Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
"Tunggu, Tuan Anda tidak bisa melakukan ini," Tara sudah terlihat panik dan cemas jika anaknya di bawa oleh Kenzo.
"Saya bisa, Nona Tara. Anda tau jelas maksud saya," ucap Kenzo menatap datar ke arah Tara, karena sejak dari tadi Tara sudah mengulurkan waktunya. Kenzo peka sama perubahan ekspresi Tara, apa lagi saat dia gugup tadi, itu menunjukkan kalau Tara sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Anda orang hebat, pewaris De Luca. Saya yakin Anda tidak akan menanggapi serius ucapan anak-anak bukan? Mateo, masih umur lima tahun, belum bisa dipercaya apa yang dia katakan," pungkas Tara, tentu saja sang anak tak terima ibunya menjelekan dia.
"Mommy! Aku bukan orang bodoh! Sebagai anakmu, harusnya Mommy tau seberapa pintar aku! Apa yang membuat Mommy menolak pria di depan kita ini? Liat dia, dia tampan dan berkelas, mampan dan juga berwibawa. Aku yakin, dia cocok jadi bagian dari keluarga ini," ungkpan Mateo, Tara memijit kepalanya yang tak sakit. Omongan Mateo semakin membuatnya gelisah.
"Atau begini saja, kalau Mommy nggak mau menikah dengan pria ini," ucap Mateo menunjuk ke arah Kenzo, baru pertama kali ada yang berbicara dengannya tak menunduk dan malah menatapnya dengan tatapan tegas.
'Menarik,' gumam Kenzo dalam hatinya saat melihat Mateo yang begitu tak pantang menyerah.
"Kenapa Mommy nggak bawa aja Daddy kandung kami ke sini? Di mana pria sialan yang telah membuat Mommy membesarkan dua orang anak sendirian, apa dia amnesia atau dungu?" kata-kata Mateo memang tajam, tetapi hanya Tara yang tahu kalau Mateo begitu karena kesal sama sosok lelaki yang dia tahu membuang mereka. Padahal, kenyataannya tak seperti itu. Kening Kenzo berkerut mendengar pernyataan dari Mateo, dan wajahnya yang semula tenang kini terlihat tak senang.
"Mateo, apa yang kamu katakan. Berhenti sekarang, nggak semua yang kamu inginkan bisa kamu dapatkan," Tara berusaha membuat anaknya yang marah untuk tenang kembali. Tetapi, sepertinya kali ini dia gagal, Mateo terlihat sangat kesal.
"Nona Tara," seru Kenzo tatapannya berubah menjadi kejam, ada sorotan mata yang tak senang mendengar ucapan Mateo barusan.
"Saya rasa Anda di sini perlu menjelaskan semua dengan detail pada saya. Apa maksud dari ucapan Mateo? Kenapa saya dungu? Selama ini siapa yang menghilang?" Tanya Kenzo yang tak terima di katakan dungu, jelas-jelas dirinya tak tahu dengan keberadaan sang anak.
"Tuan Kenzo, sepertinya Anda harus segera pergi. Tolong tinggalkan apartemen saya," Tara menarik tangan Kenzo dan membawanya keluar dari tempat itu.
"Tidak, saya perlu mendengar semua penjelasannya," ucap Kenzo lagi yang masih berharap mendapatkan semua penjelasannya.
"Tidak, Tuan Kenzo. Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kita berdua tidak saling kenal,"
Blam!
Setelah mendorong Kenzo keluar, Tara menutup pintu apartemen itu. Pria itu dengan wajah memerah memukul pintu meminta Tara membukanya tetapi, Tara tak menggubriskan hal itu.
"Tara, kalau kamu tidak mau menyelesaikan masalah ini dengan baik. Kita bisa bertemu di pengadilan nanti. Ku pastikan aku bisa merebut hak asuh kedua anak itu," suara Kenzo dan ucapan itu membuat jantung Tara berdebar dengan rasa panik yang mendalam. Sesaat kemudian beberapa waktu berlalu, dan suara itu menghilang, Tara baru merasa lega.
"Liatlah! Apa yang kamu lakukan! Kamu membuat kita dalam masalah," Tara terlihat marah, namun tidak membuat Mateo mengerti, karena Mateo curiga ada sesuatu hal yang disembunyikan ibunya.
"Semua ini nggak akan rumit, kalau Mommy mau menyelesaikan masalah dengan pria yang tadi secara dewasa. Tetapi, Mommy tidak melakukannya," kata Mateo, dan berlalu pergi menuju kamarnya. Tara yang mendengar ucapan anak malah mematung.
"Hal, dewasa apa yang harus ku selesaikan. Bagaimana kalau yang dia mau itu kalian berdua? Mommy belum siap kehilangan kamu dan adikmu, Mateo." Gumam Tara saat menatap pintu kamar sang anak tertutup.
Malam mulai turun, sementara mobil hitam milik Kenzo melaju membelah jalanan kota. Sorot lampu-lampu jalan memantul di kaca mobil, tetapi tak mampu melunakkan raut wajah pria itu. Rahangnya mengeras, tatapannya lurus ke depan. Pikirannya dipenuhi oleh ucapan Mateo yang terus menyebut seseorang sebagai pria dungu dan pria sialan.
Kenzo meraih ponselnya, lalu menekan nomor seseorang. Tak butuh waktu lama hingga panggilan itu tersambung.
[Selamat malam, Tuan,] suara Digo terdengar dari seberang.
"Digo," ucap Kenzo datar. "Cari semua informasi mengenai Nona Tara dan kedua anaknya selama tinggal di Hong kong."
Digo langsung duduk tegak di kursinya.
"Ada sesuatu yang mencurigakan. Aku semakin yakin mereka adalah anak-anakku." Kenzo mengepalkan tangannya.
"Nona Tara menyembunyikan terlalu banyak hal. Dia nggak pernah menceritakan siapa ayah kandung anak-anak itu. Akibatnya, kedua bocah itu menganggapku pria dungu ... bahkan menyebutku pria sialan."
Sesaat, suasana di ujung telepon menjadi sunyi. Digo buru-buru menutup mulutnya agar tidak tertawa.
'Luar biasa...' batinnya. Ini pertama kalinya ada orang yang berani memanggil Tuan Kenzo dungu. Siapa pun anak itu benar-benar pemberani atau mungkin memiliki sembilan nyawa. Namun, tentu saja ia tidak cukup nekat untuk mengucapkannya.
[Baik, Tuan,] jawab Digo singkat dan profesional.
"Lalu satu lagi," nada suara Kenzo berubah semakin dingin.
"Tunggu sampai hasil tes DNA keluar. Jika hasilnya membuktikan mereka memang anakku..." Ia berhenti sejenak, matanya menyipit.
"Aku akan menuntut Nona Tara. Aku akan memastikan hak asuh kedua anak itu jatuh ke tanganku!"
Digo terdiam beberapa detik sebelum akhirnya memberanikan diri bertanya.
[Tuan ... apa keputusan itu nggak akan membuat masalah menjadi semakin rumit?]
"Apa maksudmu?"
[Mengingat Nona Tara adalah seorang pengacara. Beliau pasti tidak akan tinggal diam. Jika perkara ini sampai masuk ke pengadilan, beliau tentu akan melawan dengan segala cara.]
Sudut bibir Kenzo terangkat membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Kalau begitu, aku akan melawannya. Aku punya kekuasaan, pengaruh dan bahkan ekonomi yang layak untuk membesarkan kedua anak,"
Jawaban singkat itu membuat Digo langsung memahami maksud atasannya. Keluarga De Luca memiliki jaringan bisnis bernilai miliaran, pengacara terbaik di Berlin, hingga pengaruh yang mampu mengguncang banyak perusahaan. Jika Kenzo benar-benar menggunakan seluruh kekuatannya, persidangan itu tidak akan mudah bagi Tara.
[Baik, Tuan. Saya akan mulai menyelidiki seluruh riwayat Nona Tara, termasuk kehidupan, pekerjaan, dan kedua anaknya selama di Hong Kong.]
"Pastikan tidak ada satu detail pun yang terlewat."
[Baik, Tuan.]
Panggilan pun berakhir.
Kenzo menyandarkan tubuhnya di kursi mobil. Sejak bertemu si kembar, sorot matanya tidak lagi dipenuhi kemarahan semata, melainkan tekad.
"Kalau kalian benar anak-anakku..." batinnya.
"Tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan kita lagi ... termasuk ibumu, Tara."
diumumkan begitu aja
anugerah apa bencana yaaa?😱🤣🤣🤣
Kenzo nih tipe orang yg GK suka basa basi muter muter,, cus pokoknya lgsg beres ya kan 🤭
Setuju,,... pengumuman pernikahanmu harus segera d sebar luaskan ....,, biar ga ad yg berani godain mommy Tara 😅