Rosa Evalina, hanya seorang anak pelayan yang menggantikan Ibunya menjadi pelayan di rumah keluarga Hartanto. Lalu, tiba-tiba anak dari majikannya meminta dia untuk menggantikannya dalam sebuah perjodohan. Tidak bisa menolak, akhirnya dia terjebak dalam permainan sandiwàra ini.
"Seharusnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, karena nyatanya kamu tetap tidak akan di takdirkan untukku"
Sementara Albyan Danuel, seorang pria tampan yang sudah matang. Memiliki pribadi yang hangat, lembut dan sopan. Dia yang tidak pernah mengenal cinta, akhirnya menemukan perempuan yang membuatnya nyaman. Namun, apa yang akan terjadi ketika dia tahu jika perempuan itu hanyalah seseorang yang bersandiwara?
Bisakah mereka bersama dalam kisah yang berliku, tentang cinta yang dimulai dari sandiwara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir?
Eva mulai merasa tidak nyaman, ketika setiap pesan yang di kirim Byan padanya, mulai dia respon dengan baik. Ada perasaan yang Eva sendiri tahu jika seharusnya dia bisa menahan diri tentang perasaannya ini. Namun, hari-hari berlalu, membuatnya malah semakin terperangkap dalam sandiwara ini.
Pekerjaannya masih berjalan dengan baik, semuanya bisa dia selesaikan. Atasannya juga cukup baik, meski ada beberapa karyawan lain yang terlihat tidak suka padanya. Namun Eva mengabaikan mereka semua. Dia hanya fokus untuk bekerja saja disini.
Malam hari, dia baru bisa pulang untuk hari ini. Ada beberapa pekerjaan yang harus selesai besok pagi, dan Eva tidak mau membawa pekerjaan itu ke rumah, lebih baik dia pulang terlambat tapi menyelesaikan semuanya di Kantor.
Berdiri di depan gerbang Perusahaan, terus berusaha memesan taksi online yang ketika malam hari sulit sekali untuk mendapatkannya. Melihat jalanan juga cukup sepi, tidak ada taksi yang lewat pun. Akhirnya Eva menunggu beberapa saat sambil terus berusaha untuk mendapatkan taksi online yang mau menerima orderan darinya.
Tin... Suara klakson mobil membuat Eva cukup terkejut, melihat ada mobil yang mau keluar dari gerbang Perusahaan itu, Eva segera menyingkir ke samping. Hanya diam saja sambil bermain ponsel, tidak memperhatikan sama sekali mobil yang keluar itu.
"Sedang apa kau disini?"
Eva mendongak dan langsung terdiam kaget saat melihat Byan yang berada di dalam mobil itu. Kaca jendela mobil terbuka sepenuhnya. Eva terdiam, menatap ke arah gerbang yang tertutup kembali dan seorang penjaga keamanan disana.
Mas Byan keluar dari sana? Sedang apa dia disini?
"Eh, Mas Byan. Kenapa ada disini?"
"Kamu yang sedang apa disini? Sudah malam begini"
Nada suaranya sedikit tinggi, penuh penekanan dan wajahnya juga terlihat kesal. Eva memperhatikan ekspresi Byan dengan bingung, kenapa dia seperti itu.
"Em, a-aku..." Eva melirik kembali ke gedung Perusahaan tempat dia bekerja, rasanya tidak mungkin bilang jika dia bekerja disini, karena seorang Laila pastinya harus bekerja di Perusahaan Ayahnya sendiri. "Aku abis main sama teman, ini baru mau pulang tapi gak dapat taksi"
Byan tiba-tiba turun dari mobilnya, menatap penampilan Eva dengan tatapan tajam. "Main? Malam-malam begini, dan pakai rok pendek seperti ini?"
Eva tertegun saat Byan menarik ujung rok yang dia pakai. Sepertinya Eva lupa jika dia masih menggunakan setelan kerja. "Em, ta-tadi aku habis menemani Papa bekerja, terus lanjut main. Tidak sempat berganti pakaian dulu"
Ah, syukurlah aku menemukan jawaban yang tepat. Tapi kenapa tatapan matanya masih seperti itu?
Byan tidak berbicara lagi, dia menarik tangan Eva untuk mengitari mobilnya. Membukakan pintu mobil untuk Eva. "Masuk!" Suaranya dingin, penuh penekanan dan tatapan matanya itu benar-benar membuat Eva takut.
Dia kenapa? Eva hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya melihat sikap Byan yang seperti ini. Ketika pria itu kembali masuk ke dalam mobilnya dan duduk di balik kemudi.
"Kenapa tidak bilang jika pergi bersama temanmu? Dan dimana temanmu itu? Kau sendirian disini semalam ini"
Eva masih mencoba mencerna suasana hati pria di sampingnya ini. Ketika mobil mulai melaju membelah jalanan kota. Lampu jalanan dan beberapa lampu dari kendaraan yang masih berlalu lalang, menjadi penerang di malam yang gelap tanpa bintang hari ini.
"Mulai sekarang, mau pergi kemana pun, bersama siapa, harus bicara padaku. Kau tahu aku khawatir melihatmu sendirian disana di malah hari seperti ini!"
Eva terdiam, membeku tanpa tahu harus menjawab apa. Hanya detak jantungnya yang terdengar semakin kencang. Tangannya memegang erat tali tas miliknya. Khawatir? Byan mengkhawatirkannya? Tapi atas dasar apa? Mungkinkah tentang perjodohan ini sudah dia setujui? Jika iya, lalu dia harus bagaimana? Dia bukan Laila. Semua pertanyaan itu berseliweran di pikirannya, tanpa menemukan jawaban.
"Jika aku sedang bicara, di jawab! Bukan hanya diam seperti itu!"
Eva mengerjap, dia masih terkejut dengan ucapan Byan dan sikapnya malam ini. Membuatnya bingung harus menjawab seperti apa ucapannya tadi. Sekarang sudah tertegun lagi dengan nada suara Byan yang semakin dingin.
Dia marah hanya karena aku keluar malam? Benarkah.
"Aku minta maaf karena pergi keluar tanpa memberitahu kamu, Mas"
"Jangan mengulanginya lagi" ucap Byan sambil mengelus kepala Eva untuk ke sekian kalinya sejak pertemuan pertama mereka.
Eva hanya mengangguk saja, meski jantungnya semakin berdebar kencang, wajahnya yang mulai terasa panas.
"Laila, aku akan datang ke rumahmu akhir pekan ini"
Deg... Seketika Eva langsung menoleh, menatap Byan dengan kaget. Otaknya yang masih kosong, di paksa berpikir keras untuk mencari alasan agar Byan tidak datang langsung ke rumah Laila.
"Mas, sebaiknya jangan dulu. Kita hanya baru kenal beberapa minggu saja, masih banyak yang perlu kita pelajari dari sikap diri masing-masing. Sebaiknya bertemu diluar saja dulu"
Ya Tuhan bagaimana ini? Kenapa aku malah memberikan harapan. Seharusnya aku membuatnya pergi dan membatalkan perjodohan ini.
Eva hanya menggigit kecil bibir bawahnya saat dia sadar jika yang telah dia ucapkan adalah salah. Sepertinya sudah tidak ada kesempatan lagi untuk berharap perjodohan ini akan dibatalkan.
"Baiklah jika itu maumu, ada yang perlu aku bicarakan juga denganmu"
Eva hanya mengangguk saja, saat mobil berhenti di depan rumah Laila, Eva menghela napas pelan karena dia harus memesan taksi lagi untuk pulang ke rumahnya.
"Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang, Mas"
Byan mengangguk, dia mengelus kepala Eva dan menyalipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga gadis itu. "Salam saja untuk Om dan Tante"
"Iya"
Eva tersenyum pada Pak Satpam, memintanya membukakan pintu gerbang. Jika harus pulang ke rumahnya, belum tentu dia mendapatkan taksi. Jadi akhirnya Eva menelepon Laila dan memilih menginap saja di rumahnya.
"Nona, aku di depan. Sepertinya malam ini tidak bisa pulang ke rumah"
"Oke, tunggu sebentar"
Tanpa menunggu lama, Laila sudah membukakan pintu, mengajak Eva masuk ke kamarnya.
"Mandilah dulu"
Eva mengangguk, dia mulai merasa lelah, bukan hanya tentang pekerjaan saja, tapi juga tentang sandiwaranya yang semakin memberatkan.
Selesai mandi, Eva memakai pakaian tidur milik Laila. Dia menghampiri Laila yang sedang duduk bersandar di tempat tidurnya. Eva beranjak naik dan duduk disampingnya.
"Barusan aku bertemu Mas Byan, dia yang mengantarkan aku pulang. Makanya aku malah kesini. Nona, sepertinya dia tidak akan membatalkan perjodohan ini. Jadi, aku harus bagaimana?"
Laila terdiam, dia juga bingung harus bagaimana sekarang. Tidak memperkirakan jika akhirnya akan seperti ini. "Memang dia tidak membatalkannya, bahkan sudah setuju dengan perjodohan ini. Papa sudah bilang padaku. Aku juga bingung, Eva"
Keduanya menghembuskan napas kasar, bersandar di tempat tidur dengan menatap langit-langit kamar.
"KIta harus mengakhiri sandiwara ini, Nona. Jujur saja, meski mungkin akan ada kemarahan, tapi semakin dibiarkan akan semakin banyak kebohongannya"
"Tidak Eva, kita tidak bisa jujur sekarang. Ayolah bantu cari cara lain"
Bersambung