Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.
Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.
Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka di balik lengan.
Kampus Universitas Mandala, 18:47
Kuliah terakhir baru saja selesai. Hujan gerimis membuat halaman kampus menjadi licin dan sepi.
Serena menarik resleting jaketnya hingga menutup leher. Hari ini ia tidak membawa payung.
"Rena, gue anter pulang ya? Mobil gue parkir deket sana,"
Suara itu Jake, kakak tingkat Serena, muncul sambil menunjuk ke arah parkiran.
Serena ragu sejenak. Ia mengecek ponselnya. Tiga panggilan tak terjawab dari orang yang sudah menunggu di apartemen. Revan. pesan masuk beberapa kali, semuanya mendesak.
Di mana?
Jangan telat pulang.
Gue nunggu lo.
Cepat pulang.
Jari serena bergetar saat mengetik balasan nya pesan itu. Iya ini aku mau pulang kak, jangan marah ya.
Ia menghela napas pelan, lalu mengangguk pada jake.
"Yaudah deh, kak. Boleh. Makasih ya."
Jake mengernyit, merasakan sesuatu yang aneh pada gadis itu. tetapi Jake tidak bertanya apa pun. "Yaudah, ayok. Cepetan sebelum ujan makin deras."
Serena dan jake berjalan ke arah parkiran mobil. Jake membukakan pintu untuk nya.
Mobil melaju meninggalkan kampus. Sepanjang perjalanan, Serena diam. Nafas nya tertahan. Matanya tertuju pada layar ponsel, menunggu pesan susulan dari Revan. Tidak ada. Hanya balasan centang dua berwarna biru pada pesannya tadi.
Sampai di depan apartemen, Serena turun dengan terburu-buru.
"Makasih ya, Kak. Hati-hati pulangnya."
"Ren," Jake memanggil sebelum pintu mobil tertutup. "Kalau dia nyakitin lo lagi, lo telpon gue ya. Janji."
Serena hanya tersenyum tipis. Itu janji yang sudah empat kali ia ingkari.
Pintu apartemen terbuka sebelum ia sempat menempelkan kartu akses. Revan sudah berdiri di sana, wajahnya datar, tetapi rahangnya mengeras.
"Kak..." panggil Serena pelan.
Revan tidak menjawab. Tatapannya menyapu Serena dari atas ke bawah.
"lo pulang sama dia lagi?" Suaranya rendah, dingin.
Serena menunduk. "Dia nawarin tumpangan. Ujan, kak. Aku takut telat."
"Takut telat?" Revan mendekat satu langkah. "Apa takut gue marah?"
Serena tidak menjawab. Ia memang takut pada Revan. Tapi di saat yang sama, dadanya terasa hangat. Karena meski Revan kasar, temperamental, dan sering membuat lengannya memar, hanya Revan yang membuat Serena merasa hidup.
Dan itu yang paling berbahaya.
Pintu apartemen tertutup dengan bunyi pelan. Tapi hawa dingin langsung menyergap Serena.
Revan tidak menyalakan lampu. Hanya cahaya lampu lorong dari luar celah pintu yang membuat wajahnya tampak lebih tajam.
"Kak Re, aku-"
"Lo jawab gue pelan-pelan," potongnya. Suaranya pelan, tapi ada tekanan di dalamnya.
Serena menelan ludah. Ia menaruh tasnya di lantai, tangannya masih gemetar.
"Jake cuma nganterin aku pulang kak. Ujan deras. Udah cuma sekedar itu aja." Ucap Serena menjelaskan.
Revan mendekat. Satu langkah. Dua langkah.
"Jadi gue harus makasih sama dia karena udah nganterin cewe gue pulang?"
"Bukan gitu, kak -"
"Terus gimana!"
Tiba-tiba tangannya mencengkeram dagu Serena, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Serena mendongak paksa.
Mata coklat Revan gelap. Tidak ada emosi di sana, kecuali kemarahan yang ditahan.
"Lo pikir gue nggak cemburu? Lo pikir gue seneng liat lo deket-deket sama cowok lain?"
Serena menggeleng cepat. "Nggak ada apa-apa, kak. Sumpah, aku cuma takut kakak marah kalau aku pulang telat."
Revan menatapnya lama. Lalu mendengus pelan, dan lepasan cengkeramannya.
"Takut gue marah? Tapi lo pulang sama dia."
Ia berbalik, berjalan ke ruang tengah, dan menendang meja kaca.
"Sama aja lo mancing gue marah" Suara nya terdengar pelan dari ruang tengah.
"Maaf kak Re, aku..."
Tiba-tiba PRAKK!!
Suara dentingan pecahan kaca menggema di apartemen yang sepi.
Serena tersentak. Kakinya mundur satu langkah, tapi ia tidak lari. Ia tidak pernah lari. Dia hanya diam di tempat, menyaksikan amarah dari pria itu.
Vas bunga pecah karena di lempar dengan keras. Ini bukan pertama kali Revan bersikap seperti itu pada Serena. Bahkan sudah tidak terhitung berapa kali Revan harus mengganti benda yang berbahan kaca di apartemen itu.
Revan mengumpat pelan "Bangsat!" Suara nya serak dari tenggorokan.
Tanpa menoleh, tangannya menyapu pecahan kaca terbesar di lantai. Dan menggenggam nya. Kuat.
Darah merah gelap langsung menetes di antara sela-sela jarinya, jatuh ke lantai marmer dengan bunyi tes.. tes..
Revan menoleh, napasnya masih kasar. "Deket sini."
Serena ragu, tapi akhirnya melangkah pelan. Berhenti tepat di depan Revan. Mengamati darah yang masih mengalir di tangan kirinya.
Revan menatap bibirnya yang pucat, lalu mengusap pipinya dengan punggung tangan. Kasar, tapi tidak menyakiti. Tepat di tempat yang sama. Seminggu lalu saat luka memar ungu yang baru hilang.
"Gue benci kalau lo bikin gue kayak gini, Na." Tatapannya sayu. Darah masih menetes dari tangannya yang satu lagi. Tapi ia tidak peduli.
"Kak.. tanganmu berdarah," Bisik serena akhirnya.
"Gue nggak perduli na." Ucap Revan pelan. "Ini nggak seberapa. Dibandingkan rasa sakit ngeliat lo sama dia"
"Kak..."
"Gue cuma takut kehilangan lo." Suaranya turun, jadi hampir berbisik. "Kalau lo ninggalin gue, gue nggak tau gue bakal jadi apa."
Serena tidak menjawab. Ia harus nya marah, ia harus nya lari. Tapi yang ia lakukan hanya mengangguk pelan.
Karena ia tahu, di balik amarah dan kekerasan itu, ada ketakutan.
Dan ketakutan itulah yang membuat Revan semakin menggenggamnya erat. Terlalu erat. Sampai sesak.
____