Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Sang Ular
Aroma maskulin khas kayu cendana dari tubuh Devan masih menyelimuti indra penciuman Mentari, bahkan ketika pria itu perlahan merenggangkan pelukannya. Kehangatan yang sempat singgah di dada Mentari mendadak menguap, digantikan oleh kecemasan baru yang jauh lebih mencekik. Gemetar di tubuhnya perlahan mereda, namun tatapannya masih terpaku kosong pada syal rajut biru tua yang teronggok mengenaskan di atas meja marmer.
Devan mundur satu langkah, merapikan kembali lipatan jas abu-abunya yang sedikit kusut akibat mendekap Mentari tadi. Ekspresi wajahnya kembali mengeras seperti pahatan es, menyembunyikan rapat-rapat binar kekhawatiran yang sempat melintas beberapa detik lalu.
"Duduk di sana," perintah Devan, suaranya kembali dingin, memberi isyarat ke arah sofa kulit hitam di sudut ruangan. "Siska akan membawakanmu teh hangat. Jangan berani-berani melangkah keluar dari ruangan ini sebelum tim investigasiku membawa nama bajingan itu ke mejaku."
Mentari hanya menurut pasrah. Kakinya melangkah gontai menuju sofa, menenggelamkan dirinya di sana sembari memeluk tas kerjanya erat-hari. Pikirannya melayang liar. Siapa pun pengirim paket ini, mereka tahu persis cara mengorek luka lama. Syal rajut itu... Mentari ingat betul bagaimana kasarnya ia melemparkan benda itu ke tanah berlumpur sembilan tahun lalu, berteriak di depan wajah Devan yang basah oleh air hujan bahwa barang murahan seperti itu tidak akan pernah bisa membeli masa depannya.
Maafkan aku, Devan... batin Mentari menjerit perih. Kalau saja kamu tahu kenapa aku harus sekejam itu dulu.
Tok! Tok!
Pintu ruang kerja CEO terbuka setelah ketukan singkat. Namun, yang melangkah masuk bukanlah Siska pembawa teh, melainkan sesosok wanita dengan langkah anggun yang diiringi ketukan sepatu hak tinggi yang nyaring.
Clara Wijaya.
Wanita itu mengenakan blazer formal berwarna putih gading yang melekat pas di tubuh moleknya, membawa tas bermerek edisi terbatas di lengannya. Wajah cantiknya dihiasi senyum manis yang tampak sangat dipaksakan begitu matanya menangkap sosok Mentari yang duduk di sudut sofa.
"Devan, Sayang," panggil Clara dengan nada manja yang langsung membuat bulu kuduk Mentari meremang. Clara melangkah melewati meja kerja Devan, mengabaikan kotak kardus cokelat yang terbuka di sana. "Papaku bilang, berkas analisis saham untuk proyek joint venture kita di Singapura sudah siap. Aku sengaja mengantarkannya sendiri sekalian mau mengajakmu makan siang."
Devan tidak beralih dari layar komputernya. Jemarinya yang kokoh mengetik sesuatu dengan ritme cepat yang konstan. "Letakkan saja di meja. Aku sedang sibuk, Clara. Dan aku tidak punya waktu untuk makan siang bersamamu hari ini."
Senyum di wajah Clara sempat membeku selama satu detik sebelum wanita itu dengan cepat menguasai dirinya kembali. Ia menoleh ke arah Mentari, menatap wanita kantoran itu dengan pandangan merendah yang sarat akan kemenangan tersembunyi.
"Oh, Devan... apa kesibukanmu itu ada hubungannya dengan... asisten barumu ini?" Clara berjalan mendekati sofa tempat Mentari duduk, lalu berhenti tepat di hadapannya. "Astaga, Nona Mentari. Wajahmu pucat sekali pagi ini. Apa pekerjaan dari Devan terlalu berat untuk wanita dari agensi kecil seperti Anda? Atau... Anda tidak terbiasa berada di gedung semegah ini?"
Mentari mengepalkan jemarinya di atas tas. Ia mendongak, mencoba membalas tatapan Clara dengan sisa-sisa keberanian yang dimilikinya. "Terima kasih atas perhatiannya, Nona Clara. Saya baik-baik saja. Ini hanya urusan pekerjaan internal."
"Urusan internal?" Clara terkekeh, suara tawanya terdengar seperti desisan ular di telinga Mentari. "Kuharap Anda benar-benar profesional, Nona. Karena di dunia seperti ini, wanita yang mencoba memanjat tangga sosial dengan mengandalkan belas kasihan pria biasanya akan jatuh dengan sangat keras. Apalagi... jika masa lalunya penuh dengan cerita menggelikan."
Deg!
Kata 'masa lalu' dan 'cerita menggelikan' yang keluar dari mulut Clara seketika memicu alarm bahaya di kepala Mentari. Gemetar yang baru saja mereda kini kembali menyerang jemarinya. Mentari menatap lekat-lekat mata Clara, mencari kilat kelicikan di sana.
Apakah Clara dalang di balik semua ini? Apakah dia yang mengirim foto-foto ke flatku semalam dan paket syal usang ini ke kantor?
Sebelum Mentari sempat memikirkan jawabannya, Devan tiba-tiba menghentikan aktivitas mengetiknya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, menatap Clara dengan pandangan yang begitu menusuk hingga sang anak konglomerat itu menahan napasnya.
"Clara," panggil Devan, suaranya terlampau tenang, namun justru itulah yang membuatnya terdengar sangat mengerikan. "Kapan Wijaya Group mengizinkanmu mencampuri urusan manajemen internal Elvano Group?"
Clara berbalik cepat dengan wajah panik. "D-Devan, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya—"
"Keluar dari ruanganku sekarang," potong Devan tanpa emosi, namun nadanya mutlak tak terbantahkan. "Sebelum aku membatalkan seluruh kontrak suplai bahan baku dari perusahaan papamu untuk jaringan restoranku di Eropa."
Wajah Clara seketika memerah padam karena malu sekaligus marah. Ia melirik Mentari dengan tatapan penuh kebencian yang mendalam, seolah ingin mencabik-cabik wajah wanita itu saat itu juga. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Clara meraih tasnya dari meja Devan lalu melangkah pergi, membanting pintu kaca ruangan itu dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi dentuman yang menggema.
Suasana ruangan kembali sunyi setelah kepergian Clara. Mentari masih terpaku di sofa, sementara Devan bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati dinding kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota metropolitan Jakarta. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, berdiri membelakangi Mentari dalam keheningan yang panjang.
"Kamu mencurigainya?" tanya Devan tiba-tiba tanpa membalikkan badannya.
Mentari tersentak dari lamunannya. "Maksud... Maksud Anda, Nona Clara?"
"Clara adalah wanita yang ambisius dan manja, tapi dia terlalu bodoh untuk bermain rapi seperti ini," ujar Devan dingin, menganalisis situasi dengan logika bisnisnya yang tajam. "Mengirimkan barang dari masa lalu kita sembilan tahun lalu di SMA memerlukan informasi yang sangat spesifik. Clara baru mengenalku tiga tahun lalu di Singapura. Dia tidak akan tahu tentang kue kering hancur atau... syal biru tua itu, kecuali ada seseorang dari masa lalu kita yang memberikan informasi itu kepadanya. Atau..." Devan menjeda kalimatnya, lalu perlahan berbalik menatap Mentari. "...seseorang dari masa lalu kita sendiri yang sedang bermain-main dengarmu."
Mentari menelan ludah yang terasa getir. Teori Devan ada benarnya. Clara mungkin tidak tahu sedetail itu, tapi bagaimana jika ada orang lain? Seseorang yang memegang rahasia terbesar keluarganya sembilan tahun lalu? Seseorang yang memaksanya berutang budi hingga mengorbankan hubungannya dengan Devan?
Tok! Tok!
Pintu kembali terbuka. Kali ini Siska masuk dengan wajah tegang, membawa sebuah tablet digital di tangannya. "Pak Devan, tim investigasi sudah memeriksa rekaman CCTV lobi bawah dari satu jam yang lalu."
Devan melangkah cepat mendekati Siska. "Siapa kurirnya?"
"Itu kurir layanan ojek daring reguler, Pak. Kami sudah menghubungi pihak penyedia aplikasi untuk melacak akun pengirimnya," jelas Siska seraya menunjukkan tangkapan layar CCTV pada tabletnya. "Akun tersebut terdaftar atas nama palsu dan menggunakan nomor sekali pakai yang sudah tidak aktif. Tapi... tim kami berhasil melacak titik penjemputan paket tersebut."
"Di mana?" desis Devan tajam.
Siska melirik Mentari sekilas sebelum menjawab dengan ragu. "Paket itu diambil dari sebuah rumah dinas di kawasan perumahan elit Menteng. Rumah milik... mantan Walikota yang sembilan tahun lalu menangani proyek pembangunan daerah di sekolah lama Anda dan Nona Mentari. Rumah keluarga... Bramantyo."
Plak!
Tas kerja yang dipegang Mentari terlepas dari pangkuannya, jatuh membentur lantai marmer dengan suara yang cukup keras. Wajah Mentari kini benar-benar kehilangan seluruh warnanya, berubah seputih kertas.
Bramantyo.
Nama keluarga itu adalah mimpi buruk terbesar dalam hidup Mentari. Nama keluarga dari pria yang sembilan tahun lalu menghancurkan bisnis ayahnya, menjebak keluarganya dalam hutang raksasa, dan memaksa Mentari untuk meninggalkan Devan jika tidak ingin melihat Devan dan ibunya dijebak dalam kasus kriminal palsu di sekolah.
Devan perlahan menolehkan kepalanya ke arah Mentari, menatap reaksi wanita itu yang tampak ketakutan setengah mati mendengar nama tersebut. Sepasang mata elang Devan menyipit, menangkap benang merah yang selama ini sengaja disembunyikan darinya.
"Bramantyo..." bisik Devan rendah, memorinya berputar pada sosok anak emas sekolah mereka dulu yang selalu mencoba mendekati Mentari dan selalu menghina kemiskinannya. "Jadi... anak menteri korup itu kembali lagi?"
Pertarungan masa lalu yang sesungguhnya baru saja menampakkan taringnya, dan Mentari tahu, jerat bahaya kali ini tidak hanya akan mengancam dirinya, tapi juga posisi Devan yang kini berada di puncak kekuasaan.