Aurelia Halim baru berusia 19 tahun ketika dunianya hancur berkeping-keping.
Mahasiswi sejarah seni yang ceria itu tidak pernah menyangka bahwa Om Hongwen—paman yang membesarkannya sejak kecil, yang membayar uang kuliahnya, yang selalu tersenyum di meja makan keluarga—adalah orang yang menjualnya ke Segitiga Emas.
Dengan harga 700 ribu yuan.
Di balik jeruji besi, di antara tangisan gadis-gadis yang bernasib sama, Aurelia hanya punya satu tekad: *bertahan hidup*.
Lalu **dia** datang.
Renard Kwee.
Sang Serigala Hitam.
Pemimpin tertinggi organisasi Black Wolf—pria paling berkuasa dan paling ditakuti di seluruh Asia Tenggara. Matanya sedingin es. Perintahnya adalah hukum. Dan ketika semua orang berlutut di hadapannya, dia hanya mengucapkan empat kata:
*"Gadis ini—aku ambil."*
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Tidak ada daftar yang ditempel di dinding. Tidak ada aturan yang dibacakan keras-keras. Namun **Sepuluh Larangan** Sang Serigala mengikat setiap napas, setiap langkah, setiap pilihan Aurelia—dan dia hanya tahu di mana batasnya setelah melewatinya. Jangan hubungi siapa pun. Jangan keluar tanpa izin. Jangan pernah menangis di hadapannya. Melanggar satu saja? Selalu ada harga yang harus dibayar.
Aurelia bukan kekasihnya.
Aurelia bukan tawanannya.
Aurelia adalah **miliknya**.
Tapi di balik tembok es Sang Serigala, ada retakan yang tak seorang pun boleh tahu.
Diam-diam, Renard menyelamatkan kedua orang tua Aurelia. Meruntuhkan sebuah bangunan hanya karena tempat itu membuat gadis itu tidak nyaman. Memotong sinyal satelit hanya karena Aurelia memuji aktor tampan di televisi. Dan di depan cermin kamar mandi yang sunyi, pria paling berbahaya di Segitiga Emas berbisik pada bayangannya sendiri:
*"Memangnya aku... kurang tampan?"*
Aurelia tahu—ini bukan cinta biasa. Ini bukan cinta yang sehat. Dia bahkan sempat mendiagnosis dirinya sendiri: *sindrom Stockholm*.
Tapi ketika musuh datang menyerang, dan dia harus memilih antara berlari menuju kebebasan atau berbalik ke sisi Renard...
...langkahnya berhenti.
Dia tidak bisa pergi.
Dan ketika tiga penculik mengurungnya di ruangan gelap, ketika semua orang mengira dia hanya mangsa lemah yang menunggu diselamatkan—Aurelia mengangkat pistol PPK-nya dan menembak.
Tiga kali.
Dia bukan mangsa.
**Dia adalah pejuang.**
Dari sangkar besi menuju mahkota. Dari Sepuluh Larangan menuju satu ikrar cinta. Dari gadis yang berlutut membersihkan sepatu militer Sang Serigala—menjadi perempuan yang berdiri di sampingnya, bahu-membahu, setara.
*"Dengan cinta sebagai sangkar, sepuluh larangan mengunci hati—aku rela sepenuhnya."*
Tapi sebelum mahkota itu bertengger di kepalanya, masih ada rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Dan Sang Serigala Hitam... tidak pernah mengungkapkan seluruh kebenarannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Demam
Dalam demam, Aurelia kembali ke rawa berwarna merah.
Kakinya terbenam sampai lutut. Di sekelilingnya berdiri tiang besi dari ruang bawah tanah, bangku kulit merah, dan pagar kandang Marsha. Renard berjalan di atas air tanpa tenggelam, membawa alat dari meja baja.
Aurelia mencoba berlari. Tubuhnya tidak bergerak.
"Saya ingat," katanya dalam mimpi. "Saya sudah ingat."
Sosok itu tetap mendekat.
Di dunia nyata, suaranya hanya keluar sebagai erangan lemah.
Pintu kamar terbuka lewat tengah malam. Renard berhenti di ambang, melihat baki makan malam yang belum disentuh dan tubuh Aurelia yang menggigil di bawah selimut.
Ia menempelkan telapak pada dahi Aurelia. Panasnya membuat alis Renard mengerut.
Termometer menunjukkan 39,5 derajat.
Renard tidak memanggil Bi Mei. Ia menuangkan air, mengangkat kepala Aurelia ke lengannya, lalu menyentuhkan gelas ke bibir.
"Minum."
Aurelia menolak dalam keadaan setengah sadar. Air tumpah ke dagu.
"Buka mulut."
Nada perintah itu menembus demam. Aurelia menelan air dan obat yang diberikan. Ketika Renard hendak meletakkannya kembali, jemari Aurelia mencengkeram kemejanya.
"Jangan pergi."
Renard diam.
Aurelia tidak tahu siapa yang sedang dipegangnya. Dalam mimpi mungkin Papa, Mama, atau satu-satunya benda yang mencegahnya tenggelam. Tangannya tetap mengunci kain.
Renard duduk di sisi ranjang. Ia membiarkan Aurelia memegang bajunya dan mengganti kompres di dahi beberapa kali.
Setiap kali Aurelia terbangun, ia mengira orang di sampingnya berbeda. Sekali ia memanggil Mama. Sekali ia berbisik meminta Papa tidak menandatangani sesuatu. Renard tidak mengoreksi. Ia hanya memindahkan rambut basah dari dahi dan memeriksa suhu lagi.
Melalui radio, ia menghubungi Anya tanpa membangunkannya ke kamar.
"Tiga puluh sembilan koma lima. Obat sudah masuk."
Suara Anya terdengar samar memberi instruksi tentang kompres, cairan, dan tanda bahaya. Renard mengulang dosis agar tidak salah.
"Kalau naik lagi?"
"Bawa ke klinik. Dan Bos, jangan tambah stresnya malam ini. Tubuhnya bukan mesin."
Renard mematikan radio tanpa menjawab.
Aurelia membuka mata sedikit. "Saya bukan barang rusak."
"Tidur."
"Saya dengar Anda."
"Kalau bisa membantah, berarti belum mati."
Di balik kalimat dingin itu, tangannya tetap menyangga gelas sampai Aurelia menelan air terakhir.
"Merepotkan," gumamnya. "Cepat sembuh. Aku tidak memelihara barang rusak."
Namun ia tetap tinggal sampai suhu tubuh Aurelia turun.
Pagi berikutnya, Aurelia menemukan gelas setengah kosong dan bungkus obat di meja. Kancing manset hitam yang bukan miliknya tergeletak di dekat bantal.
"Semalam Tuan Muda datang?" tanyanya ketika Bi Mei membawa bubur.
Bi Mei melihat manset itu, lalu memasukkannya ke saku. "Makan."
"Dia yang memberi obat?"
"Kalau sudah tahu jawabannya, kenapa bertanya?"
Siang harinya Renard muncul di pintu. Aurelia sedang berjalan ke kamar mandi tanpa sandal. Kakinya masih lemah, dan telapak yang terluka meninggalkan noda tipis di lantai.
Wajah Renard menggelap. "Kenapa tidak pakai alas kaki?"
"Sandarnya jauh."
Renard masuk, mengangkat tubuh Aurelia tanpa peringatan, lalu membawanya ke kamar mandi.
"Saya bisa jalan sendiri."
"Hasilnya kotor."
Ia mendudukkan Aurelia di tepi bak, berjongkok, dan membuka keran. Ketika tangan Renard menyentuh kakinya, Aurelia menarik diri.
"Diam."
Pria itu membersihkan telapak dan sela jari dengan gerakan tegas tetapi teliti. Ia menghindari luka terbuka, membilas sabun sampai bersih, lalu mengeringkan kaki dengan handuk.
"Kenapa Anda melakukan ini sendiri?" tanya Aurelia.
"Karena kamu membuat lantai kotor."
"Bi Mei bisa membersihkan lantainya."
Renard memeriksa luka rantai. "Aku tidak membicarakan lantai."
Aurelia memahami bahwa tubuhnya yang terluka dianggap ketidakteraturan dalam dunia Renard. Pria itu ingin memperbaikinya seperti memperbaiki kesalahan pada laporan.
"Kalau saya sembuh, apakah saya boleh pulang?"
Tangan Renard berhenti sesaat, kemudian membalut kaki dengan kasa baru. "Kamu baru saja belajar akibat kata itu."
Tubuh Aurelia menegang mengingat ruang bawah tanah.
"Saya bertanya, bukan melarikan diri."
"Jangan uji perbedaannya sekarang."
Ia menyelesaikan simpul perban dengan tekanan pas, tidak terlalu longgar dan tidak menyakitkan. Ancaman dan perawatan kembali hadir dalam gerakan yang sama.
Aurelia melihat kepala Renard yang menunduk di hadapannya. Dua hari lalu pria itu membuatnya berlutut di ruang bawah tanah. Sekarang ia sendiri berjongkok untuk membersihkan kaki Aurelia.
"Ken," panggil Renard melalui radio. "Beli sepatu lunak. Tanpa tali."
Tanpa tali berarti nyaman untuk luka, tetapi juga sulit dipakai berlari di hutan. Bahkan perhatian Renard memiliki kunci tersembunyi.
Sebelum keluar, Renard berhenti. "Ucapkan."
Aurelia bingung sesaat, lalu memahami. Ia mengucapkan aturan yang selama ini dipelajarinya dari larangan Bi Mei, pintu terkunci, dan hukuman Renard. Aturan itu tidak pernah diberikan sebagai daftar utuh, tetapi kini keluar dari mulutnya dalam urutan yang telah dibentuk oleh rasa takut.
Renard tidak meminta nomor. Ia menyela ketika kata-katanya kurang tepat dan membuat Aurelia mengulang sampai benar.
Pada bagian tentang rumah, suara Aurelia mengecil.
"Ulangi," kata Renard.
"Rumah Putih adalah tempat saya sekarang."
"Sekali lagi."
Aurelia mengulang dengan suara lebih jelas. Ia tidak mengatakan bahwa Annan tetap rumah di dalam pikirannya. Renard hanya dapat mengatur kata yang keluar, belum seluruh maknanya.
Pria itu tampak menerima jawaban tersebut.
Setelah selesai, telapak tangannya menyentuh kepala Aurelia sekali.
"Ingatannya bagus."
Aurelia tidak tahu apakah itu pujian atau ancaman.
"Kalau aku tidak ada, makan dan tidur. Kalau semakin kurus, tetap dihukum."
Renard pergi.
Baru setelah pintu tertutup, Aurelia menyadari telapak kakinya tidak lagi dingin. Baskom telah dibawa pergi, handuk digantung rapi, dan segelas air diletakkan dalam jangkauan. Perawatan itu begitu teliti hingga hampir menyerupai kasih sayang, tetapi tidak satu pun dilakukan setelah meminta izinnya.
Aurelia menarik selimut sampai menutup dada. Tubuhnya mengingat tangan Renard sebagai sumber sakit dan kehangatan sekaligus. Karena demam, pikirannya tidak mampu memisahkan keduanya. Ia membenci betapa cepat rasa aman palsu tumbuh hanya karena orang yang ditakutinya memilih tidak menyakiti malam itu.
Akhir pekan berikutnya berlalu tanpa ia datang ke kamar. Aurelia seharusnya lega. Sebaliknya ia terjaga, menunggu langkah yang tidak muncul.
Pada tengah malam, ia keluar kamar dan menemukan Bi Mei sedang membawa baki teh ke lantai tiga.
"Tuan Muda ada?"
"Ada."
"Kenapa dia tidak turun?"
Bi Mei menatapnya hati-hati. "Kamu ingin beliau turun?"
Aurelia langsung menggeleng. Namun setelah kembali ke tempat tidur, pertanyaan itu terus mengikutinya. Ia tidak ingin Renard datang. Ia hanya ingin tahu apakah pria itu akan datang, karena ketidakpastian telah menjadi bentuk ketakutan tersendiri.
Saat makan keesokan hari, ia sadar dirinya sedang mengulang aturan dalam hati seperti tabel perkalian.
Yang paling menakutkan bukan lagi bahwa Renard memaksanya mengingat.
Aturan itu mulai bekerja tanpa kehadiran Renard.