Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31 - Permintaan Melati
Sore itu Melati datang membawa buah.
Dua kantong plastik diletakkan di meja makan Ratna. Isinya apel, jeruk, dan anggur merah yang masih dingin dari minimarket. Buah-buah itu terlalu rapi untuk kunjungan biasa.
Ratna melihat kantong itu lebih dulu daripada wajah anaknya.
"Tumben," katanya.
Melati tersenyum. Senyumnya manis, tetapi matanya sibuk menilai ruang tamu. Sofa baru, gorden yang belum selesai dijahit, kipas angin berdiri, rak kecil di sudut. Rumah sewa Ratna tidak besar, namun bersih dan terang. Bagi Melati, rumah itu langsung berubah menjadi angka.
"Rumah Ibu nyaman juga," ucapnya.
"Cukup."
"Cukup? Bu, ini lokasinya bagus. Dekat jalan besar. Kalau nanti dibeli, nilainya naik."
Ratna menuang air putih. Tangannya berhenti sebentar di depan dispenser.
"Ini bukan untuk dijual."
Melati duduk di sofa. Ia mengusap kain sofa dengan ujung jari. Gerakannya tampak ringan, tetapi Ratna mengenal anaknya. Melati selalu menyentuh barang sebelum menanyakan harganya.
"Pak Arman punya selera bagus."
"Sofa itu kubeli sendiri."
Melati tertawa kecil. "Aku cuma bilang, sejak dekat Pak Arman, hidup Ibu kelihatan lebih rapi."
Ratna meletakkan gelas di depannya.
"Minum dulu. Setelah itu katakan tujuanmu."
Senyum Melati hilang sedikit. Ia menunduk, membuka tas, lalu menutupnya kembali. Ponselnya menyala. Nama Rizal muncul sekilas di layar sebelum ia membaliknya.
Ratna melihat semua itu.
Melati akhirnya bicara tentang kontrakan yang sempit, mertua yang sering datang tanpa kabar, Rizal yang jauh dari tempat kerja, dan rencana pindah ke kota. Ia tidak langsung menyebut uang. Ia membungkus semuanya dengan kata "masa depan", "keluarga", dan "nanti kalau punya anak".
Ratna mendengar sampai selesai.
Di luar pagar, suara tukang sayur lewat. Bu Rini memanggil dari jauh, lalu suaranya berhenti terlalu lama. Pasti ia melihat Melati masuk dan menebak sesuatu.
"Kalian belum punya anak," kata Ratna.
"Justru harus disiapkan dari sekarang."
"Dengan uang siapa?"
Melati menegang.
Pertanyaan itu memotong jalan memutar yang sudah ia siapkan.
"Bu, aku tidak minta banyak. Apartemen kecil saja. Atau bantu uang muka rumah subsidi. Bukan untuk foya-foya. Kami juga akan cicil sendiri."
Ratna menatap anaknya. Di wajah Melati, ia masih melihat anak kecil yang dulu menangis karena ingin sepatu putih untuk upacara. Tetapi suara di depannya sudah suara perempuan dewasa yang tahu cara memakai rasa bersalah ibunya.
"Minta ke Rizal."
"Mas Rizal sedang banyak cicilan."
"Kamu dan Rizal yang menikah. Kalian yang membuat cicilan itu."
Wajah Melati memerah. "Ibu sekarang bisa bicara begitu karena ada yang menanggung."
Ratna tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelasnya, minum sedikit, lalu meletakkannya kembali.
"Tidak ada yang menanggungku."
"Semua orang tahu Pak Arman membantu Ibu. Mobilnya datang. Orang kantornya datang. Rumah ini juga pasti karena dia. Kalau Ibu minta, dia pasti mau membantu anak Ibu."
Kalimat itu keluar cepat. Terlalu cepat untuk disebut tidak sengaja.
Ratna memandang buah di meja. Buah itu bukan hadiah. Buah itu uang muka pembicaraan.
"Pak Arman bukan keluarga Rizal."
"Tapi Ibu ibuku."
"Karena aku ibumu, aku tidak boleh dijadikan jalan untuk meminta kepada laki-laki lain."
Melati terdiam. Air matanya mulai berkaca, tetapi Ratna tidak tahu bagian mana yang benar-benar sedih dan bagian mana yang sudah biasa dipakai untuk melunakkan suasana.
"Aku malu, Bu," kata Melati akhirnya. Suaranya lebih pelan. "Keluarga Rizal tahu Ibu dekat dengan orang kaya. Mereka tanya kenapa aku masih tinggal di kontrakan. Mereka bilang, masa ibumu hidup enak sendiri."
Ratna merasakan sesuatu yang dingin turun di dadanya.
Dulu, ketika Melati kecil dan sakit, Ratna membawa anak itu ke IGD dengan motor tua, hujan-hujanan, tanpa menunggu Bambang pulang. Dulu malu Melati adalah malu Ratna. Luka Melati adalah luka Ratna. Namun sekarang, malu itu datang dari mertua, dari cicilan, dari gengsi rumah tangga yang bukan ia bangun.
"Mertuamu yang bertanya, atau kamu yang berharap?" tanya Ratna.
Melati mengangkat wajah. Matanya merah.
"Apa salahnya berharap kepada ibu sendiri?"
"Berharap tidak salah. Mengukur ibumu dari laki-laki yang mendekatinya, itu yang salah."
Ruangan mendadak sunyi.
Melati berdiri. "Ibu berubah."
"Iya."
Jawaban itu membuat Melati tampak lebih terpukul daripada jika Ratna membantah.
"Sejak kenal Pak Arman?"
"Sejak aku melihat anak-anakku lebih cepat menghitung daripada bertanya apakah ibunya terluka."
Melati memegang tasnya. Ia seperti ingin membalas, tetapi kalimat itu tersangkut. Di luar, Bu Rini lewat membawa daun singkong. Ia berhenti di pagar, melihat suasana, lalu pura-pura menata plastik belanja.
Ratna tidak memanggilnya.
Melati berjalan ke pintu. Tangannya sudah di gagang pintu ketika ia berhenti.
"Kalau suatu hari aku benar-benar susah, apa Ibu juga akan menolak?"
"Kalau kamu susah, aku bantu. Kalau kamu serakah, aku hentikan."
Punggung Melati kaku.
"Ibu pikir aku serakah?"
"Aku pikir kamu sedang dikelilingi orang yang membuatmu lupa membedakan butuh dan ingin."
Melati keluar tanpa pamit.
Di teras, ia tidak langsung pergi. Ratna melihat bayangannya dari balik gorden. Melati mengetik cepat di ponsel. Mungkin kepada Rizal. Mungkin kepada Dimas. Mungkin kepada siapa pun yang bisa membuatnya merasa tidak salah.
Ratna tetap duduk.
Buah-buah di meja masih basah oleh embun dingin. Satu tetes air turun dari plastik ke permukaan meja, meninggalkan lingkaran kecil.
Ponsel Ratna bergetar.
Arman: Ibu sudah makan?
Ratna menatap pesan itu lama.
Ia mengetik, lalu menghapus. Mengetik lagi.
Ratna: Anak saya datang meminta apartemen.
Balasan Arman tidak langsung datang. Ketika muncul, kalimatnya pendek.
Arman: Saya minta maaf kalau kehadiran saya membuat Ibu ditekan.
Ratna membaca kalimat itu dua kali.
Ratna: Bukan Bapak yang menekan. Mereka hanya menemukan alasan baru.
Malam itu Ratna memotong satu apel dari kantong Melati. Rasanya masam.
Ia mengunyah pelan, sambil menyadari bahwa kasih sayang juga bisa kedaluwarsa jika terlalu lama dicampur hitung-hitungan.
Di luar, suara motor ojek berhenti sebentar lalu pergi. Ratna membuka gorden sedikit. Melati sudah tidak ada.
Namun bekas kehadirannya masih tertinggal di meja, di buah-buah yang terlalu mahal untuk sekadar kunjungan, di gelas air yang tidak disentuh, di ruang tamu yang mendadak terasa seperti tempat tawar-menawar.
Ratna membersihkan meja perlahan.
Ia tidak marah seperti ketika Sari datang menghina. Luka dari anak sendiri tidak meledak. Luka itu masuk pelan, mencari tempat paling lunak, lalu tinggal di sana.
Ponselnya kembali menyala.
Raka: Bu, Melati ke rumah Mas Dimas. Aku baru dikabari Yuni.
Ratna membaca pesan itu.
Ia sudah menebak Melati tidak akan pulang tanpa mencari orang yang membenarkannya.
Ratna: Biarkan.
Raka: Ibu baik-baik saja?
Ratna menatap apel yang sudah menguning.
Ratna: Tidak terlalu. Tapi cukup.
Setelah mengirim pesan itu, ia mematikan lampu ruang makan.
Rumah kecil itu menjadi sunyi.
Untuk pertama kalinya, Ratna tidak bergegas mengejar anaknya agar tidak salah paham.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan