Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Menyusuri koridor rumah sakit, Zea berjalan di belakang Naka dengan wajah masam. Dengan sangat terpaksa, mengikuti kemauan pria itu untuk tinggal di apartemennya selama dua hari sebelum pulang ke Jombang. Naka mengancam tak mau membayar biaya rumah sakit jika ia tak mau tinggal sementara disana, yang mau tak mau, ia menuruti kemauannya.
Di belakang Zea, ada Rizal dan Vira yang membawa tas berisi barang-barang Arka selama di rumah sakit.
"Om, emang gak berat ya gendong Arka?" tanya Arka yang ada dalam gendongan Naka.
"Enggak kok," sambil tersenyum, Naka mengecup pipi Arka. "Kayaknya kamu harus lebih banyak makan deh, biar makin tinggi dan berisi badannya."
"Biar tinggi kayak Om Bos ya?" menatap Naka dengan kedua lengan melingkar di lehernya.
Naka mengangguk.
"Nanti kalau gede, Arka pengen kayak Om Bos, tinggi, ganteng, baik dan kaya," Arka tertawa cekikikan.
"Pastilah," Naka ikut tertawa, ketularan tawa renyah Arka. "Nanti kalau gede, Arka pasti mirip...," melirik Zea. "Pasti mirip Om Bos," sebenarnya ingin sekali menyebut dirinya ayah, tapi nanti Zea pasti marah. Sepertinya, sebelum mengaku pada Arka, ia butuh meluluhkan ibunya Arka dulu, biar mukanya gak masam terus saat menatapnya.
"Sekarang aja udah mirip banget, gak usah nunggu gede," celetuk Vira. "Udah kayak ayah sama anak."
"Katanya kita kayak ayah sama anak, Arka seneng gak, kalau misal Om bos jadi ayahnya Arka?"
Hati Zea mendidih, apa coba maksudnya ngomong seperti itu.
"Mau, mau banget," Arka mengangguk cepat. "Biar nanti aku gak sedih pas hari pengambilan rapot. Sekarangkan yang ngambil rapot harus ayahnya."
Rizal dan Vira langsung ketawa mendengar kepolosan Arka, beda dengan Zea yang matanya berkaca-kaca, ingat hari dimana Arka pulang sekolah sambil menangis gara-gara anjuran gerakan ayah mengambil rapot.
"Jadi kamu pengen punya ayah cuma buat ngambil rapot, Ka?" Rizal tertawa cekikan.
"Iya, sekarang kan yang ngambil rapot harus ayahnya," Arka menatap Rizal dari balik punggung Naka.
"Gak harus Nak, cuma dianjurkan. Kalau gak ada ayah, ya ibunya gak apa-apa," Zea memberi pengertian.
Setelah melewati beberapa koridor dan lobi, akhirnya mereka sampai di teras rumah sakit.bNaka menggunakan sebelah telapak tangannya untuk memayungi Arka karena siang itu memang sangat terik, sinar matahari menyorot ke arah mereka.
Rizal mengambil mobil di parkiran lalu menjemput mereka.
"Ini mobilnya Om Bos?" tanya Arka saat melihat mobil putih berhenti di depan mereka dan Rizal keluar dari sana. Dulu saat beli es teh, Rizal memakai mobil hitam, saat menjemputnya di sekolah, juga mobil hitam, namun yang berbeda. Melihat Naka mengangguk, mulutnya langsung menganga lebar, kagum. "Ternyata Om Bos gak kaya."
"Hah!" Naka mengerutkan kening.
"Tapi kaya banget, mobilnya banyak, bagus-bagus semua."
Semua yang ada disana langsung ketawa, termasuk Rizal yang sedang membukakan pintu belakang, tapi tentu saja kecuali Zea. Suasana hati wanita itu sedang tidak bagus, setiap kali beradu tatap dengan Naka, bawaannya kesal, masih ingat kejadian-kejadian belakangan ini yang membuat dia empet banget sama laki-laki itu.
Naka menurunkan Arka di bangku belakang, lalu menyuruh Zea dan Vira masuk, sementara ia duduk di depan bersama Rizal.
Saat mobil sudah keluar dari area rumah sakit, Arka yang duduk di dekat jendela tampak antusias sekali melihat pemandangan kota Jakarta di siang hari. Dulu saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, ia melihat pemandangan gemerlap malam, jadi ini baru pertama kalinya ia melihat Jakarta siang hari.
"Bu, monas ada dimana?" Arka menoleh pada Zea yang duduk di sebelahnya.
"Arka pengen ke monas?" Naka langsung menyahut sambil menoleh. "Lusa mau gak jalan-jalan ke monas?"
"Lusa kami pulang," sahut Zea masih dengan nada ketus yang tak jua hilang.
"Kan bisa ditunda, Ze," Naka menatap Zea dari center mirror. "Pulang minggu depan juga gak apa-apa, tahun depan juga boleh."
Zea auto nyengir, "Kami pulang lusa, aku udah terlanjur beli tiket bus."
"Aku ganti uangnya."
Zea tak menjawab, hanya melemparkan tatapan tajam, tatapan tak suka.
Naka meminta Rizal untuk mampir di sebuah restoran sea food lesehan, resto yang dulu sering ia datangi bersama Zea. Saat pertama kali masuk, ia yang sedang menggandeng Arka, beberapa kali menoleh pada Zea, ingin tahu ekspresinya. Sayang, tak sesuai ekspektasi, ekspresi wajah Zea terlihat datar saja, padahal mereka punya banyak kenangan disini.
Naka memilih gazebo paling ujung, ada meja pendek ukuran sedang di bagian tengah sementara mereka duduk lesehan. Ia memesan banyak sekali makanan untuk mereka berlima, dan tentunya, makanan-makanan kesukaan Zea.
"Bu, ini apa?" Arka menujuk seekor kepiting berukuran sangat besar bumbu saos Singapur.
"Ke_"
"Kamu gak tahu itu?" pertanyaan Naka memotong ucapan Zea.
Arka yang memang belum pernah makan kepiting, menggeleng pelan.
"Kamu gak pernah masak kepiting Ze, bukankah itu makanan favorit kamu?" Naka menatap Zea dengan kening mengkerut. Langsung muncul pertanyaan, apakah kehidupan Zea sesusah itu, sampai beli kepiting saja tidak mampu?
Zea tak menjawab, lebih memilih mengambil alat untuk menghancurkan kepiting lalu mengambil dagingnya, meletakkan ke piringnya dan Arka. "Ini namanya kepiting, Ibu suapin ya, Nak," dengan menggunakan tangan langsung, ia menyuapi Arka. Ia makan sepiring dengan Arka, sekalian menyuapi.
"Enak, Bu, aku suka," ujar Arka setelah tahu rasanya.
Melihat kepiting berukuran super jumbo dengan dagingnya yang tebal, Rizal langsung ngiler, namun saat hendak mengambil, tangannya malah dipukul oleh Naka.
"Itu untuk Ze dan Arka, kamu makan yang lainnya."
Seketika, Rizal menelan ludah susah payah, tersenyum kecut lalu memutuskan untuk mengambil kerang. Namun tiba-tiba, sebuah tangan kecil meletakkan sedikit daging kepiting ke piringnya.
"Om Rizal boleh minta kok. Aku dan Ibu pasti gak habis," celoteh Arka.
Dengan ekspresi ragu-ragu, Rizal melirik Naka, lalu berucap, "Makasih Arka, kamu memang anak baik."
Arka juga menawari Vira, namun gadis itu menolak karena memang tidak suka.
Mereka semua makan dalam diam, namun satu hal yang mencuri perhatian Vira, tatapan Naka. Laki-laki itu ia perhatikan sejak tadi makan sambil senyum-senyum menatap Arka dan Zea. Ia menyenggol lengan Rizal, lalu berbisik pada kekasihnya tersebut.
"Bos kamu dari tadi lihatin Mbak Zea sambil senyum-senyum sendiri."
"Dia udah gila, mabuk janda," sahut Rizal sambil berbisik.
Vira kelepasan tertawa, sampai tatapan semua orang tertuju padanya. Lengannya langsung disenggol Rizal, sementara ia menunduk malu.
Selesai makan, mereka melanjutkan perjalanan menuju apartemen Naka. Baru masuk saja, Zea sudah merasa tidak nyaman, apalagi kalau teringat kejadian Naka mau memperkosaanya. Rizal menyalakan semua lampu, membuat apartemen itu makin terlihat mewah.
"Ini rumah siapa?" Arka yang berada dalam gendongan Naka melihat sekeliling. Rumah yang hampir sama dengan rumah Rizal, harus naik lift dulu untuk sampai, hanya saja lebih besar dan lebih mewah.
"Ini rumahnya Arka," sahut Naka.
"Naka!" desis Zea yang kurang suka mendengar jawabannya. "Ini rumahnya Om Bos."
"Wah, Om Bos benar-benar kaya," Arka berdecak kagum. "Padahal gak pernah lihat Om Bos kerja, tiap hari nungguin aku di rumah sakit, tapi kok kaya?"
Pertanyaan polos Arka mengundang tawa Naka dan Rizal.
Naka meminta Rizal dan Vira untuk mengecek kondisi dapur, beres-beres jika ada yang berantakan sekaligus mencatat apa saja kebutuhan yang harus dibeli untuk Zea dan Arka selama mereka tinggal disini. Ia menurunkan Arka dari gendongan, membuka satu persatu kamar, menunjukkan dan meminta anak itu untuk memilih mau tidur dimana.
"Yang ini saja," Zea yang langsung memilih, lalu menuntun Arka masuk.
"Kenapa gak kamar sebelah aja, lebih gede, view nya juga bagus disana?" ujar Naka yang berjalan mengekor di belakang.
"Enggak, disini aja," Zea meletakkan tas ranselnya ke atas nakas. Meski kamar sebelah lebih besar, ia masih trauma kalau inget kejadian hari itu.
Arka naik ke atas ranjang, menjajal kasur yang terlihat empuk. Seperti anak kecil pada umumnya, merasakan kasur yang empuk, ia langsung loncat-loncat.
"Arka," panggil Zea. Ia menggeleng, mengisyaratkan Arka untuk tidak melakukan itu. "Gak boleh Nak, gak sopan. Ini bukan rumah kita."
"I, iya Bu," Arka tertunduk, lalu segere duduk. "Maaf."
"Biarin aja Ze, namanya juga anak-anak."
Zea menghela nafas kasar, "Arka baru sembuh."
Naka mendekati Arka, duduk di sampingnya, mengusap kepalanya. "Lusa kalau Arka sudah benar-benar sembuh, kita jalan-jalan. Nanti Om ajak ke playground yang gede, Arka bisa main sepuasnya."
"Beneran, Om?" Anak mana yang tidak langsung exited saat dijanjikan seperti itu, apalagi Arka memang tidak pernah pergi ke playground, hanya pernah mendengar cerita dari temannya saja.
"Hem," Naka mengangguk cepat.
Zea menata bantal dan guling, meminta Arka untuk istirahat karena masih dalam proses pemulihan. Ia lalu memberi kode pada Naka agar ikut dia keluar. Setelah mereka keluar, ia menutup pintu agar Arka tak mendengar apa yang mereka obrolkan.
"Kamu mau ingkar janji?" tanya Zea, menatap Naka sengit. "Ingat, sesuai kesepakatan, aku dan Arka cuma 2 hari disini, lusa kami pulang ke Jombang. Aku sudah beli tiket bus ke Jombang, jadi gak usah janjiin ini itu ke Arka, aku gak mau dia kecewa."
"Pulang minggu depan aja, aku anter."
Zea langsung tersenyum kecut, "Mending kamu pulang sekarang, aku juga mau istirahat."
"Kamu ngusir aku?" Naka menunjuk dirinya sendiri. "Ini rumah aku."
"Kamu gak lupakan, aku mau tinggal disini dengan catatan, kamu gak ikut tinggal disini. Jadi gak usah drama di belakang kayak gini, pakai merasa terusir dari rumah sendiri. Kalau gak mau pergi, ya udah, aku dan Arka aja yang pergi, kami bisa kok nginep di hotel," ia hendak membuka pintu kamar, namun Naka menahan tangannya.
"Kamu itu kenapa sih Ze, benci banget sama aku? Muka kamu gak pernah senyum kalau ngeliat aku, ngomong juga selalu ketus, emang aku ada salah apa sama kamu hah? Aku gak pernah ninggalin kamu, tapi justru sebaliknya, kamu yang ninggalin aku. Aku juga bukan laki-laki gak bertanggungjawab, aku gak tahu kalau kamu hamil Arka. Kakau soal kemarin aku nyulik Arka, itu karena aku gak tahu cerita sebenarnya, aku marah sama kamu, aku ingin balas dendam, pengen kamu ngerasain apa yang aku rasakan, kehilangan orang yang paling dicintai. Andai saja kamu tahu Ze, aku benar-benar terpuruk saat itu."
Zea menoleh ke arah lain, tak mau melihat wajah Naka, takut tersentuh. Bagaimana pun, ia dan Naka tak mungkin bersama, ada tembok pemisah yang menjulang tinggi diantara mereka. Hidup berdua dengan Arka, adalah pilihan yang tepat untuk menjaga kewarasan.
"Ngomong, salah aku dimana?" Naka memegang kedua bahu Zea. "Aku baru tahu jika aku punya anak, wajar kan kalau aku pengen deket dengan anakku?"
"Anak!" celetuk Rizal yang baru kembali dari dapur dan tak sengaja mendengar ucapan Naka. Di sampingnya, Vira sampai menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan, syok. Ternyata fakta lebih mencengangkan dari dugaannya selama ini. Ia mengira Zea adalah mantan Naka, atau Naka sedang tergila-gila pada janda, tapi ternyata, Arka adalah anak mereka.
pasti sulit bagi zea membuat keputusan....
di tukar teflon?
emak2 emang gitu naka.....