NovelToon NovelToon
Aku Bisa Membeli Semuanya Dengan Sistem Diskon

Aku Bisa Membeli Semuanya Dengan Sistem Diskon

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Semua benda di dunia memiliki harga.

Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.

Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.

Yang diberikannya hanyalah... diskon.

Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.

Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.

Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.

Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Gadis di hadapan Lin Liu mengenakan gaun selutut berwarna krem yang terlihat mahal, rambut hitamnya tergerai rapi menyentuh bahu, dan tas tangan bermerek yang dia jinjing terlihat lebih mahal daripada seluruh isi kamar kos Lin Liu. Namun yang paling mencolok darinya adalah tatapan matanya—tajam, penuh percaya diri, seolah dunia ini seharusnya berputar mengikuti kemauannya.

"Maaf, maaf, aku tidak sengaja," Lin Liu buru-buru meminta maaf, menyadari bahwa bahunya tadi tidak sengaja menyenggol salah satu tas belanjaan gadis itu.

Gadis itu mendengus, menatap Lin Liu dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan menilai yang membuat Lin Liu merasa tidak nyaman. "Kau ini benar-benar tidak punya mata, ya? Untung tasku tidak jatuh. Kalau sampai barang di dalamnya rusak, kau harus ganti, tahu."

"Maaf sekali lagi," Lin Liu mengangguk-angguk, meskipun dalam hati dia merasa sedikit kesal juga diperlakukan seperti itu. "Aku buru-buru soalnya."

Gadis itu mengangkat alis, matanya menyusuri penampilan Lin Liu sekali lagi—kemeja oranye terang, celana hijau army, kalung emas imitasi, dan kacamata hitam besar yang masih bertengger di hidungnya meskipun mereka sedang berada di dalam ruangan. Sudut bibirnya berkedut menahan tawa yang jelas-jelas dia paksakan agar tidak keluar.

"Kau pakai baju apa itu?" tanyanya akhirnya, tidak bisa menahan diri lagi, suaranya penuh geli yang tidak disembunyikan.

Lin Liu langsung defensif, membetulkan kerah kemejanya dengan gaya yang menurutnya bisa membuat dia lebih percaya diri. "Ini namanya gaya kasual mewah. Kau tidak paham fesyen, ya?"

Gadis itu tertawa, kali ini tidak lagi ditahan-tahan, suaranya cukup keras hingga beberapa pengunjung mal lain menoleh ke arah mereka. "Fesyen? Kau pikir warna oranye dan hijau army itu cocok dipadukan? Belum lagi kalung emas murahan dan kacamata yang jelas-jelas kebesaran untuk wajahmu. Astaga, aku belum pernah melihat orang berpenampilan seburuk ini seumur hidupku."

Wajah Lin Liu memanas, antara malu dan kesal yang bercampur jadi satu. "Terserah kau saja mau bilang apa. Yang penting aku nyaman pakai baju ini."

"Nyaman tidak sama dengan pantas dipakai ke tempat umum," gadis itu masih menatapnya dengan seringai jahil, meskipun ada sesuatu di matanya yang tidak sepenuhnya mengejek—lebih seperti rasa penasaran yang aneh. "Kau kerja di sini? Atau memang biasa berpakaian seperti badut begini?"

"Aku sedang kerja, kalau kau mau tahu," jawab Lin Liu, mencoba mempertahankan harga dirinya yang tersisa. "Aku kurir, disuruh antar paket ke lantai tiga."

Gadis itu terdiam sejenak, tatapannya sedikit berubah, meskipun ekspresi angkuhnya masih melekat kuat di wajahnya. "Kurir yang niat sekali berpakaian norak begitu buat kerja," gumamnya, namun kali ini nadanya tidak sepenuhnya mengejek.

Sebelum Lin Liu sempat membalas, ponsel gadis itu berbunyi nyaring. Dia mengangkatnya dengan wajah berubah masam seketika, mendengarkan suara di seberang telepon dengan alis berkerut semakin dalam.

"Iya, iya, aku tahu. Nanti aku ke sana," katanya ketus sebelum memutus sambungan telepon, lalu menghela napas panjang, seolah beban berat baru saja kembali menghinggapi pundaknya.

"Ada masalah?" Lin Liu bertanya, entah kenapa rasa pedulinya muncul begitu saja meskipun baru saja diejek habis-habisan oleh gadis itu.

Gadis itu menatap Lin Liu tajam, seolah terkejut ada orang asing yang bertanya seperti itu. "Bukan urusanmu," jawabnya ketus, namun tidak beranjak pergi seperti yang diharapkan Lin Liu.

Hening sejenak di antara mereka, hanya suara musik latar mal dan gemerisik kantong belanjaan yang mengisi kesunyian itu. Lin Liu, entah kenapa, tidak juga melangkah pergi meskipun pekerjaannya menunggu di lantai tiga.

"Namaku Lin Liu," katanya akhirnya, mencoba mencairkan suasana canggung yang tercipta.

Gadis itu menatapnya lama, seperti mempertimbangkan apakah pantas menjawab pertanyaan yang tidak diajukan itu. "Huang Ruoxi," jawabnya akhirnya, singkat dan ketus, meskipun ada sedikit rasa penasaran yang tersirat di matanya. "Dan jangan pernah berpikir kita berteman hanya karena aku menyebutkan namaku."

Baru saja Lin Liu hendak membalas dengan candaan ringan, sepasang pria berbadan tegap berjas hitam tiba-tiba muncul dari arah lift, melangkah cepat menuju Huang Ruoxi dengan wajah tegang.

"Nona Huang, ayah Anda sudah menunggu. Beliau tidak suka menunggu lama," kata salah satu pria itu, suaranya penuh tekanan meskipun berusaha sopan.

Wajah Huang Ruoxi seketika berubah masam, seolah kesenangan kecilnya baru saja dirampas paksa. Dia menghela napas panjang, menatap Lin Liu sekilas dengan ekspresi yang sulit diartikan, sebelum berbalik mengikuti kedua pengawalnya tanpa berkata apa-apa lagi.

Lin Liu berdiri mematung memperhatikan kepergian gadis itu, pikirannya dipenuhi rasa penasaran yang aneh. Namun perhatiannya segera teralihkan ketika dia menyadari sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan—paket yang seharusnya dia pegang erat sejak tadi, kini sudah tidak ada di tangannya.

1
Elzi Lamoz
Sistem. semoga sistem ini bisa bantu Lin Liu, tapi terlalu bergantung sistem juga bakal dia jadi lemah. bukan fisik tapi hatinya.
遥依•𝙀𝙉𝙩𝙖𝙧%: Gak kok sistemnya itu lebih kek motivasi dengan imbalan hadiah kartu diskon
total 1 replies
Elzi Lamoz
bukannya bantu orang malah mencibir. laki atau cewek sih suami nya ini.
Intsomi: 🤣....
total 3 replies
Elzi Lamoz
Jangan terlalu memikirkan apa yang udah terjadi, mending isi perut dulu, walau dompet kosong.
遥依•𝙀𝙉𝙩𝙖𝙧%
Sering terjadi di Indonesia, ULTI setiap orang tua😹
Elzi Lamoz
Kasian sih, terus ada bayangan emak bapaknya berkata di keheningan. kamu harus membalas budi karena telah kami besarkan nak🥲
Elzi Lamoz
Depkolertor kah, sadis parah🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!