu Niken!" jawab mereka serempak.
Niken tersenyum, namun di senyumnya masih tersimpan luka yang belum sempat mengering.
"Bu Niken."
Suara itu membuatnya menoleh. Seorang guru menghampiri sambil membawa dua gelas teh hangat.
"Baru menikah kok malah kelihatan capek? Bukannya biasanya pengantin baru paling bahagia?" goda Maya, rekan guru yang paling dekat dengannya
Niken terkekeh kecil, berusaha menyembunyikan perasaannya. "Mungkin masih menyesuaikan diri."
"Suami baik, kan?"
Pertanyaan itu membuat senyum Niken memudar sesaat. "Iya...baik."
Niken berbohong. Bukan karena ingin menutupi kenyataan, tetapi karena tidak ingin rumah tangganya menjadi bahan pembicaraan.
Di waktu yang sama, Danendra baru saja menyelesaikan rapat di ruang utama Agrowisata Lereng Mahitala.
"Pak Danen, ini proposal kerja sama dari Jakarta." Ucap sekertarisnya sambil meletakan sebuah map biru di atas meja.
Danendra mengangguk singkat. "Taruh saja."
Belum sempat ia membuka map itu, pintu ruangannya kembali diketuk.
"Silahkan masuk."
Seorang perempuan berambut panjang melangkah masuk dengan senyum yang begitu ia kenal.
"Sudah lama tidak bertemu, Danen."
Danendra membeku sesaat sebelum akhirnya berkata. "Alana?"
Wanita itu tertawa kecil. "Kukira kamu sudah lupa."
Danendra berdiri dari kursinya. "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku kembali ke Wonosobo."
"Sendiri?"
"Iya." Jawabnya lalu menghela napas panjang, "rumah tanggaku sudah berakhir." Katanya.
Ruangan mendadak sunyi, Danendra tidak tahu harus berkata apa. Dulu, perempuan yang kini di hadapannya adalah orang yang pernah mengisi hampir seluruh hidupnya, sebelum akhirnya memilih menikah dengan pria lain.
"Aku dengar sekarang kamu mengelola Agrowisata Lereng Mahitala. Hebat sekali." Pujinya.
"Terima kasih."
Alana menunduk sesaat, "dan... aku juga dengar kamu baru menikah."
"Iya."
"Selamat," ucapnya terdengar tulus.
Namun di balik senyumnya, mata Alana diam-diam mengamati cincin di jari Danendra. Ia merasa terlambat, karena lelaki itu sudah menjadi milik wanita lain. Tetapi, Alana bukan tipe wanita yang mudah menyerah.
"Kalau suatu hari kita sempat, bagaimana kalau minum kopi bersama? Sekedar mengenang teman lama."
Danendra terdiam beberapa detik sebelum menjawab. "Kalau memang ada waktu."
"Baik." Kata Alana sambi tersenyum puas.
Ia lalu pamit meninggalkan ruangan, dan begitu pintu tertutup, senyumnya perlahan berubah.
"Guru TK." Gumamnya pelan setelah mengingat informasi yang baru saja ia dengar dari salah satu karyawan. "Jadi, perempuan itu yang berhasil mendapatkanmu?"
* *
Sore harinya, Niken tiba di rumah tepat sebelum pukul empat. Beberapa mobil telah terparkir di halaman rumah, rupanya kerabat keluarga Pradipta sudah datang.
Ratih menyambutnya dengan senyum yang sulit ditebak artinya. "Syukurlah kamu tidak terlambat."
"Maaf kalau buat ibu menunggu."
"Cepat ganti baju, semua sudah berkumpul."
Niken mengangguk patuh. Namun saat hendak menaiki tangga, ia mendengar salah seorang bibi Darendra berbisik pelan kepada ibu mertuanya.
"Itu menantu baru?"
"Iya."
"Cantik juga."
Ratih tersenyum tipis, "mudah-mudahan saja cantiknya sejalan dengan kehormatannya." Bisiknya lirih namun cukup sampai ke telinga Niken.
Langkanya berhenti, dadanya kembali terasa sesak. Ia sadar, luka yang ditinggalkan saat malam pertama itu baru saja mulai menyebar ke seluruh keluarga.
...****************...