NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

006

Matahari pagi di atas Los Angeles tidak pernah benar-benar membawakan kehangatan ke dalam Mansion Carser.

Cahayanya yang menerobos lewat jendela-jendela kaca menjulang hanya mempertegas betapa dinginnya setiap sudut rumah berlantai marmer itu.

Di mansion ini, udara terasa tajam, dipenuhi aroma keangkuhan, kemewahan yang garing, dan penderitaan yang disembunyikan rapat-rapat.

Dari dalam kamar utama di lantai dua, tangisan itu pecah kembali.

Suara jeritan kecil Draco bergema memecah keheningan pagi, melengking dan penuh rasa sakit.

Tubuh mungil berumur beberapa Minggu itu gemetar hebat di dalam pelukan Aurora. Dahi Draco membara, kulitnya yang halus merona merah akibat demam tinggi yang tak kunjung turun sejak semalam.

"Sshh... sayang, Mommy di sini. Mommy di sini, Draco..." bisik Aurora dengan suara parau.

Matanya sembap, menghitam akibat kurang tidur. Semalaman ia tidak memejamkan mata, menempelkan kain kompres yang terus mengering di atas dahi putranya, berdoa pada tuhan mana pun yang mau mendengar agar demam itu menguap.

Namun rasa sakit Draco tidak kompromi. Tangisannya justru kian histeris, seolah bayi kecil itu tahu bahwa tempatnya bernapas saat ini bukanlah sebuah rumah, melainkan sangkar besi.

Dengan napas terengah-engah dan tangan yang mulai gemetar menahan beban, Aurora menggendong Draco turun ke lantai bawah. Ia menepis rasa lelahnya, bermaksud mengambilkan termos air hangat dan sirup penurun panas di dapur.

Namun, langkah kakinya terhenti kaku di undakan tangga terakhir menuju ruang makan.

Di meja makan panjang berbalut kain linen putih, suasana hangat yang palsu sedang berlangsung. Jonathan Carser duduk tenang menyesap kopi hitamnya, sementara di sampingnya, Marisa Carser—ibunya yang selalu tampil dengan perhiasan berlian berkilau dan aura kebangsawanan yang picik—sedang memegang sendok perak dengan raut wajah sangat terganggu.

Marisa meletakkan sendok peraknya ke atas piring porselen dengan dentang tajam yang sengaja dibuat nyaring. Ia berpaling, menatap Aurora dengan tatapan jijik yang sama seperti cara seseorang melihat sesuatu yang kotor di telapak sepatunya.

"Bisa diamkan putramu itu?" suara Marisa melayang dingin, menusuk langsung ke dada Aurora. "Kenapa kau tidak bisa menghentikan tangisannya? Aku bahkan tidak bisa makan dengan tenang di rumah ini setiap kali datang untuk sarapan."

Aurora menghentikan langkahnya, mempererat dekapan pada Draco yang masih menangis sejadi-jadinya. Dada Aurora bergemuruh, namun ia berusaha menekan ego dan amarahnya demi keutuhan suasana.

"Maaf, Ibu... Dia demam," ucap Aurora lirih. Matanya secara refleks bergulir menatap Jonathan yang duduk tak jauh dari ibunya, berharap pria yang berstatus suaminya itu menyuarakan sedikit pembelaan, atau sekadar memberinya tatapan simpati.

Namun Jonathan bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar ponsel pintar di tangannya. Ia menyesap kopinya seolah Aurora dan tangisan Draco hanyalah kebisingan angin yang mengganggu.

Marisa terkekeh, menyunggingkan senyum sinis yang mengiris. "Gara-gara anak itu, kau bahkan tidak melayani putraku. Di mana kewajibanmu sebagai istri, hah? Kau pikir menikah itu kau hanya perlu mengurus putra harammu itu?!"

Brak!

Sesuatu dalam diri Aurora pecah seketika. Kata "haram" yang terucap dari mulut wanita tua itu merobek sisa-sisa kesabaran yang selama berbulan-bulan ini ia susun rapat-rapat.

"SHUT UP!" teriak Aurora melengking. Suaranya menggelegar menembus kesunyian ruang makan, menghentikan denting alat makan di tangan Marisa.

Ruangan itu mendadak hening seketika. Hanya ada suara napas Aurora yang memburu dan tangisan Draco yang mengalun memilukan.

"Ibu juga seorang ibu!" nada suara Aurora gemetar hebat, bercampur antara amarah yang memuncak dan rasa sakit yang tak tertahankan.

Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Sudah kukatakan dia sedang demam! Kenapa Ibu malah mengatakan hal menjijikkan seperti itu pada seorang bayi?!"

Marisa tersentak, wajahnya memerah karena terkejut atas perlawanan mantunya. Namun sebelum Marisa sempat membalas, sebuah suara berat meluncur datar dari ujung meja.

"Kenapa kau tidak terima?"

Deg.

Dunia Aurora serasa berhenti berputar. Kalimat itu mendarat seperti hantaman godam tepat di dadanya.

Aurora membeku. Ia menoleh perlahan, menatap Jonathan yang kini telah meletakkan ponselnya dan menatapnya lurus-lurus. Tidak ada kehangatan, tidak ada penyesalan, hanya ada tatapan dingin yang penuh dengan penghinaan mendalam.

Air mata Aurora lolos menembus pipinya. Matanya yang berkaca-kaca menatap pria yang dulu pernah berjanji akan melindunginya di hadapan Tuhan.

"Kau..." suara Aurora nyaris tenggelam dalam bisikan, bibirnya gemetar. "Kau benar-benar menganggap anak ini seperti yang dikatakan ibumu...?"

Jonathan tidak menjawab. Keheningannya adalah jawaban paling kejam yang pernah Aurora terima dalam hidupnya. Pria itu justru bersandar di kursinya, menyilangkan dada dengan pandangan meremehkan.

Di detik itu, rasa hangat yang tersisa di hati Aurora hangus menjadi abu.

Rasa sakit yang membelenggunya selama ini tiba-tiba berubah menjadi keputusasaan yang teramat dingin. Sebuah tawa kecil, ganjil, dan hampa lolos dari tenggorokannya.

Aurora tersenyum sinis. Ia menggelengkan kepala lambat-lambat, menatap dua manusia berdarah dingin di hadapannya dengan sudut mata yang membasah.

"Baik..." bisik Aurora, suaranya berubah menjadi sangat dingin, melampaui amarahnya sendiri. "Aku bertahan di rumah ini selama ini... karena aku pikir lambat laun kau akan percaya Draco anakmu."

Aurora mengusap air matanya secara kasar dengan punggung tangan, lalu menatap Jonathan tepat di balik manik matanya. Tatanan kepalsuan di antara mereka akhirnya runtuh berantakan.

"Aku tidak akan mengatakan hal sampah lagi mulai hari ini," ucap Aurora, tegas dan tajam. "Ceraikan aku, brengsek! Demi Tuhan, kau ceraikan aku hari ini juga!"

Teriakan itu melayang tajam di udara, penuh kesakitan dan keputusasaan yang murni.

Jonathan mengernyitkan alisnya tipis. Tidak ada keterkejutan di wajahnya, tidak ada rasa takut akan kehilangan. Pria itu justru menegakkan tubuhnya, lalu sebuah senyuman mengejek melengkung lebar di bibirnya—sebuah senyuman penuh kuasa yang sangat dibenci Aurora.

"Cerai?" ulang Jonathan lambat-lambat, terdengar seolah kalimat itu adalah lelucon paling konyol yang pernah ia dengar.

Jonathan berdiri dari kursinya, melangkah pelan mendekati Aurora. Setiap langkah sepatunya yang menginjak marmer terdengar seperti ketukan lonceng kematian bagi kebebasan Aurora. Pria itu berhenti tepat di depan Aurora yang sedang memeluk Draco erat-erat.

"Baik... biar aku ingatkan satu hal," Jonathan berbisik tajam, menundukkan kepalanya agar sejajar dengan telinga Aurora. "Panti kita tercinta... kalau bukan karena aku, mungkin panti asuhan itu sudah rata dengan tanah hari ini."

Aurora menegang seketika. Jantungnya berdegup kencang secara menyakitkan.

"Kalau kau tetap nekat bercerai, silahkan saja," lanjut Jonathan dengan intonasi santai namun beracun. "Rata dengan tanah, Aurora. Aku pastikan anak-anak di sana tidak punya tempat berteduh besok pagi. Dan juga... kau belum mengganti seluruh total biaya kelahiran putramu. Kau lupa? Aku yang membayar lunas semua biayanya di rumah sakit. Berapa ratus ribu dolar yang harus kau kembalikan padaku?"

Belum sempat Aurora mencerna rasa sesak yang menghimpit dadanya, suara Marisa kembali menyambar dari belakang bagai sembilu.

"Dan biaya hidupmu selama di rumah ini!" sahut Marisa dengan nada penuh kepuasan. "Itu tidak gratis! Setiap pakaian yang kau pakai, makanan yang masuk ke tenggorokanmu, semuanya dibayar dengan uang putraku!"

Dinding itu roboh kembali menyergapnya.

Inilah rantai besi yang selama ini mengikat kaki Aurora, membuatnya tak pernah benar-benar bisa melangkah keluar dari pintu gerbang Mansion Carser.

Harga dirinya diremuk, ditarik hingga mendasar, lalu dijadikan bahan injakan setiap hari. Panti yang membesarkannya—satu-satunya tempat yang menyimpan kenangan manis dan rumah bagi adik-adik panti yang tidak berdosa—dijadikan sandera oleh monster yang ia sebut suami.

Air mata Aurora menetes, jatuh membasahi pipi Draco yang masih terlelap dalam lelahnya menangis.

Ia ingin kabur. Demi Tuhan, ia ingin berlari sejauh mungkin dari rumah beracun ini, membawa Draco dan tidak pernah menoleh lagi.

Tapi bagaimana dengan adik-adik yang berada di sana? Bagaimana dengan pengasuh yang sudah menganggapnya Anak sendiri? Jika ia pergi, Jonathan tidak akan segan-segan meratakan tempat itu menjadi puing-puing hanya untuk memuaskan egonya.

Ya Tuhan... bisik nurani Aurora yang hancur tak berbentuk.

...°°°°...

Sementara itu, di dalam ruang kerja berpanel kayu mahoni yang megah di gedung pencakar langit Valerio-Desmon Corp, suasana terasa mencekam dan pekat.

Braxley Valerio-Desmon berdiri kaku di dekat jendela kaca berukuran raksasa yang menatap lanskap kota Los Angeles.

Mengenakan setelan jas hitam yang membalut sempurna tubuh tegapnya, pria itu memegang sebuah gelas kristal berisi whisky.

Wajahnya seperti pahatan pualam—tampan, dingin, namun dipenuhi oleh badai emosi yang sangat mematikan.

Di telinganya terpasang sebuah earpiece nirkabel kecil. Setiap kata, setiap hinaan, dan setiap jeritan keputusasaan Aurora di ruang makan Mansion Carser terdengar sangat jernih melalui mikrofon tersembunyi yang ia tanam di sana.

Mendengar bagaimana Jonathan dan ibunya merendahkan Aurora, rasa benci dalam dada Braxley bergolak hingga ke puncaknya.

Sejujurnya, jika ia menuruti impuls kegelapannya detik ini juga, ia ingin meratakan Mansion Carser dengan tanah dan memburu Jonathan sampai bernapas pun pria itu tidak sanggup. Ia ingin menghancurkan bajingan itu dengan tangannya sendiri.

Krak.

Gelas kristal di tangan Braxley retak secara halus. Cairan whisky ambar menetes lewat sela-sela jarinya, bercampur dengan setitik darah dari telapak tangannya yang tergores.

Namun, di balik gejolak amarah yang membakar, ada dinding batu yang menahannya: rasa kecewa yang luar biasa besar.

Luka lama itu kembali berdarah dalam benak Braxley. Bayangan masa lalu mendadak berputar cepat—saat ia menemukan lembaran pil penunda kehamilan yang Aurora konsumsi secara diam-diam dulu.

Wanita itu menolak mengandung darah dagingnya, memilih menelan pil-pil beracun itu agar tidak terikat dengannya, lalu melangkah pergi dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan Jonathan.

Rasa sakit dari penolakan itu adalah belati yang tidak pernah dicabut dari dada Braxley.

Rasa cintanya pada Aurora memang jauh lebih besar daripada dendam apa pun. Ia terobsesi, ia memujanya sampai gila. Namun harga dirinya sebagai seorang pria dan rasa sakit atas pengkhianatan masa lalu menuntut satu hal: Aurora harus sadar.

Braxley ingin wanita itu menyadari betapa salahnya keputusan masa lalunya. Ia ingin Aurora mengakui betapa sia-sianya pria yang ia pilih, dan datang sendiri bertekuk lutut memohon bantuannya, meminta maaf atas segala lukanya di masa lalu.

"Brax..." panggil Baxeena kakaknya perlahan, berdiri dari sofa kulit dengan tatapan cemas saat melihat darah menetes di lantai karpet. "Tanganmu terluka."

Braxley tidak mengalihkan pandangannya dari kaca jendela. Ia menarik napas dalam-dalam, mengontrol emosi murkanya yang nyaris lepas kendali.

"Kenaikan suku bunga pinjaman anak perusahaan Carser... percepat prosesnya," perintah Braxley datar, suaranya dingin bagaikan es di dasar lautan. "Kencangkan cengkeraman kita pada saham mereka, tapi jangan hancurkan dulu hari ini."

Baxeena mengernyit tipis, menatap adiknya penuh tanya. "Kau tidak langsung mengambil Aurora hari ini? Bajingan itu mengancam akan meratakan panti, dan anaknya sedang sakit."

Braxley menyeka darah di tangannya dengan kain sapu tangan sutra. Matanya berkilat penuh obsesi yang kelam dan perhitungan yang matang.

"Belum," bisik Braxley, nadanya bergetar oleh kepedihan dan ketegasan yang tertahan. "Biarkan Aurora merasakan ujung batas keputusasaannya. Biarkan dia melihat sendiri betapa tak berharganya pria yang ia pilih."

Braxley memejamkan matanya sejenak, membayangkan wajah Aurora yang basah oleh air mata.

"Rasa cinta ini membuatku gila, kak xeena... Tapi aku tidak akan menjemputnya sebagai pahlawan yang mengemis cinta lagi," sambung Braxley dengan senyuman tipis yang tajam.

"Aku ingin dia sendiri yang melangkah keluar dari rumah itu. Aku ingin dia datang padaku, menatap mataku, meminta maaf atas masa lalu, dan mengemis perlindungan padaku."

Ia meletakkan gelas kristal yang retak itu di atas meja mahoni, lalu menatap bayangan dirinya di jendela.

"Saat hari itu tiba... aku tidak hanya akan menyelamatkannya, tapi aku akan memastikan Jonathan Carser berlutut memohon ampun di bawah kakinya."

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!