Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 4 : Wanita Masa Lalu
Pagi di rumah keluarga Mahendra selalu dimulai dengan ritme yang teratur dan sunyi. Tidak ada suara tawa berlebihan, tidak ada percakapan santai yang mengalir begitu saja. Semua berjalan sesuai jadwal, seolah rumah besar itu lebih mirip kantor daripada tempat tinggal sebuah keluarga.
Nadira duduk di meja makan kecil di sisi dapur, menikmati sarapan sederhana yang disiapkan Wati. Meski statusnya kini adalah istri dari seorang CEO besar, ia tetap merasa tidak pantas duduk di meja makan utama kecuali jika memang diundang secara resmi.
Ia sudah mulai memahami pola hidup di rumah ini.
Semua terstruktur.
Semua berdasarkan aturan.
Dan semuanya terasa… jauh.
Arka bahkan sudah berangkat sejak pagi buta. Seperti biasa, tidak ada perpisahan yang hangat. Hanya pesan singkat yang disampaikan Wati bahwa jadwalnya padat sepanjang hari.
Nadira mengangguk pelan saat mendengar itu.
"Aku akan ke kantor hari ini."
Wati sedikit terkejut.
"Nyonya akan ke kantor Tuan Arka?"
"Ya. Beliau bilang aku boleh datang jika diperlukan untuk acara perusahaan."
Wati tersenyum sopan.
"Baik, saya akan menyiapkan mobil."
Beberapa jam kemudian, mobil hitam yang sama kembali mengantar Nadira menuju gedung tinggi milik Mahendra Group. Gedung itu menjulang seperti simbol kekuasaan yang tak tersentuh, dengan kaca-kaca besar yang memantulkan cahaya matahari kota.
Nadira menatap gedung itu dari dalam mobil dengan perasaan campur aduk.
Ini bukan tempatnya.
Namun sekarang, ia adalah bagian dari dunia itu—meski hanya sebagai pelengkap sementara.
Di lobi utama, suasana begitu sibuk. Karyawan berlalu-lalang dengan dokumen di tangan, beberapa berbicara lewat headset, sementara layar besar menampilkan data perusahaan yang terus berubah.
Begitu Nadira masuk, beberapa orang mulai menoleh.
Bisik-bisik kecil mulai terdengar.
"Itu dia istri CEO?"
"Yang menikah tiba-tiba itu?"
"Ternyata masih muda…"
Nadira mencoba mengabaikan semuanya.
Ia mengikuti Wati yang membawanya menuju lantai eksekutif.
"Ruang Tuan Arka di lantai paling atas, Nyonya."
Nadira mengangguk.
Lift kaca membawa mereka naik perlahan. Kota terlihat mengecil di bawah kaki mereka, sementara jantung Nadira justru terasa semakin berat setiap detiknya.
Saat pintu lift terbuka, suasana langsung berubah.
Lantai itu jauh lebih tenang, lebih eksklusif, dan hanya beberapa orang tertentu yang bisa keluar masuk.
Di depan ruang kerja Arka, dua sekretaris berdiri.
Mereka langsung membungkuk sopan.
"Selamat pagi, Nyonya Mahendra."
Nadira mengangguk balas.
"Saya ingin menemui Arka."
Salah satu sekretaris tampak ragu.
"Tuan sedang ada rapat internal, Nyonya. Tapi beliau sudah memberi izin jika Anda datang."
"Baik."
Nadira duduk di sofa tunggu yang berada di dekat pintu ruang kerja. Wati berdiri tidak jauh darinya, menjaga jarak profesional.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Suara langkah sepatu hak tinggi terdengar dari ujung koridor.
Tepat dan mantap.
Satu sosok wanita muncul dari arah lift.
Nadira menoleh secara refleks.
Dan saat itu juga, suasana di sekitarnya seakan berubah.
Wanita itu sangat anggun. Rambutnya panjang terurai rapi, pakaiannya berwarna krem mahal yang menegaskan statusnya, dan wajahnya dihiasi senyum percaya diri yang tidak dibuat-buat.
Semua orang di lantai itu tampak mengenalnya.
Beberapa karyawan langsung menunduk hormat.
"Selena, selamat pagi."
"Selena sudah datang?"
Wanita itu hanya mengangguk ringan tanpa berhenti berjalan.
Tatapannya lurus ke depan, namun saat melewati Nadira, langkahnya berhenti.
Seolah baru benar-benar melihat keberadaan seseorang yang tidak seharusnya ada di tempat itu.
Matanya menatap Nadira dari atas ke bawah.
Lama.
Menyelidik.
Kemudian muncul senyum kecil yang sulit diartikan.
"Akhirnya aku melihatnya."
Suara itu lembut, tetapi dingin di saat yang sama.
Nadira sedikit mengerutkan kening.
"Maaf, kita pernah bertemu?"
Wanita itu tersenyum lebih lebar.
"Belum."
Ia mengulurkan tangan dengan anggun.
"Aku Selena Ardhana."
Nama itu membuat beberapa karyawan di sekitar mereka langsung saling berpandangan.
Nadira menjabat tangan itu dengan sopan.
"Nadira Mahendra."
Begitu nama itu disebut, ekspresi Selena sedikit berubah.
Namun hanya sesaat.
Lalu kembali seperti semula.
"Oh… jadi kamu yang sekarang."
Kalimat itu terdengar ringan, tapi penuh makna tersembunyi.
Nadira tidak langsung menjawab.
Selena melirik pintu ruang kerja Arka yang tertutup.
"Arka ada di dalam?"
"Ya, sedang rapat."
Selena mengangguk pelan.
"Aku tahu dia pasti akan sibuk."
Ia kembali menatap Nadira.
Tatapannya kali ini lebih tajam.
"Kau menunggunya?"
"Ya."
"Sebagai istri?"
Nadira tidak menjawab cepat.
"Iya."
Selena tertawa kecil.
Bukan tawa bahagia.
Lebih seperti tawa yang menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Kemudian ia berjalan mendekat satu langkah.
"Lucu."
"Apa maksudmu?"
Selena menyilangkan tangan.
"Arka tidak pernah suka menunggu siapa pun."
"Apalagi wanita."
Kalimat itu membuat udara di sekitar mereka terasa lebih dingin.
Nadira tetap tenang.
"Itu urusannya."
Selena menatapnya lebih lama.
"Lalu kamu tahu dia dulu seperti apa?"
Nadira diam.
Selena tidak menunggu jawaban.
"Aku yang paling tahu."
Senyum di wajahnya menghilang perlahan.
"Karena aku pernah menjadi bagian dari hidupnya."
Hening.
Karyawan di sekitar mereka pura-pura sibuk, tapi jelas mendengarkan.
Wati tampak sedikit tegang.
Selena melanjutkan.
"Aku tidak menyangka Arka akan menikah secepat ini."
Pandangan matanya kembali ke Nadira.
"Dan lebih tidak menyangka… dia memilih seseorang seperti kamu."
Nadira akhirnya bersuara.
"Saya tidak tahu apa yang kamu maksud."
Selena tersenyum tipis.
"Aku hanya berkata jujur."
Ia melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.
"Arka bukan tipe pria yang mudah membuka hati."
"Dia dingin. Terlalu fokus pada pekerjaan."
"Tidak ada ruang untuk perasaan dalam hidupnya."
Selena berhenti sejenak.
"Tapi aku pernah hampir menjadi pengecualian itu."
Kalimat itu menggantung di udara.
Nadira merasakan sesuatu yang tidak nyaman di dadanya.
Namun ia tetap menjaga ekspresi.
Selena mengamati Nadira lagi.
"Lalu sekarang kau di sini."
"Menjadi istrinya."
Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.
"Menurutmu, itu posisi yang permanen?"
Nadira menatapnya lurus.
"Aku tidak pernah berpikir tentang itu."
Selena tertawa pelan.
"Bagus."
"Karena memang seharusnya tidak."
Suasana semakin tegang.
Beberapa karyawan mulai menjauh perlahan.
Selena menurunkan suaranya.
"Kau tahu kenapa Arka menikahimu?"
Nadira tidak menjawab.
Selena melanjutkan tanpa menunggu.
"Karena keluarga."
"Karena bisnis."
"Karena tekanan."
Ia mendekat sedikit.
"Bukan karena cinta."
Kata terakhir itu terasa seperti sengaja ditekan.
Nadira menahan napas pelan.
Selena menatapnya dengan mata yang kini lebih tajam.
"Dan kau tahu apa artinya itu?"
"Apa?"
"Artinya kau hanya pengganti sementara."
Hening.
Kalimat itu jatuh begitu saja di tengah koridor lantai eksekutif.
Tanpa belas kasihan.
Tanpa ragu.
Nadira menatap Selena lama.
Namun ekspresinya tetap tenang.
"Aku tidak pernah mengklaim apa pun."
Selena sedikit mengangkat alis.
"Tapi kau sekarang memakai namanya."
Nadira menjawab pelan.
"Itu hanya bagian dari kesepakatan."
Ucapan itu membuat Selena terdiam sesaat.
Seolah tidak mendapatkan reaksi yang ia harapkan.
Kemudian ia tersenyum lagi.
"Kau menarik."
"Lebih tenang dari yang kuduga."
Ia melirik pintu ruang kerja Arka.
"Tapi tetap saja tidak akan bertahan lama."
Nadira tidak menjawab.
Selena memutar tubuhnya sedikit, bersiap pergi.
Namun sebelum melangkah, ia menoleh sekali lagi.
"Arka tidak pernah benar-benar berhenti di masa lalu."
"Dan aku… masih bagian dari masa itu."
Ia tersenyum tipis.
"Jadi jangan terlalu nyaman di tempatmu sekarang."
Lalu ia berjalan melewati koridor, meninggalkan suasana yang terasa semakin berat.
Beberapa detik setelah kepergian Selena, pintu ruang kerja Arka akhirnya terbuka.
Arka keluar bersama beberapa staf, ekspresinya tetap dingin seperti biasa.
Ia langsung melihat Nadira yang masih duduk di sofa.
"Lama menunggu?"
Nadira berdiri.
"Tidak."
Arka mengangguk singkat.
Matanya kemudian sempat menyapu koridor yang baru saja dilalui Selena.
Namun ia tidak bertanya apa pun.
Seolah pertemuan itu bukan sesuatu yang perlu dibahas.
Nadira memperhatikan itu dalam diam.
Ada sesuatu yang tidak ia mengerti di antara Arka dan wanita bernama Selena tadi.
Sesuatu yang tidak pernah masuk dalam kontrak pernikahan mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi istri Arka Mahendra, Nadira merasakan satu hal yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Bukan sekadar dingin.
Bukan sekadar jarak.
Tapi kemungkinan bahwa di masa lalu Arka, ada seseorang yang mungkin belum benar-benar pergi.