Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih-benih Intrik
Malam yang menegangkan di mansion Keluarga Wijaya berlalu, namun sisa-sisa ketegangan masih terasa di dalam mobil Rolls-Royce yang membawa Devan dan Keyra kembali menuju pusat kota. Suasana di dalam kabin mobil yang kedap suara itu begitu hening, hanya ditemani oleh rintik hujan yang sesekali menghantam kaca jendela.
Keyra bersandar di kursi kulitnya yang empuk, mengembuskan napas panjang seolah baru saja melepaskan beban yang sangat berat dari pundaknya. Meskipun di hadapan Tuan Besar Wijaya tadi ia tampak begitu berani dan tenang, tidak bisa dimungkiri bahwa jantungnya sempat berdegup dengan sangat kencang. Menghadapi tatapan menghakimi dari orang-orang kelas atas yang mengagungkan silsilah keluarga bukanlah hal yang mudah.
"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Keyra. Bahkan jauh lebih baik dari apa yang aku bayangkan," suara bariton Devan tiba-tiba memecah keheningan.
Keyra menoleh dan mendapati Devan sedang menatapnya dengan binar kekaguman yang teramat dalam. Pria itu mengulurkan tangan kekarnya, mengusap punggung tangan Keyra dengan ibu jarinya secara perlahan, mencoba menyalurkan rasa hangat dan ketenangan.
Keyra tersenyum tipis, membalas genggaman tangan Devan. "Aku hanya tidak ingin membuatmu malu, Devan. Saat kakekmu merendahkan latar belakangku, aku sadar bahwa jika aku diam dan menunduk, mereka akan semakin menginjak posisimu yang sudah membawaku ke lingkaran mereka."
Devan menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman tipis yang sarat akan rasa bangga. "Di dunia ini, tidak ada satu pun orang yang bisa membuatku malu, Keyra. Terlebih lagi kamu. Jawabanmu tadi benar-benar membungkam kesombongan tua bangkai itu. Kamu membuktikan bahwa kamu tidak butuh nama besar keluarga untuk terlihat bersinar."
Namun, di balik senyuman Devan, Keyra bisa melihat ada secercah kekhawatiran yang tersembunyi di balik sepasang mata elang pria itu. Keyra memperbaiki posisi duduknya agar menghadap penuh ke arah Devan. "Tapi Devan... wanita bernama Valerie itu, dia tampaknya sangat membenciku. Siapa dia sebenarnya bagi keluarga Wijaya? Dan apa hubungan masa lalunya denganmu?"
Devan mengembuskan napas pendek, pandangannya beralih menatap lurus ke depan, menerawang menembus kegelapan jalanan malam. "Valerie adalah anak angkat yang diadopsi oleh paman dari pihak ibuku. Karena keluarga Wijaya tidak memiliki keturunan perempuan di generasi kami, kakekku sangat memanjakannya. Lima tahun lalu, saat aku baru saja mengambil alih posisi kepemimpinan tertinggi di Alister Group setelah ayahku tiada, kakekku mencoba memanfaatkan momen berduka itu untuk memaksaku menikahi Valerie."
"Mereka ingin mengikat Alister Group agar tetap berada di bawah kendali dinasti Wijaya," lanjut Devan dengan nada suara yang perlahan kembali mendingin. "Valerie sendiri adalah wanita yang terobsesi dengan kekuasaan dan status sosial. Dia melakukan segala cara untuk mendekatiku, bahkan menggunakan nama mendiang ibuku untuk merayuku. Karena itulah aku muak. Aku menolak perjodohan itu mentah-mentah, memotong seluruh akses bisnis mereka di Alister Group, dan membuat mereka terasingkan ke London selama lima tahun ini."
Keyra mendengarkan dengan saksama, mulai memahami seberapa rumit dan berbahayanya lingkaran elit tempat Devan berada. "Sekarang mereka kembali, dan Valerie melihatku menduduki posisi yang sangat dia inginkan selama bertahun-tahun. Dia pasti tidak akan tinggal diam."
"Biarkan saja dia mencoba," jawab Devan, kilatan matanya mendadak berubah menjadi sangat kejam dan penuh ancaman mutlak. "Jika dia atau kakekku berani menyentuh sehelai rambutmu saja, aku bersumpah akan meratakan seluruh bisnis keluarga Wijaya hingga tidak tersisa satu batu pun di kota ini."
Sementara itu, di sebuah bar privat yang terletak di lantai atas hotel mewah milik keluarga Wijaya, suasana tampak begitu sunyi. Valerie Wijaya duduk sendirian di sofa beludru merah, menggenggam sebuah gelas kristal berisi minuman beralkohol tinggi. Wajah cantiknya yang biasa tampak anggun kini mengeras, dipenuhi oleh garis-garis kemarahan dan kecemburuan yang membakar dadanya.
Prang!
Valerie melemparkan gelas kristal itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping, membuat pelayan bar yang berjaga di sudut ruangan refleks menunduk ketakutan.
"Pelayan toko kue murahan! Bagaimana bisa wanita sekasta dia berdiri di samping Devan?!" desis Valerie dengan suara yang gemetar menahan amarah yang meluap-luap. "Lima tahun aku dibuang ke London, menahan rindu dan mengumpulkan kelayakan hanya untuk melihat Devan bersanding dengan sampah jalanan seperti itu?!"
Pintu bar privat itu tiba-tiba terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi melangkah masuk. Pria itu adalah paman angkat Valerie, orang yang selama ini menyokong ambisinya untuk menguasai Alister Group.
"Tenangkan dirimu, Valerie. Kemarahan yang tidak terkontrol hanya akan merusak rencana kita," ucap pria itu sembari duduk di sofa seberang Valerie.
"Bagaimana aku bisa tenang, Paman?!" seru Valerie, matanya memerah. "Paman lihat sendiri bagaimana Devan menghina kakek dan membela wanita jalang itu di depan semua orang! Devan bahkan mengancam akan menyatakan perang dengan kita!"
Pria paruh baya itu tersenyum licik, memutar-mutar cincin emas di jari manisnya. "Devan Alister memang terlalu kuat jika kita hadapi secara langsung. Dia tidak memiliki celah atau kelemahan di dunia bisnis. Tapi sekarang... dia sendiri yang memperlihatkan kelemahannya kepada kita."
Valerie mengernyitkan dahinya, mencoba mencerna ucapan pamannya. "Maksud Paman... kelemahannya adalah Keyra?"
"Tepat sekali," jawab sang paman dengan binar mata yang penuh intrik jahat. "Pria sedingin Devan jika sudah jatuh cinta, dia akan menjadi sangat buta dan protektif. Wanita bernama Keyra itu adalah kelemahan terbesarnya saat ini. Jika kita ingin menghancurkan Devan atau memaksanya tunduk pada keluarga Wijaya, kita tidak perlu menyerang Alister Group. Kita hanya perlu menghancurkan wanita murahan itu terlebih dahulu."
Valerie terdiam, perlahan-lahan rasa marahnya mereda, digantikan oleh sebuah senyuman licik yang mengerikan di bibirnya. Ia mengerti arah pembicaraan pamannya. "Menghancurkannya... dari titik terendahnya. Aku tahu wanita seperti Keyra pasti memiliki masa lalu yang kotor. Seseorang dari kelas bawah tidak mungkin bersih dari skandal."
"Cari tahu semua hal tentang masa lalu Keyra," perintah Valerie pada asisten pribadinya yang sejak tadi berdiri di kegelapan sudut ruangan. "Siapa mantan kekasihnya, bagaimana dia hidup dulu, dan cari apa pun yang bisa kita gunakan untuk menyeret namanya ke dalam lumpur kehancuran. Aku ingin melihat, apakah Devan Alister masih sudi mengumumkan wanita itu sebagai calon istrinya saat seluruh dunia tahu bahwa dia hanyalah wanita bekas yang menjijikkan."
Malam itu, di dalam kegelapan sarang serigala, sebuah konspirasi baru yang jauh lebih kejam dan licik mulai dirajut untuk menjatuhkan Keyra dari puncak kebahagiaannya.