Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Kotak-Kotak Misterius
Sore hari tiba dengan perlahan. Matahari yang mulai condong ke barat menyinari halaman belakang rumah dengan warna keemasan yang hangat. Angin sore berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Liora dan Alex baru saja selesai membereskan keranjang anggur hasil panen pagi tadi. Sebagian anggur sudah mereka cuci dan masukkan ke dalam mangkuk kaca di meja dapur, sementara sisanya masih berada di keranjang bambu di teras.
Liora merasa cukup lelah setelah seharian beraktivitas. Mulai dari bangun pagi, memasak sarapan, memanen anggur, hingga membersihkan dapur dan halaman. Namun, ada perasaan aneh yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Meskipun lelah, ia merasa lebih tenang dibandingkan saat ia pertama kali menginjakkan kaki di desa ini kemarin.
Mereka berdua duduk di ruang tamu. Liora sedang melipat kain lap yang baru ia cuci, sementara Alex duduk di lantai, asyik menyusun balok kayu menjadi bentuk menara yang tinggi. Sesekali Alex tertawa kecil saat baloknya jatuh, lalu ia menyusunnya kembali tanpa merasa bosan.
"Liora, lihat! Menara Alex tinggi!" seru Alex sambil menunjuk bangunan kayu yang berhasil ia buat.
Liora tersenyum dan menepuk tangan pelan. "Wah, hebat sekali, Alex. Menaranya sangat tinggi."
Alex tersenyum bangga. Lalu tiba-tiba ia menghentikan permainannya, menatap ke arah sudut ruangan di mana tergeletak beberapa kotak kardus berwarna cokelat muda. Kotak-kotak itu tampaknya baru saja diantar oleh sopir yang membawa barang-barang Liora kemarin. Liora sendiri belum sempat membuka semua kotak itu. Ia pikir isinya hanya pakaian dan beberapa perlengkapan mandi tambahan.
"Liora, itu apa? Kotak-kotak itu isinya apa?" tanya Alex dengan rasa ingin tahu.
Liora mengangkat bahu. "Aku belum membukanya, Alex. Mungkin barang-barangku yang lain."
"Mau dibuka sekarang?" tanya Alex, matanya berbinar penuh semangat, seperti anak kecil yang melihat kado ulang tahun. "Boleh Alex bantu buka?"
Liora menghela napas. Ia tidak punya alasan untuk menolak. "Baiklah, Alex. Bantu aku membuka kotak-kotak itu."
Alex segera berlari kecil menuju tumpukan kardus. Ia memilih salah satu kotak yang paling besar, lalu mulai merobek lakban perekatnya dengan penuh antusiasme. Liora mendekat dan ikut membantunya membuka kotak itu.
Saat tutup kardus terbuka, Liora membelalakkan mata. Isinya bukan pakaian. Bukan juga perlengkapan mandi.
Di dalam kotak itu, tertumpuk rapi puluhan buku dengan sampul yang beragam warna. Liora mengeluarkan salah satu buku di bagian atas. Judulnya tertulis dalam huruf-huruf tebal berwarna emas: "Kunci Bahagia dalam Pernikahan: Panduan bagi Istri dan Suami".
Liora mengerutkan kening. Ia mengambil buku lainnya. Kali ini judulnya lebih tegas: "Membangun Rumah Tangga yang Harmonis".
Ia merogoh lebih dalam ke dalam kotak itu. Ada lagi buku berjudul: "Seni Memahami Pasangan", "Menjadi Istri yang Dicintai", dan "Mengatasi Konflik dalam Pernikahan".
Liora terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat. Matanya memperhatikan dengan saksama semua judul buku itu, dan pipinya perlahan berubah menjadi merah padam.
Di kotak kedua yang mulai Alex buka, isinya tidak kalah mengejutkan. Ada buku-buku dengan judul yang membuat Liora hampir tersedak: "Panduan Lengkap Parenting untuk Orang Tua Baru", "Mengasuh Anak dengan Cinta dan Kasih Sayang", "Tumbuh Kembang Anak Usia Dini", serta "Kesehatan Ibu dan Anak: Dari Kehamilan Hingga Menyusui".
Semua buku itu bertema pernikahan, rumah tangga, dan pengasuhan anak. Ini bukan barang yang Liora minta. Ini bukan barang yang ia bawa dari kota. Jelas, ini semua sengaja disiapkan oleh pihak keluarga Theodore—mungkin atas perintah Emi atau pihak keluarganya langsung.
Liora memegangi buku pertama erat-erat. Hatinya terasa aneh. Sebagian ia merasa marah. Keluarga Theodore seolah sudah mengatur hidupnya sepenuhnya, bahkan hingga buku-buku yang harus ia baca untuk menjadi istri yang "baik". Tetapi di sisi lain, ada pula rasa malu yang menjalari wajahnya. Semua buku itu seolah mengingatkan Liora bahwa ia sekarang sudah menikah, bahwa ia memiliki suami, dan bahwa kelak ia mungkin harus memikirkan tentang anak.
Pipinya terasa panas. Ia tidak bisa membayangkan membicarakan hal-hal seperti itu dengan Alex yang masih bersikap seperti anak kecil.
"Liora, kenapa mukamu merah?" tanya Alex tiba-tiba, menatap Liora dengan tatapan polosnya.
Liora tersentak. Ia segera meletakkan buku itu ke atas kotak, mencoba menenangkan diri. "Ah, tidak apa-apa, Alex. Mungkin terlalu panas di sini."
Alex tidak bertanya lebih lanjut. Ia justru mengambil salah satu buku cerita bergambar yang ada di atas tumpukan—mungkin buku yang tidak sengaja tertukar masuk ke dalam kotak. Alex membuka buku itu dan mulai melihat-lihat gambar-gambarnya dengan asyik, sama sekali tidak peduli dengan isi buku-buku pernikahan dan parenting yang memenuhi kotak itu.
Liora menatap Alex sejenak. Pria itu terlihat sangat menikmati bukunya, tertawa kecil melihat gambar karakter kartun di dalamnya. Tanpa disadari, Liora tersenyum. Kekhawatirannya perlahan mereda.
"Alex, aku mau mandi dulu ya. Badanku terasa lengket habis panen anggur tadi," ucap Liora pelan.
Alex mengangkat wajahnya dari buku, lalu mengangguk cepat. "Iya, Liora. Alex tunggu di sini."
Liora berdiri dan melangkah menuju tangga. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti. Ia menoleh ke belakang dan memperhatikan Alex. Pria itu benar-benar kotor. Kemejanya yang tadinya putih kini sudah bernoda cokelat kehitaman—bekas tanah dan getah dari pohon anggur yang mereka panen tadi pagi. Kerah kemejanya juga lembab oleh keringat, dan ada sedikit noda merah di sela-sela jarinya, mungkin bekas jus anggur yang meletus saat ia memetiknya.
Liora menghela napas. Ia tidak tega membiarkan Alex dalam keadaan kotor seperti itu. Lagi pula, Emi pasti akan memarahinya jika Alex tidak dibersihkan sebelum malam.
"Alex," panggil Liora.
Alex menatapnya. "Iya, Liora?"
"Kamu juga harus mandi, Alex. Badanmu kotor banget habis panen anggur tadi. Nanti kalau tidak mandi, badannya gatal dan bisa sakit," jelas Liora dengan lembut.
Alex menatap tangannya sendiri, lalu melihat noda-noda tanah di kemejanya. Ia mengangguk dengan polos. "Iya, Alex kotor. Alex mau mandi!"
Liora tersenyum lega. "Bagus. Ayo, kita mandi bergantian. Kamu mandi dulu, nanti aku menyusul."
Alex mengangguk dengan patuh. Ia meletakkan bukunya, lalu berjalan naik ke lantai dua. Liora mengikutinya dari belakang, mengambilkan handuk bersih dan pakaian ganti dari kamar Alex. Saat menyerahkan handuk itu, Alex menatapnya dengan tatapan penuh kepercayaan.
"Nanti kalau Alex sudah mandi, Liora boleh pinjam buku cerita Alex ya!" ucap Alex ceria.
Liora mengangguk. "Iya, Alex. Aku akan pinjam buku ceritamu. Sekarang, cepat mandi ya."
Alex masuk ke kamar mandi dengan ceria, dan tak lama kemudian, terdengar suara air mengalir dari dalam. Liora berdiri di depan pintu kamar mandi, menatap pintu tertutup itu dengan pandangan yang penuh campuran perasaan.
Ia menunduk, melihat kembali tangannya yang masih memegang salah satu buku tentang membangun rumah tangga yang ia ambil dari kotak tadi. Buku itu masih tertutup, tetapi judulnya saja sudah cukup membuat dadanya terasa sesak.
Liora menghela napas panjang, lalu berjalan ke kamarnya dan meletakkan buku itu di atas meja rias.
"Suami yang kupunya adalah Alex," bisiknya pada dirinya sendiri. "Bukan pria normal seperti yang ada di buku-buku ini. Bagaimana aku bisa membangun rumah tangga, kalau ia hanya bisa bermain balok kayu dan memanen anggur?"
Liora menatap dirinya di cermin. Wajahnya masih merah, dan matanya mulai berkaca-kaca. Namun, ia menahan air matanya. Kali ini, ia tidak mau menangis. Ia hanya ingin mandi, membersihkan tubuhnya yang lelah, dan mencoba untuk menerima kenyataan bahwa hidupnya kini sudah berbeda.
Malam akan segera tiba. Dan di desa ini, hanya ada Alex dan Liora.
saling support sabi kali😉