Di dunia di mana status ditentukan oleh kekuatan roh bela diri, Lin Xiao dianggap sebagai sampah tak berguna karena hanya memiliki roh berupa sebuah makam kuno yang hancur.
Dikhianati oleh klannya sendiri, dirundung habis-habisan oleh sepupunya, dan secara terbuka dihina oleh tunangannya yang sombong, Lin Xiao mencapai titik terendah.
Namun, di saat kematian mendekat, rahasia makam itu bangkit. Alih-alih sebuah sampah, makam itu ternyata adalah Makam Para Raja, gudang tersembunyi yang menyimpan sisa-sisa jiwa, ingatan, dan teknik tak terkalahkan dari ratusan kaisar dan raja bela diri kuno yang pernah mendominasi dunia.
Didorong oleh dendam membara, Lin Xiao berlatih secara diam-diam menggunakan warisan terlarang tersebut.
Dari pemuda yang diremehkan, dia tumbuh menjadi sosok dingin yang kejam terhadap musuh, siap menghadapi seluruh klan dan sekte demi melindungi ayahnya yang lemah, serta mendaki puncak kekuatan bela diri sebagai Pewaris Makam Para Raja yang sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Trang.
Pedang di tangan Lin Zhen terlepas dan jatuh membentur lantai batu balai utama.
Suara nyaring itu seolah menjadi penanda runtuhnya kekuasaan absolut faksi Kepala Tetua selama tiga tahun terakhir.
Lin Zhen menatap Lin Tianhai dengan dada naik turun dan napas terengah-engah.
Ketakutan di matanya tidak bisa lagi disembunyikan di balik topeng wibawa palsunya.
"Kau... kau sungguh sudah mencapai tahap Inti Emas?" tanya Lin Zhen dengan suara parau.
"Ini sama sekali tidak masuk akal, meridianmu sudah divonis hancur permanen oleh tabib kota."
Lin Tianhai melipat kedua tangannya di belakang punggung dengan postur tegap sempurna.
"Apakah kau butuh bukti lebih lanjut untuk mengakuinya, Lin Zhen?"
Wush.
Gelombang energi kembali memancar dari tubuh Lin Tianhai, kali ini jauh lebih padat dan tajam.
Tekanan spiritual itu membuat lutut Lin Zhen lemas hingga pria tua itu terpaksa mundur beberapa langkah untuk menyeimbangkan diri.
"Cukup!" teriak Lin Zhen menahan rasa malu yang luar biasa di depan seluruh tetua yang menonton.
"Kau menang hari ini, Tianhai. Surga ternyata masih memihak padamu dan keluargamu."
"Bukan surga yang memihak padaku." jawab Lin Tianhai dengan suara baritonnya yang tegas tanpa belas kasihan.
"Tapi kebenaran dan keadilan yang tidak pernah mati meskipun kalian mencoba menguburnya."
Lin Zhen mengertakkan giginya rapat-rapat hingga terdengar suara gemeretak pelan.
Dia melirik ke arah cucunya, Lin Jian, yang sedang mengerang kesakitan memegangi pergelangan tangannya yang patah di sudut ruangan.
"Sesuai aturan leluhur, dengan kultivasi Inti Emas, kau berhak mengambil alih posisi pemimpin tertinggi klan." ucap Lin Zhen dengan nada yang sangat tidak rela.
"Namun, kekuatan satu orang tetua yang sudah tua tidak bisa menjamin kejayaan masa depan seluruh klan."
Lin Zhen mengangkat kepalanya, mencoba mencari sisa-sisa celah untuk bertahan hidup dan mempertahankan faksinya.
"Turnamen klan akan diadakan tiga minggu lagi, ajang pembuktian generasi penerus kita."
"Jika generasi muda dari faksimu, putramu Lin Xiao, tidak bisa membuktikan kemampuannya di atas arena..." lanjut Lin Zhen dengan tatapan penuh kelicikan.
"Maka posisimu sebagai pemimpin tidak akan pernah diakui oleh cabang-cabang klan di luar kota yang mengagungkan kekuatan pewaris."
Lin Xiao yang berdiri di samping ayahnya hanya tersenyum tipis meremehkan argumen tersebut.
'Rubah tua ini masih mencoba menggunakan turnamen sebagai garis pertahanan terakhirnya.' batin Lin Xiao.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, Lin Zhen." sahut Lin Xiao dengan suara lantang memotong keheningan di balai.
"Aku sendiri yang sudah mendaftarkan namaku di balai tugas kemarin siang."
Mata Lin Zhen menyipit menatap pemuda berjubah sederhana di depannya itu dengan penuh perhitungan.
"Kau benar-benar berani ikut campur dalam pertarungan hidup dan mati di arena?"
"Tentu saja." jawab Lin Xiao sambil menatap tajam ke arah Lin Jian yang sedang merintih.
"Di atas arena nanti, aku akan memastikan cucu kesayanganmu itu membayar semua hutang darahnya secara tunai."
Lin Jian yang mendengar ancaman langsung itu sontak menggigil ketakutan.
Rasa sakit di tangannya seolah tidak ada artinya dibandingkan dengan teror mental yang dia rasakan saat menatap mata Lin Xiao.
"Kita lihat saja nanti siapa yang akan keluar dari arena sebagai mayat." desis Lin Zhen dengan amarah yang tertahan.
Pria tua itu segera berbalik dan memerintahkan dua bawahannya untuk memapah Lin Jian pergi dari balai utama.
Satu per satu, para tetua penjilat juga ikut membubarkan diri dengan kepala tertunduk dalam-dalam.
Mereka tidak berani menatap wajah Lin Tianhai yang kini kembali menjadi penguasa sejati Klan Lin.
Hanya Tetua Lin Mo yang tetap tinggal di ruangan besar yang kini terasa sepi itu.
Instruktur bela diri tersebut berjalan mendekat dan menangkupkan kedua tangannya dengan hormat kepada Lin Tianhai.
"Selamat atas kesembuhan Anda, Saudara Tianhai." ucap Tetua Lin Mo dengan senyum yang sangat tulus.
"Klan kita akhirnya memiliki pilar yang kokoh kembali setelah sekian lama runtuh."
"Terima kasih atas bantuanmu tadi, Saudara Mo." balas Lin Tianhai sambil menepuk pundak pria paruh baya itu dengan hangat.
"Jika kau tidak angkat bicara, rubah tua itu pasti sudah menggunakan kekuatan massa sejak awal sidang."
"Saya hanya berpegang pada aturan leluhur yang benar." jawab Tetua Lin Mo merendah.
Dia kemudian menoleh ke arah Lin Xiao dan mengangguk pelan mengisyaratkan pengakuan.
"Putramu telah banyak berubah setelah masa penderitaannya." ucap Tetua Lin Mo memuji dengan jujur.
"Ketenangan dan keberaniannya saat menghadapi tekanan hari ini sungguh luar biasa untuk anak seusianya."
"Dia memang anak kebanggaanku." ucap Lin Tianhai dengan mata berbinar bangga.
Setelah berbincang sebentar mengenai transisi kekuasaan internal, ayah dan anak itu akhirnya kembali ke halaman belakang mereka.
Berita tentang kembalinya kekuatan Lin Tianhai menyebar seperti api liar ke seluruh penjuru kediaman Klan Lin, memicu kepanikan di faksi musuh.
Sore harinya, Lin Tianhai dan Lin Xiao duduk berhadapan di ruang utama rumah mereka yang kini sudah dibersihkan oleh Paman Zhou.
"Kepala Tetua pasti tidak akan diam saja menunggu hari turnamen dimulai." ucap Lin Tianhai membuka percakapan dengan nada serius.
"Dia pasti akan mencari bantuan dari pihak luar, mungkin meminjam tangan Keluarga Su atau sekte bayaran lain."
"Biarkan saja mereka memanggil semua bala bantuan yang mereka punya, Ayah." jawab Lin Xiao dengan sangat tenang.
"Itu hanya akan membuat kekalahan mereka nanti menjadi tontonan yang semakin memalukan."
Lin Tianhai menatap putranya dengan pandangan menilai, mencoba mengukur kedalaman kekuatan pemuda itu.
"Ayah tidak tahu persis seberapa besar kekuatan yang kau sembunyikan sekarang, Xiao'er."
"Tapi di turnamen nanti, Lin Jian pasti akan menggunakan segala cara kotor untuk membunuhmu." peringat sang ayah.
"Kakeknya pasti akan memberikannya senjata spiritual atau pil peningkatan kekuatan terlarang agar bisa menang."
"Aku mengerti kekhawatiran Ayah." ucap Lin Xiao mengangguk setuju dengan analisis tersebut.
"Karena itu, aku akan melakukan kultivasi tertutup mulai malam ini juga sampai hari turnamen tiba."
Srak.
Lin Xiao merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sisa Inti Logam Bumi yang cahayanya sudah meredup separuh.
"Aku akan menggunakan sisa energi dari kristal ini untuk memoles tubuh fisikku ke tahap selanjutnya."
Mata Lin Tianhai sedikit melebar melihat kristal berharga tersebut dikeluarkan kembali.
"Apakah tubuhmu sanggup menahan aliran energi logam yang sangat keras dan tajam itu secara langsung?"
"Ayah tenang saja, aku punya metode khusus untuk menaklukkan energi buasnya." jawab Lin Xiao dengan senyum meyakinkan.
Malam itu juga, Lin Xiao mengunci dirinya di dalam kamarnya yang gelap.
Dia melarang siapa pun, termasuk Paman Zhou dan ayahnya, untuk mendekati atau mengetuk pintu kamarnya selama tiga minggu ke depan.
Kriet.
Pintu ditutup rapat, mengisolasi Lin Xiao sepenuhnya dari dunia luar yang sedang bergolak.
Dia duduk bersila di tengah ruangan dan meletakkan sisa Inti Logam Bumi di atas telapak tangannya.