Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 - Transparansi Variabel dan Aturan Baru
Bab 19 - Transparansi Variabel dan Aturan Baru
Malam semakin larut di dalam kamar utama penthouse Kuningan. Suasana di dalam kamar terasa sangat sunyi, hanya menyisakan suara deru halus AC yang sedari tadi menemani Sinta yang sedang duduk bersandar di headboard ranjang. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar.
Di tangannya, botol yogurt stroberi pemberian dr. Reza tadi siang sudah diletakkan begitu saja di atas nakas, bahkan belum sempat dia buka seujung jari pun.
Pikiran Sinta masih dipenuhi oleh bayangan sekretaris seksi suaminya yang bergelayutan manja di lengan kemeja abu-abu Dean. Dada Sinta terasa sesak oleh rasa cemburu dan curiga yang dia pendam rapat-rapat. Dia terlalu gengsi untuk menanyakannya secara langsung, takut jika bapak robot itu berpikir bahwa Sinta sudah mulai jatuh cinta padanya.
Cklek.
Suara gagang pintu yang bergerak pelan membuat Sinta menoleh refleks. Sosok tegap Dean Galang Wijaya melangkah masuk dengan gerakan yang luar biasa canggung. Pria kaku itu sudah berganti pakaian dengan piyama satin hitam andalannya. Wajah tampannya tetap lempeng bagai manekin toko pakaian, namun kedua daun telinganya tampak merona merah tipis—sebuah indikasi visual bahwa dia sedang mengalami perang batin yang hebat di dalam otaknya.
Dean tidak langsung menuju ke sisi ranjangnya. Dia berhenti tepat di tengah ruangan, berdiri tegak sempurna dengan tangan yang saling bertautan di depan tubuh, persis seperti seorang karyawan yang sedang menghadap dewan komisaris untuk melaporkan audit tahunan.
"Nona Sinta," panggil Dean. Suaranya berat, datar, namun ada sedikit nada parau yang tertangkap oleh indra pendengaran Sinta.
Sinta tidak menjawab. Dia hanya membuang muka ke arah jendela kaca besar, melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi yang sangat tidak bersahabat.
Dean mengembuskan napas pendek yang sangat samar, mencoba menstabilkan fokus sarafnya yang buyar sejak insiden penutupan pintu dengan energi kinetik tinggi di ruang tamu tadi.
"Berdasarkan analisis kausalitas yang saya lakukan selama empat puluh lima menit di ruang kerja, saya mendeteksi adanya anomali masif pada respons emosional kamu malam ini," ucap Dean lempeng tanpa saringan. "Secara hukum kalkulasi, sayalah pihak yang seharusnya memegang otoritas untuk meminta klarifikasi terkait dr. Reza. Namun, perilaku tidak bersahabat yang kamu tunjukkan justru mengindikasikan bahwa sayalah yang telah melakukan kesalahan prosedur dalam sistem domestik kita."
Dean maju dua langkah, mengikis jarak hingga berdiri tepat di samping ranjang. Mata hitamnya yang tajam menatap Sinta lurus-lurus dengan tatapan yang jujur dan dalam.
"Katakan dengan jujur, Nona Sinta. Apakah saya telah melakukan sebuah kesalahan?" tanya Dean langsung pada inti masalah, pelit kata namun menuntut kepastian.
Sinta akhirnya menoleh. Dia menatap wajah polos tanpa dosa milik suaminya dengan tatapan gemas bercampur kesal. "Kalau menurut Pak Dean sendiri bagaimana? Apa Pak Dean merasa tidak melakukan kesalahan apa pun hari ini di rumah sakit?" pancing Sinta ketus, membalikkan pertanyaan dengan taktik diplomasi wanita yang paling dibenci oleh sistem logika pria.
Dean mengerjap kaku sekali. Otak jeniusnya mendadak berputar kencang, melakukan penarikan data mundur terhadap seluruh aktivitasnya sejak pukul 07.00 pagi tadi, mencoba mencari tahu di koordinat mana dia telah melanggar regulasi kenyamanan istrinya.
[POV Dean]
Proses pelacakan data harian: Keberangkatan kantor tepat waktu. Rapat direksi berjalan dengan efisiensi seratus persen. Inspeksi bangsal rumah sakit mematuhi protokol medis. Satu-satunya interaksi non-korporat yang saya lakukan adalah memandangi Nona Sinta di koridor poli anak selama dua puluh delapan detik. Mengapa pertanyaan tersebut dibalikkan kepada saya? Mengapa ekspresi wajahnya masih berada di tingkat kemarahan pekat? Tebakan mandiri mengenai kesalahan domestik adalah hal yang sangat tidak efisien bagi otak saya yang terbiasa dengan angka pasti. Fluktuasi emosi wanita ini benar-benar tidak memiliki rumus algoritma yang tetap. Saya harus menghentikan permainan tebak data ini demi menjaga stabilitas kuota tidur kami berdua malam ini.
Dean berdeham pendek, melonggarkan sedikit kerah piyamanya yang tiba-tiba terasa mencekik akibat aura dingin yang dipancarkan Sinta.
"Saya tidak menemukan adanya error dalam log aktivitas saya hari ini," aku Dean lempeng, jujur tanpa rekayasa.
Dean kemudian melangkah mendekat, lalu duduk di tepi ranjang king size mereka, memosisikan tubuh kekarnya menghadap Sinta sepenuhnya. Tatapan matanya berubah menjadi sangat serius, mengunci sepasang mata cokelat istrinya.
"Nona Sinta, saya meminta agar kamu bersikap seperti diri saya," ucap Dean dengan nada berat andalannya yang datar namun sarat akan penekanan. "Jika ada hal yang membuat kamu merasa tidak nyaman, atau jika ada variabel tindakan saya yang memicu distorsi pada emosimu, mohon dibicarakan secara langsung. Jangan disembunyikan atau dienkripsi dengan sikap defensif seperti ini."
Sinta tertegun sekilas mendengar kalimat suaminya. Dia menatap Dean yang masih menantinya dengan wajah triplek proyeknya yang khas.
"Sistem rumah tangga kita membutuhkan transparansi data yang akurat agar masalah bisa diselesaikan dengan efisiensi tertinggi," lanjut Dean lagi, tidak memberi celah untuk Sinta memotong. "Memendam informasi negatif hanya akan menurunkan produktivitas hubungan kita dan memicu kerusakan sistem jangka panjang. Demi keberlangsungan rumah tangga kontrak ini, saya butuh laporan valid dari kamu sekarang. Apa yang salah dengan tindakan saya hari ini?"
Mendengar kuliah penertiban komunikasi dari si manusia kalkulator, Sinta mengembuskan napas panjang. Gengsinya perlahan terkikis oleh ketegasan kaku suaminya yang sebenarnya bertujuan baik demi mempertahankan keharmonisan koordinat ranjang mereka.
Sinta memperbaiki posisi duduknya, menatap Dean dengan berani. "Baik. Pak Dean mau transparansi data, kan? Kalau begitu, jawab jujur pertanyaan saya. Siapa wanita berpakaian ketat yang memegangi lengan baju Pak Dean di koridor rumah sakit siang tadi?!"
Mendengar pertanyaan spesifik mengenai sekretarisnya keluar dari mulut Sinta, gerakan tubuh Dean mendadak terkunci total. Pria kaku itu membeku di tepi kasur, sementara kedua daun telinganya dalam sekejap langsung berubah menjadi merah padam yang sangat pekat, menyadari bahwa anomali kemarahan istrinya malam ini ternyata bermuara pada folder data bernama: Anita.
Dean berdeham pelan sekali untuk menstabilkan kembali sistem logikanya yang sempat mengalami lag. Wajah tampannya kembali diatur se-lempeng mungkin bagai manekin toko pakaian.
"Objek wanita yang kamu maksud adalah Anita, sekretaris pribadi tunggal saya di divisi korporat," jawab Dean datar, mulai membeberkan fakta secara metodis. "Tindakan penempelan fisik yang dia lakukan di koridor siang tadi murni merupakan pelanggaran jarak sosial eksternal sebesar empat puluh persen dari standar operasional prosedur Wijaya Group."
Dean mencondongkan tubuh kekarnya sedikit lebih dekat ke arah Sinta, mengunci mata cokelat istrinya dengan tatapan hitamnya yang jujur tanpa rekayasa.
"Secara fungsional, saya sama sekali tidak memiliki interaksi di luar batas profesional dengan yang bersangkutan. Bahkan, performa Anita siang tadi mengindikasikan adanya eror berat pada sistem kerjanya. Pakaiannya kekurangan komponen kancing penting dan aroma parfum manisnya memiliki kadar keharuman yang terlalu menyengat," lanjut Dean lempeng tanpa saringan.
Sinta mengerjap kaku, mendadak kehilangan kata-kata mendengar suaminya justru mengaudit kekurangan baju sekretarisnya sendiri.
"Kadar keharuman tersebut memicu distorsi pada indra penciuman saya yang sudah terbiasa dengan wangi stroberi segar yang lembut milik kamu di penthouse," ucap Dean dengan wajah tanpa dosa yang teramat serius. "Dibandingkan dengan bentuk visual estetis kamu yang selalu terlihat menggemaskan meskipun hanya mengenakan piyama ini, penampilan sekretaris saya sama sekali tidak memicu peningkatan denyut jantung saya. Jadi, kecurigaan kamu mengenai adanya hubungan asimetris di antara kami adalah tidak valid secara data."
Deg!
Jantung Sinta rasanya langsung berhenti berdetak sekilas sebelum akhirnya berdisko dengan ritme yang jauh lebih ekstrem. Wajahnya yang semula ditekuk kesal dalam sekejap langsung memerah pekat seperti kepiting rebus yang matang sempurna. Kalimat "wangi stroberi lembut milik kamu" dan "terlihat menggemaskan" yang diucapkan dengan wajah se-lempeng papan triplek proyek benar-benar sukses meruntuhkan seluruh dinding pertahanan gengsi Sinta.
Dia langsung salah tingkah setengah mati, buru-buru menarik selimut tebalnya hingga sebatas hidung untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah terasa sangat panas.
"P-Pak Dean... stop! Siapa juga yang cemburu dan curiga!" cicit Sinta dari balik selimut, suaranya terdengar meredam karena gugup. "Saya... saya cuma memastikan reputasi rumah sakit keluarga saya tidak miring karena gosip, ya!"
"Diterima. Folder data mengenai Anita resmi ditutup dengan status bersih," sahut Dean datar.
Namun, bukannya kembali ke posisinya, Dean justru menggeser tubuh kekarnya satu milimeter lebih dekat ke arah gundukan selimut Sinta. Alis tebalnya kembali bertaut rapat, memancarkan aura ketegasan audit yang belum selesai.
"Sesuai asas timbal balik dalam transparansi data yang baru saja kita sepakati," ucap Dean berat, nadanya turun satu oktaf terdengar lebih mengintimidasi. "Kini giliran kamu untuk membuka enkripsi informasi mengenai dr. Reza."
Sinta yang berada di balik selimut langsung menegang kaku. Waduh, dia lupa kalau bapak robot ini tidak akan pernah merilis sebuah kasus jika neracanya belum seimbang!
Dean menatap botol yogurt stroberi yang masih tergeletak utuh di atas nakas dengan tatapan bermusuhan mutlak. "Parameter visual saya mencatat dr. Reza sengaja menyentuh koordinat ujung jari kamu siang tadi saat menyerahkan sediaan cairan nutrisi itu. Berdasarkan laporan historis di acara amal Hotel Mulia, pria berumur dua puluh lima tahun itu juga memiliki intensitas interaksi yang terlalu tinggi dengan kamu. Mengapa kamu menerima pemberian itu dengan ekspresi wajah merona pekat?"
Sinta perlahan menurunkan batas selimutnya hingga sebatas dagu, menatap Dean dengan tatapan tidak percaya. "Pak Dean, Dokter Reza itu dokter senior saya. Dia memberikan itu murni karena melihat saya lemas setelah berjam-jam dinas di bangsal anak. Dan soal wajah merah... itu karena saya canggung, Pak! Bukan karena hal lain!"
"Canggung?" ulang Dean lempeng, menganalisis kosakata tersebut. "Indikator canggung dalam algoritma berpikir saya biasanya dipicu oleh adanya ketertarikan interpersonal secara personal di masa lalu. Apakah dr. Reza adalah variabel masa lalu yang belum sepenuhnya kamu eliminasi dari sistem memori?"
Tembakan pertanyaan super telak dan kelewat jenius dari Dean sukses membuat Sinta membelalak sempurna. Gila, ini bapak robot intelijen atau apa sih?! Kok tebakannya bisa seakurat itu?! batin Sinta menjerit panik.
"N-nggak ada ya! Itu cuma masa lalu waktu kuliah pre-klinik dan sekarang saya sudah menguburnya dalam-dalam!" seru Sinta refleks keceplosan akibat terlalu terdesak oleh interogasi Dean. Begitu sadar kalimatnya mengonfirmasi kecurigaan Dean, Sinta langsung membekap mulutnya sendiri dengan wajah yang kembali matang sempurna karena malu.
Suasana kamar mendadak hening total selama tiga detik.
Mata hitam Dean berkilat tajam mendengar konfirmasi data tersebut. Ada letupan kejengkelan emosional yang kembali mencuat di dadanya, namun di saat yang sama, kalimat "sekarang saya sudah menguburnya dalam-dalam" memberikan efek penenang instan pada sarafnya.
"Baik. Konfirmasi data kamu mengenai status 'masa lalu yang sudah dikubur' saya terima sebagai pernyataan valid," ucap Dean akhirnya, rahang kokohnya yang semula mengeras perlahan mengendur lempeng kembali.
Pria kaku itu perlahan bergerak mundur, kembali ke koordinat posisinya sendiri di sisi ranjang bagian kanan. Dia berbaring telentang menatap langit-langit, lalu tangannya menyentuh panel kontrol di samping nakas. Seketika kamar utama itu tenggelam dalam kegelapan malam yang sunyi.
"Namun, berdasarkan potensi ancaman interaksi siang tadi, folder dr. Reza resmi saya masukkan ke dalam kategori Status Siaga 2," ucap Dean berat di tengah kegelapan malam, suaranya terdengar sangat saklek dan tidak menerima bantahan.
Sinta yang baru mau memejamkan mata langsung mengerjap bingung di balik kegelapan. "Status Siaga 2?"
"Betul. Mulai besok pagi, kamu diwajibkan menerapkan regulasi pembatasan sosial baru," perintah Dean lempeng tanpa dosa. "Pertama, jaga radius jarak fisik minimal satu koma lima meter dari dr. Reza atau subjek pria mana pun di luar kepentingan medis darurat. Kedua, kamu dilarang keras menampilkan ekspresi visual berupa senyuman manis nan teduh kepada dr. Reza, ataupun pria lain selain saya. Tindakan tersebut tidak efisien dan berpotensi memicu kesalahpahaman sistem operasional domestik kita."
Sinta menahan napas, lalu sedetik kemudian dia harus menggigit ujung bantalnya kuat-kuat agar tawa hebohnya tidak meledak di tengah malam. Ya Tuhan, bapak robot ini benar-benar tidak waras! Cemburunya sampai membuat aturan dilarang tersenyum pada pria lain!
"Dan satu hal lagi," tambah Dean, suaranya kembali datar. "Besok cairan yogurt stroberi itu tidak boleh dikonsumsi. Saya akan meminta kepala pelayan menggantinya dengan sediaan stroberi segar yang memiliki kandungan nutrisi jauh lebih higienis. Selamat tidur, Nona Sinta."
...Kamar itu kembali hening, namun di dalam dada Sinta, ada letupan-letupan manis yang tak terbendung. Rasa kesalnya pada Anita menguap total, digantikan oleh rasa gemas luar biasa pada suaminya yang sekaku kanebo kering namun bisa se-posesif ini jika statusnya sudah diturunkan ke Siaga 2....