Ethan, seorang Assassin paling mematikan di Neo-Veridia, memilih akhir tak terduga di hidupnya. Tanpa dia sadari, takdir membawanya ke sebuah tempat yang jauh berbeda dari sebelumnya. petualangan yang seru dan menegangkan pun tak bisa dia hindari untuk menemukan jawaban bagaimana dirinya bisa terseret ke tempat misterius ini. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada Ethan? Bisakah dia menemukan jawaban dari semua ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang Sunyi dan Bayang Masa Lalu
Malam itu, Ethan berdiri di balkon paviliun pribadinya yang mewah. Kediaman Keluarga Mu sangat indah di malam hari, dihiasi oleh lentera-lentera batu yang ditenagai oleh batu Qi rendahan, memancarkan cahaya kuning yang hangat.
Ethan menekan sensor di lehernya. Baju besi siber itu melipat secara perlahan, menyusut menjadi sebuah kalung cakram hitam kecil yang menggantung di dadanya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, angin malam Benua Longyuan menerpa langsung kulit wajahnya dan tubuhnya yang atletis, yang kini hanya dibalut pakaian dalam taktis berwarna hitam.
Ia menatap dua bulan yang bersinar di langit malam.
"Dunia yang baru... kekuasaan yang baru," gumam Ethan lirih. Ia meraba dadanya yang terasa hampa. Di Bumi masa depan, ia mencari uang dan ketenaran, namun berakhir dengan kehampaan hingga memilih melompat dari gedung. Di dunia ini, ia kembali memulai perjalanannya dari bawah, menjadi seorang Assassin siber di dunia para dewa kultivasi.
Apakah di dunia ini aku bisa menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya? Atau apakah tempat ini hanya akan menjadi ladang pembantaian berikutnya bagiku?
Tok, tok, tok.
Suara ketukan pintu yang lembut membuyarkan lamunan Ethan. Ia tidak perlu memakai kembali pelindung tubuhnya untuk mengetahui siapa yang datang; indera pendengarannya yang telah diperkuat oleh Qi tingkat 1 bisa mengenali langkah kaki yang ringan dan aroma wangi bunga magnolia yang familier.
Ethan berjalan membuka pintu. Di balik pintu, Mu Rong berdiri dengan nampan berisi teh hangat dan beberapa buah rohani yang segar. Gadis itu mengenakan pakaian kasual malam berwarna merah muda yang longgar, membuat kecantikan alaminya terlihat semakin menonjol di bawah sinar rembulan.
Ketika pintu terbuka dan Mu Rong melihat Ethan tanpa pakaian besi besarnya—menampilkan wajah tampannya yang sangat rupawan dengan tatapan matanya yang tajam namun sepi—pipi gadis itu seketika merona merah.
"T-Tuan Ethan..." Mu Rong sedikit gugup, hampir menumpahkan teh di nampannya. "Saya... saya datang untuk mengantarkan teh rohani ini untuk membantu menenangkan pikiran Anda setelah hari yang melelahkan."
Ethan menatap gadis di depannya dengan pandangan datar, namun ada sedikit kelembutan yang tersembunyi di balik matanya yang sedingin es. "Masuklah," ucapnya pendek, membuka pintu lebih lebar.
Bumbu romansa dan kehangatan yang belum pernah Ethan rasakan di dunia lamanya, perlahan mulai menyusup ke dalam hidupnya yang penuh darah dan baja. Namun di luar sana, di kegelapan Kota Angin Puyuh, badai yang lebih besar dari Sekte Pedang Awan dan Geng Serigala Hitam sedang mengintai, siap menguji apakah sang Assassin masa depan bisa menjadi yang terkuat di dunia kultivasi ini.
Mu Rong melangkah masuk ke dalam paviliun dengan gerakan yang teratur, cerminan dari didikan ketat keluarga bangsawan kultivator. Ia meletakkan nampan kayu itu di atas meja marmer, lalu menuangkan teh rohani yang mengepulkan uap tipis beraroma harum dedaunan gunung.
Ethan berjalan mengekor di belakangnya, lalu duduk di seberang meja. Gerakannya tanpa suara, seringan kucing liar. Tatapan matanya yang tajam tertuju pada jemari Mu Rong yang lentik saat menyajikan cangkir keramik kecil ke hadapannya.
"Ini adalah Teh Embun Surgawi, Tuan Ethan. Teh ini ditanam di puncak tertinggi dekat Kota Angin Puyuh, berkhasiat untuk membersihkan kotoran di dalam meridian dan menenangkan pikiran," ucap Mu Rong lembut, berusaha mengalihkan rasa gugupnya yang semakin membuncah sejak menatap wajah tampan Ethan tanpa topeng siber miliknya.
Ethan memandangi cangkir itu. Di dunia lamanya, semua yang ia konsumsi harus melalui pemindaian toksin ketat oleh AI miliknya untuk menghindari racun dari korporat saingan. Namun di sini, melihat ketulusan yang murni di mata Mu Rong, Ethan memilih untuk mengabaikan protokol keamanan itu. Ia menyesap teh tersebut perlahan. Rasa hangat yang menyegarkan seketika menjalar ke tenggorokannya, memicu getaran lembut pada energi Qi di dalam tubuhnya.
"Teh yang bagus," komentar Ethan pendek.
Mu Rong tersenyum lega, lesung pipit samar muncul di wajah cantiknya. "Saya senang Anda menyukainya. Tuan Ethan... jika saya boleh bertanya, dari mana sebetulnya Anda berasal? Senjata dan teknik yang Anda gunakan hari ini... paman saya dan para tetua bahkan tidak bisa menebak sekte mana yang memilikinya."
Ethan meletakkan cangkirnya, pandangannya beralih menatap lurus ke arah luar jendela, ke arah dua bulan yang menggantung di langit malam.
"Aku berasal dari tempat yang sangat jauh, Mu Rong. Sebuah tempat di mana langitnya tidak pernah bersih, di mana manusia mengganti bagian tubuh mereka dengan logam untuk bertahan hidup, dan di mana uang lebih disembah daripada dewa," suara Ethan terdengar berat dan dipenuhi melankolis yang samar.
Mu Rong tertegun mendengarnya. Sifat pintar dan kepekaan emosionalnya membuat gadis itu bisa merasakan kepedihan yang mendalam di balik kalimat singkat tersebut. "Tempat itu... terdengar seperti tempat yang sangat kejam. Apakah itu alasan mengapa Anda memilih pergi dan mengembara?"
"Aku tidak memilih untuk pergi," Ethan terkekeh hambar, matanya berkilat dingin. "Aku membuang nyawaku di sana, namun entah bagaimana, dunia ini memutuskan untuk menarikku kembali ke atas tanah."
Suasana di dalam kamar seketika menjadi hening. Mu Rong tidak sepenuhnya mengerti apa yang dimaksud dengan 'membuang nyawa', namun hatinya bergetar. Wanita di dunia kultivasi biasanya mengagumi pria karena kekuatan, ambisi, atau status mereka. Namun bagi Mu Rong, kepribadian Ethan yang dingin namun rapuh di bagian terdalamnya, kecerdasannya yang tidak naif, serta pembawaannya yang keren justru memikat hatinya dengan cara yang berbeda.
Secara perlahan, Mu Rong memberanikan diri mengulurkan tangannya, menyentuh punggung tangan Ethan yang dingin di atas meja. "Apapun masa lalu Anda di tempat itu, Tuan Ethan... di Benua Longyuan ini, Anda telah menyelamatkan saya. Di sini, Anda tidak lagi sendiri."
Sentuhan tangan Mu Rong yang hangat dan lembut terasa seperti sengatan listrik bagi Ethan. Di Bumi masa depan, setiap sentuhan dari Chloe selalu didasari oleh pamrih dan tuntutan materi. Kehangatan tanpa syarat seperti yang diberikan Mu Rong saat ini adalah sesuatu yang asing, sesuatu yang belum pernah ia temukan dalam kalkulasi algoritmanya. Ethan tidak menarik tangannya, ia hanya menatap Mu Rong dengan mata kelamnya, membiarkan keheningan malam itu mendekatkan dua jiwa dari dimensi yang berbeda.
Keesokan paginya, setelah Mu Rong berpamitan dengan enggan, Ethan segera menuju ke Paviliun Buku Keluarga Mu sesuai dengan kesepakatannya dengan Mu Tianbah. Paviliun itu adalah sebuah bangunan melingkar tiga lantai yang dipenuhi oleh ribuan gulungan bambu, kitab kuno, dan peta-peta kulit binatang.
Ethan berjalan menyusuri rak-rak buku. Ia menyentuh cakram hitam di dadanya, mengaktifkan kembali Exo-Suit miliknya secara minimal. Topeng visor birunya menyala redup, mulai memindai setiap halaman kitab yang dilewatinya dengan kecepatan membaca siber yang luar biasa.
[ Proses Pemindaian Data Geografi dan Struktur Dunia: Selesai. ]
[ Menyusun Informasi... ]
Di dalam visualisasinya, Sistem memunculkan teks analitis:
Struktur Benua Longyuan (Ranah Sembilan Langit):
Dunia ini dibagi menjadi Sembilan Lapisan Langit. Tempat Ethan berada saat ini adalah Langit Pertama (Ranah Terbawah), yang dikuasai oleh Kekaisaran Han Agung.
Tingkatan Kultivasi di Langit Pertama:
Ranah Pengumpulan Qi (Tingkat 1-9) — Tahap Ethan saat ini: Tingkat 1.
Ranah Pemurnian Qi (Tingkat 1-9) — Tahap Lin Hao & Pemimpin Penyamun.
Ranah Pondasi Spiritual (Awal, Tengah, Puncak) — Tahap para Leluhur Sekte.
Ranah Inti Emas (Gold Core) — Legenda di Langit Pertama.
"Jadi aku bahkan belum menginjakkan kaki di gerbang kultivasi yang sesungguhnya," batin Ethan, menatap analisis tersebut tanpa rasa takut, melainkan dengan ketertarikan taktis yang tinggi.
[ Ding! Akumulasi data dunia berhasil melampaui ambang batas. ]
[ Membuka Fitur: Toko Sistem (Tingkat 1). ]
Sebuah menu holografik biru yang hanya bisa dilihat oleh Ethan muncul di hadapannya. Menu itu menampilkan berbagai barang dari dunia masa depannya dan dunia kultivasi yang bisa dibeli menggunakan Poin Sistem.
Baterai Sel Nano Karbon (Daya Exo-Suit 100%) — 50 Poin.
Pil Pembersih Sumsum Tingkat Rendah — 100 Poin.
Modul Amunisi Senjata Api Siber (Peluru Plasma) — 150 Poin.
Kitab Pedang Angin Digital — 200 Poin.
Ethan saat ini memiliki 350 Poin dari misi sebelumnya. Tanpa ragu, ia membelanjakan poinnya dengan cerdas. Ia membeli satu baterai sel nano untuk mengisi kembali daya baju besinya yang mulai terkuras, serta satu Pil Pembersih Sumsum.
[ Pembelian Berhasil. Mengonsumsi Pil Pembersih Sumsum... ]
Seketika, rasa sakit yang membakar menjalar di seluruh sumsum tulang Ethan. Keringat dingin bercampur cairan hitam berbau busuk—kotoran fana yang menyumbat meridian tubuhnya—keluar dari pori-pori kulitnya sebelum langsung diuapkan oleh sistem sanitasi otomatis Exo-Suit-nya.
Napas Ethan memburu, namun sedetik kemudian, ia merasakan tubuhnya menjadi seringan angin. Sirkulasi Qi di dalam dadanya berputar dengan kecepatan sepuluh kali lipat lebih cepat dari sebelumnya.
[ Selesai. Selamat, Basis Kultivasi Anda naik secara instan: Ranah Pengumpulan Qi - Tingkat 3. ]
"Meningkatkan kekuatan dengan cara ini... jauh lebih efisien daripada bermeditasi selama puluhan tahun seperti para kultivator lokal," gumam Ethan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang keren di balik topengnya.