NovelToon NovelToon
Muara Hati Azalea

Muara Hati Azalea

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Naik ranjang/turun ranjang / Pengasuh / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Seminggu kematian mertuanya, Azalea dijatuhi talak oleh Reza, dengan alasannya tidak bisa memberikan keturunan kepadanya. Padahal selama tiga tahun pernikahan, Reza tinggal di kota, sementara Azalea tinggal di kampung mengurus mertuanya yang sakit-sakitan.

Azalea yang hidup sebatang kara pun memutuskan untuk merantau ke kota mencari pekerjaan. Ketika hendak menyebrang, Azalea melihat gadis kecil berlari ke tengah jalan, sementara banyak kendaraan berlalu lalang. Azalea pun berlari menyelamatkan gadis kecil itu.

Siapa sangka gadis kecil itu adalah Elora, putri dari mendiang kakaknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.

Enzo, mantan kakak iparnya meminta Azalea menjadi pengasuh Erza dan Elora yang kekurangan kasih sayang.

Di kota inilah Azalea menemukan banyak kebenaran tentang Reza, mantan suaminya. Lalu, tentang Jasmine, mendiang kakak kandungnya.

Ketika Azalea akan pergi, Enzo mengajaknya nikah. Bukan karena cinta, tetapi karena kedua anaknya agar tidak kehilangan kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Malam itu, hujan tipis turun membasahi kota, memberi kesan hangat sekaligus mewah pada lampu-lampu jalan yang memantul di aspal basah.

“Untuk merayakan juara satu,” ujar Enzo singkat, nada suaranya terdengar berbeda dari biasanya, lebih ringan dan lebih hidup. “Kita makan malam di luar.”

Erza langsung bersorak kecil. “Serius, Daddy?”

“Serius,” jawab Enzo sambil menepuk bahu putranya. “Kita pantas merayakannya.”

Azalea tersenyum melihat mata Erza berbinar. Ia membantu anak-anak bersiap, memilihkan pakaian yang rapi dan nyaman. Untuk dirinya sendiri, Azalea mengenakan gaun sederhana berwarna moka dengan potongan anggun. Tidak mencolok, tidak berlebihan. Rambutnya tertutup jilbab yang rapi, riasan wajahnya tipis, cukup untuk menonjolkan ketenangan yang kini menjadi ciri khasnya.

Ketika mereka turun ke ruang tamu, Mami Elsa yang sudah menunggu terperangah. Tatapan wanita itu tertahan di wajah Azalea. Bukan karena iri, melainkan karena kehabisan celah untuk menghinanya.

Azalea tampak berkelas, tenang, dan anggun. Tidak ada satu pun detail yang bisa dijadikan bahan ejekan. Bahkan Mami Elsa yang selama ini paling lihai mencari kekurangan seseorang, kini hanya bisa mengatupkan bibir.

“Kita berangkat,” kata Enzo singkat.

Mami Elsa mengangguk, sedikit kaku.

“Kamu duduk di depan,” ucap Enzo sambil membukakan pintu mobil untuk Azalea.

Sesaat Azalea terdiam menatap Enzo. “Terima kasih,” ucapnya lalu masuk ke dalam mobil.

Hal mengejutkan lainnya, Enzo memasangkan sabuk pengaman untuk Azalea setelah wanita itu duduk. Hal itu tidak luput dari perhatian Mami Elsa.

Selama perjalanan di dalam mobil dipenuhi oleh celotehan Erza dan Elora. Keduanya merasa senang karena jarang diajak makan di luar rumah.

Restoran itu terletak di lantai atas sebuah hotel bintang lima. Lampu kristal menggantung indah, alunan musik piano mengalir lembut, dan pelayan berseragam rapi menyambut mereka dengan senyum profesional.

Erza duduk tegap, bangga. Elora, sebaliknya, mulai mengerutkan dahi sejak menu dibuka.

“Mommy,” bisik gadis kecil itu pelan tapi cukup terdengar, “Aku enggak mau makan ini.”

Azalea menoleh. “Kenapa?”

“Aku maunya es krim,” jawab Elora jujur, bibirnya mengerucut. Dia mengira pergi makan malam ini bisa makan es krim kesukaannya. “Es krim yang warna-warni dan banyak topingnya.”

Enzo yang duduk di seberang meja langsung menegang. Ia sudah hapal tanda-tanda itu. Biasanya, setelah ini akan ada tangisan, suara meninggi, dan tatapan-tatapan tidak nyaman dari sekitar.

“Elora,” ujar Enzo mencoba tegas, “ini makan malam dulu.”

Elora menggeleng kuat sambil menutup mulutnya. “Enggak mau!”

Azalea mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat pada Enzo agar tenang. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, sejajar dengan mata putrinya.

“Elora,” ucap Azalea lembut, hampir berbisik, “kalau Elora makan sendiri sampai habis, nanti sebelum tidur Mommy bacakan dua cerita.”

Elora mengangkat kepala. “Dua?”

“Iya. Dua. Yang seru pasti ceritanya,” janji Azalea sambil tersenyum.

Elora menimbang-nimbang. Beberapa detik yang terasa lama bagi Enzo.

“Janji?” tanya Elora memastikan.

“Janji.”

Elora mengangguk, lalu mengambil sendoknya sendiri. “Kalau begitu aku akan makan ini.”

Enzo terpaku. Tanpa paksaan, tanpa nada tinggi, dan tanpa ada drama. Lalu, yang lebih mengejutkan adalah Elora benar-benar makan sendiri sampai habis.

Erza melirik Enzo sambil terkekeh kecil. “Daddy, Mommy jago, kan, kalau bujuk Elora.”

Enzo hanya bisa mengangguk, masih terpana. Di dalam dadanya, ada rasa hangat yang perlahan mengalahkan kelelahan lama.

“Selama ini aku salah,” batinnya. “Bukan anak-anak yang sulit. Aku saja yang tidak tahu caranya.”

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Mami Elsa meletakkan sendoknya dengan bunyi pelan, lalu berkata dengan nada dingin, “Anak-anak jadi mudah rewel karena terlalu dimanjakan.”

Azalea menoleh perlahan. Senyumnya tidak hilang, suaranya tetap lembut.

“Mungkin,” jawabnya tenang. “Tapi, anak-anak juga rewel kalau tidak didengarkan.”

Mami Elsa mengernyit. “Di keluarga kami, anak-anak harus disiplin.”

Azalea mengangguk kecil. “Disiplin itu penting. Tapi rasa aman juga sama pentingnya.”

Wanita berjilbab itu berhenti sejenak, memastikan Erza dan Elora sedang fokus pada makanan mereka.

“Kalau anak merasa didengar,” lanjut Azalea dengan nada tetap rendah, “biasanya mereka tidak perlu berteriak untuk dimengerti.”

Kata-katanya sederhana, namun menampar halus. Mami Elsa terdiam. Tidak ada kemarahan yang bisa ia lontarkan tanpa terlihat berlebihan di depan orang-orang.

Enzo menatap Azalea dengan sorot mata yang berbeda, campuran kagum dan rasa terima kasih yang sulit ia ucapkan.

Malam itu, di restoran mewah dengan lampu-lampu berkilau, Enzo menyadari satu hal penting. Bukan kemewahan yang membuat keluarga terasa utuh, melainkan kehadiran seseorang yang tahu cara mendengarkan dan mencintai dengan tenang.

***

Hari itu di rumah, Erza dan Elora sedang berbaring malas di atas kasur. “Mommy bikin es kuwut, ya,” pinta Elora manja sambil memeluk bantal.

“Iya,” jawab Azalea sambil tersenyum. “Tapi kalian harus tidur siang dulu.”

Erza langsung manyun. “Pakai agar-agar yang banyak?”

“Iya. Pakai agar-agar,” sahut Azalea.

Janji kecil itu cukup membuat dua anak itu mengangguk patuh.

Siang itu matahari seperti sengaja berdiri tepat di atas kepala. Udara panas menekan dada, membuat langkah Azalea sedikit melambat ketika ia berjalan menuju minimarket kecil di dekat komplek perumahan. Keringat membasahi pelipisnya, tapi wajahnya tetap tenang.

Maka siang ini, Azalea berjalan ke minimarket hanya untuk membeli agar-agar, jeruk nipis, dan beberapa bahan tambahan. Hal sederhana, tapi baginya kebahagiaan memang sering lahir dari hal-hal kecil.

Azalea berdiri di depan etalase, memperhatikan deretan agar-agar warna-warni. Tangannya meraih satu per satu, menimbang rasa mana yang paling disukai anak-anak. Dan di saat itulah terdengar suara yang tidak asing baginya.

“Astaga … sedang apa kamu di sini?”

Azalea membeku sesaat sebelum menoleh. Reza berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan kemeja rapi, tangan satunya memegang keranjang belanja. Di sampingnya, Nadia berdiri dengan pakaian mencolok, satu tangan menggenggam seorang anak perempuan kecil yang wajahnya sangat mirip dengannya.

Azalea menatap mereka dengan tenang. Saat ini waktu jam istirahat kantor. Namun, tidak menyangka mereka bisa berada di sini sekarang. “Oh,” ucapnya pelan. “Mas Reza.”

Nadia menyunggingkan senyum miring. “Dunia ini sempit, ya. Ke minimarket juga ketemu mantan istri.”

Azalea mengangguk kecil. “Iya. Allah Maha Mengatur.”

Pandangan Azalea tanpa sengaja turun ke anak kecil di samping Nadia. Gadis itu memeluk boneka, menatap sekeliling dengan mata polos. Saat itulah sesuatu menyentak pikirannya.

“Anak itu anak Nadia yang ikut lomba mewarnai tempo hari.”

Bukan anak Reza, karena wajahnya tidak mirip sama sekali. Dan tidak ada cincin di jari Nadia. Tidak juga di jari Reza. Seketika, sebuah keping kebenaran tersusun rapi di benaknya. ”Jadi selama ini, Reza belum menikah.”

1
Mamah Dini11
enzo kalau kmu tdk mau mengulangi kesalahanmu yg dulu , setidaknya jgn membuat istrimu dlm ke gelisahan ingat enzo lea lgi hamil besar , angkat dulu tlpon nya atau balas wa nya kasian enzo biar tenang istrimu , secara tdk lgsung kmu telah memberi ke hawatiran pd istrimu .
Mamah Dini11
kerja bagus enzo 👍👍👍👍👍 awas jgn sampai lepas ma lampir ny 😄😄
Mamah Dini11
alhmdulilah gk perlu lama lgsung ketahuan ,keren bagus kmu enzo dn timnya jgn mau kalah ,basmi kejahatan jgn biarkan berkeliaran di mana2 ,ku suka kerjamu enzo ,tangkp si jahat dn si licik karmila sudah waktunya dapat karma biar membusuk di penjara ,💪💪💪💪💪 enzo lindungi kluatgamu jgn lngah ,kmu bisa 👍👍👍👍👍🙏
Nani Te'ne
suka
Mamah Dini11
jgn sampai terulang lgi sm azalea ya thor. kasian lea udh banyak menderita hidupnya, sekarang lea lgi bahagia udh menrmukan rumahnya yg. sesungguhnya , jgn samakan nasib azalea sm nasib jasmin thor gk rido rasanya semoga sekarang misalkan ada badai lewat bisa enzo atasi bersama lea jgn biarkan sesuatu terjadi sm pasangan lea dn enzo lgi brsama kluarganya , moga bisa menghadapinya dgn ketenangan dn ketegasan dlm perhitungan yg benar.
Mamah Dini11
jgn sampai ya thor azalea anaknya si karmila ,udhan aja bacanya ,
Mamah Dini11
mutasi aja reza aku setuju enzo ,jgn terus sekantor dgn mu
Mamah Dini11
kalau reza sekantor terus nanti kalau lea ke kantor kali2 dia pasti ganggu lg maka pindahin aja enzo biar tenang kmu jugai
Mamah Dini11
tenangkan dirimu enzo semua udh berlalu buat lea , sekarang ada kmu benteng nya azalea istrimu ,
Danny Muliawati
penyesalan sll datang terlambat 😭😭😭😭😭😭
Danny Muliawati
salah alamat yah Karmila met menikmati karmila
Danny Muliawati
haha akhir nya ketahuan
Danny Muliawati
tak salah yg iri dengki Karmila di tunggu yah neng balasan nya
Mamah Dini11
udhlah reza jgn terus di bayang2 di ingat2 gk ada gunanya , azalea sudah bahagia dgn pria yg tepat, jgn terus menyesali reza itu salahmu mulailah mengikhlaskan semuanya biar hidupmu punya arah , dannn di samping udh ada nadia yg mencintaimu dn tdk merepotkanmu , kesalahanmu jadikan pelajaran dlm hidupmu untuk kedepanya jgn sampai terulang lgi kisahnya mungkin itu lbh baik reza .
Danny Muliawati
oooh Karmila susah memang kli sdh kena penyakit iri dengki sesuai lah dg keturunan nya perusak RT org
Danny Muliawati
mami Elsa tau ga azelia adik nya jasmin
Danny Muliawati
smga azelia bs melawan rubah dg elegan
Yosi Wiyono
bagus ceritanya
sam sung
👍👍👍mantep suka gaya bahasanya enak dibaca larut dalam cerita sukses slalu thorr keren
Mamah Dini11
bagusny saling terbuka enzo jgn ada rahasia di antara kalian ,itu kunci rumah tangga biat adem ayem ke depan nya , dannn si reza itu dekat dgnmu enzo ayo cati tau .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!