Hidup sungguh tak pernah berpihak kepadanya,
Sejak kecil nyawanya sudah terancam, dia harus menjadi saksi kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya.
Menjadi yang tertuduh dan dianggap paling bertanggung jawab atas kematian satu satunya orang yang paling menyayanginya setelah sang ibu yakni sang tuan besar yang sebenarnya adalah juga kakeknya hingga akhirnya ia di buang dan ia terpaksa harus bertahan hidup di jalanan menjadi seorang kurir narkoba sejak usia belia demi hanya untuk bisa bertahan hidup.
Gabriella Calista,
mampukan ia menyelamatkan nyawanya ketika meski setelah 15 tahun berlalu, nyawanya masih di inginkan.....
dan apakah ia akan mau menerima cinta yang di tawarkan padanya oleh seseorang yang ternyata dia adalah pewaris sah darah seseorang yang telah membuatnya hidupnya hancur dan sengsara....
ikuti karya baru aku.....
" BIEL..... "
SELAMAT MEMBACA DAN SEMOGA SUKA, LOVE YOU😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17 berhasil
Biel tersenyum remeh dari balik kaca helmya.
" jika kalian mampu.... kemari dan lepaskan dia dariku " ejeknya meremehkan.
" sialan,
sombong juga kau rupanya " jawab salah satu dari dua begal itu dengan merangsek kepada Biel.
Kakinya yang panjang terulur hendak menendang Biel.
Gadis itu menghindar dengan masih mencengkeram tangan laki laki yang ia injak kepalanya itu.
Pergerakannya sontak membuat tangan laki laki itu kian terpelintir dan laki laki itu menjerit seketika.
Krak......
" akhhhh......!! " laki laki itu menjerit merasakan tulang tangannya yang terasa patah.
Tapi Biel tak perduli, ia terus bergerak bebas semaunya tanpa memperdulikan teriakan laki laki itu.
Dugh....
Biel menendang laki laki yang ia injak dengan kuat hingga tubuh laki laki itu sedikit terdorong kebelakang dan menabrak kaki temannya.
Tak ayal,
Tabrakan yang tak terduga membuat temannya ikut terjatuh.
Biel tak menyia nyiakan kesempatan itu, ia merangsek dan menendang dengan kuat dua laki laki itu bergantian.
Biel terfokus pada dua orang di hadapannya dan melupakan satu orang di belakangnya, dan akhirnya.....
srek.....
Ia terlambat menyadari pergerakan di belakangnya,
Dan ketika ia menoleh, gerakannya menghindar terlambat.
Ujung pisau yang tajam berhasil menggaris pinggangnya.
Dugh ....
ketika tubuhnya terhuyung hendak jatuh, Biel masih sempat melayangkan tendangannya pada penyerangnya itu.
keseimbangan Biel masih terjaga, meski sempat terhuyung.
ia masih bisa berdiri dengan tegak.
Netranya menatap tajam kepada tiga orang yang kini saling bantu untuk berdiri itu. Dan ketika telah berhasil berdiri,
mereka melangkah mundur kebelakang.
" berhenti di sana, dasar wanita setan......jangan mendekat !! " sentak salah satu dari ketiga orang itu sambil menodongkan pisau kearah Biel.
Biel diam tak menjawab, tapi ia tetap melangkah maju dengan pelan.
Ketiga orang itu mundur kebelakang hingga kemudian mereka berlari masuk ke dalam hutan.
Segera sosok ketiga orang itu hilang tertelan rimbunnya pepohonan hutan.
" sialan....!! " umpat Biel kesal.
Ia kian mengumpat ketika ia sadar, batang pohon yang cukup besar dan tadi sempat menghentikan perjalanannya belum hilang dari tengah jalan.
" aww....shhttt....."
Biel seketika meringis menahan perih ketika ia menunduk hendak menyingkirkan batang kayu itu.
Dengan telapak tangannya ia mengusap pinggangnya bagian belakang.
Seketika telapak tangannya terasa basah.
Ia kembali meringis dan tersenyum getir ketika ia mencium aroma anyir darah dari telapak tangannya yang basah itu.
Biel melirik ke arah jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
" ckk ...aku tak punya banyak waktu lagi " desisnya pelan.
Biel pun akhirnya memilih mengabaikan lukanya setelah ia melepas jaketnya dan mengikatkannya pada pinggangnya.
Dengan sekuat tenaga dan susah payah ia berusaha menyingkirkan batang kayu yang menghalangi jalannya hingga akhirnya berhasil.
Sekali lagi,
Dengan kecepatan di atas rata rata, Biel kembali melajukan motornya meninggalkan tempat itu.
Angin dingin yang bagai pisau menggores permukaan kulitnya ketika motornya melaju kencang tak lagi ia rasakan.
Dan akhirnya perjalanannya berhasil,
Pukul satu kurang beberapa menit ia sampai di tempat tujuannya.
Tanpa melepas helmnya, Biel langsung turun dari motor dan memakai tasnya,
Dengan langkah pasti ia melangkah ke arah pintu belakang.
" aku...." ucapnya pelan namun tegas pada seseorang yang berdiri di ambang pintu belakang itu.
" Ikuti aku.... " Seolah paham dengan ucapan Biel,
Seseorang itu meminta Biel mengikutinya. Menyusuri lorong dan naik melalui tangga darurat menuju lantai atas.
Sampai di lantai atas, Biel yang masih memakai helmya di persilahkan masuk ke dalam ruangan yang di bukakan oleh seseorang itu.
Dengan kewaspadaan yang tinggi, Biel pun masuk ke dalam ruangan itu.
Kosong,
Mata Biel menyipit menelisik ruangan yang kosong itu.
" letakkan saja di meja..." sebuah suara tanpa orangnya terdengar.
Biel terdiam,
" tugasmu hanya sampai di sini, letakkan saja apa yang kau bawa itu di atas meja dan setelah itu pergilah.
kita tak lagi punya urusan " ucap suara itu lagi.
Kali ini Biel menurut, tak lagi banyak berpikir ia mengeluarkan bungkusan sesuatu yang cukup besar dari dalam tasnya dan kemudian meletakkan bungkusan itu ke atas meja sesuai perintah.
Dan tak lagi ingin berlama lama, Biel memutar tubuhnya hendak meninggalkan tempat itu.
" tunggu " suara itu menghentikan langkah Biel.
" kau hebat.....aku sungguh takjub padamu, kau bisa mengantarkan barang ini tepat waktu.
tulis di kertas di atas meja itu nomor rekeningmu, aku akan memberikan sedikit bunga untukmu " suara itu lagi terdengar mengapresiasi pekerjaan Biel.
Biel hanya diam tak menjawab, alih alih berbalik dan menuliskan nomor rekeningnya sesuai permintaan suara itu.
Biel justru melanjutkan langkahnya dan meninggalkan ruangan itu begitu saja. Tak ia hiraukan seseorang yang entah dimana dan mungkin sedang memperhatikannya.
Dan yang sebenarnya adalah, dari balik ruangan itu seseorang memang sedang memperhatikan Biel melalui layar segi empat di hadapannya.
Saat ini,
Ia sangat terkejut melihat sikap Biel yang seolah acuh pada ucapannya barusan.
Think....
Sampai di luar pintu, suara notif pesan masuk ke dalam ponselnya.
Biel merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan ponselnya.
Matanya terbelalak lebar melihat besarnya uang yang masuk ke dalam rekeningnya.
Think....
Lagi,
Belum hilang keterkejutannya dengan jumlah nominal yang baru saja masuk ke dalam rekeningnya,
Ia dibuat terkejut lagi dengan sejumlah uang senilai seratus lima puluh juta yang kembali masuk ke dalam rekeningnya.
Biel menarik nafas panjang,
Jokey benar benar tidak berbohong, ia mendapat bayaran tiga kali lipat bahkan lebih dari pekerjaan yang baru saja ia selesaikan barusan.
Jari jari kecil Biel bergerak lincah pada layar ponselnya,
Tak lama ia terlihat mematikan ponselnya dan mengeluarkan memory cardnya setelah ia memastikan jika tak ada kamera apapun di sekitar tempat itu.
Biel melipat kecil benda kecil itu kemudian menelannya dan kembali menyimpan ponselnya.
Selesai di sana, ia melenggang pergi meninggalkan tempat itu.
Kembali menuruni anak tangga yang tadi ia lewati untuk bisa sampai di tempat ini.
Sampai di lantai bawah kening Biel mengerut.
Pasalnya lantai bawah yang tadinya sepi, kini nampak lebih ramai dan sedikit gaduh.
" ada apa ?! Apa yang terjadi ?! " tanyanya pada seseorang yang baru saja lewat di depannya.
seseorang yang Biel tanya tak langsung menjawab.
Ia menatap aneh kepada Biel, mungkin karena saat ini ia masih memakai helm.
" oh sorry.....
aku hanya seorang kurir dan aku baru saja mengantar pesanan " ucap Biel sambil melepas helmnya.
" oh....
ada penggerebekan di lantai dasar, tepatnya di lantai dansa " jawab seseorang itu kemudian.
" maksudmu polisi ?! Ada polisi di lantai dansa ?! " tegas Biel.
" iya....sorry,
aku harus cepat pergi.....aku tak mau terlibat apapun dengan mereka " ucap seseorang itu lagi dan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu dan Biel dengan langkah lebar dan cepat.
Sementara Biel....
Gadis itu tiba tiba merasa tak tenang,
Dengan gerakan cepat, Ia melepas jaket hitam yang ia ikat di pinggangnya dan kemudian memakainya kembali berikut dengan helmnya juga.
Biel berniat segera meninggalkan tempat itu.
Tapi...
" tunggu....berhenti di tempatmu !! " sebuah suara barinton menghentikan langkahnya.
Biel berdiri tegak membelakangi seseorang yang juga berdiri tegak tak jauh di belakangnya.