NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 #Menjadi pelayan pribadi

​Anya masih berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang, napasnya naik-turun menahan dongkol yang sudah menyumbat hingga ke tenggorokan. Matanya yang bulat mengedar ke sekeliling penthouse mewah tersebut, mencoba mencari celah atau kelemahan dari argumen mutlak sang taipan properti.

​Tepat saat itulah, pandangan Anya menangkap pergerakan di koridor lantai satu yang menuju ke arah dapur bersih. Ada sekitar empat orang pelayan berseragam rapi, dua wanita paruh baya dan dua pria muda yang sedang sibuk berlalu-lalang. Ada yang membawa kemoceng bulu domba, ada yang sedang mengelap vas kristal di sudut ruangan, dan ada pula yang membawa nampan berisi perlengkapan perak.

​Sebuah ide cemerlang instan melintas di kepala Anya. Senyum kemenangan yang sempat hilang kini kembali terbit di wajah cantiknya. Dia berbalik menatap Bara, lalu melipat tangan di depan dada dengan gaya angkuh.

​"Tunggu sebentar, Om," potong Anya sembari dagunya menunjuk ke arah koridor dapur. "Itu... Om kan sudah punya empat orang pelayan yang sangat cekatan di sini. Tempat ini sudah bersih mengkilat seperti cermin. Jadi, Om sama sekali tidak membutuhkan tenaga atau bantuan dari aku, kan? Kontrak konyol ini batal demi hukum karena tidak ada urgensinya!"

​Bara Fernandez tidak langsung menjawab. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu melirik ke arah para pelayannya sekilas, lalu kembali menatap Anya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan kelicikan mutlak.

​"Reno," panggil Bara dengan suara baritonnya yang tidak terlalu keras, namun langsung menggema di seluruh penjuru ruangan.

​Asisten pribadinya, Reno, yang ternyata masih bersiaga di dekat lift, langsung melangkah maju dengan cepat dan membungkuk hormat. "Ya, Pak Bara? Ada yang bisa saya bantu?"

​"Mulai besok siang, tepat jam satu, suruh keempat pelayan itu pulang ke rumah mereka masing-masing," perintah Bara dengan nada suara yang sangat tenang namun tidak menerima bantahan. "Selama Zevanya berada di sini untuk bertugas, aku tidak mau melihat ada orang lain yang menyentuh satu pun pekerjaan rumah tangga di penthouse ini. Biarkan mereka berlibur setengah hari."

​Reno sempat tertegun sejenak, matanya melirik sekilas ke arah Anya yang sudah melongo horor, sebelum akhirnya kembali menunduk patuh. "Baik, Pak. Perintah Anda akan segera saya laksanakan."

​"Om! Are you insane?!" teriak Anya histeris begitu Reno melangkah pergi untuk menyampaikan maklumat gila tersebut. Anya melangkah maju dua tindak, menatap Bara dengan pandangan tidak percaya. "Aku ini cuma satu orang, Om! Satu! Sementara biasanya pekerjaan rumah raksasa ini diselesaikan oleh empat orang profesional sekaligus! Om menyuruhku mengepel, mengelap kaca, membersihkan debu di ruangan seluas lapangan bola ini sendirian?!"

​Anya mengerucutkan bibirnya maksimal, wajah cantiknya ditekuk sedalam mungkin dengan kedua pipi yang menggembung kesal karena merasa diperlakukan dengan sangat tidak adil. Dia benar-benar cemberut, mengeluarkan seluruh ekspresi kekanak-kanakannya yang selama ini selalu berhasil membuat Tito Sanjaya bertekuk lutut dan menuruti segala keinginannya.

​Namun, di hadapan Bara Fernandez, taktik itu memberikan efek yang sama sekali berbeda.

​Melihat wajah cemberut maksimal dari gadis berusia dua puluh satu tahun itu, sepasang mata elang Bara justru berkilat cerah. Ada desakan hangat di dada Bara yang membuatnya harus sekuat tenaga menahan senyum gemas. Penampilan Anya yang tenggelam di dalam sweater oversize abu-abu, ditambah wajahnya yang merengut kesal seperti anak kucing yang kehilangan makanannya, terlihat luar biasa menggemaskan di mata Bara. Kontrol diri Bara kembali diuji hanya untuk menjaga agar wajah tampannya tetap terlihat datar dan berwibawa.

​"Satu orang sudah lebih dari cukup, Zevanya. Lagipula, aku tidak menuntut tempat ini harus bersih dalam waktu satu jam," sahut Bara santai, kembali menyesap es kopinya yang mulai mencair. "Kamu punya waktu beberapa jam setiap hari setelah kuliah untuk mencicilnya. Anggap saja ini sebagai kelas praktikum tambahan untuk melatih fisikmu agar tidak terlalu manja."

​Anya mengembuskan napas kasar lewat mulutnya, membuat beberapa helai rambut cokelat yang membingkai wajahnya beterbangan. "Ya sudahlah! Berdebat dengan Om kan memang percuma! Om selalu punya seribu satu cara licik untuk menang!" ketus Anya, suaranya naik satu oktav karena jengkel.

​Anya meraih tas ransel kuliahnya yang tergeletak di atas karpet bulu, lalu menyampirkannya di bahu kanan dengan kasar. "Mulainya besok siang, kan? Karena sekarang aku sudah lelah dan mau pulang ke rumah!"

​Tanpa menunggu persetujuan atau kalimat perpisahan dari pria arogan di hadapannya, Anya langsung membalikkan tubuhnya dengan sentakan cepat. Langkah kakinya yang mengenakan sneakers putih dihentakkan keras-keras di atas lantai marmer, bersiap melangkah menuju pintu lift privat untuk segera melarikan diri dari atmosfer menyesakkan ini.

​"Zevanya."

​Suara bariton Bara yang berat dan penuh penekanan kembali memanggil namanya, menghentikan langkah kaki Anya tepat tiga meter sebelum dia mencapai tombol lift. Anya mengembuskan napas panjang, memutar bola matanya jengah sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya kembali dengan malas.

​"Apa lagi sih, Om?! Aku mau pu..."

​Ucapan Anya terhenti sepenuhnya ketika dia melihat apa yang kini sedang dipegang oleh jemari kokoh Bara. Di antara jari telunjuk dan jari tengah pria itu, terselip sebuah pena logam berwarna rose gold berhiaskan ukiran inisial nama 'Z.A.S' yang sangat mewah pada bagian tutupnya.

​Mata Anya seketika membelalak. Itu adalah pena kesayangannya. Pena edisi terbatas hadiah ulang tahun dari papanya yang sudah seminggu ini dia cari-cari di seluruh sudut kamar dan mobilnya namun tidak kunjung ketemu.

​"Penaku!" seru Anya spontan, matanya berbinar terang melihat benda berharga itu ada di sana.

​"Pena ini tertinggal di atas sofa ruang VIP klab malam Heaven... malam di mana kamu memberikan ciuman gratis itu padaku," ujar Bara dengan senyum tipis yang penuh arti, sengaja mengingatkan Anya pada memori gila seminggu yang lalu.

​Melihat barang berharganya ada di tangan musuh, Anya tidak berpikir panjang lagi. Sifat impulsifnya kembali mengambil alih. Dia melangkah maju dengan cepat, mengulurkan tangan kanannya dan bersiap untuk langsung menyambar pena tersebut dari genggaman Bara.

​Namun, Bara Fernandez jauh lebih sigap dan waspada. Tepat saat jemari lentik Anya hampir menyentuh ujung pena, Bara dengan cepat menarik kembali tangannya ke belakang tubuhnya. Tak hanya itu, tangan kiri Bara yang bebas bergerak secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan Anya lalu menarik tubuh ramping gadis itu dengan satu sentakan kuat yang tak terduga.

​"Kyaa!" Anya memekik pelan saat keseimbangan tubuhnya hilang.

​Dug!

​Sebelum Anya sempat menyadari apa yang terjadi, tubuh rampingnya yang terbalut sweater oversize sudah menubruk telak dada bidang Bara yang kokoh dan keras seperti batu karang. Cengkeraman tangan Bara berpindah ke pinggang ramping Anya, mengunci tubuh gadis itu agar tetap menempel ketat pada tubuh tegapnya. Anya terpaksa mendongak tegak, napasnya memburu berantakan karena jarak di antara wajah mereka kembali mengikis habis, hanya menyisakan beberapa sentimeter saja.

​Anya bisa merasakan detak jantung Bara yang berdegup konstan di balik kemeja hitamnya, sementara jantungnya sendiri sudah berdetak menggila seperti genderang perang karena panik dan sensasi asing yang menyengat sekujur tubuhnya.

​Bara tidak melepaskan kunciannya. Pria itu justru menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya tepat di samping daun telinga Anya yang putih bersih.

​"Ingat baik-baik, Zevanya Anneliza," bisik Bara, suaranya berupa geraman rendah yang parau, mengirimkan getaran meremang di sepanjang tulang belakang Anya. "Besok jam dua siang tepat, jangan sampai terlambat satu menit pun."

​Bara menjeda kalimatnya, sengaja memajukan wajahnya lebih dalam hingga hidung mancungnya menyentuh helai-helai rambut cokelat bergelombang milik Anya yang tergerai bebas. Pria itu memejamkan matanya sesaat, menghirup dalam-dalam aroma wangi kombinasi antara vanila dan buah ceri yang menguar kuat dari rambut dan tubuh Anya. Aroma manis yang segar, yang sejak seminggu lalu entah bagaimana telah berubah menjadi candu baru di dalam otak seorang Bara Fernandez.

​"Sebab... ada hukuman yang sangat setimpal untuk setiap menit keterlambatanmu, besok dan seterusnya," lanjut Bara dengan bisikan seksi yang sarat akan ancaman berbahaya tepat di ceruk leher Anya, membuat napas gadis itu tertahan di tenggorokan.

​Anya membeku sepenuhnya di dalam pelukan hangat pria itu, matanya membelalak dengan rona merah yang kini menjalar hebat hingga ke seluruh permukaan lehernya. Dia tahu, mulai besok siang, kehidupannya tidak akan pernah sama lagi.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!