Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab¹⁵
Tatapan Erwin masih tertahan pada sosok Naura di seberang ruang sidang. Alisnya berkerut tipis ketika nama lengkap mantan istrinya kembali terngiang di kepalanya. Naura Anjani Ardynata... entah mengapa, nama belakang itu terasa sangat akrab.
Sebelum pikirannya sempat menghubungkan sesuatu, suara ketukan palu hakim kembali terdengar.
"Sidang dimohon berlangsung dengan tertib."
Erwin menarik napas pelan, lalu mengesampingkan rasa penasarannya. Saat ini yang lebih penting baginya adalah memenangkan hak asuh Laura dan Lionel.
Ketua majelis hakim membuka berkas perkara di hadapannya sebelum mempersilakan kedua belah pihak memperkenalkan diri. Setelah identitas seluruh pihak dicatat, hakim menatap bergantian ke arah Naura dan Erwin.
"Saudara Erwin Gentala dan Saudari Naura Anjani Ardynata, sebelum memasuki pokok perkara, majelis wajib menanyakan satu hal. Apakah masih ada kemungkinan bagi Saudara berdua untuk berdamai dan kembali membangun rumah tangga demi kepentingan anak-anak?"
Semua mata tertuju pada kedua mantan pasangan itu.
Erwin tampak terdiam ragu beberapa saat, pertanyaan itu sebenarnya sudah ia perkirakan. Namun setelah melihat perubahan Naura hari ini, jawabannya terasa tidak lagi semudah dulu.
"Dengan hormat, Yang Mulia. Bagi saya... pernikahan itu sudah berakhir sejak suami saya memilih wanita lain ketika status kami masih sah sebagai suami istri." Sementara Naura menjawab lebih dulu.
Nada bicaranya tenang, tanpa emosi yang meledak-ledak. Justru ketenangan itu membuat setiap kata terdengar semakin kuat.
"Saya datang ke sini bukan untuk mengungkit hubungan pernikahan yang telah kandas, melainkan untuk memperjuangkan hak anak-anak saya."
Hakim mengangguk pelan, lalu mengalihkan pandangan kepada Erwin. "Bagaimana dengan Saudara?"
Erwin menatap Naura beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, "Saya menghormati keputusan tersebut."
"Baik! Dengan demikian, sidang difokuskan pada perkara hak asuh anak."
Ketukan palu hakim kembali terdengar.
Pengacara Erwin segera berdiri. "Yang Mulia, klien kami adalah seorang pengusaha yang memiliki kemampuan finansial sangat baik. Beliau mampu menjamin pendidikan terbaik, fasilitas terbaik, serta masa depan terbaik bagi kedua anaknya."
Pria itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Selain itu, klien kami memiliki tempat tinggal yang layak, lingkungan yang baik, serta kestabilan ekonomi yang tidak diragukan lagi."
Beberapa orang mengangguk pelan
"Sementara itu, pihak ibu baru saja memulai kembali kehidupannya. Kondisi tersebut tentu belum memberikan kepastian bagi masa depan kedua anak." Pengacara itu kembali berbicara, dan setelah selesai menyampaikan argumennya ia kembali duduk.
Kini giliran kuasa hukum Naura berdiri.
"Yang Mulia, kami tidak menyangkal bahwa Saudara Erwin memiliki kemampuan finansial yang sangat baik."
Ia membuka sebuah map tebal. "Namun perkara ini bukan perlombaan siapa yang lebih kaya."
Beberapa lembar dokumen kemudian diserahkan kepada majelis hakim.
"Ini adalah rekam medis Laura sejak bayi hingga sekarang. Di setiap kunjungan rumah sakit, yang menandatangani formulir adalah ibunya."
Dokumen berikutnya kembali diserahkan.
"Ini jadwal imunisasi, laporan sekolah, catatan perkembangan psikologi anak, hingga komunikasi antara wali kelas dengan orang tua."
Pengacara itu mengangkat pandangan. "Seluruhnya menunjukkan satu nama yang selalu hadir, Naura Anjani Ardynata. Selama delapan tahun, siapa yang merawat anak?"
"Ibu."
"Siapa yang menemani saat anak sakit?"
"Ibu."
"Siapa yang mengajarkan membaca, menemani belajar, memasak makanan mereka, hingga terbangun setiap malam ketika anak demam?"
"Ibu."
Satu demi satu pertanyaan dijawab menggunakan bukti tertulis.
Hakim membaca seluruh dokumen itu dengan saksama.
Pengacara Naura melanjutkan, "Klien kami tidak pernah menghalangi hubungan anak dengan ayahnya. Namun faktanya, hampir seluruh proses pengasuhan dilakukan sendiri oleh klien kami."
Tatapan hakim kemudian beralih kepada Erwin. "Saudara Erwin."
"Ya, Yang Mulia."
"Apakah Saudara membantah bahwa sebagian besar pengasuhan kedua anak dilakukan oleh Saudari Naura?"
Erwin terdiam, Ia ingin membantah. Namun semua dokumen itu benar.
Bahkan ia sendiri tahu, hampir setiap kali Laura sakit, Naura lah yang berjaga semalaman. Ketika Lionel pertama kali belajar berjalan, Naura lah yang mengabadikan semua momen itu dalam video dan mengirimkannya kepadanya yang sedang berada di luar kota.
Sementara dirinya, lebih sering hadir sebagai ayah di akhir pekan.
"Saya tidak membantah." Dengan suara pelan Erwin akhirnya menjawab.
Jawaban pria itu membuat Davina yang duduk di bangku belakang langsung menoleh kaget, Pengacara Erwin pun tampak sedikit terkejut.
Hakim kembali mencatat sesuatu di dalam berkas, namun sidang belum selesai.
Kuasa hukum Naura kembali berdiri.
"Yang Mulia, kami juga ingin mengajukan bukti tambahan."
Seorang staf menyerahkan sebuah flashdisk kepada panitera.
"Kami juga memiliki bukti bahwa setelah perceraian, kedua anak klien kami mengalami tindakan kekerasan fisik dari seorang wanita bernama Davina, wanita yang menjadi simpanan saudara Erwin." Pengacara itu berbicara dengan tenang.
Kalimat itu langsung membuat seluruh ruang sidang bergemuruh pelan.
"Itu bohong!" Davina spontan berdiri.
"Saudari, silakan duduk!" tegur hakim dengan suara tegas.
Davina menggigit bibirnya dan kembali duduk dengan wajah pucat. Sementara itu, Erwin perlahan memejamkan mata. Ia baru menyadari, ternyata sidang hari ini tidak akan berjalan semudah yang ia bayangkan. Dan keyakinannya bahwa ia pasti memenangkan hak asuh kedua anaknya... mulai terguncang.
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂