NovelToon NovelToon
SINFUL HEARTS SOCIETY

SINFUL HEARTS SOCIETY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Teen
Popularitas:628
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Seraphine merupakan anak adopsi dari keluarga besar Vane. Sera mendapatkan perlindungan total dan kemewahan, tetapi ia mungkin kehilangan kebebasannya. Sang kakak, Alaric Vane telah merencanakan segalanya agar Sera tidak pernah lepas darinya, protective yang mengubahnya menjadi obsesi. Perasaanya bukan hanya sebatas kakak pada ‘adik’ namun lebih dari itu. Demi keluar dari sangkar emas keluarga Vane, Sera memilih bersekolah di imperial royal, Veridion Academy. Tidak main-main, ia enggan merepotkan keluarga Vane. Sera membuktikan mampu mengambil jalur beasiswa penuhnya. Tanpa disadari ini menjadi hal pembullyan disekolahnya. Demi dapat sekolah dengan nyaman hingga kelulusan, Seraphine bertemu dengan Yunkai Shenzar. Bangsawan berdarah biru murni, seorang Pangeran yang sedang bertaruh akan tahtanya setelah kelulusan sekolah. Dari musuh menjadi kekasih. Mereka menjalin aliansi, kerja sama saling memanfaatkan. Seraphine enggan bernaung pada keluarga Vane memilih memanfaatkan kekuatan mutlak sang Pangeran. Yunkai sendiri tahu siapa jati diri Sera sebelum diadopsi, dan memanfaat Sera untuk membuat tuan besar Vane menyokong dirinya menaiki tahta kerajaan. Sera tidak tahu siasat itu justru membawanya terjerumus terlalu dalam membentuk hubungan yang lebih serius dan kekacauan besar antara Tuan besar Vane dengan anaknya, Alaric Vane. Kini, Sera terjebak di antara dua kekuatan besar: obsesi Alaric yang menyesakkan atau cinta sang pangeran yang menawarkan kebebasan namun penuh risiko politik. Di antara bayang-bayang masa lalu keluarga Vane dan kemilau mahkota kerajaan, siapakah yang akhirnya akan dipilih oleh Sera?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Vault

"Ya, Yang Mulia." Suara asisten pribadi Yunkai terdengar patuh melalui sambungan seluler.

"Cari tahu segalanya tentang gadis ini. Kau punya waktu satu jam," perintah Yunkai dingin sembari melangkah masuk ke dalam lift pribadinya.

Sebuah foto profil sekolah dikirimkan—wajah Seraphine terpampang di sana. Sebelum keluarga Vane meresmikan statusnya sebagai putri angkat, Yunkai merasa ada hal lain jauh tersembunyi dari Sera yang berusaha ia sembunyikan dan Yunkai merasa  perlu mengetahuinya.

Sore harinya, ruang rekreasi Sanguine Ruby mendadak riuh. Gilly dan Ethan menyergap Sera dengan wajah pucat pasi.

"Kau bicara dengan siapa?!” Tanya Gilly memastikan pendengarannya, “Astaga, Sera, itu tadi Pangeran Yunkai!" pekik Gilly tertahan saat menatap layar iPad nya terpampang jelas photo profile sang Pangeran, Gilly nyaris tak bernapas. "Kau sadar siapa dia?"

Sera hanya diam, lalu meletakkan sebuah benda di atas meja—benda yang diberikan Yunkai padanya secara misterius. Ethan terkesiap, bukunya hampir terlepas dari genggaman.

"Itu... Koin Trial," bisik Ethan cemas. "Sera, dia tidak sekadar mengajakmu bicara. Dia menantangmu masuk ke kompetisi bawah tanah para elit. Jika kau menang, kastamu naik seketika. Tapi jika kalah..."

"Jika aku kalah?" Sera bertanya datar, matanya tak beralih dari koin itu.

"Kau harus angkat kaki dari Veridion. Selamanya."

Jemari Sera mengusap ukiran naga yang rumit pada koin perak tersebut. Ia teringat tatapan Yunkai—dingin, tajam, dan penuh selidik. Pria itu seolah bisa mencium rahasia yang ia kubur dalam-dalam di balik nama belakangnya yang telah dihapus.

Sera menyunggingkan senyum tipis—senyum yang terasa tulus sekaligus getir. "Menarik. Setidaknya aku punya alasan untuk tidak mati kebosanan di kelas akselerasi ini."

...****************...

Latihan di Lapangan Panah

(Gilly Fontaine)

Beberapa hari berlalu. Sera memilih mengabaikan tantangan itu, namun keberadaan Yunkai tak bisa ia hindari. Pria itu selalu ada di sudut matanya—di perpustakaan, di aula, seolah-olah sang Pangeran sedang menunggu mangsanya menyerah.

"Posisimu sudah cukup baik," komentar Gilly, memecah konsentrasi Sera di lapangan panahan. "Busungkan dadamu, angkat dagu, dan fokus hanya pada titik merah itu." Gilly mempraktikannya dihadapan Sera.

SLAASSH!

Panah Gilly tepat mengenai pusat target, “Ayo, lakukan.” Perintah Gilly pada Sera.

Sera kini memposisikan dirinya dihadapan Gilly, matanya fokus pada target jauh dihadapannya.

SLAAASSHH!

Anak panah Sera melesat, dibundaran pinggir target. Tidak tepat di tengah, tapi cukup impresif untuk seorang pemula.

“Tidak buruk untuk pemula.” Puji Gilly, “Lakukan lagi.”

Sera bertubu-tubu melesatkan anak panah, semua anak panah itu mengenai papan target meski tidak tepat ditengah. Namun sanggup membuat decak kagum Gilly, tidak heran temannya itu mendapat nilai sempurna di Veridion. Sera cepat untuk belajar.

"Jadi, kau benar-benar akan mengabaikan undangan koin itu?" tanya Gilly sembari membidik targetnya sendiri.

Slaash! Slaash!

Dua anak panah Gilly bersarang di area kuning.

"Target kelulusanku setahun lagi, Gil. Aku tidak datang ke sini untuk mencari masalah," jawab Sera tenang, kembali menarik busurnya.

SLAASSH!

Target panah itu masih melesat dari target yang dituju Sera. Dan Sera selalu tidak puas akan kegagalannya meski dimata orang untuk pemula semua itu cukup baik.

"Kenapa? Apa kau takut?"

Suara bariton yang dingin itu muncul tepat di belakang punggung Sera. Gilly langsung tertunduk kaku, "Ya—Yang Mulia..."

Namun Sera tetap pada posisinya. Ia terpaku, merasakan kehadiran dominan yang mengintimidasi tepat di belakangnya. Tanpa menunggu izin, Yunkai melangkah maju, tangannya yang kokoh mengambil alih busur dari jemari Sera.

"Kuatkan pergelangan tanganmu sebelum membidik. Jangan abaikan arah angin," bisik Yunkai, nyaris menyentuh telinga Sera. "Rasakan hembusannya. Angin yang akan menentukan apakah kau menang atau hancur."

SLAAAASH! SLAAAASH! SLAAAASH!

Tiga anak panah melesat seperti kilat. Ketiganya menancap sempurna di titik pusat, saling berhimpit tanpa celah sedikit pun. Sebuah demonstrasi kekuatan yang mutlak.

Yunkai menurunkan busurnya, lalu menatap Sera dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Sore ini. Temui aku," ujarnya dingin sebelum berbalik pergi.

Langkah kakinya yang berat meninggalkan keheningan yang mencekam. Gilly segera menghampiri Sera dengan wajah cemas, namun Sera tak bergeming. Matanya terpaku pada tiga anak panah yang masih bergetar di pusat target—simbol dari peringatan sekaligus undangan yang tak bisa lagi ia tolak.

...****************...

Malam itu, Veridion Academy tidak tidur. Di balik kemegahan arsitektur megahnya, sebuah lift rahasia di sayap utara membawa Sera turun jauh ke bawah tanah—ke sebuah tempat yang tidak tercantum dalam peta sekolah: The Vault.

Pintu lift terbuka, menyemburkan udara dingin yang berbau besi dan parfum mahal. Sera melangkah keluar, disambut oleh pemandangan yang kontras dengan ketenangan perpustakaan di atas sana. Sebuah arena luas dengan lantai marmer hitam yang dipoles hingga menyerupai cermin, dikelilingi oleh tribun melingkar yang diisi oleh para elit pelajar. Mereka mengenakan jubah sesuai dengan identitas rumah asramanya masing-masing. Begitu pula Sera, dengan pakaian resmi seragam memanahnya ia masuk tanpa ada raut keraguan.

"Kau benar-benar datang," bisik Ethan yang sudah menunggunya dengan wajah pucat. Di sampingnya, Gilly tampak gemetar. "Sera, ini bukan kompetisi biasa. Ini adalah Trial of Perception.Jika kau gagal, reputasimu hancur sebelum kau sempat menyandang nama Vane."

Di ujung ruangan, Yunkai berdiri menuruni anak tangga,

Langkahnya tegap dan tegas, dengan tangannya memegang busur yang akan diberikan pada Sera.

"Kau datang," ujar Yunkai. Suaranya rendah, bergema di ruangan yang luas dan sunyi itu. Di sampingnya, berdiri seorang pria tegap dengan seragam panahan lengkap, memegang busur profesional yang tampak sangat canggih.

Sera melihat papan target yang sangat jauh, lalu beralih pada pria di samping Yunkai—seorang atlet sekolah yang dikenal sebagai juara nasional. Sera menarik napas pendek, lalu tawa kecil yang meremehkan lolos dari bibirnya.

"Seorang juara nasional melawan pemula yang bahkan belum tahu cara memakai pelindung jari?" Sera menatap Yunkai, matanya berkilat di bawah lampu redup. "Ini bukan kompetisi, Yang Mulia. Ini eksekusi. Dan aku tidak datang ke sini untuk menjadi korban."

Yunkai mengangkat alisnya, tertarik. "Lalu apa maumu?"

"Aku akan bertaruh," ujar Sera, melangkah mendekat ke arah barisan penonton elit yang duduk di bayang-bayang. "Tapi aku yang menentukan lawanku. Adil, bukan? Kau yang mengundang, aku yang mengatur lapangan."

Yunkai memberikan isyarat tangan singkat—tanda setuju yang mutlak.

Sera berjalan perlahan di depan barisan para pengikut Yunkai. Matanya menyapu satu per satu wajah yang menatapnya dengan angkuh. Ia berhenti di depan seorang pemuda dengan jam tangan mewah dan setelan jas yang terlalu kaku.

"Dia," tunjuk Sera tenang.

Pemuda itu tersentak, wajahnya mendadak pucat. Teman-temannya di sampingnya mulai berbisik. Yunkai hanya memperhatikan dalam diam, mencoba membaca alur pemikiran gadis di hadapannya.

Sera tidak berhenti di sana. Telunjuknya bergerak perlahan, melewati barisan pemuda-pemudi yang mulai merasa gelisah di bawah tatapan tajamnya yang sedingin es.

"Lalu kau," tunjuk Sera pada seorang pria berambut klimis yang terus-menerus memperbaiki posisi kacamata di pangkal hidungnya.

"Kau juga," ia beralih pada seorang pria bertubuh tegap yang tampak sangat percaya diri, namun tangannya terus memijat pangkal ibu jarinya secara sembunyi-sembunyi.

Sera melangkah lagi, berhenti di depan dua saudara kembar yang terkenal karena kekompakan mereka di setiap kegiatan klub elit. "Kalian berdua. Lengkapi daftar ini."

Lima orang kini berdiri di garis tembak, berjejer di samping sang juara nasional yang kini tampak bingung karena posisinya tersisih. Kerumunan elit di bayang-bayang mulai berbisik sinis, menganggap Sera hanya sedang mengulur waktu kematiannya dengan memilih lawan-lawan yang terlihat acak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!