NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas
Popularitas:157.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Tangan Tina yang sudah terangkat untuk menarik lengan Dara mendadak berhenti di udara. Sebuah suara berat dari arah belakang membuat tubuhnya menegang. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Dengan gerakan kaku, ia menoleh perlahan.

Betapa terkejutnya Tina ketika melihat Gavin berdiri hanya beberapa langkah di belakang mereka. Refleks, Tina buru-buru menurunkan tangannya.

Wajah pria itu tetap tenang seperti biasanya. Tidak ada ekspresi marah yang berlebihan. Namun, sorot matanya begitu tajam hingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa tertekan.

Sementara itu, Dara yang sejak tadi membelakangi Gavin ikut menoleh. Begitu melihat suaminya datang, napasnya yang sempat terasa sesak perlahan menjadi lega. Tanpa sadar, ia langsung melangkah mendekati Gavin hingga berdiri di samping pria itu.

Entah mengapa, berada di dekat Gavin membuat hatinya terasa jauh lebih tenang.

Gavin mengalihkan pandangannya dari Dara ke arah Tina. Tatapannya lurus, dingin, dan penuh penekanan.

"Kamu mau memukul istriku?" Kalimat itu diucapkan dengan suara yang tidak keras, tetapi cukup membuat suasana di sekitar mereka berubah mencekam.

Tina buru-buru menggeleng. Bibirnya bergetar. Kata-kata yang ingin diucapkannya seolah tersangkut di tenggorokan.

"E ... ti-tidak, Den," jawabnya terbata-bata. "A-ku ... aku hanya ingin berbicara baik-baik dengan Dara."

Gavin tetap menatapnya tanpa berkedip. "Aku melihat sendiri tanganmu terangkat."

Ucapan singkat itu membuat wajah Tina semakin pucat. Wanita itu menelan ludah berkali-kali. Telapak tangannya mulai berkeringat dingin. Baru kali ini ia merasa benar-benar takut menghadapi seseorang.

Selama ini Tina mengira Gavin adalah pria yang dingin dan tidak peduli dengan siapa pun, termasuk Dara. Karena itulah ia merasa masih bisa memperlakukan keponakannya sesuka hati. Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.

Gavin melangkah satu langkah lebih maju. Gerakannya tenang, tetapi cukup membuat Tina tanpa sadar mundur selangkah.

"Dengarkan baik-baik." Nada suaranya tetap datar. "Mulai hari ini, jangan pernah lagi kamu menindas Dara."

Gavin berhenti sejenak. Rahangnya mengeras menahan amarah yang tidak ingin ia lampiaskan dengan bentakan. Tatapan Gavin semakin tajam.

"Kalau sampai aku melihat atau mendengar kamu menyakitinya lagi aku tidak akan tinggal diam."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, setiap katanya terasa seperti peringatan yang tidak bisa dianggap main-main.

Tubuh Tina gemetar hebat. "I-iya, Den. Aku mengerti."

Gavin tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. "Pergi!"

Tina masih terpaku.

Suara Gavin kembali terdengar, kali ini lebih tegas. "Mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan siapa pun menindas istriku."

Ucapan itu membuat dada Dara berdesir. Selama bertahun-tahun hidupnya, belum pernah ada orang yang berdiri di depannya untuk melindunginya seperti ini.

Dara selalu menghadapi hinaan, bentakan, bahkan perlakuan tidak adil seorang diri. Kini, seseorang berdiri di sampingnya tanpa ragu membela dan melindunginya. Menjadikannya sebagai orang yang harus dijaga.

Tanpa berani membantah lagi, Tina mengangguk berkali-kali. "Iya, Den ... aku pergi."

Wanita itu segera berbalik. Langkahnya mula-mula cepat, lalu berubah menjadi berlari tunggang langgang meninggalkan tempat itu.

Beberapa pekerja yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan saling berpandangan. Mereka tidak menyangka Den Gavin yang dikenal pendiam ternyata berani bersikap setegas itu demi melindungi istrinya.

Dara masih berdiri mematung. Matanya perlahan memanas. Perasaannya bercampur aduk. Lega, terharu, bahagia, dan tak percaya. Semua emosi itu memenuhi dadanya hingga membuat tenggorokannya terasa tercekat.

Dara menoleh ke arah Gavin. Pria itu masih berdiri tegak di sampingnya. Wajahnya kembali datar seperti biasa, seolah kejadian barusan bukan sesuatu yang besar. Namun, bagi Dara, apa yang dilakukan Gavin jauh lebih berharga daripada apa pun.

Sementara itu, Tina berlari tergesa-gesa hingga tiba di rumah. Napasnya memburu. Dadanya naik turun menahan lelah sekaligus rasa takut yang masih membekas.

Begitu masuk ke ruang tamu, ia langsung menjatuhkan tubuh ke kursi kayu.

Rama yang sedang duduk santai sontak berdiri. "Kamu kenapa?"

Tina mengambil gelas berisi air putih, lalu meminumnya sampai habis dalam sekali teguk.

"Den Gavin," gumamnya dengan napas yang belum beraturan.

Rama mengernyit. "Memangnya ada apa dengan Den Gavin?"

Dengan suara yang masih bergetar, Tina menceritakan semua kejadian di perkebunan. Ia menceritakan bagaimana Dara menolak memberikan uang mahar, bagaimana ia hampir menarik paksa keponakannya, hingga kemunculan Gavin yang membela Dara tanpa sedikit pun ragu.

Semakin lama mendengarkan cerita istrinya, wajah Rama semakin muram. Ia menyandarkan punggung ke kursi sambil mengembuskan napas panjang.

"Aku benar-benar tidak menyangka. Dulu kupikir Den Gavin hanya menikahi Dara karena permintaan Juragan. Ternyata sekarang dia benar-benar melindungi istrinya."

"Kalau begitu kita bakal susah mendapatkan uang mahar itu," lanjut Rama, mengembuskan napas keras.

Tina mengepalkan kedua tangannya. "Lalu kita harus bagaimana sekarang?"

Rama terdiam cukup lama. "Entahlah. Aku juga bingung."

Pria paruh baya itu mengusap wajahnya dengan kasar. "Untuk sementara, jangan cari masalah dulu dengan Dara. Kalau Den Gavin sampai benar-benar marah, kita sendiri yang rugi."

Mendengar itu, Tina hanya bisa menggigit bibirnya kesal. Ia tidak menyangka gadis yang selama ini selalu menurut kini memiliki seseorang yang siap berdiri di belakangnya.

Sementara itu, suasana berbeda terlihat di bawah pohon besar yang berada di pinggir perkebunan. Sebuah bangku kayu sederhana berdiri di bawah rindangnya pepohonan. Angin sore berembus pelan, membawa aroma khas daun teh yang baru dipetik.

Gavin dan Dara duduk berdampingan di bangku itu. Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat.

Dara terus memainkan ujung bajunya. Sesekali ia melirik Gavin, lalu kembali menundukkan kepala. Akhirnya, ia memberanikan diri membuka suara.

"Maaf, Aa."

Gavin menoleh.

"Karena aku, Aa jadi marah-marah."

Gavin menggeleng pelan. "Aku tidak marah sama kamu."

Tatapan Gavin mengarah ke hamparan kebun teh di depan mereka. "Aku marah pada bibimu."

Dara tersenyum tipis. "Terima kasih, ya, Aa."

Ia mengumpulkan keberanian untuk menatap wajah suaminya. "Karena sudah membela saya."

Gavin balas menatapnya. Tatapannya tidak lagi sedingin tadi.

"Itu bukan sesuatu yang perlu kamu ucapkan terima kasih."

Dara tampak bingung. "Kenapa?"

"Karena itu memang tugasku. Tugas seorang suami adalah melindungi istrinya."

Kalimat sederhana itu membuat mata Dara kembali berkaca-kaca. Tak ada janji manis atau kata-kata romantis. Namun, ucapan sederhana itu mampu menghangatkan hatinya.

Dara merasakan ada seseorang yang benar-benar membuatnya merasa aman. Tanpa sadar, senyum kecil menghiasi wajahnya.

Melihat senyum itu, sudut bibir Gavin ikut terangkat tipis.

Sore itu, di bawah langit pegunungan yang mulai berwarna jingga, keduanya duduk dalam keheningan yang terasa begitu nyaman. Tanpa mereka sadari, rasa percaya dan kedekatan di antara mereka tumbuh sedikit demi sedikit, menjadi awal yang indah bagi perjalanan rumah tangga yang baru saja dimulai.

1
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🙏🙏🙏 makasih
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹
Sugiharti Rusli
di jaman sekarang memang yah kalo salah mengajarkan nilai" kehidupan ke anak, bisa jadi petaka di masa depan yah🙏🙏🙏
Sugiharti Rusli
bahkan Gavin membebaskan anak" nya mengejar cita" yang sesuai minat mereka dan tidak berpatokan seperti dirinya yang jadi pengusaha,,,
Sugiharti Rusli
baik Gavin dan Dara tidak pernah mencontohkan kepada anak" nya tentang status mereka yang memiliki perkebunan dan usaha yang semakin besar,,,
Sugiharti Rusli
benar sih, kalo di tangan orang tua yang paham menanamkan nilai" baik, seorang anak bisa banyak mencontoh dari kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
ternyata kesederhanaan berpikir Dara dulu bisa berpengaruh pada kehidupan mereka sekarang yah
Sugiharti Rusli
wah senang deh ada ekstra part meski hanya satu saja yah😁😁😁
Rahmat
Kirim kopi ah biar thourx smangat ngetikx awal cerita sampai next tammat semuax aku suka bukan cuman cerita novelx sj tapi ilmux banyak,wejangan"juga👍🫡🫡🫡
Aditya hp/ bunda Lia
makasih extra nya Thor bahagiaaaaa ... Gavin dara
dyah EkaPratiwi
terimakasih cerinya kak😍
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
waduh
Ita rahmawati
suka bab bonus yg bener bener bonus,,kata katanya bagus bgt bisa jd contoh utk kita pelajari 🤗🤗
Ummee
Terimakasih kembali kak... 🙏
sukses selalu utk kak author 🤗
Ummee
ya Allah... ada lagi kembar😍😍😍
Ummee
eehh... uda punya bocil ternyata Dara+Gavin, selamat ya...
Nar Sih
masyaalloh kak ,bnr,,kata,,yg bagus yg bisa jdi motifasi kita para pebaca semagat kak santi dan terus lah berkarya dgn tulisan dan cerita mu ,👍👍🥰🥰
Risma Hye Chan
indah banget kalimat extra part-nya
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah sudah tertangkap
Ayuk Witanto
ternyata yang nabrak juga sudah bergerak duluan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!