NovelToon NovelToon
PENYIHIR TANPA SIHIR

PENYIHIR TANPA SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:797
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Lahir tanpa sihir (Nirmala) di dunia yang memuja kekuatan membuat Askara dibenci oleh ayahnya sendiri. Namun, sebuah rahasia besar terungkap: Askara tidak kosong, ia adalah "pemangsa sihir" yang mampu menyerap, menggabungkan, dan memantulkan kembali setiap serangan musuh. Berbekal kemampuan unik ini dan stamina fisik yang terlatih, Askara memulai perjalanan jauh demi membuktikan bahwa seorang tanpa sihir pun mampu mengguncang dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Tebasan Pemutus Angin dan Hancurnya Bilah Baja

Dinding tebing kapur yang mengapit jalan setapak itu menjadi saksi bisu pertarungan hidup dan mati yang semakin memanas. Benturan logam kembali bergaung keras, memercikkan bunga api yang langsung padam ditiup angin bukit yang kering. Askara memiringkan kepalanya ke samping, menghindari tebasan vertikal dari kapten perampok yang bergerak secepat kilat. Namun, pusaran sihir angin yang menyelimuti pedang mantan kesatria itu menciptakan tekanan udara sekunder yang sangat tajam.

SRRAAAK!

Meskipun bilah pedang fisik musuh berhasil dihindari, aliran angin tajam itu tetap berhasil merobek pipi kanan Askara, meninggalkan goresan tipis yang mengucurkan darah segar. Jubah hitam misterius yang dikenakannya juga mulai dipenuhi robekan kecil di beberapa bagian akibat gesekan konstan dengan sihir angin musuh.

"Hahaha! Ada apa, Bocah?! Ke mana keangkuhanmu yang tadi?!" seru sang kapten perampok sembari memutar poros tubuhnya dengan lincah, meluncurkan rangkaian tusukan beruntun yang mengincar titik-titik vital di dada dan leher Askara. "Sihir angin milikku ini adalah pelindung mutlak sekaligus senjata pemotong terbaik! Gerakan pedangmu terlalu berat karena menahan tiga elemen sekaligus, sedangkan aku bergerak seringan angin!"

Askara terpaksa terus melangkah mundur, menangkis setiap tusukan dengan susah payah. TRANG! TRANG! TRANG!

Kondisi fisik Askara mulai dibuat sedikit babak belur. Beberapa kali hantaman gagang pedang dan tendangan fisik dari sang mantan kesatria berhasil menembus pertahanannya.

Sudut bibirnya kini berdarah, dan otot-otot lengannya mulai terasa kaku akibat menahan getaran benturan yang luar biasa kuat dari seorang petarung veteran yang sarat akan pengalaman medan perang. Sihir angin milik sang kapten benar-benar tidak memiliki celah yang jelas; setiap kali Askara mencoba membalas dengan tebasan petir atau api, pusaran angin di pedang musuh selalu berhasil membelokkan atau membuyarkan fokus energinya sebelum sempat menyentuh zirah besi sang kapten.

"Kau memiliki bakat yang mengerikan, Pengelana Muda," ucap sang kapten dengan nada suara yang berwibawa namun dingin, sembari terus menekan posisi Askara hingga terdesak ke arah dinding tebing. "Tapi di hadapan seorang mantan kesatria kerajaan yang telah dilatih secara resmi, bakat tanpa struktur mana yang matang hanyalah sebuah lelucon. Menyerahlah, dan biarkan pedangku ini mengakhiri penderitaanmu!"

Harun yang menyaksikan dari atas kereta kuda hanya bisa memejamkan matanya, meremas tali kekang dengan tangan yang gemetar hebat. "Askara... kumohon, bertahanlah! Jangan mati di tempat terkutuk ini!" ratap Harun dengan suara parau yang tertahan di tenggorokan.

Askara tidak menanggapi teriakan musuh maupun kepanikan Harun. Di balik tudung jubah hitamnya yang sudah agak koyak, sepasang matanya yang tajam tetap terfokus penuh pada setiap pergerakan pergelangan tangan dan langkah kaki sang kapten. Otaknya yang dingin terus bekerja di bawah tekanan, menganalisis pola sirkulasi angin yang menyelimuti pedang musuh.

Sihir anginnya berputar searah jarum jam secara konstan... Itu sebabnya seranganku selalu terlempar ke samping, batin Askara, menstabilkan napasnya yang mulai memburu. Jika aku ingin menghancurkan pusaran itu, aku tidak bisa menggunakan elemen luar seperti petir atau api biasa. Aku harus merusak pusat massanya dari dalam.

Sebuah keputusan nekat diambil oleh Askara. Ia melompat mundur satu langkah besar, menciptakan jarak sekitar tiga meter dari sang kapten. Ia menurunkan posisi pedang peraknya, membiarkan pertahanan depannya terbuka lebar secara sengaja.

"Oh? Kau sudah pasrah menghadapi ajalmu, Bocah?" cemooh sang kapten, tersenyum sinis di balik topeng setengah lingkaran miliknya. Tanpa membuang waktu, ia mengumpulkan seluruh sisa mananya, menciptakan pusaran angin raksasa yang berputar ganas di sekeliling pedangnya hingga menimbulkan suara menderu yang mengerikan. "Teknik Kesatria: Tebasan Badai Pemotong Badai!"

Sang kapten melesat maju, mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh dalam satu tebasan horizontal yang masif, siap membelah tubuh Askara menjadi dua bagian.

Inilah saatnya, batin Askara.

Askara memejamkan mata selama sepecahan detik. Di dalam wadah kosong di dadanya, ia mengunci dua energi terbesar yang dimilikinya secara bersamaan: sihir kutukan kegelapan murni dari monster penjaga dungeon dan sisa sihir api yang sangat padat milik monster Inferno Kong. Mengabaikan rasa sakit yang membakar sirkulasi fisiknya akibat peleburan paksa ini, Askara memuntahkan kedua energi tersebut bukan ke pedangnya, melainkan langsung ke udara di depan dadanya melalui telapak tangan kirinya.

BOOMMM!

Sebuah ledakan energi gabungan berwarna hitam kemerahan meledak di antara mereka. Api murni Inferno Kong yang panas dikompresi oleh kabut kegelapan yang pekat, menciptakan sebuah dinding gravitasi berenergi tidak stabil tepat di jalur lintasan tebasan sang kapten.

ZRAAAKKK!

Pedang badai sang kapten menghantam dinding hitam kemerahan tersebut. Sesuai kalkulasi Askara, sihir kegelapan murni langsung mengikis sirkulasi mana angin pada pedang musuh, sementara ledakan api Inferno Kong memanaskan udara di sekitarnya secara ekstrem, merusak kepadatan angin yang sedang berputar. Pusaran angin mutlak milik sang kapten mendadak buyar dan hancur berantakan, menciptakan celah pertahanan yang sangat besar pada posisi tubuh sang mantan kesatria yang kini terhuyung ke depan akibat kehilangan momentum sihirnya.

"A-apa?! Sihirku hancur dari dalam?!" teriak sang kapten dengan mata membelalak horor, wajahnya dipenuhi rasa tidak percaya yang teramat sangat melihat pelindung anginnya

lenyap begitu saja.

Askara tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang tercipta di depan matanya. Dengan kecepatan fisik murninya yang ekstrem, ia melangkah maju menembus sisa kepulan asap ledakan. Tangan kanannya yang menggenggam pedang baja pemberian Harun bergerak dengan presisi yang mengerikan.

Kali ini, ia tidak lagi mengalirkan tiga elemen. Ia memfokuskan seluruh sisa energi sihir kegelapan murni dari monster penjaga dungeon langsung ke sepanjang mata pisau pedang tersebut.

Syuuuut—!

Bilah pedang baja yang tadinya berkilau perak seketika berubah warna menjadi hitam legam yang sangat pekat, seolah-olah benda itu menelan seluruh cahaya di sekitarnya.

Energi kegelapan itu memadat di ujung mata potong pedang, mengubah kerapatan molekul besinya menjadi sangat tipis dan tajam pada tingkat yang tidak masuk akal. Pedang kegelapan murni itu kini memiliki ketajaman yang sanggup menembus materi apa pun, bahkan mampu menebas aliran angin tak kasat mata yang mencoba menghalanginya.

"Selesai, Kapten," ucap Askara dingin.

Dengan satu gerakan tarian pedang yang sangat anggun namun mematikan, Askara mengayunkan tebasan diagonal dari bawah ke atas, membelah udara bukit yang kering.

CRASH!

Bilah pedang hitam Askara melewati zirah besi tebal milik sang kapten tanpa hambatan sedikit pun, seolah-olah zirah pelindung kesatria itu hanya terbuat dari selembar kertas tipis.

Tebasan itu merobek pelindung dada dan meninggalkan luka sayatan horizontal yang cukup dalam di tubuh sang kapten, memutus seluruh sirkulasi mana yang tersisa di dalam tubuhnya secara instan.

"Ugh... Aaarrrgghhh!"

Sang kapten perampok menjerit kesakitan saat tubuh tegapnya terpental ke belakang, meluncur beberapa meter di atas tanah kapur sebelum akhirnya ambruk terlentang di dekat roda kereta kuda Harun. Pedang panjang kesayangannya terlepas dari genggamannya, berdentang mati di atas batu. Mantan kesatria kerajaan itu terengah-engah, matanya menatap langit bukit yang biru dengan pandangan kosong yang dipenuhi oleh kekalahan mutlak, sebelum akhirnya kesadarannya hilang sepenuhnya akibat syok energi.

Pertarungan besar di bukit terakhir itu akhirnya dimenangkan kembali oleh sang Nirmala. Suasana jalanan sempit itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan deru napas Askara yang terengah-engah menahan lelah yang luar biasa hebat.

Namun, kemenangan itu harus dibayar dengan harga yang mahal bagi senjatanya.

Kreeek... KRAAAKKK!

Suara retakan besi yang sangat nyaring mendadak terdengar dari tangan kanan Askara. Ia menurunkan pandangannya dan tertegun melihat kondisi pedang baja yang dipegangnya. Bilah besi yang tadinya kokoh dan hitam legam itu kini dipenuhi oleh jutaan retakan kecil yang memancarkan pendaran abu-abu redup. Struktur fisik pedang tempaan pandai besi ibu kota tersebut ternyata sama sekali tidak mampu menahan beban dan tekanan destruktif dari energi sihir kegelapan murni yang terlalu masif yang dialirkan Askara tadi.

PRANG!

Dalam hitungan detik, pedang panjang itu hancur berantakan, berubah menjadi ribuan serpihan debu besi dan pecahan logam kecil yang jatuh berserakan di atas tanah kering di bawah kakinya, hanya menyisakan gagang pedang kosong yang hancur di dalam genggaman erat tangan Askara.

Askara menghela napas panjang, melempar sisa gagang pedang yang sudah tidak berguna itu ke samping dengan senyuman tipis yang getir di wajahnya. "Senjata biasa memang tidak akan pernah cukup untuk menampung kekuatan wadah ini," gumam Askara pelan sembari menarik kembali tudung jubah hitam misteriusnya ke depan wajahnya yang dipenuhi goresan luka.

Harun yang melihat hancurnya pedang dagangannya sama sekali tidak peduli lagi dengan kerugian materi tersebut. Ia melompat turun dari kursi kemudi kereta dengan air mata yang mengalir di pipinya yang tembem, berlari tertatih-tatih mendekati Askara dengan rasa hormat dan syukur yang sudah meluap-luap di dalam dadanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!