Hari itu, Alya memberikan hadiah terakhir untuk suaminya.
Bukan harta, bukan pula kenangan. Melainkan kesempatan untuk hidup bersama wanita yang lebih dipilihnya.
Lalu ia pergi, membawa sebuah rahasia yang baru disadari Adrian saat semuanya sudah terlambat.
Follow instagram @Tantye005 untuk info seputar novel🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal baru
Alya berkacak pinggang sambil memperhatikan barang bawaannya yang lumayan banyak. Dia sedang berpikir akan membawanya seperti apa, terlebih dirinya sedang hamil dan sebisa mungkin tidak boleh mengangkat barang berat.
"Barangnya letakkan di sini," ujar seorang pria yang mendorong troli dan berhenti tepat di samping Alya.
"Terimakasih." Alya tersenyum, ternyata pria itu adalah Pradipta. Ia mengira Pradipta sudah berangkat.
"Sama-sama."
Dengan sigap Pradipta mengangkat koper besar milik Alya dan menaikkan ke troli.
"Nama saya Alya, senang bertemu denganmu." Alya mengulurkan tangannya pada Pradipta yang baru selesai memindahkan barangnya. "Saya nggak heran melihat sikapmu karena sudah bertemu bapak taksi yang begitu baik," lanjutnya.
"Nama saya Pradipta. Senang bertemu wanita cantik sepertimu." Pradipta meraih uluran tangan Alya dengan senyuman tipis di wajahnya. "Kalau boleh tau kemana tujuanmu sampai membawa barang sebanyak ini?"
"Itu ...." Alya tampak berpikir, haruskah dia memberitahukan orang asing tentang tujuannya? Bagaiman jika dilubuk hati paling dalam Pradipta adalah orang jahat?
"Tujuan saja Bandung." Pradipta kembali berucap seraya memperlihatkan tiketnya.
"Tujuan kita sama Mas." Akhirnya Alya menjawab setelah tahu tujuan Pradipta. Dengan pria itu menyebutkan kemana akan pergi lebih dulu, sudah pasti bukan untuk mengikutinya dan berbuat jahat. "Tapi saya di kelas ekonomi."
"Setelah sampai di Bandung, kamu ada tempat tujuan?"
"Ada."
"Syukurlah, soalnya kamu terlihat nggak enak badan." Pradipta mendorong troli barang milik Alya dan tentu pemiliknya berjalan di samping membawa tas tangan.
Mereka terlihat seperti pasangan yang hendak liburan, apalagi di sela-sela perjalanan keduanya terlibat pembicaraan ringan yang menghasilkan tawa.
Keduanya berpisah ketika sudah memasuki pesawat untuk ke tempat duduk masing-masing.
***
"Sekali lagi terimakasih mas Dipta," ujar Alya setelah turun dari mobil Dipta.
Ya mobil Dipta yang dikendarai oleh driver pribadi.
"Sama-sama, jika butuh bantuan hubungi saya di kartu nama tersebut." Dipta menunjuk kartu nama yang Alya genggam.
"Iya."
Setelah kepergian Pradipta, Alya segera menemui pemilik kontrakan untuk mengkonfirmasi kedatangannya, sebab dia memesannya lewat online sebelum tiba di bandung.
"Ouh wanita yang di instagram itu?" tanya pemilik kontrakan.
"Benar Bu."
"Kamarnya ada paling ujung di lantai satu, tunggu anak saya akan membantumu memindahkan barang," ujarnya.
Alya mengangguk, dia memindahkan barangnya dibantu dua anak gadis pemilik kontrakan.
Kontrakan itu sangat nyaman dan memiliki dua kamar. Berfasilitas AC, Dapur dan tentu saja kamar mandi.
Ia sengaja memilih kontrakan dua kamar sebab Sena akan tinggal bersamanya. Ayolah, Alya tidak semiskin itu sampai harus menderita setelah berpisah dengan Adrian. Dia memiliki tabungan sebelum menikah dan setelah menikah dengan Adrian, sebab tidak sepeserpun uangnya dibiarkan berkurang oleh mantan suaminya dulu.
Sampai saat ini Alya masih berpikir kenapa Adrian bisa berpaling begitu cepat padahal mereka tidak pernah bertengkar hebat setelah pernikahan.
"Mungkin karena aku nggak kunjung hamil ya?" gumamnya saat duduk sendirian di dalam kamar.
Dia mengelus perutnya yang masih rata, kata dokter usianya baru 10 minggu sehingga sangat rentang keguguran.
"Baik-baik ya diperut mama, kita buktikan bahwa tanpa peran seorang papa kita bisa bahagia," lirihnya dan tersenyum.
Kota baru, tempat tinggal baru dan kehidupan baru. Alya akan memulainya dari awal dan berusaha melupakan hal-hal menyakitkan dalam hidupnya.
Kehidupan baru diperutnya melahirkan semangat juang hidupnya.
***
Hari pertama di kontrakan, Alya memulai paginya dengan sarapan dan sedikit olahraga. Menjakan diri sendiri dan berusaha hidup sehat demi sang buah hati.
"Siapa yang mengetuk pintu? Nggak mungkin Sena," gumamnya ketika pintunya diketuk tiga kali. Dia meletakkan potongan rotinya untuk melihat siapa yang bertamu.
"Mas Dipta?" gumam Alya dengan kening mengerut, meski begitu tetap membukakan pintu.
"Syukurlah nggak salah rumah." Pradipta mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tapi sepertinya saya menganggu karena datang terlalu pagi."
"Nggak kok." Alya mengeleng. "Mas Dipta ada kelupaan sesuatu?"
"Nggak ada, tapi semalam saya lancang mencari tahu tentangmu di sosial media. Kamu perias pengantin dan reviewnya selalu memuaskan. Apa saya bisa meminta tolong?"
Kening Alya mengerut, dan merasa pembicaraan akan sangat panjang dia mengajak pria itu masuk tanpa menutup pintu rumahnya.
Mengingat masih pagi, dia juga menyuguhkan teh hangat dan beberapa potong roti untuk Pradipta.
Jelas permintaan tolong yang Pradipta lontarkan adalah hal yang tidak bisa Alya abaikan, sebab pria itu dan bapaknya sudah banyak membantunya.
"Diminum dulu tehnya Mas."
"Terimakasih." Demi menghargai suguhan tuan rumah, Pradipta menyeruput teh hangat itu. "Jadi begini, saya sedang butuh-butuhnya perias pengantin untuk klien saya dan waktunya semakin mendesak. Kemarin saja ke ibu kota untuk bertemu beberapa MUA tetapi nggak ada yang cocok dengan kriteria klien saya," jelas Pradipta.
Alya mengerjapkan matanya, fokus mendengarkan karena sudah tahu pekerjaan Pradipta dari kartu nama yang diberikan semalam. CEO sebuah Weddng organizer.
"Dan semalam saya terlalu penasaran denganmu dan ya menemukan hal yang bisa membantu saya jika kamu bersedia."
"Tolong saya mbak Alya." Pradipta menatap Alya penuh permohonan, dia sudah terlalu putus asa. Apalagi resepsi kliennya tiga hari dan dia tidak kunjung menemukan MUA.
Ini semua karena MUA yang semula bekerjasama dengannya tiba-tiba kecelakaan dan masih dirawat di rumah sakit. Sebagai sesama manusia tidak seharusnya dia mendesak orang yang sedang sakit hanya karena keuntungan dan bisnisnya kan?
"Hanya sekali ini saja," ucap Alya dengan nada tegasnya.
"Terimakasih banyak Mbak." Pradipta bergegas mengeluarkan surat kontrak yang ada di dalam tasnya. "Mbak bisa membaca kontraknya dan jika dirasa ada ketidakcocokan katakan saja."
"Nggak perlu ada kontrak Mas. Ini sebagai tanda terimakasih saya karena mas sudah menolong saya sebelumnya."
"Tapi tolong untuk identitas saja disembunyikan kepada klien."
"Baiklah." Pradipta menarik kembali kontrak yang dibuat asistennya semalam. "Tapi boleh saya tahu kenapa mbak nggak mau orang lain tahu identitasnya? Bukankah ini bagus untuk branding?"
"Saya dalam pelarian karena sesuatu."
"Maaf karena lancang." Raut wajah Pradipta langsung berubah. Dia kembali menyesap teh yang disuguhkan demi menghilangkan rasa gugupnya.
Sebenarnya ada pertanyaan lain yang menggantung dipikirannya sebab dia memang terlalu kepo urusan orang lain. Saat mencari tahu tentang Alya, dia tidak menemukan adanya kerjasama dengan pihak WO manapun, tetapi memiliki suami yang cukup berpontesi di ibu kota.
Tapi kenapa Alya ke bandung seorang diri? Kenapa lebih memilih kelas ekonomi? Kenapa suaminya membiarkan wanita secantik Alya berkeliaran lebih tepatnya kesusahan? Seharusnya ada satu asisten yang menemaninya jika dia pergi untuk urusan pekerjaan di kota ini.
"Ada lagi yang perlu dibicarakan mas?" tanya Alya yang menyadari Pradipta sesekali mencuri pandang padanya.
Pertanyaan itu membuat Pradipta tersedak
.
.
.
Jangan lupa meninggalkan jejal sebelum baca bab selanjutnya
makin besar kepala aja diaa....
Biarkan Alya dengan kebahagiaan nya