Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?
layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.
Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....
Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Harus gitu pilih sekarang?"
"Iya, nanti tinggal Abang kabari ke teman Abang pilihan kamu yang mana. Nanti malam biar di bawaain sama teman Abang pas dia habis tutup toko."
Beberapa saat aku melihat dan membandingkan, ada sekitar tujuh pilihan hingga akhirnya ada satu model yang sederhana tapi elegan menurutku.
"Yang ini aja gimana, Bang?" ucapku sambil menunjukkan sepasang cincin couple berwarna putih dengan satu mata ditengah dan ada sedikit ukiran di sana.
"Ya, Abang juga suka yang itu." ujarnya sambil meraih ponsel pintar miliknya. Kemudian jemarinya terlihat menari di atas layar datar si setan gepeng.
"Ya sudah, Abang ketemu bos kamu sebentar ya. Sekalian Abang laporan kalau misi berhasil." ucapnya sambil tertawa kecil.
"Misi apa?" tanyaku heran.
"Misi ngajak kamu nikah." ujarnya sambil menyerahkan berkas tagihan yang tadi dia cek.
"Ada-ada aja." jawabku.
"Alibi sih sebenernya, biar bisa pulang bareng kamu aslinya. Nggak bawa motor kan tadi?" tanya Bang Rengga.
"Tahu darimana?" tanyaku heran.
"Abang tadi lewat gerbang samping, pintu depan sudah di kunci kayaknya. Abang kan datang telat tadi, di parkiran Abang nggak lihat ada motor kamu." jelas lelaki itu.
"Iya, tadi pagi susah nyala. Abang sini dulu deh.." pintaku.
"Apa?" jawab lelaki itu kembali mendekat.
"Duduk dulu." titah ku sambil mengambil sisir dan karet rambut kecil warna hitam dari dalam laci yang memang sengaja aku tinggal.
"Apa sih?" tanya nya heran.
"Diam!" ucapku. "Permisi ya, pegang kepala Abang sebentar. Risih aku lihat rambut kamu berantakan, Bang." jawabku sambil menyisir rambut lelaki itu yang saat ini lumayan panjang.
"Di rapiin napa, Bang. Biar kelihatan rapi gitu. Nggak gerah apa?" tanyaku sambil mengikat rambut Bang Rengga.
"Ntar kalau makin ganteng gimana?"
"Emang nggak di tegur pas ngantor?"
"Nggak, selagi omzet melejit, target tercapai mah... It's oke.!" jawab Bang Rengga.
"Heemm.... Rapiin ya.... Biar makin ganteng!" ucapku.
"Haish... Gitu ya..... Berasa nonton drakor live ini." goda Nita.
"Gerah banget rasanya lihat rambutnya, Mbak Bon."
"Iya... Iya... Ntar temenin ke barber shop bentar ya pas pulang. Abang ketemu bos kamu dulu. Barang kali hari Minggu besok beliau berkenan hadir."
"Iya, udah sana. Mumpung Bapak ada di depan."
"Iya, makasih ya.. Udah di rapiin rambutnya."
"Hem... "
Aku hanya berdehem saja lalu kembali melanjutkan pekerjaan agar tidak ada yang tertunda dan besok tidak terlalu banyak yang aku kerjakan.
Hingga akhirnya, sudah saatnya pulang. Bang Rengga juga sudah menunggu di depan. Setelah mampir sebentar di masjid untuk sholat Ashar, kami langsung menuju ke barber shop, sepertinya Bang Rengga biasa merapikan rambutnya di tempat ini karena dia terlihat akrab dengan hair stylish nya.
"Yang," panggil Bang Rengga.
Aku mengangkat wajahku, tapi tetap duduk di kursi tunggu yang tidak jauh darinya. "Apa?"
"Pangkas model gimana?" tanya Bang Rengga.
"Terserah Abang, senyamannya Abang aja." jawabku.
"Beneran? Yang atas agak di panjangin dikit boleh ya?" pinta lelaki itu.
"Jangan terlalu panjang tapi ya, biar kelihatan rapi besok."
Bang Rengga mengangguk sambil mengangkat jempol tangannya. Aku kembali kembali fokus pada benda pipih yang ada dalam genggaman tanganku, tenggelam dalam satu judul novel dari salah satu aplikasi online.
Beberapa waktu kemudian, Bang Rengga sudah selesai. Dia kembali memanggil.
"Yang, lihat Abang sebentar," pintanya.
"Udah selesai?" Tanyaku.
"Udah, kurang gimana?" Tanya nya balik.
Aku memperhatikan penampilan Bang Rengga, "udah, gitu dong. Kan rapi dan ganteng." Ucapku memuji.
"Thank you ya, Bang." Ucap Abang Rengga pada hair stylist yang tadi merapikan rambutnya.
Setelah itu, Bang Rengga berdiri menghampiriku lalu duduk di sampingku. "Lapar nggak, Yang?"
"Iya, pengen yang pedes berkuah deh Bang." Ucapku.
"Kamu ngidam?" Tanya nya sambil menatapku.
"Abang kalau ngomong suka sembarangan deh. Yang nggak tahu ntar disangkanya Abang udah kasih DP lagi." Ucapku sambil cemberut.
"Hahahah.... Biarin aja lah, Yang. Nggak usah di anggap. Terserah orang mau ngomong apa. Mau makan apa? Biar Abang bisa langsung punya bayangan bawa kamu kemana buat makan."
"Terserah Abang lah. Pokoknya berkuah dan pedas."
"Ke cafe aja kalau gitu ya, makan sop buntut sambil Abang sekalian cek laporan usahanya Papa."
"Iya, aku telpon Ibu sebentar ya. Pamit kalau ikut Abang ke cafe dulu."
"Biar Abang aja yang telpon Ibu." Ucapnya.
Setelah menelpon Ibu, kami segera beranjak ke kasir lalu keluar dari barber shop langganan Bang Rengga. Beberapa saat berkendara hingga akhirnya sampai di cafe milik Bang Rengga.
Seperti biasa, setelah memesan makanan dan minuman, Bang Rengga mengajakku masuk ke ruangan nya.
Beberapa saat menunggu, akhirnya pesanan Bang Rengga datang. Kamipun segera makan karena cacing dalam perut sudah mulai unjuk rasa minta jatah makanan.
Setelah makan, Bang Rengga pamit menyelesaikan laporan usaha milik Papa Adam.
Bang Rengga terlihat sangat serius, tidak seperti biasanya saat dia melihat laporan cafe. Kedua alisnya sampai hampir bertaut dan dahinya berkerut. Beberapa saat kemudian terlihat dia memijat pelipisnya.
"Kenapa Bang?" Tanyaku yang memperhatikan gerak geriknya sedari tadi.
"Ada yang coba main-main di usaha furniture milik Papa, Yang."
"Abang ada bukti?"
"Ada, Minggu lalu pas Abang ke kantor Surabaya, Abang mampir ke kantor milik Papa. Abang langsung ambil laporan dari data base orang keuangan langsung. Sekarang Abang cross chek sama laporan yang di kirim sama Om Dibyo, teman Papa yang bertanggung jawab di sana ternyata beda banget tahu nggak angkanya."
Bang Rengga menyandarkan kepalanya di sandaran kursi hingga kepalanya lurus menatap langit-langit ruangan nya.
Aku berdiri, mendekat pada Bang Rengga. Dari laporan yang di sandingkan memang nampak jelas jika ada permainan . Kupijat pundak lelaki yang nampak lelah itu dari belakang agar sedikit rileks.
"Abang coba ngomong dulu sama Papa Adam. Gimanapun, semua kan masih di bawah kendali Papa. Nggak mungkin Abang yang langsung turun nyikat tikusnya kan?" Ucapku.
"Iya, nanti Abang pulang ke rumah. Abang tunjukin ke Papa. Masalah nya, Om Dibyo itu sahabat perjuangan Papa. Beberapa bulan lalu, beliau mengajukan perjodohan antara putrinya sama Abang. Tapi Abang menolak. Apa gara-gara itu dia melakukan hal kayak gini?"
"Coba aja Abang telusuri mundur. Sejak kapan ada perbedaan laporan. Abang ambil data kemarin dari kapan?" Tanyaku.
"Abang ambil selama satu tahun ke belakang."
"Abang sandingkan aja semuanya sama laporan yang di kirim sama Om Dibyo. Habis itu baru point-point yang menurut Abang nggak sama, Abang tunjukkan ke Papa Adam. Jadi Abang ketemu sama Papa Adam nggak cuma omong doang. Tapi juga ada bukti yang kuat."
"Iya, Yang. Peluk Abang dong, biar ilang pusing sama capeknya Abang."
"Modus banget sih!" Jawabku sambil berlalu kembali duduk di sofa yang ada di ruangan Bang Rengga.
"Yang.... " panggil nya sambil sedikit merengek manja.
"Ih, geli tahu denger Abang kayak gitu. Malu sama badan yang gedhe... "
"Iih... Yang... Abang kan juga pengen manja-manja sekali-sekali."
Aku hanya diam pura-pura sibuk dengan ponsel.
"Yang.... "
"Dalem Abang yang paling ganteng." Jawabku sambil tetap melihat pada ponsel.
"Tengok sini dong!"
Aku terkejut saat mengangkat wajahku ternyata Bang Rengga sudah ada di depan ku. Tak lama kemudian ada sebuah benda kenyal yang menempel di bibirku.
Cup
Sedetik kemudian, benda kenyal yang ternyata bibir Bang Rengga terlepas. Lelaki itu sudah berpindah posisi duduk di sampingku lalu merebahkan badannya di sofa. Kepalanya dia letakkan di atas pangkuan ku. Kemudian dia memeluk erat pinggang ku dengan wajahnya yang menatap ku penuh rasa bersalah.
"Maaf, Yang." Ucapnya saat melihatku hanya terdiam.
Aku menarik nafas panjang. Lalu ku hembuskan pelan. "Jangan di ulangi lagi ya, Bang. Aku cuma takut salah satu dari kita khilaf. Sekuat apapun benteng, kalau di peluk setan bisa saja khilaf."
"Iya, kayak Abang sekarang lagi peluk kamu. Abang lagi cosplay jadi setan." Ucapnya sambil menyembunyikan wajahnya menghadap ke perutku.
"Bang, bangun. Jangan kayak gini. Nggak enak kalau ada karyawan Abang yang lihat."
"Ini juga udah bangun lho, Yang. Padahal cuman nempel bentar aja."
"Maksudnya, apa sih Bang?"
"Lupain aja." Jawab Bang Rengga lalu bangun dari tidurnya. Dia duduk di sampingku sambil menyandarkan kepalanya di pundakku.
"Abang biar badan gedhe juga pengen kali Yang, dimanjain."ucap Bang Rengga.
"Iya, nanti ya kalau udah saatnya. Pasti bakal Aku manjain. Udah, sekarang kita turun ya. Bentar lagi Magrib. Abang udah kelar kan liat laporannya?"
"Abang lanjut di rumah aja, puyeng kepala Abang." Ucapnya. "Apalagi kepala bawah." Imbuhnya pelan.
"Apa Bang?" Tanyaku yang tidak jelas mendengar gumamannya.
"Ayo turun, daripada Abang khilaf lagi." Ucap Bang Rengga.