Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Queen berdiri mematung sejenak, otaknya bekerja secepat mesin jet mencari cara agar pintu ruang rapat itu tidak pernah terbuka.
Jika ia melangkah masuk, riwayatnya tamat. Ayahnya akan menyeretnya pulang, dan Tuan Armand akan menatapnya dengan pandangan menjijikkan itu lagi.
"Nial, tunggu!" Queen menyambar lengan Nial, menahannya tepat sebelum pria itu menyentuh gagang pintu ruang meeting.
Nial berhenti, menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi bertanya yang dingin. "Apa lagi, Queen? Kita sudah terlambat tiga menit."
"Itu ... umm ..." Queen menelan ludah, matanya bergerak gelisah ke arah pintu lift di ujung lorong. "Maksudku, bukankah kau bilang tadi aku harus 'mengurus kebutuhanmu'?"
Nial menyipitkan mata, menatap Queen dengan tatapan menyelidiki. "Ya. Dan kebutuhan utamaku saat ini adalah sekretaris yang kompeten di ruang rapat. Kenapa?"
Queen menarik napas panjang, lalu dengan nekat ia maju satu langkah, mengikis jarak hingga tubuhnya nyaris menempel pada Nial. Ia mendongak, mencoba memasang wajah paling menggoda yang ia bisa—meski sebenarnya ia ingin menangis karena malu.
"Kau tahu, Nial ... aku baru ingat sesuatu," bisik Queen sambil merapikan dasi Nial dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat. "Tadi malam ... kita belum sempat mencoba semuanya, kan?"
Nial membeku. "Mencoba apa?"
"Gaya baru," ucap Queen cepat, suaranya sedikit meninggi karena gugup. "Maksudku, kau pria yang suka tantangan dan efisiensi, kan? Aku baru saja membaca ... eh, memikirkan sebuah teori baru tentang ... ergonomi ranjang."
Nial mengerutkan kening, tampak benar-benar bingung dengan perubahan sikap Queen yang tiba-tiba.
"Ergonomi ranjang? Queen, apa kau sedang melantur? Delegasi Arresta sudah ada di dalam."
"Lupakan tentang Arresta! Mereka bisa menunggu sepuluh menit lagi," Queen semakin panik saat mendengar suara dari balik pintu ruang rapat.
Ia langsung menangkup wajah Nial dengan kedua tangannya, memaksa pria itu menatapnya. "Aku serius, Nial. Ada satu posisi yang sangat ... revolusioner. Dan aku yakin kau akan suka mempraktekkannya denganku."
Nial menatap Queen datar, satu tangannya terulur untuk melepaskan tangan Queen dari wajahnya. "Queen, jika ini taktikmu untuk menunda pekerjaan, ini sangat tidak lucu. Kita bisa membahas 'posisi revolusioner' itu nanti malam."
Saat Nial hendak berbalik dan benar-benar membuka pintu, Queen berteriak pelan dalam keputusasaan.
"Aku di atas!"
Langkah Nial terhenti seketika. Ia berbalik perlahan, menatap Queen dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara terkejut dan tidak percaya. "Apa kau bilang?"
"Aku di atas," ulang Queen dengan wajah semerah kepiting rebus, namun suaranya dibuat seberani mungkin. "Kau bilang kau ingin aku jadi penurut, tapi bukankah variasi itu penting? Aku ... aku ingin memegang kendali sekarang. Di ruanganmu. Sekarang juga. Kau tidak mau melihat sekretarismu menunjukkan ... inisiatif?"
Nial menatap Queen lama, lalu ia mendengus pelan, sebuah tawa kecil yang terdengar sangat seksi lolos dari bibirnya. Ia melangkah mendekat, memerangkap Queen di antara tubuhnya dan pintu.
"Inisiatif yang menarik," bisik Nial rendah, matanya berkilat nakal yang jarang terlihat. "Tapi sayang sekali, aku lebih suka kendali tetap di tanganku saat ini. Dan inisiatifmu itu ... akan jauh lebih menarik jika kau tunjukkan selesai rapat."
"Nial, tidak! Aku—"
Belum sempat Queen menyelesaikan kalimatnya, Nial sudah memutar gagang pintu dan mendorongnya masuk ke dalam ruang rapat yang luas.
"Selamat pagi, maaf membuat Anda menunggu," ucap Nial dengan suara baritonnya yang berwibawa, seolah tidak baru saja digoda dengan 'posisi baru' di koridor.
Queen menahan napas, matanya terpejam sekejap sebelum akhirnya memberanikan diri menatap ke arah meja panjang. Jantungnya mencelos—namun sedetik kemudian, ia sedikit bisa bernapas. Yang duduk di sana bukan ayahnya, melainkan Harlan, sekretaris pribadi sekaligus orang kepercayaan ayahnya yang sudah bekerja di keluarga Arresta selama puluhan tahun.
Harlan seketika berdiri, matanya membelalak kaget saat melihat sosok yang berdiri di samping Nial Percy. "Nona Que—"
"Selamat pagi, Tuan!" potong Queen dengan suara yang sangat lantang dan ceria, hampir seperti pekikan.
Ia melangkah maju satu tindak, memberikan tatapan mata yang melotot tajam—sebuah kode keras yang sangat jelas bagi Harlan untuk segera menutup mulutnya.
"Saya sekretaris baru Tuan Percy. Senang melihat perwakilan Arresta Group hadir tepat waktu."
Harlan tertegun, mulutnya yang setengah terbuka segera tertutup rapat. Ia menelan ludah, tampak kebingungan namun cukup cerdas untuk menangkap sinyal bahaya dari mata Nial Percy yang sedang mengawasi mereka dengan penuh selidik.
"Ah ... i-iya. Senang bertemu dengan Anda, Nona." balas Harlan kikuk, suaranya sedikit bergetar.
Rapat pun dimulai. Nial memimpin jalannya diskusi dengan otoritas yang tak tergoyahkan. Namun bagi Queen, setiap detik terasa seperti duduk di atas bara api.
Ia duduk di samping Nial dengan tablet di tangan, berpura-pura mencatat, padahal matanya terus-menerus melirik ke arah Harlan.
Setiap kali Harlan hendak membuka mulut untuk berbicara, Queen akan sengaja menjatuhkan bolpoinnya atau berdeham sangat keras, membuat Harlan kembali menelan kata-katanya.
Queen sangat takut Harlan akan keceplosan menyebut namanya atau bertanya mengapa ia tidak pulang ke rumah.
"Apa ada masalah dengan tenggorokanmu, Queen?" tanya Nial tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di depannya.
"Eh? Tidak, Tuan. Hanya ... sedikit kering," sahut Queen sambil memaksakan senyum tipis.
Nial menyipitkan mata, menatap Queen dan Harlan bergantian dengan pandangan yang sangat tajam, seolah sedang membedah kebohongan di antara mereka.
Begitu Nial menutup rapat dengan jabat tangan formal, Queen langsung berdiri sebelum Nial sempat memberikan perintah baru.
"Tuan, saya permisi ke toilet sebentar. Perut saya tiba-tiba terasa sakit." pamit Queen cepat. Tanpa menunggu jawaban, ia segera melesat keluar ruangan.
Nyatanya, ia tidak ke toilet. Queen berdiri di balik pilar besar di koridor luar, menunggu dengan cemas. Begitu pintu ruang rapat terbuka dan Harlan melangkah keluar bersama beberapa staf lainnya, Queen segera menyergap lengan pria tua itu dan menyeretnya ke sudut sepi.
"Nona! Apa yang Anda lakukan di sini? Seluruh keluarga Arresta sedang kelimpungan mencari Anda! Tuan Armand terus menekan Ayah Anda—"
"Sshhh! Pelankan suaramu, Harlan!" bisik Queen panik, matanya melirik ke kiri dan kanan.
"Dengarkan aku. Kau tidak boleh mengatakan pada siapa pun bahwa kau melihatku di sini. Terutama pada Mommy dan Daddy atau pria tua bangka Armand itu."
Harlan tampak sangsi. "Tapi Nona, ini sangat berisiko. Jika Tuan Nial tahu siapa Anda sebenarnya..."
"Biarkan itu jadi urusanku! Aku mohon padamu, Harlan. Kau sudah seperti paman bagiku. Tolong, rahasiakan keberadaanku. Aku hanya ingin sedikit kebebasan sebelum mereka benar-benar menjualku."
Harlan menghela napas panjang, menatap wajah putus asa Queen. "Baiklah, Nona. Tapi tolong, berhati-hatilah. Tuan Percy bukan pria yang mudah dikelabui."
"Terima kasih, Harlan. Aku berhutang nyawa padamu," ucap Queen tulus. Ia segera melepaskan lengan Harlan dan berbalik, berjalan cepat kembali ke arah ruangan Nial sebelum pria itu mencarinya.
Begitu Queen mendorong pintu besar ruang kerja Nial, ia menemukan suasana yang sangat berbeda dari ketegangan ruang rapat tadi.
Ruangan itu sunyi, hanya ada aroma parfum maskulin Nial dan bunyi detak jam dinding yang elegan.
Nial tidak lagi duduk di kursi kebesarannya. Ia berdiri di dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung-gedung pencakar langit, membelakangi pintu. Jasnya sudah dilepaskan, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga ke siku, menampakkan lengan bawah yang kokoh dan urat-urat yang menonjol maskulin.
"Kau lama sekali di toilet," ucap Nial tanpa berbalik.
Queen menelan ludah, mencoba mengatur napasnya agar tidak terdengar mencurigakan. "Ah, itu ... perutku benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Maafkan aku."
Nial berbalik perlahan. Alih-alih wajah dingin yang marah, Queen justru menemukan tatapan yang intens dan penuh selidik—tatapan predator yang baru saja menyelesaikan satu tugas dan siap untuk hiburan selanjutnya.
"Rapatnya sudah selesai. Semua dokumen sudah ditandatangani," Nial melangkah perlahan mendekati Queen, setiap langkahnya menciptakan tekanan yang membuat Queen mundur hingga tumitnya menyentuh pintu yang tertutup.
Nial berhenti tepat di depan Queen, meletakkan satu tangannya di pintu, tepat di samping kepala Queen, mengunci wanita itu dalam jarak yang sangat intim.
"Dan sekarang," bisik Nial, wajahnya merunduk hingga hidung mereka nyaris bersentuhan. "Aku ingin menagih sesuatu yang jauh lebih menarik daripada kontrak ratusan juta dolar tadi."
Queen mengerjap, mendadak kehilangan kata-kata. "M-menagih apa?"
Nial menyeringai tipis, kilat nakal muncul di matanya yang gelap. "Jangan pura-pura lupa. Tadi di depan pintu ruang rapat, kau menawarkan sesuatu yang sangat ... revolusioner, bukan? Sesuatu tentang inisiatif, dan kau yang berada di atas?"
Wajah Queen seketika meledak panas. Ia baru sadar bahwa ucapannya di koridor tadi bukan hanya sekadar angin lalu bagi Nial. Pria itu mengingat setiap katanya dengan detail.
"Nial, itu ... aku hanya..."
"Kau hanya apa? Mencoba menggodaku agar aku tidak masuk ke ruang rapat?" Nial memotong, suaranya kini serak dan provokatif. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Queen, membisikkan kata-kata yang membuat seluruh tubuh Queen bergetar.
"Sayangnya, aku sudah melakukan bagianku. Sekarang giliranmu. Aku ingin melihat bagaimana kau memegang kendali di atas meja kerjaku ini."
Nial menarik pinggang Queen, mengangkatnya dengan mudah dan mendudukkannya di atas meja kerja kayu jati yang luas, menyingkirkan beberapa tumpukan dokumen tanpa peduli.
"Tunjukkan padaku gaya baru itu, Queen," tantang Nial dengan suara bariton yang berat sambil mulai membuka satu per satu kancing kemejanya.
"Astaga, mati aku!" Batin Queen.
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰