Bagus , seorang pemuda yang di tolak cintanya dengan cara menyakitkan, mengambil jalan pintas untuk mendapatkan cintanya. apa yg terjadi ? jika ternyata semua yang dia dapatkan hanya kenikmatan semu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : Konsekuensi Mutlak
Sri kini terbaring pingsan tak sadarkan diri di atas karpet dengan raut wajah yang jauh lebih tenang dan damai dari beberapa hari sebelumnya. Sisa-sisa hawa hitam pekat yang menyumbat rongga dadanya perlahan-lahan telah menguap sirna ke udara bersamaan dengan keluarnya cairan busuk hitam yang dimuntahkannya tadi. Namun, keheningan yang damai di dalam ruang tamu rumah Kyai Ahmad itu sama sekali tidak bertahan lama. Belum sempat Bagus menarik napas lega menyaksikan kesembuhan Sri, sebuah sentakan energi yang luar biasa hebat mendadak menghantam telak tepat di ulu hatinya sendiri. Bagus terhuyung kasar ke arah belakang, dadanya terasa sangat sesak seolah-olah baru saja dihantam oleh sebuah palu gada tak kasat mata berukuran raksasa, hingga tubuh ringkihnya jatuh terduduk pasrah di atas lantai.
"Nak Bagus, kuatkan batin dan imanmu sekarang juga!" seru Kyai Ahmad dengan nada suara yang tenang namun kini berubah menjadi penuh dengan ketegangan. Beliau dengan sigap segera berpindah posisi duduk, bergeser bersila tepat di hadapan tubuh Bagus yang mulai kejang-kejang ringan.
Hukum karma spiritual di alam semesta ini selamanya akan berlaku mutlak tanpa ada pengecualian. Ketika sebuah aliran ilmu pelet tingkat tinggi yang agresif diputus secara paksa di tengah jalan oleh kekuatan jalur putih, energi magis yang terlanjur tercipta dan mengudara tidak bisa hilang begitu saja menguap ke udara bebas. Energi hitam tersebut akan memantul keras, berbalik arah berputar seratus delapan puluh derajat mencari kembali sosok sang majikan asli yang pertama kali merapalkan dan melepaskannya ke dunia. Seluruh Hawa Panas Asmara, getaran dendam, dan ilusi gila dari Aji Jaran Goyang yang semula menyiksa Sri, kini serentak berbalik arah menyerbu masuk menembus tempurung kepala Bagus sendiri tanpa ampun.
Bagus menjerit tertahan dengan suara serak yang mengerikan, kedua telapak tangannya mencengkeram kuat kepalanya yang terasa seolah-olah mau pecah berkeping-keping karena tekanan gaib yang masif. Pandangan sepasang matanya mendadak kabur total, bergoyang hebat ke kanan dan ke kiri seperti seluruh ruangan itu sedang diguncang gempa bumi tektonik yang dahsyat. Jauh di dalam tempurung kepalanya, ia mulai mendengar suara ringkikan kuda gaib yang melengking nyaring tiada henti, bergaung sangat keras memekakkan seluruh fungsi telinga batinnya. Bersamaan dengan teror suara itu, bayangan wajah Sri berkelebat cepat dalam ribuan fragmen potongan ingatan di otaknya namun anehnya, yang muncul bukan bayangan Sri yang kurus kering mengenaskan, melainkan bayangan Sri yang berwajah angkuh, yang memandangnya dengan tatapan mata penuh kejijikan dan hinaan di parkiran.
"Sadar diri dong... Motor aja kamu masih kredit... Level kita beda jauh!"
Kata-kata tajam yang diucapkan Sri di area parkiran malam itu mendadak berputar kembali di dalam kepala Bagus, berulang-ulang tanpa jeda dengan volume suara yang kian lama kian membesar, bercampur baur dengan suara tawa merendahkan yang bergaung gaib. Efek tenggeng-tenggeng yang tadinya menyiksa batin Sri, kini berbalik arah justru mengunci total seluruh sistem saraf dan logika sehat milik Bagus. Memori tentang kamar kos yang sempit pengap, jaket ojek online yang usang, dan seluruh ingatan kelam tentang kemiskinan hidupnya mendadak berputar menjadi kabut keputusasaan yang sangat pekat menghimpit jiwanya hingga ke titik terendah.
"Kyai... tolong... kepala saya sakit sekali... seperti ditusuk-tusuk..." ratap Bagus dengan air mata yang bercampur dengan kucuran keringat dingin yang mengalir deras membasahi seluruh kaosnya. Ia mulai bergerak liar mencakar-cakar lantai karpet hijau, mencoba mengalihkan rasa sakit yang luar biasa menyiksa di dalam kepalanya.
Kyai Ahmad segera memegang kuat kedua pundak Bagus, mencoba menyalurkan sisa-sisa energi ketenangan murni untuk membentengi sisa akal sehat pemuda ojol itu agar tidak langsung runtuh. "Ini adalah bentuk karma nyata dari perbuatan syirikmu sendiri, Nak Bagus. Kamu harus berani menanggung seluruh beban batin dari apa yang sudah kamu tabur sebelumnya. Terimalah semuanya dengan ikhlas, jangan pernah kau lawan dengan amarah di dalam hati, agar jiwamu tidak hancur lebur sepenuhnya ditelan kegelapan!"
Bagus mencoba menganggukkan kepalanya patuh, namun hantaman balik energi magis hitam itu terlalu masif dan terlalu berat untuk bisa ditahan oleh tubuh manusianya yang sudah kelelahan. Sistem logikanya yang selama ini sehat walafiat perlahan-lahan mulai retak, pecah di bawah tekanan trauma masa lalu yang kelam dan energi pelet yang berbalik arah menyerang tuannya. Di tengah-tengah siksaan spiritual yang luar biasa dahsyat itu, Bagus tiba-tiba mulai tertawa kecil sendirian. Suara tawanya terdengar sangat janggal, dingin, dan kosong, lalu hanya berselang beberapa saat kemudian tawanya langsung berubah drastis menjadi suara tangis histeris yang pilu. Ia meratapi segala kebodohan dan ego butanya yang kini telah sukses menghancurkan masa depan hidup orang lain sekaligus merusak kewarasan dirinya sendiri. Rantai karma hitam telah resmi mengunci nasib dan takdir hidupnya dengan mutlak siang itu di lantai pesantren.
“Setiap panah kegelapan yang kau lepaskan demi memuaskan ambisi dendam, akan selalu tahu jalan untuk pulang. Ketika rantai gaib itu berbalik arah, kau baru akan menyadari bahwa harga yang harus kau bayar untuk sebuah kemenangan semu adalah kewarasan jiwamu sendiri.”
— Sang Alifas Yang Merumput