NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Ketiga pria asing itu saling berpandangan sejenak. Sorot mata mereka yang semula penuh keyakinan kini berubah ragu setelah mendengar ucapan Sang Warok yang teramat lempeng.

"Dia memang anak saudagar kaya itu..."

Sang Warok menjeda kalimatnya, lalu melanjutkan dengan nada yang datar namun mengerikan, "...tetapi akulah orang yang telah membantai seluruh keluarganya."

Kalimat pendek itu seketika membuat ketiga pria itu membeku di tempat.

"Kalau tujuan kalian kemari adalah untuk menyelamatkannya," lanjut Sang Warok, "kalian sudah datang terlambat."

Pria tertua di antara mereka menggertakkan gigi, mencoba mengusir ketakutan yang mulai merayap. "Kami memang sudah mendengar kabar pembantaian itu. Tapi kami juga mendengar selentingan bahwa kau membawa bocah ini pergi hidup-hidup."

Sang Warok mengangguk tenang. "Benar."

"Kalau begitu, serahkan bocah itu kepada kami!"

Mendengar tuntutan itu, Sang Warok justru tertawa kecil—sebuah tawa yang terdengar meremehkan. "Lalu?"

"Kami yang akan membesarkannya."

Sang Warok mengangkat sebelah alis tebalnya. "Untuk apa?"

Pria tertua itu menarik napas dalam-dalam, mencoba menegakkan dada. "Ayahnya pernah menolong kelompok kami bertahun-tahun yang lalu. Utang budi itu belum pernah sempat kami bayar. Hari ini, kami datang untuk memenuhi janji setia kami."

Di belakang gurunya, Jangkrik terdiam. Untuk pertama kalinya sejak malam kelam ketika keluarganya dibantai habis, ada orang asing yang datang mencarinya bukan untuk mencabut nyawanya.

Pria kedua ikut melangkah maju, menunjuk Sang Warok dengan gusar. "Anak itu tidak pantas dibesarkan oleh monster berdarah dingin sepertimu!"

Sang Warok menghela napas panjang, tampak tidak tersinggung sama sekali. "Aku sangat setuju dengan ucapanmu."

Ketiga pria itu saling melirik, mengira Sang Warok akan melunak.

"Tapi..." Sang Warok menggantung kalimatnya, sementara tangannya perlahan turun mendekati gagang golok besarnya, "...apakah aku pantas atau tidak untuk mendidiknya, itu sama sekali bukan urusan kalian."

*Sret!*

Pria tertua langsung mencabut goloknya dari sarung. "Kalau begitu, jangan salahkan kami jika harus menggunakan kekerasan!"

Sang Warok tidak menunjukkan reaksi panik sedikit pun. Ia justru menoleh sekilas ke arah muridnya. "Lihat baik-baik, Jangkrik."

"Apa?"

"Ini pelajaranmu untuk hari ini."

Jangkrik mengangguk cepat, menajamkan pandangannya.

"Perhatikan posisi kaki mereka."

"Bukan goloknya?" tanya Jangkrik bingung.

"Golok bisa diayunkan untuk membohongi matamu," bisik Sang Warok pelan. "Tapi tumpuan kaki tidak akan pernah bisa menipu."

Belum sempat kalimat itu sepenuhnya tercerna oleh Jangkrik, pria yang paling muda di antara bertiga sudah menerjang maju terlebih dahulu.

"Wraaahhh!"

Goloknya membelah udara dengan kecepatan tinggi, mengincar langsung ke arah leher Sang Warok. Jangkrik spontan menahan napasnya. Sang Warok bahkan belum mencabut golok dari pinggangnya.

Saat mata bilah golok itu tinggal sejengkal saja dari kulit lehernya—

Duk!

Sang Warok hanya menggeser satu langkah kecil ke samping. Gerakan yang luar biasa efisien. Golok lawan membelah angin kosong, membuat si penyerang kehilangan keseimbangan.

"Apa?!" seru pria muda itu terkejut.

Belum sempat ia menarik kembali senjatanya untuk bertahan, sebuah serangan balasan sudah tiba.

Buk!

Telapak tangan Sang Warok menghantam siku lawannya dengan telak.

Krakk! Suara patahan tulang yang mengerikan terdengar jelas di keheningan lereng gunung.

"AAAAARGH!"

Golok di tangan pria muda itu terlepas dan melayang di udara. Dengan gerak refleks yang gila, Sang Warok menangkap golok yang melayang itu sebelum sempat menyentuh tanah.

Sret!

Satu tebasan pendek dan cepat dilayangkan. Tebasan itu tidak sampai membuat kepala si pria muda putus, melainkan merobek urat besar di bahunya. Darah segar seketika menyembur deras. Pria muda itu langsung roboh ke tanah sambil menjerit kesakitan, memegangi bahunya.

Jangkrik membelalakkan mata tak percaya. "Cepat sekali..."

Sang Warok bahkan tidak terlihat seperti mengeluarkan tenaga yang berarti.

Melihat rekan mereka tumbang seketika, dua pria yang tersisa langsung bergerak menyerang bersamaan demi menutup celah. Satu merangsek dari sisi kanan, dan satu lagi memotong dari sisi kiri.

Sang Warok hanya menggelengkan kepala pelan. "Sebuah kesalahan besar."

Kedua golok lawan datang hampir berbarengan dari dua arah yang berbeda.

Clang!

Sang Warok akhirnya mencabut golok besarnya sendiri. Hanya satu ayunan melingkar yang ia buat. Satu gerakan yang begitu perkasa hingga sanggup membuat kedua golok lawan terpental hebat dalam waktu bersamaan. Percikan api akibat benturan besi memenuhi udara sesaat.

Pria tertua yang berjanggut meranggas itu terbelalak syok. "Mustahil!"

Tanpa memberikan waktu bagi lawan untuk memulihkan posisi, Sang Warok langsung melangkah masuk ke dalam jarak jangkau pertahanan mereka.

Buk! Sikunya menghantam ulu hati pria di sebelah kirinya hingga pria itu memuntahkan darah kental. Belum sempat tubuh ringkih itu jatuh ke tanah—

Duk! Lutut Sang Warok naik dengan cepat, menghantam telak dagu pria tersebut.

Krak! Rahangnya remuk seketika. Tubuh pria itu terpelanting hingga beberapa tombak ke belakang sebelum akhirnya tidak berkutik lagi.

Kini, hanya tersisa pria tertua. Tubuhnya bergetar hebat. Ia baru menyadari sepenuhnya bahwa perbedaan kekuatan di antara mereka bukan lagi sekadar jarak, melainkan bagaikan bumi dan langit.

Sang Warok mengarahkan ujung goloknya yang masih bersih dari darah, tepat ke wajah pria itu. "Kau masih berniat untuk membawa muridku pergi?"

Pria itu melangkah mundur setapak demi setapak, nyalinya telah runtuh total. "Kami... kami hanya ingin membalas budi..."

Sang Warok mengangguk pelan. "Aku percaya pada niat ketulusanmu."

Namun, sedetik kemudian, sorot mata di balik wajah berjanggut Sang Warok berubah menjadi sedingin es. "Tapi kalian telah melakukan kesalahan dengan menghunus senjata di hadapanku. Begitu besi keluar dari sarungnya, tidak ada lagi ruang untuk alasan."

Menyadari tidak ada jalan keluar, pria itu meraung nekat, mempertaruhkan sisa nyawanya. "Kalau begitu, mari mati bersama!" Ia menerjang maju dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya.

Sang Warok menghela napas kecewa. "Gampang terbaca.."

Wus!

Sosok Sang Warok mendadak lenyap begitu saja dari pandangan mata Jangkrik. Bocah itu membelalakkan mata, memutar kepalanya liar. "Warok?!"

Detik berikutnya—

Sret!

Sang Warok tahu-tahu sudah berdiri dengan tenang di belakang tubuh lawannya. Golok besarnya terdengar bergemerincing halus, sudah kembali bersarang rapi di dalam wadahnya.

Pria tertua itu masih sempat berdiri mematung selama beberapa saat. Lalu... sebuah garis merah tipis perlahan merekah di sekeliling lehernya.

Bruk.Tubuhnya roboh ke atas tanah tanpa sempat mengeluarkan suara lagi.

Suasana kembali sunyi senyap. Hanya desiran angin pegunungan yang terdengar menyapu dedaunan.

Jangkrik menelan ludah dengan susah payah. Tiga orang pendekar bersenjata lengkap tumbang dan kehilangan nyawa dalam waktu yang bahkan tidak cukup untuk membuat sepoci teh hangat menjadi dingin.

Sang Warok membersihkan sedikit noda darah yang menempel di ujung sarung goloknya menggunakan kain. "Lihat, Jangkrik."

"Ya, Warok."

"Jangan pernah mengagumi kecepatanku dalam mengeksekusi lawan."

Jangkrik mengernyitkan dahi. "Lalu... apa yang harus kukagumi?"

"Kagumlah pada kesabaranku dalam mengamati," ucap Sang Warok sambil menunjuk ke arah tanah. "Ketiga orang itu sudah memperlihatkan cara berjalan dan cacat kuda-kuda mereka sejak kita berada di pasar bawah gunung tadi. Aku sudah tahu siapa di antara mereka yang paling kuat, siapa yang paling gugup, siapa yang akan menyerang pertama kali karena darah muda, dan siapa yang sebenarnya berniat untuk lari."

Sang Warok berbalik menatap muridnya lurus-lurus. "Pertarungan mereka sebenarnya sudah selesai dan mereka sudah kalah, bahkan jauh sebelum golok pertama sempat dihunus di halaman ini."

Jangkrik terdiam seribu bahasa. Pikirannya berputar hebat mencerna filosofi mengerikan itu. Ia baru memahami satu hal yang sangat mendasar: Sang Warok tidak menang semata-mata karena otot atau jurusnya yang lebih kuat. Sang Warok menang karena ia telah "bertarung" dan memetakan kemenangan sejak pertama kali menyadari bahwa dirinya sedang diintai.

Jauh di dalam lubuk hatinya, Jangkrik mencatat pelajaran berharga itu dengan tinta emas.

"Kalau suatu hari nanti aku benar-benar ingin membunuh monster ini... " batin Jangkrik bersumpah, "maka pertarungan itu harus sudah kumulai dan kumenangkan, jauh sebelum aku menghunuskan golokku di depannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!