Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Malam itu terasa lebih sunyi dan lebih gelap dari biasanya. Langit tertutup awan pekat, tak ada bintang yang bersinar, tak ada cahaya bUlan yang menembus kegelapan. Hanya bayang-bayang pohon dan bangunan yang tampak samar di kejauhan, seolah menyatu dengan malam yang mencekam.
Di atap lantai tertinggi gedung sekolah, tempat yang paling tinggi dan paling luas pandangannya, berdiri Natalia bersama Rafli. Angin malam berhembus kencang, menerbangkan ujung rambut mereka dan membawa hawa dingin yang menembus pakaian tebal.
Natalia memeluk tubuhnya sendiri, matanya tak lepas memandang ke arah jalanan yang terbentang kosong di bawah sana. Suasana begitu hening, hingga suara napas mereka sendiri terdengar jelas di telinga.
"Kau lihat sesuatu, Nat?" tanya Rafli pelan, suaranya rendah namun terdengar tegas di tengah angin.
Natalia menggeleng perlahan, lalu menoleh kembali ke arah kegelapan. "Tidak... justru itulah yang membuatku tak tenang. Terlalu sepi. Tak ada apa-apa, tak ada suara, tak ada gerakan. Seolah tempat ini telah mati sepenuhnya."
Rafli ikut menatap ke depan, tangannya mencengkeram erat senjata yang bersandar di bahu. "Keheningan bisa menipu. Kadang mereka bergerak tanpa suara, pelan, menunggu saat yang tepat untuk muncul."
Natalia menghela napas panjang, membiarkan kekhawatirannya tersapu angin. "ya kau benar.. Aku hanya takut yg muncul bukan lah zombie, melainkan manusia yg melebihi zombie.
"semoga saja tidak," jawab Rafli jujur, matanya tetap memindai setiap sudut jalan yang gelap. "Tapi kita tetap waspada, dengan sekitar kita.
Keduanya kembali terdiam, berdiri tegak di sana — mengawasi, menjaga, menanti pagi yang entah kapan akan datang, di tengah dunia yang perlahan tenggelam dalam kegelapan.
Di bawah sana, di halaman sekolah yang remang, Toni berdiri bersama Danu dan Simon. Mereka berjaga di dekat gerbang, sesekali mengintip lewat celah pagar kayu ke arah jalanan yang gelap.
"Malam yang aneh..." gumam Toni pelan.
"Maksudmu?" tanya Simon mendekat.
"Aku pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya — hawa yang tak menentu, angin yang berhembus pelan namun membawa rasa tak nyaman," jawab Toni, matanya tak lepas memandang kegelapan di luar.
Danu mengangguk pelan, menatap lurus ke arah gerbang. "Kau benar. Aku juga merasakannya. Sesuatu sedang mendekat..."
"Apapun itu, kita harus siap," ucap Toni tegas.
Danu menoleh ke arah Simon. "Simon, bangunkan semua orang. Suruh mereka segera bersiap, ambil senjata dan tetap tenang."
"Baik!" Simon segera berlari masuk ke dalam gedung, langkah kakinya terdengar cepat namun teratur.
Danu mengangkat walkie-talkie ke mulutnya. "Rafli... bagaimana keadaan di atas? Apa yang kau lihat?"
Suara Rafli terdengar sedikit berderak dari seberang. "Ada sesuatu yang bergerak dari kejauhan... tak terlihat jelas, hanya bayangan samar yang terus mendekat."
Danu mengeratkan cengkeramannya pada alat itu. "Rafli, gunakan panahmu. Bungkus ujungnya dengan kain yang diberi bahan bakar, bakar, lalu tembakkan ke arah tumpukan kayu kering di luar sana. Kita butuh cahaya."
"Siap, akan kulakukan sekarang."
Di atap gedung, Rafli segera bergerak. Ia melilit kain yang sudah diberi minyak bakar ke ujung anak panah, menyalakannya, lalu mengangkat busur ke arah tuMpukan kayu di pinggir jalan raya. Wusss! Panah itu melesat membelah gelap, dan seketika tumpukan kayu itu menyala terang, menerangi area yang luas di depan sekolah.
Natalia berdiri di sampingnya, memandang lewat celah-celah cahaya yang kini menyebar. Matanya perlahan melebar, tak percaya pada apa yang ia lihat.
"Ya Tuhan..." suaranya tertahan di kerongkongan.
"Apa yang kau lihat, Nat?" tanya Rafli tegang.
Natalia menunjuk ke arah jalanan yang kini terang benderang. "Banyak sekali... kawanan itu jumlahnya ratusan. Mereka berjalan beriringan, dan mereka menuju ke sini."
Suasana seketika hening mencekam. Di bawah, di halaman sekolah, Danu dan Toni menatap ke arah cahaya yang makin terang, melihat bayangan-bayangan itu mulai tampak jelas — bergerak serempak, langkah tertatih namun tak henti, wajah-wajah pucat dengan mata putih kosong yang menatap lurus ke arah mereka.
"Ratusan..." gumam Danu pelan, napasnya tertahan. Ia kembali mengangkat alat komunikasi. "Rafli, Nat... mundur dari sana sekarang. Segera turun dan bergabung dengan kami."
"Jumlahnya terus bertambah, Danu!" seru Natalia, suaranya bergetar. "Mereka tidak berhamburan Seperti biasanya... berbaris rapi, seolah dipimpin seseorang!"
Toni mencengkeram pagar hingga buku jarinya memutih. "Itulah yang ku takutkan... kelompok sisa-sisa pengikut Rio mengarahkan mereka. Mereka menjadikan mayat hidup ini sebagai pasukan."
Pintu utama terbuka lebar, Simon muncul bersama yang lain — Mega, Jodie, Andri, kakek dan nenek tua, semuanya sudah siap dengan senjata di tangan, wajah mereka tegang namun berusaha tetap tenang.
"Kita tak bisa melawan mereka semua di luar," ucap Danu tegas, menyusun rencana secepat kilat. "Semua masuk ke dalam gedung! Tutup dan kunci pintu utama seketika kita masuk. Rafli, Natalia, cepat turun lewat tangga belakang, jangan lewat depan!"
Mereka bergerak cepat. Rafli menarik tangan Natalia, berlari menuruni tangga secepat mungkin. Di bawah, Toni dan Simon berjaga di pintu, sesekali menembak ke arah makhluk yang sudah mulai mendekat ke gerbang — satu atau dua yang terdepan tumbang, namun yang lain terus berjalan maju tanpa peduli.
"Sekarang! Masuk!" seru Danu saat melihat Rafli dan Natalia berlari menyeberangi halaman.
Semua orang masuk bersamaan, pintu tertutup rapat dan dikunci, lalu tumpukan balok, meja, dan kursi didorong kembali menutupinya. Tak lama kemudian, suara benturan mulai terdengar — duk! duk! — makhluk-makhluk itu menabrak pintu dan dinding gedung.
Mereka semua berkumpul di lorong tengah, napas memburu, mendengarkan suara raungan dan benturan yang makin keras.
"Mereka tidak akan berhenti..." bisik Mega pelan.
Danu menatap mereka satu per satu, suaranya tegas meski ada kecemasan yang tak bisa disembunyikan. "Kita bertahan. Kita jaga setiap pintu, setiap jendela. Selama kita bersatu, tempat ini belum akan jatuh. Kita bertahan sampai pagi."
Di luar sana, kawanan itu terus mendesak, dan di antara kegelapan, sesosok bayangan berdiri diam di kejauhan — mengawasi, membiarkan pasukannya menghancurkan pertahanan itu perlahan.
"kalian akan tau akibat dari apa yg kalian perbuat, Danu.." gumam orang itu dengan senyum sinis nya menatap ke segerombolan zombie yg memenuhi jalanan di depan pagar sekolah itu.
****
Di sisi lain, mobil rombongan Damian terus melaju membelah jalanan menuju Lembang. Sesekali mereka berhenti, memeriksa rumah-rumah di pinggir jalan untuk memastikan aman, lalu kembali bergerak meninggalkan jejak di tempat yang baru saja mereka pijak.
Namun semakin jauh mereka masuk ke daerah itu, semakin gelisah perasaan semua orang di dalam mobil. Hening yang tak biasa menyelimuti tempat itu, dan setiap orang merasakan firasat yang sama — ada sesuatu yang salah, sesuatu yang mengerikan sedang menanti di depan.
"Berhenti!" perintah Damian tiba-tiba. "Matikan semua lampu mobil. Sekarang!"
Lampu kendaraan seketika padam, menyisaKan kegelapan pekat. Jagad mencondongkan badan ke depan, bingung.
"Ada apa, Damian?"
"Lihat ke depan sana..." ucap Damian pelan, suaranya berat.
Jagad menatap ke arah yang ditunjuk, dan napasnya tertahan. "Sialan... jumlahnya tak terhitung banyaknya..."
Di depan mereka, memenuhi sepanjang jalan raya yang lebar, bergerak lautan makhluk pucat — berjalan beriringan, rapat, menuju ke arah yang sama: ke pusat daerah Lembang, tujuan mereka untuk mencari penyintas yg masih terselamatkan dan orang-orang yg terjebak di sana.
Damian menoleh ke arah kursi belakang, menyentuh bahu Hilda yang sempat terlelap. "Hilda... bangunlah. Lihat apa yang ada di depan kita."
Hilda terbangun perlahan, mengusap matanya, lalu menatap ke luar jendela. Wajahnya seketika pucat pasi. Di kejauhan, di tengah kerumunan yang tak berujung itu... ia tahu ke mana mereka semua menuju.
Bersambung