NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Asap, Api, dan Gerbang Menuju Surga

Hujan lebat masih mengguyur Loguetown, membasuh jalanan berbatu dengan aliran air yang dingin. Distrik barat kota ini berbanding terbalik dengan kemegahan alun-alun utama. Di sini, lampu-lampu jalan banyak yang mati, dinding bata dipenuhi lumut dan grafiti kotor, serta aroma anyir ikan busuk berpadu dengan bau alkohol murahan menguar dari bar-bar bawah tanah.

​Sesuai informasi yang mereka dapatkan, Roy Mustang melangkah dengan tenang memasuki Gang Nomor 4, diikuti oleh Muzan Kibutsi yang menyembunyikan wajah dan perawakannya di balik jubah hitam tebal, terus memainkan peran sebagai pelayan bisu.

​Ujung gang itu buntu, hanya dihalangi oleh sebuah pintu kayu tebal berlapis besi karatan. Dua orang penjaga bertubuh kekar dengan tato menjalar di leher mereka berdiri menyilangkan lengan. Mata mereka menatap sinis ke arah seragam militer biru milik Mustang.

​"Tersesat, Tuan Perwira?" ejek salah satu penjaga, tangannya meraba gagang pistol flintlock di pinggangnya. "Ini bukan tempat untuk anjing Angkatan Laut."

​Mustang tidak berhenti melangkah. Ia hanya tersenyum tipis, merogoh saku dalam mantelnya, dan mengeluarkan sekeping koin emas murni, lalu melemparkannya dengan santai. Koin itu melayang di udara dan ditangkap dengan refleks oleh penjaga tersebut.

​"Aku mencari Old Jack," ucap Mustang dengan nada datar yang memancarkan otoritas. "Beri tahu dia, ada pelanggan yang tidak suka menunggu di tengah hujan."

​Penjaga itu menggigit koin emas tersebut untuk menguji keasliannya. Matanya membelalak. Tanpa banyak bicara, ia membuka kunci ganda pada pintu besi di belakangnya. "Masuklah. Jangan membuat keributan di dalam."

​Mustang dan Muzan melangkah masuk. Ruangan di balik pintu itu pengap, dipenuhi asap cerutu yang tebal dan bau mesiu. Beberapa pria berwajah kasar duduk mengelilingi meja judi, sementara di sudut ruangan yang diterangi lampu minyak redup, seorang pria tua kurus dengan penutup mata dan janggut kelabu sedang mengutak-atik sebuah senapan laras panjang.

​Itu pasti Old Jack.

​Mustang berjalan menghampiri meja pria tua itu. "Aku butuh sebuah Log Pose, dan peta arus laut terbaru menuju Reverse Mountain."

​Old Jack tidak mendongak. Ia terus menggosok laras senapannya dengan kain berminyak. "Log Pose adalah barang ilegal di pulau ini berkat Kapten Smoker sialan itu. Risikonya besar. Harganya sepuluh juta Belly. Tunai."

​Di balik tudungnya, Muzan mendengus pelan. Sepuluh juta Belly untuk sebuah kompas kaca? Harga pasar normal untuk Log Pose paling mahal hanya berkisar puluhan ribu hingga seratus ribu Belly. Pria tua ini mencoba memeras mereka karena melihat seragam rapi Mustang.

​Mustang tertawa pelan. Tawa yang sangat arogan. "Sepuluh juta Belly? Kau pasti salah mengira aku sebagai bangsawan bodoh yang tidak tahu harga pasar, Pak Tua."

​Old Jack akhirnya mendongak. Mata satu-satunya menatap Mustang dengan tajam. Ia meletakkan senapannya ke atas meja dengan bunyi bantingan keras. Seketika, belasan preman di dalam ruangan itu menghentikan permainan judi mereka. Suara kokangan pistol dan pedang yang dicabut dari sarungnya menggema di ruangan sempit tersebut. Mereka mengepung Mustang dan Muzan.

​"Di tempat ini, akulah yang menentukan harga, Nak," geram Old Jack, menyeringai memperlihatkan giginya yang kuning. "Kau bayar sepuluh juta, atau kami akan mengambil semua barang berhargamu, melucuti seragam mewahmu, dan membuang mayat kalian ke laut."

​Mustang bahkan tidak menoleh melihat para preman yang menodongkan senjata ke arahnya. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, memperlihatkan sarung tangan kain putih dengan sulaman lingkaran transmutasi merah.

​"Biar kutebak," ucap Mustang tenang, menghela napas panjang seolah ia sedang menghadapi anak-anak nakal. "Kalian selalu menggunakan taktik ini pada pendatang baru, dan biasanya berhasil karena mereka ketakutan. Sayangnya, kalian memilih target yang salah malam ini."

​"Banyak omong! Tembak kepalanya!" teriak Old Jack.

​SNAP!

​Sebelum satupun dari pelatuk pistol itu ditarik, Mustang menjentikkan jarinya.

​Muzan, melalui ikatan telepati pasif, telah memberikan kalkulasi yang sempurna. Mustang tidak meledakkan oksigen dalam skala besar yang akan menghancurkan bangunan ini beserta Log Pose yang mereka butuhkan. Ia memanipulasi kelembapan dan kepadatan oksigen tepat di moncong belasan pistol dan pedang yang diarahkan kepadanya.

​Percikan api menyambar.

​BAM! BAM! BAM! BAM!

​Rentetan ledakan kecil sebesar petasan meledak secara serentak, tepat di tangan para preman tersebut. Bukan ledakan mematikan, melainkan ledakan kinetik (concussive) yang memecahkan laras senapan dan membuat gagang pedang mereka memanas ekstrem.

​"AARRGHH!" Belasan preman menjerit, menjatuhkan senjata mereka yang kini berasap dan melukai tangan mereka.

​Old Jack terbelalak. Ia mencoba meraih senapan laras panjangnya di atas meja, namun tangan Mustang melesat lebih cepat, mencengkeram kerah baju pria tua itu dan mengangkatnya hingga kakinya tidak menyentuh lantai.

​Ujung ibu jari Mustang, yang memancarkan percikan api kecil, diletakkan hanya satu sentimeter dari bola mata Old Jack yang tersisa.

​"Kita ulangi negosiasinya," bisik Mustang dengan senyum iblis. "Satu Log Pose dan peta Reverse Mountain. Aku akan memberimu lima ratus ribu Belly untuk usahamu menyimpannya. Kesepakatan yang adil, bukan?"

​"B-Baik! Baik! Ambil semuanya!" teriak Old Jack ketakutan, keringat dingin membanjiri wajahnya yang keriput. Pria berseragam ini adalah monster.

​Beberapa menit kemudian, Mustang dan Muzan melangkah keluar dari gang tersebut. Di tangan Muzan, terdapat sebuah kotak kayu kecil berisi Log Pose—kompas berbentuk bola kaca dengan jarum yang melayang di tengahnya—dan sebuah tabung berisi gulungan peta navigasi.

​"Urusan logistik selesai," ucap Mustang santai, menepuk kerah bajunya. "Sekarang, kita kembali ke kapal dan menyeberang."

​Namun, baru sepuluh langkah mereka keluar dari area pasar gelap menuju jalan utama yang lebih lebar, udara di depan mereka tiba-tiba berubah menjadi sangat tebal.

​Hujan tidak bisa menembus jalanan di depan mereka. Sebaliknya, kabut putih yang sangat pekat dan berbau tembakau mulai berkumpul, berputar layaknya pusaran angin yang solid. Kabut itu memadat, membentuk sosok seorang pria bertubuh tinggi besar, mengenakan jaket Angkatan Laut tebal yang dibiarkan terbuka, memperlihatkan dadanya yang berotot. Dua batang cerutu menyala secara bersamaan di mulutnya, menghasilkan kepulan asap putih yang terus-menerus menguar.

​Di bahu kanannya, bertengger sebuah jutte (pentungan besi bercabang) berukuran besar dengan ujung yang terbuat dari Batu Laut (Seastone).

​Kapten Smoker. Si Pemburu Putih.

​"Kau membuat keributan di wilayahku, bajingan," geram Smoker, suaranya berat dan serak karena asap. Matanya yang tajam dan tak kenal ampun menatap Mustang. "Tadi aku mendapat laporan tentang pria berseragam militer asing yang berkeliaran mencari pasar gelap. Sekarang aku menemukan belasan preman dengan tangan melepuh di dalam sana. Siapa kau?"

​Mustang berhenti melangkah. Ekspresinya mengeras. "Hanya seorang pejalan kaki yang tidak suka ditipu oleh pedagang lokal. Kau pasti Smoker. Kudengar kau mengklaim kota ini bersih dari bajak laut. Melihat kondisi pasar gelap di gang tadi, kurasa klaimmu terlalu berlebihan."

​Smoker mendengus kasar. Asap tebal keluar dari hidung dan mulutnya. "Jangan mengajariku cara mengurus kotaku. Bajak laut, pemburu bayaran, atau militer asing—siapapun yang melanggar hukum di Loguetown tidak akan pernah bisa meninggalkan pulau ini."

​Tubuh bagian bawah Smoker tiba-tiba berubah menjadi asap putih tebal.

​"White Out!"

​Smoker melesat maju dengan kecepatan luar biasa, terbang di atas permukaan jalan yang basah. Lengan kanannya berubah menjadi kepulan asap raksasa yang melesat untuk mencengkeram leher Mustang.

​Muzan, yang berdiri di belakang Mustang, segera melompat mundur dengan kecepatan fisiknya yang setara teknik Soru, mengambil jarak aman.

​Smoker adalah pengguna Logia, analisis Muzan dengan otak supernya. Mustang belum mempelajari Haki Persenjataan (Busoshoku Haki). Serangan fisik dan api tidak akan bisa melukai wujud asap Smoker. Mengalahkannya saat ini adalah hal yang sia-sia dan hanya membuang waktu. Kita hanya perlu menghentikan gerakannya dan melarikan diri.

​"Mustang! Jangan gunakan ledakan mematikan! Mainkan tekanan udaranya!" perintah Muzan melalui telepati.

​Mustang menyeringai. Ia tidak menghindar dari kepulan asap lengan Smoker yang mendekat. Sebaliknya, ia melangkah maju dan menjentikkan jarinya ke arah lantai batu di bawah kaki Smoker.

​SNAP!

​BOM!

​Sebuah ledakan termobarik terjadi. Namun, sasarannya bukan tubuh Smoker, melainkan udara di sekitar sang Kapten Angkatan Laut. Ledakan api itu seketika memakan seluruh molekul oksigen di radius lima meter.

​Udara yang tiba-tiba menjadi hampa itu menciptakan daya hisap yang luar biasa. Lengan asap Smoker yang sedang memanjang ke depan tiba-tiba tersedot ke arah pusat ledakan, mendistorsi bentuknya dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Terlebih lagi, hilangnya oksigen sesaat membuat api pada ujung dua cerutu Smoker padam total.

​"Apa?!" Smoker terbelalak, memaksa tubuhnya kembali ke wujud padat dan melompat mundur sambil terbatuk karena kehilangan oksigen secara tiba-tiba. "Kekuatan apa itu?! Buah Iblis tipe api?!"

​Mustang tidak memberinya waktu untuk berpikir. Ia menjentikkan jarinya bertubi-tubi.

​SNAP! SNAP! SNAP!

​Rentetan ledakan api menghantam jalanan di depan Smoker, menghancurkan bebatuan dan menciptakan tirai asap hitam serta api yang membumbung tinggi, memblokir pandangan sang Kapten. Hujan lebat tidak mampu memadamkan api alkimia yang dipicu oleh manipulasi oksigen murni.

​"Mundur," perintah Muzan singkat.

​Mustang berbalik, dan dengan kecepatan penuh, kedua anggota faksi Erebus itu berlari menghilang ke dalam labirin gang Loguetown, menuju dok raksasa tempat kapal Tartarus berada.

​Ketika Smoker berhasil membubarkan dinding api itu dengan ayunan jutte-nya dan menyapu asap dengan kekuatannya, jalanan sudah kosong. Hanya hujan yang tersisa.

​Smoker menggertakkan giginya dengan marah, membuang dua cerutunya yang sudah mati dan mengambil dua batang yang baru dari sakunya.

​"Pria berseragam itu... Dia tidak menggunakan serangan untuk membunuhku. Dia tahu aku pengguna Logia. Dia hanya memanipulasi udara untuk menetralkan asapku," gumam Smoker, menyalakan cerutunya dengan geretan. "Siapa sebenarnya mereka? Beritahu pusat... ada kekuatan misterius yang baru saja lepas dari jaring kita menuju Grand Line."

​Di dalam dok penyewaan rahasia, Muzan dan Mustang melompat naik ke atas geladak kapal hitam kelam, Tartarus.

​"Itu pertemuan yang merepotkan," ucap Mustang santai, membersihkan cipratan air hujan dari seragamnya.

​"Dia adalah pengguna Logia. Tanpa Busoshoku Haki, kau tidak bisa menyentuh tubuh aslinya," balas Muzan seraya meletakkan Log Pose ke dalam panel kemudi ruang kapten. "Tapi taktikmu cukup bagus untuk membuat kita lolos."

​Muzan meletakkan tangannya di atas bola kristal kemudi otomatis kapal Shadow-Wood tersebut. Kesadarannya terhubung langsung dengan sistem hidrolik dan layar kapal.

​"Buka gerbang dok. Bentangkan layar. Tujuan kita: Reverse Mountain," perintah Muzan dalam hatinya.

​Atap dok berderit terbuka perlahan. Layar hitam legam Tartarus turun dengan sendirinya, menangkap angin badai yang sedang mengamuk di luar. Kapal galleon itu melesat keluar dari dok rahasia, membelah ombak Laut Timur yang mengganas dengan stabilitas yang tidak masuk akal. Tidak ada guncangan berarti di atas dek, seolah-olah kapal ini mengabaikan hukum fisika badai.

​Mereka telah meninggalkan Loguetown. Hujan badai menemani perjalanan mereka melintasi perairan berbahaya menuju tembok benua yang memisahkan keempat lautan.

​Beberapa jam kemudian, suara gemuruh ombak yang menabrak sesuatu yang teramat masif mulai terdengar. Langit dipenuhi awan hitam yang berputar. Di depan mereka, menjulang sebuah dinding batu karang berwarna merah bata yang menembus hingga ke awan, seolah menyentuh langit itu sendiri.

​Red Line. Benua raksasa yang melingkari dunia.

​Di bagian bawah benua raksasa itu, terdapat sebuah ngarai sempit di mana air laut dari East Blue tidak mengalir ke bawah, melainkan melawan gravitasi—mendaki gunung dengan kecepatan yang mengerikan, menciptakan arus putih yang berbuih dan mengaum layaknya naga air.

​Reverse Mountain. Pintu gerbang utama menuju Grand Line.

​Mustang berdiri di haluan kapal, matanya yang terbiasa melihat pertempuran perang darat, sedikit melebar melihat fenomena alam yang mustahil ini. "Air yang mendaki gunung. Dunia ini benar-benar tidak mengikuti aturan logika manapun."

​"Pegang pegangan yang kuat, Mustang," ucap Muzan dari ruang kemudi, wajahnya diterangi oleh kilatan petir dari langit. "Kapal ini mungkin memiliki pelindung, tapi momentum naiknya tidak bisa diremehkan."

​Muzan mengendalikan Tartarus agar posisinya tepat berada di tengah arus masuk. Sekali lagi, otaknya yang memproses informasi dengan kecepatan super memungkinkannya mengkalkulasi sudut kemiringan ombak, arah angin, dan arus pusaran dengan presisi milimeter.

​Kapal hitam itu terdorong ke depan.

​WHOOOOOOSH!

​Dalam sekejap, Tartarus tersedot ke dalam arus mendaki. Haluan kapal terangkat hampir sembilan puluh derajat. Namun, alih-alih terbalik, kapal kayu bayangan itu meluncur ke atas lereng air terjun terbalik dengan mulus, membelah buih putih yang mengaum.

​Mereka melesat naik, menembus awan tebal, hingga akhirnya mencapai puncak gunung. Di sana, empat arus dari empat lautan berbeda (East, West, North, South Blue) bertemu dalam satu pusaran raksasa, sebelum akhirnya bergabung dan jatuh ke bawah, menuju satu-satunya jalan keluar: Grand Line.

​"Turun!" Muzan mengendalikan kemudi.

​Kapal itu menukik tajam, meluncur turun mengikuti air terjun raksasa yang mengarah ke lautan yang tersembunyi di balik Red Line. Angin bertiup sangat kencang hingga nyaris memekakkan telinga.

​Di ujung bawah air terjun, sebuah laut yang jauh lebih gelap, lebih liar, dan lebih misterius telah menanti. Namun, sebelum mereka mencapai dasar perairan, sebuah bayangan bundar yang luar biasa raksasa menutupi seluruh jalur keluar.

​Itu bukanlah pulau. Itu adalah sebuah kepala. Kepala dengan bekas-bekas luka raksasa yang membentang di kulitnya yang hitam.

​Paus Pulau, Laboon.

​Monster itu mengaum, suaranya menggetarkan udara dan membuat gendang telinga terasa mau pecah. Ia menghalangi jalan masuk sepenuhnya.

​"Tuan, ada makhluk raksasa memblokir jalur!" lapor Mustang, tangannya bersiap untuk meledakkan oksigen, meski ia ragu apinya bisa melukai sesuatu sebesar gunung.

​"Jangan menyerang!" Muzan segera membanting kemudi ke kiri dengan kekuatan fisiknya yang mencapai 100 poin, memaksa roda kemudi berputar maksimal.

​Kapal Tartarus berbelok tajam di detik-detik terakhir, menghindari tabrakan frontal dengan tubuh Laboon, meluncur mulus melewati celah sempit antara kulit paus itu dan tebing karang Tanjung Kembar (Cape Twin).

​Mereka mendarat di perairan Grand Line dengan suara deburan ombak yang megah. Air memercik ke udara.

​Muzan menghela napas panjang, melepaskan pegangannya dari kemudi. Mereka berhasil. Mereka telah resmi memasuki paruh pertama Grand Line, yang dikenal sebagai 'Surga'.

​Tepat saat kapal Tartarus menstabilkan posisinya di perairan yang tenang di dekat mercusuar Tanjung Kembar, sebuah panel notifikasi merah terang dari sistem meledak di depan pandangan Muzan, menutupi sebagian besar pandangannya.

​«"DING! MAIN QUEST SAGA BARU TERPICU!"»

«"SAGA: [BAYANGAN DI ATAS PASIR BERAACUN (Shadow over the Poisonous Sand)]"»

«"Detail: Organisasi rahasia Baroque Works, yang dipimpin oleh seorang Shichibukai (Sir Crocodile), sedang mengincar kejatuhan Kerajaan Alabasta. Saat ini, dua agen perbatasan mereka sedang berada di dekat Anda."»

«"Tujuan Utama: Intervensi rencana Baroque Works. Rebut kekuasaan dan jaringan operasi mereka, atau hancurkan Crocodile sebelum kelompok Topi Jerami menyelesaikan tugasnya."»

«"Hadiah Penyelesaian Saga: 200.000 Belly, 2x Tiket Gacha Karakter Legenda (Tier Emas), dan Pembukaan Sistem [Kastil Faksi / Base of Operations]."»

​Mata Muzan Kibutsi membelalak membaca hadiah tersebut. Dua tiket Emas dan sebuah markas resmi!

​Ia menoleh ke arah laut. Tak jauh dari kapal mereka, terapung-apung sebuah perahu kecil yang hancur. Di atas puing-puing kayu itu, terlihat dua sosok manusia yang basah kuyup dan kelelahan. Seorang pria dengan ukiran angka sembilan di pipinya, dan seorang gadis cantik berambut biru laut yang mengikat rambutnya ke belakang.

​Mr. 9 dan Miss Wednesday (Putri Nefertari Vivi). Mereka adalah agen pembuka jalan menuju alur Alabasta, yang saat ini sedang berusaha membunuh Laboon untuk diambil dagingnya, namun gagal dan perahu mereka hancur.

​Muzan tersenyum dingin. Sang Dalang tidak membuang waktu sedetik pun.

​"Mustang," perintah Muzan, menunjuk ke arah puing-puing perahu tempat Vivi dan Mr. 9 mengapung. "Tarik kedua tikus basah itu ke kapal kita. Sepertinya kita baru saja menemukan tiket VIP menuju salah satu panggung terbesar di Grand Line."

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!