NovelToon NovelToon
Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:46.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.

Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.

Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.

Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan

“Grep!”

Suara cambuk yang membelah udara berhenti mendadak. Tangan Mo Yuuran terangkat, menggenggam ujung cambuk itu dengan kuat tanpa sedikit pun goyah.

Semua orang terdiam.

Ning Ning membelalak, napasnya tercekat melihat cambuknya ditahan begitu saja. Bahkan Mo Weiwei pun terkejut, tak menyangka perubahan Mo Yuuran akan sejauh ini.

Xia Lu yang tergeletak perlahan membuka matanya. Tatapannya kosong sejenak sebelum berubah menjadi keterkejutan saat melihat sosok di hadapannya.

“Beraninya kau memukuli pelayanku,” ucap Mo Yuuran dingin. Suaranya pelan, namun mengandung tekanan yang membuat bulu kuduk meremang.

Ning Ning menelan ludah, tangannya sedikit gemetar. “Permaisuri … dia—”

“Aku yang menyuruhnya,” potong Mo Yuuran tanpa memberi kesempatan. “Aku yang menyuruhnya menempati kamar itu.”

Hening.

Wajah Ning Ning memucat seketika, sementara Mo Weiwei langsung melangkah maju dengan ekspresi tidak percaya. “Adik, apa yang kau katakan?”

Ia menatap tajam, suaranya meninggi. “Ning Ning sudah menemanimu sejak kecil! Dia orangmu, bukan pelayan baru seperti Xia Lu! Kau tidak ingat, bagaimana Ning Ning sangat setia?”

Mo Weiwei tentu membela Ning Ning karena gadis itu adalah orangnya yang palinh setia. Namun Mo Yuuran tidak menjawab.

Dengan gerakan tiba-tiba, ia menyentakkan cambuk itu dari genggaman Ning Ning. Tubuh wanita itu terhuyung ke depan, hampir jatuh karena kehilangan keseimbangan.

Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Mo Yuuran berbalik cepat. Tangannya meraih pedang yang tergantung di dinding, lalu dalam sekejap mata, bilah tajam itu sudah menempel di leher Ning Ning.

“Ngh!”

Ning Ning membeku, napasnya tercekat. Ujung pedang itu dingin, namun aura di baliknya jauh lebih menakutkan.

“Kenapa kalau dia menemaniku sejak kecil?” ujar Mo Yuuran datar. Matanya menatap lurus tanpa emosi.

“Dia hanyalah seorang budak,” lanjutnya pelan. “Dan aku … bisa membunuhnya kapan saja.”

Mo Weiwei membelalak sempurna. “Mo Yuuran! Jangan main-main!”

Ia melangkah maju, suaranya mulai panik. “Aku tahu kau marah! Ini karena Ning Ning yang membuatmu kecelakaan, bukan?”

Kalimat itu menggantung di udara.

Mo Weiwei tersadar terlalu terlambat. Matanya melebar, tubuhnya kaku, seolah ingin menarik kembali kata-kata yang sudah terlanjur keluar.

Mo Yuuran tersenyum tipis. “Oh … jadi dia pelakunya,” gumamnya ringan, namun mengandung bahaya yang nyata.

“Bukan begitu—” Mo Weiwei tergagap, lalu segera mengeraskan suara. “Jika kau tidak melepaskannya, aku akan melaporkan ini pada Ayah! Aku juga akan marah padamu dan tidak akan menemuimu lagi. Tuan muda Bo Wen akan tahu hal ini!”

Ancaman itu menggema di ruangan.

Wajah Mo Yuuran tetap tenang, seolah tidak terpengaruh sedikit pun. Matanya hanya menatap Ning Ning, dingin tanpa belas kasihan.

“Kalau begitu, laporkan saja,” ucapnya santai.

Detik berikutnya gerakan pedangnya pelan dan tegas, Mo Yuuran memgg*rok leher Ning Ning.

Suara tertahan terdengar, diikuti tubuh Ning Ning yang langsung melemah. Ia jatuh berlutut, tangannya mencengkeram udara seolah ingin bertahan.

Para pelayan menjerit histeris.

Mo Weiwei menatap dengan wajah pucat pasi, tubuhnya gemetar hebat saat cairan hangat mengenai pakaiannya. Pemandangan di depan matanya membuat pikirannya kosong.

Mo Yuuran melepaskan genggamannya.

Tubuh Ning Ning terjatuh ke lantai, bergerak lemah akhirnya tubuhnya menggelepar layaknya ikan butuh air sebelum akhirnya diam. Darah perlahan mengalir, menciptakan keheningan yang mencekam.

“Aaaaah!” teriak para pelayan.

Mo Weiwei tak mampu bertahan lagi. Pandangannya mengabur sebelum tubuhnya roboh tak sadarkan diri.

Mo Yuuran hanya melirik sekilas, ekspresinya datar.

“Prajurit!” seru Mo Yuuran.

Tak lama prajurit masuk, mereka langsung terkejut melihat hal itu.

“Bawa dia keluar,” perintahnya singkat pada dua prajurit yang berjaga di luar. “Lemparkan saja ke jalan. Dan mayat pelayan itu, buang saja ke hutan.”

“Baik, Permaisuri,” jawab mereka serempak yang langsung tersadar.

Tanpa banyak bicara, kedua prajurit itu mengangkat tubuh Ning Ning dan segera membawanya pergi. Begitu juga dengan tubuh Mo Weiwei.

Kamar kembali sunyi.

Xia Lu masih tergeletak di lantai, tubuhnya kaku seperti patung. Matanya menatap kosong ke arah Mo Yuuran, penuh ketakutan sekaligus kebingungan.

Mo Yuuran menatap kepergian para prajurit membawa dua tubuh itu. Matanya berkilat dingin.

Ini baru peringatan sekaligus aku mengibarkan bendera perang kepada kalian semua! Kalian tidak akan lolos dari pembalasanku!

**

Di sisi lain, jauh dari hiruk-pikuk istana, sebuah bangunan tersembunyi berdiri sunyi di tengah hutan lebat. Cahaya lampu redup menerangi ruangan sederhana yang dipenuhi peta dan gulungan dokumen.

Seorang pria tampan duduk dengan tegak di kursi kayu, aura dinginnya menyelimuti seluruh ruangan. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam dan sulit ditebak.

“Yang Mulia,” ucap seorang prajurit yang berlutut di hadapannya. “Kami baru saja menerima kabar dari istana.”

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya sedikit mengangkat pandangan, memberi isyarat agar laporan dilanjutkan.

“Permaisuri Mo Yuuran telah siuman.”

Hening.

Untuk sesaat, ruangan terasa membeku.

“Apakah kau yakin?” suara pria itu akhirnya terdengar, rendah dan datar. Namun tekanan dalam nadanya membuat prajurit itu menunduk lebih dalam.

“Ya, Yang Mulia,” jawabnya cepat. “Informasi ini datang langsung dari dalam istana. Tidak mungkin keliru.”

Pria itu terdiam lagi.

Jari-jarinya mengetuk perlahan permukaan meja, ritmenya teratur namun menimbulkan ketegangan yang aneh. Tatapannya kosong, seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri.

“Bagaimana kondisinya?” tanyanya lagi.

“Dilaporkan … Permaisuri bertindak berbeda dari sebelumnya,” jawab prajurit itu hati-hati. “Beberapa pelayan mengatakan beliau menjadi lebih dingin.”

Sudut bibir pria itu bergerak tipis.

“Berbeda?” gumamnya pelan. “Atau akhirnya kembali menjadi dirinya yang sebenarnya.”

Prajurit itu tidak berani menanggapi. Ia tahu, nama Mo Yuuran adalah sesuatu yang tidak boleh dibahas sembarangan di hadapan pria ini.

Pria itu perlahan berdiri.

Jubah hitamnya jatuh rapi mengikuti gerakannya, mempertegas sosoknya yang tinggi dan berwibawa. Aura kekuasaan yang ia miliki membuat siapa pun tak berani menatapnya terlalu lama.

“Siapkan kuda,” perintahnya singkat.

Prajurit itu tertegun sejenak. “Yang Mulia … sekarang?”

Pria itu menoleh sedikit, tatapannya tajam seperti pedang. “Apakah aku harus mengulanginya?”

“Tidak, Yang Mulia!” jawab prajurit itu cepat, langsung menunduk dalam.

Ia segera berdiri dan berlari keluar untuk melaksanakan perintah.

Pria itu berjalan perlahan menuju pintu. Langkahnya tenang, namun setiap jejaknya terasa berat.

“Mo Yuuran permainan licik apalagi yang kau gunakan untuk lari dariku?” gumamnya pelan,

1
tinie
ya lagian jadi pelayan aja
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar
RheaAdelya
😍
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ini siapa yg tak tau malu
mama_im
mantap👍👍🤣🤣🤣
FAISHAL GAMING
luar biasa
💟노르 아스마💟
whuuuhhhh...keren!!!👏👏👏👏
Allfa Rizky
suka sama cerita spt ini FL nya Badas keren banget gak menye-menye,, sar set eksekusi man taappp
Allfa Rizky
sadiiisss,, tpi kereenn Badas
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Uuuhhh mantaaapp itu baru Permaisuri /Applaud/
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
/Drowsy//Scream/ Tumaaaann mang enak disiram aer nanaasss
SENJA
mantabs🔥
SENJA
yaelaaah kurang lah segitu😳
SENJA
lu yang mati 😤
SENJA
udah langsung hukum langsung siksa
SENJA
siksa udah buseh dah ga beres nih 😤
SENJA
emang ga ada ingatan yuran sebelumnya?
Vika Lestari
uf lagi kaka🙏
Sribundanya Gifran
lanjut
Maydian li Maydian
lanjut thor 😍
Atik Kiswati
mantap....🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!