NovelToon NovelToon
Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Segel Kekuatanku Hanya Bisa Di Buka Dengan 1000 Ulasan Bintang Lima

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Deni adalah seorang pemuda jenius yang berada satu langkah lagi menuju puncak ilmu bela diri, namun secara sepihak diusir oleh gurunya untuk turun gunung dengan sebuah misi yang sangat absurd yaitu menjadi kurir Shopee Food. Untuk membuka segel kekuatannya dan resmi menjadi Raja Bela Diri sejati, Deni diwajibkan oleh sebuah sistem misterius untuk mengumpulkan seribu ulasan bintang lima dari para pelanggannya di kerasnya ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Motor matic butut milik Deni melaju membelah kemacetan ibukota dengan kecepatan sedang.

​Maya duduk menyamping di jok belakang sambil berpegangan erat pada ujung jaket oranye Deni.

​Brum brum.

​Suara knalpot yang bising itu mengundang tatapan aneh dari pengendara lain di jalan raya.

​Namun Deni sama sekali tidak peduli dan terus menyanyi kecil sepanjang perjalanan.

​Tiga puluh menit kemudian mereka berdua sampai di halaman parkir gedung megah Grup Nirvana.

​Deni memarkir motornya di tempat khusus lalu mengajak Maya masuk ke lobi utama.

​Beberapa satpam dan karyawan menatap aneh ke arah Maya yang masih memakai gaun tidur putih kusam.

​Tapi tidak ada satu pun yang berani menegur karena Deni memegang kartu akses emas VIP di tangannya.

​Ting.

​Pintu lift VIP tertutup dan membawa mereka melesat naik ke lantai paling atas gedung pencakar langit tersebut.

​Sesampainya di depan ruang kerja Clara, Deni langsung memutar kenop pintu tanpa mengetuknya lagi.

​Cklek.

​Siska yang sedang menyusun berkas di meja asisten langsung menoleh dengan wajah sangat terkejut.

​"Deni, kamu bawa siapa itu kok bajunya seperti hantu di film horor malam Jumat?" tanya Siska spontan.

​Maya hanya tersenyum canggung mendengar komentar yang sangat jujur dari asisten cantik tersebut.

​Deni tidak menjawab dan terus menggandeng tangan Maya masuk ke ruangan utama tempat Clara berada.

​Clara sedang menelepon seseorang dengan raut wajah yang sangat tegang dan serius.

​Tapi begitu matanya melihat sosok gadis pucat di sebelah Deni, ponsel di tangannya langsung terjatuh ke meja.

​Brak.

​"Maya? Apakah itu benar-benar kamu Maya?" tanya Clara dengan suara bergetar menahan tangis.

​Clara berlari dari balik meja kerjanya dan langsung memeluk erat tubuh adik sepupunya itu.

​"Kak Clara, syukurlah Kakak baik-baik saja selama ini," isak Maya membalas pelukan hangat kakaknya.

​Deni menarik nafas panjang merasa bangga bisa menyatukan kembali keluarga yang terpisah ini.

​"Tuh kan Nona Clara, pelangganku kali ini bukan hantu tapi sepupu Nona sendiri," pamer Deni santai.

​Siska ikut berlari ke dalam ruangan dan menutup mulutnya karena terharu melihat pemandangan haru itu.

​Setelah puas menangis, Clara mengajak Maya duduk di sofa panjang dan memberinya segelas air hangat.

​"Ke mana saja kamu selama ini Maya? Paman Hendra bilang kamu hilang diculik saat kecelakaan itu," tanya Clara menghapus air matanya.

​Maya meminum air hangat itu lalu menaruh gelasnya di atas meja kaca dengan jemari yang gemetar.

​"Paman Hendra berbohong Kak, dialah yang mengirim orang untuk membunuhku saat aku dirawat di rumah sakit," jawab Maya marah.

​"Untung saja ada perawat baik hati yang membantuku kabur dan bersembunyi di rumah lama kita."

​Clara mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kuku jarinya memutih menahan amarah yang siap meledak.

​"Pria tua bangka itu benar-benar sudah gila harta sampai mau membunuh darah dagingnya sendiri," geram Clara.

​Maya merogoh saku gaun tidurnya dan mengeluarkan sebuah alat perekam suara berukuran kecil berwarna hitam.

​"Aku punya bukti rekaman saat Paman Hendra menyuruh mekanik merusak rem mobil ayahku Kak," kata Maya menyerahkan alat itu.

​Clara menerima alat perekam itu dengan mata berbinar penuh harapan besar.

​"Ini adalah bukti yang sangat kuat Maya, kita bisa menjebloskannya ke penjara seumur hidup dengan benda ini," ucap Clara semangat.

​Deni yang dari tadi diam menyimak langsung menepuk tangannya sekali dengan keras.

​Plak.

​"Bagus sekali Nona-nona sekalian, ayo kita ke kantor polisi sekarang biar urusannya cepat selesai," ajak Deni bersemangat.

​"Aku harus segera kembali mencari pelanggan lain karena misiku hari ini masih sangat panjang."

​Clara mengangguk setuju dan langsung memasukkan alat perekam itu ke dalam tas tangannya yang mahal.

​Tapi baru saja mereka berdiri dari sofa, pintu kaca ruangan itu didobrak dengan sangat kasar dari luar.

​Prang.

​Pintu kaca tebal itu hancur berkeping-keping dan pecahannya berserakan di lantai marmer ruangan CEO.

​Siska menjerit ketakutan dan langsung berlari bersembunyi di belakang punggung tegap Deni.

​Direktur Hendra melangkah masuk melangkahi pecahan kaca dengan senyum licik di wajah keriputnya.

​Di belakang pria tua itu puluhan pria bertubuh kekar berjas hitam masuk memenuhi ruangan luas tersebut.

​"Wah wah wah, lihat siapa yang sedang asyik reuni keluarga di sini," sapa Hendra bertepuk tangan pelan.

​Clara segera menarik Maya agar berlindung di belakangnya sementara Deni maju satu langkah ke depan.

​"Paman Hendra, apa maksud dari semua ini? Anda berani merusak properti perusahaan," bentak Clara penuh keberanian.

​Hendra tertawa sangat keras hingga perut buncitnya berguncang naik turun.

​"Aku tidak peduli soal properti Clara, karena sebentar lagi seluruh perusahaan ini akan jadi milikku sepenuhnya," jawab Hendra sombong.

​"Tadinya aku cuma mau membereskanmu, tapi kebetulan sekali si kecil Maya juga ada di sini."

​Mata tajam Hendra lalu beralih menatap pemuda berjaket oranye yang berdiri sangat santai di depannya.

​"Dan kau pasti kurir rendahan yang berani mengacaukan rencanaku di hotel tadi siang kan?" tunjuk Hendra meremehkan.

​Deni menguap lebar sambil mengorek telinganya yang gatal dengan jari kelingking kanannya.

​"Paman tua, kau ini suaranya terlalu berisik seperti knalpot motorku yang sudah lama belum diservis," ejek Deni tenang.

​"Lebih baik kau pergi dari sini sebelum aku membuangmu ke tong sampah di halaman bawah sana."

​Hendra menggeram marah mendengar hinaan langsung dari seorang pemuda berpakaian lusuh.

​"Habisi kurir sialan itu sekarang juga, lalu tangkap kedua wanita itu hidup-hidup!" perintah Hendra berteriak nyaring.

​Dua puluh pengawal elit berjas hitam langsung merangsek maju secara bersamaan mengepung tubuh Deni.

​Mereka mengeluarkan tongkat listrik yang mengeluarkan suara percikan api biru dari saku jas mereka.

​Bzzt bzzt.

​"Hati-hati Deni, mereka semua pakai senjata listrik!" teriak Clara panik dari arah belakang.

​Deni tidak mundur sejengkal pun dan hanya tersenyum tipis meremehkan mainan anak-anak di mata pendekar sepertinya.

​Tiga pengawal terdepan mengayunkan tongkat listriknya serentak ke arah kepala dan dada Deni.

​Wush.

​Deni menunduk cepat dan menyapu kaki ketiga pengawal itu dengan satu tendangan melingkar yang sangat bertenaga.

​Brak brak brak.

​Tiga pria bertubuh besar itu langsung jatuh terlentang menghantam lantai dengan suara sangat keras.

​Tanpa memberi ampun Deni melompat dan menginjak dada mereka satu per satu hingga ketiganya pingsan seketika.

​Pengawal lainnya sedikit ragu melihat kecepatan dan kekuatan tidak masuk akal dari kurir di depan mereka.

​"Tunggu apa lagi bodoh! Serang dia bersama-sama dari segala arah jangan kasih ampun!" bentak Hendra panik mundur ke arah pintu.

​Belasan pengawal kembali maju dan mencoba menusukkan tongkat listrik beraliran tinggi itu ke tubuh Deni.

​Deni menangkap salah satu pergelangan tangan pengawal dan memelintirnya hingga tongkatnya terlepas.

​Krak.

​"Argh tanganku patah!" jerit pengawal itu mundur sambil menangis kesakitan luar biasa.

​Deni menggunakan tongkat listrik yang baru saja dirampasnya itu untuk memukul balik para penyerangnya secara brutal.

​Bug bug bug.

​Setiap ayunan pukulan Deni sangat presisi mengenai titik kelemahan di leher dan perut para pengawal jas hitam.

​Dalam waktu kurang dari lima menit dua puluh pengawal elit itu sudah terkapar mengerang kesakitan di lantai marmer.

​Hendra membelalakkan matanya tidak percaya melihat pasukan terbaiknya hancur berantakan seperti sampah.

​Kedua kakinya gemetar hebat dan dia berusaha berbalik untuk melarikan diri ke arah lift secepat mungkin.

​Tapi sebelum Hendra sempat melangkah, Deni sudah melesat dan berdiri tepat menghalangi jalan keluarnya.

​"Mau ke mana Paman tua? Pesta kita kan baru saja dimulai," sapa Deni tersenyum mengerikan.

​Hendra langsung jatuh terduduk di lantai karena kakinya sudah tidak kuat lagi menopang tubuh gembulnya.

​"Tolong jangan bunuh aku, aku akan berikan berapapun uang yang kau minta kurir!" mohon Hendra menangis ketakutan.

​Deni mendecih kesal dan langsung mencengkeram kerah kemeja Hendra menariknya berdiri dengan paksa.

​"Uangmu itu tidak laku buat beli martabak di jalanan paman, kau harus bayar pakai ulasan bintang lima," ucap Deni asal bicara.

​Deni menyeret tubuh Hendra seperti membawa karung beras dan melemparnya tepat di depan kaki Clara.

​Bruk.

​"Ini hadiah tambahan buat Nona Clara, silakan diurus mau dibuang ke laut atau ke kantor polisi," kata Deni menepuk kedua tangannya agar bersih dari debu.

​Clara menatap paman tirinya yang sedang bersujud memohon ampun itu dengan tatapan yang sangat dingin.

​"Siska, cepat telepon polisi dan laporkan ada percobaan penculikan dan pembunuhan bersenjata di sini," perintah Clara tegas.

​"Siap Nona Clara, saya akan langsung hubungi komandan kepolisian pusat sekarang juga," jawab Siska berlari ke meja telepon.

​Maya berjalan perlahan mendekat dan menendang pelan kaki Hendra untuk meluapkan sedikit kekesalannya.

​"Ini balasan yang setimpal buat apa yang paman lakukan pada orang tuaku," ucap Maya tajam.

​Tidak lama kemudian suara sirene mobil polisi terdengar meraung-raung dari arah jalanan luar gedung.

​Ninu ninu ninu.

​Puluhan petugas polisi bersenjata lengkap masuk dan langsung memborgol Hendra beserta anak buahnya yang bergelimpangan di lantai.

​Komandan polisi memberi hormat pada Clara dan meminta maaf karena datang sedikit terlambat.

​"Terima kasih Nona Clara atas buktinya, dengan ini kami bisa langsung memproses Hendra ke pengadilan tingkat tinggi hari ini juga," ucap komandan itu.

​Clara mengangguk tersenyum dan mengantar para petugas polisi itu sampai ke pintu lift.

​Ruangan kerja yang tadinya rapi kini terlihat sangat berantakan dengan meja yang tergeser dan pecahan kaca di mana-mana.

​Deni duduk bersila di atas sofa sambil memakan sisa camilan biskuit yang ada di toples meja tamu.

​Clara berjalan menghampiri pemuda itu dan duduk di sebelahnya dengan tatapan yang sangat lembut.

​"Deni, aku tidak tahu harus bilang apa lagi selain terima kasih yang sebesar-besarnya untukmu," ucap Clara tulus.

​"Kamu sudah menyelamatkanku, menyelamatkan perusahaanku, dan juga menyelamatkan adikku hari ini."

​Deni mengunyah biskuit cokelatnya dengan santai lalu menelan remahannya perlahan.

​"Sama-sama Nona Clara, itu kan memang sudah tugas dari seorang pengawal pribadi yang digaji," jawab Deni polos.

​"Tapi jangan lupa lho Nona, ulasan bintang limanya harus segera diisi di aplikasi biar aku cepat naik level kekuatan."

​Clara tertawa lepas mendengar permintaan yang selalu konsisten dari mulut pemuda penyelamatnya itu.

​Dia mengambil ponselnya dan dengan cepat mengetikkan ulasan yang sangat panjang dan penuh dengan pujian.

​Ting.

​Suara notifikasi sistem berbunyi dengan sangat merdu membawa pesan kelulusan yang ditunggu-tunggu.

​[Sistem Raja Kurir Merespon Pelanggan Clara memberikan ulasan bintang lima terbaik atas perlindungan tanpa batas]

​[Progres Tuan rumah bertambah menjadi delapan dari seribu ulasan bintang lima]

​[Pemberitahuan Sistem Ancaman Direktur Hendra Telah Diselesaikan Dengan Sempurna]

​Deni tersenyum puas melihat layar transparan di kepalanya yang menampilkan angka delapan tersebut.

​Meskipun perjalanannya untuk membuka semua segel masih sangat panjang, tapi langkah awalnya di ibukota ini sungguh sangat menyenangkan.

​Malam harinya Clara sengaja menyewa satu ruangan di restoran mewah untuk merayakan kemenangan besar mereka.

​Deni, Clara, Maya, Siska, dan bahkan Rina si pemilik restoran ayam sengaja diundang dalam pesta perayaan kecil itu.

​Mereka makan malam bersama sambil tertawa bahagia melupakan semua ketegangan yang terjadi pada siang harinya.

​Deni menikmati setiap hidangan daging mewah yang ada dengan sangat lahap tanpa peduli harga.

​Sementara itu empat wanita cantik di sekelilingnya terus menatap wajah sang kurir dengan penuh rasa kagum dan bibit-bibit cinta yang mulai mekar.

​Cerita petualangan Deni sebagai kurir pribadi terkuat di kota ini baru saja menyelesaikan babak pertamanya dengan kenangan yang sangat manis.

1
Asmara Kacau
alur cerita nya bagus dan MC nya kocak
Asmara Kacau
kelazz ceritanya bagus dan mc nya deni sangat kocak orang nya 🤣🤣🤣 gass terus thor lanjutkan👊🏻
kiyoe: heheh pantengin terus kelanjutan cerita nya kak jangan lupa subscribe biar langsung muncul notif nya hehe 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!