Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.
Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.
Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Keputusan yang Tak Terduga
Sesampainya di rumah, suasana di ruang tengah terasa sangat hening namun berat. Ayah, Ibu, dan Kakek sudah duduk menunggu dengan wajah yang serius. Laras menyadari bahwa apa yang akan dibicarakan ini bukan hal yang sepele.
“Duduklah, Laras,” ucap Ayah dengan nada tenang namun tegas. “Kami memanggilmu pulang karena ada hal penting yang harus kami sampaikan. Tentang masa depanmu.”
Laras duduk dengan sopan, namun hatinya mulai berdebar kencang. “Apa maksud Ayah?”
“Keluarga kita sudah lama bersahabat dengan keluarga besar Hendrawan. Putra tunggal mereka, Rian, baru saja pulang dari luar negeri. Mereka mengajukan keinginan untuk menyatukan kedua keluarga ini melalui pernikahan kalian berdua,” jelas Ayah perlahan. “Kami pun setuju, dan ini adalah jalan terbaik bagimu untuk menjaga nama baik serta kedudukan keluarga kita.”
Darah seolah berhenti mengalir sejenak di tubuh Laras. Ia tidak menyangka sama sekali akan mendengar hal seperti ini.
“Tapi Yah, Bu… aku tidak mengenal dia. Dan aku tidak ingin menikah hanya karena menyatukan nama keluarga,” tolak Laras dengan suara yang bergetar namun tetap berani menyampaikan pendapatnya.
“Kami tahu ini tiba-tiba bagimu,” sahut Ibunya lembut namun tetap tegas. “Namun percayalah, ini semua demi kebaikanmu. Rian anak yang baik, cerdas, dan nasibnya sama tinggi denganmu. Tidak seperti pemuda yang baru saja kau kenal itu.”
Mendengar itu, Laras semakin paham inti dari semua pembicaraan ini. “Apakah ini semua karena kalian tahu tentang Daffa?”
Arga Muda yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. “Kami tidak melarangmu berteman, Nak. Tapi menyatukan hidup dengan seseorang yang belum jelas masa depannya, dan terlebih dahulu kesulitan memenuhi kebutuhan sendiri… Kakek tidak ingin kau menanggung kesusahan seumur hidup. Pernikahan bukan sekadar perasaan sesaat, tapi tentang kehidupan sehari-hari.”
“Daffa bukan orang yang akan membuatku susah, Kek. Dia hanya sedang diuji saat ini, tapi hatinya jauh lebih mulia daripada orang yang belum pernah aku temui sekalipun,” bela Laras dengan tulus. “Aku tidak mau menikah dengan orang lain.”
“Keputusan ini sudah bulat, Laras,” potong Ayah tegas. “Pertunangan akan dilaksanakan minggu depan. Kamu hanya perlu mempersiapkan diri.”
Laras tidak sanggup berkata-kata lagi. Ia hanya menunduk menahan air mata yang mulai menggenang. Merasa tidak ada yang memahami isi hatinya, ia segera berdiri dan berlari menuju kamarnya, mengunci pintu rapat-rapat.
Sementara itu, Daffa yang sejak tadi tidak tenang, akhirnya memberanikan diri datang ke kediaman Pratama menjelang malam. Ia hanya ingin memastikan Laras baik-baik saja. Namun sesampainya di sana, ia mendengar percakapan beberapa orang pelayan yang sedang berbicara di halaman samping.
“Kasihan sekali Nona Laras. Padahal baru saja dikenalkan dengan Mas Rian, tapi sudah langsung diputuskan untuk bertunangan minggu depan.”
“Benar. Katanya ini demi menjaga nama baik keluarga, dan menjauhkan Nona dari pemuda yang kurang tepat itu.”
Hati Daffa terasa seperti diremas kuat mendengar hal itu. Kakinya terasa lemas seketika. Ia akhirnya mengerti mengapa orang-orang begitu khawatir dan ingin segera memisahkan mereka. Ternyata ia memang tidak memiliki apa-apa untuk bisa melindungi atau sekadar menawarkan diri mendampingi Laras.
Dengan perasaan yang hancur namun berusaha tetap tegar, Daffa memutuskan untuk tidak menemui Laras malam itu. Ia sadar, jika ia masuk ke sana sekarang, ia hanya akan menambah masalah dan dianggap semakin mengganggu keputusan keluarga.
Ia pun berjalan perlahan menjauh dari gerbang megah itu, membawa hati yang penuh dengan kesedihan namun juga tekad yang mulai tumbuh.
“Jika memang aku tidak pantas berdiri di sampingnya sekarang… maka aku akan berjuang sekuat tenaga sampai aku benar-benar layak,” bisiknya pelan di tengah jalan yang mulai sepi. “Aku tidak akan memaksakan kehendak, tapi aku juga tidak akan menyerah pada janji yang sudah terucap.”
Keesokan paginya, Laras bangun dengan mata yang sembab. Ia segera bergegas pergi ke tempat biasa mereka bertemu, berharap bisa segera menceritakan semuanya pada Daffa dan mencari jalan keluar bersama. Namun sepanjang pagi hingga siang, sosok yang ia tunggu tak kunjung datang. Bahkan saat ia menanyakan ke tempat Daffa bekerja, orang-orang mengatakan bahwa pemuda itu sudah tidak bekerja di sana sejak kemarin.
Kegelisahan mulai menyelimuti hati Laras. Ke mana perginya Daffa? Apakah ia mendengar kabar itu dan memilih untuk pergi meninggalkannya begitu saja?
(Bersambung ke Bab 29) ✨