Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Gedung Pratama Tower berdiri megah di bawah terik matahari siang kota Jakarta. Di lantai paling atas, di dalam ruang kerja pribadinya yang luas dan senyap, Rangga Pratama duduk di kursi kebesarannya. Di hadapannya, setumpuk berkas laporan keuangan kuartal akhir dan dokumen kontrak proyek properti bernilai miliaran rupiah berserakan rapi.
Namun, tidak seperti biasanya di mana fokus pria itu setajam silet terhadap angka-angka bisnis, hari ini pikiran Rangga sama sekali tidak berada di atas kertas-kertas tersebut.
Jemari tangan kanannya memegang sebuah pulpen berlapis emas, mengetuk-ngetuk permukaan meja secara monoton. Bayangan kejadian semalam di Penthouse di mana orang tuanya meninggalkan mereka, serta kalimat telak dari Rania yang dengan santainya menyebutkan kata Perceraian begitu sang kakak kembali dari Paris—terus berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak.
'Begitu kak Resti kembali dari Paris nanti. Aku akan langsung pergi dari sini dan mengajukan perceraian resmi.'
Kalimat itu terngiang kembali di telinga Rangga, menciptakan rasa tidak nyaman yang mendadak menusuk ulu hatinya. Ada gejolak aneh di dalam dada pria itu. Rasa kesal, jengkel, sekaligus ketidaksiapan yang tidak bisa ia definisikan dengan logika bisnisnya sendiri. Mengapa gagasan bahwa Rania akan pergi meninggalkannya begitu saja terasa begitu mengganggu? Bukankah dari awal pernikahan kontrak ini memang dirancang untuk dibubarkan?
Rangga menghela napas kasar, melemparkan pulpennya ke atas meja hingga berbunyi nyaring. Ia memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pusing.
Tepat pada saat itu, pintu ruang kerjanya terbuka pelan. Pak Darma, sang asisten pribadi senior, melangkah masuk membawa setumpuk map dokumen tambahan. "Tuan Rangga, ini adalah jadwal rapat koordinasi dengan para direktur cabang untuk sesi siang—"
"Batalkan," potong Rangga cepat tanpa membiarkan Pak Darma menyelesaikan kalimatnya.
Pak Darma mengerjap bingung, menghentikan langkahnya di tengah ruangan. "Batalkan, Tuan? Tapi rapat ini sangat krusial untuk persetujuan anggaran—"
"Alihkan seluruh agenda soreku ke hari esok, atau wakilkan saja pada direktur operasional," perintah Rangga tegas sambil berdiri dari kursinya, menyambar jas mantel panjang berwarna abu-abu gelap dari sandaran kursi. "Aku harus pergi sekarang. Urusan kantor sisa-sisanya kau tangani."
Sebelum Pak Darma sempat membuka mulut untuk bertanya lebih jauh, Rangga sudah melangkah lebar melewati sang asisten dan langsung keluar ruangan menuju lift privat.
Di tengah kesendiriannya di ruang kerja yang ditinggalkan begitu saja, Pak Darma hanya bisa menggelengkan kepala perlahan sambil menghembuskan napas lelah yang sangat panjang. Asisten setia itu menatap punggung bos mudanya yang menghilang di balik pintu lift, lalu membatin dengan lelah pada diri nya sendiri.'Astaga... Kalau bukan karena gaji fantastis dan bonus tahunan yang buaaanyakkk dari perusahaan ini, sudah dari dulu aku resign jadi bawahan bos labil kayak dia.'
Lima belas menit kemudian, sebuah mobil sport hitam terparkir di sebuah sudut jalan yang tidak jauh dari kawasan komersial sibuk pusat kota. Dari dalam mobil tersebut, keluarlah sesosok pria berpostur tinggi tegap dengan balutan setelan kasual mewah yang ditutupi mantel panjang.
Rangga Pratama berdiri di trotoar jalan, menarik napas dalam-dalam, lalu mengenakan atribut penyamaran yang sudah ia siapkan di dalam mobil: sebuah topi baseball hitam legam yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian keningnya, serta kacamata hitam berbingkai besar yang menyembunyikan mata tajamnya.
Ia mendengus kecil pada dirinya sendiri, merasa konyol melakukan hal semacam ini.
'Aku ini CEO PRATAMA GROUP' batin Rangga menggerutu dalam hati sambil berjalan mendekati sebuah ruko bercat krem hangat dengan papan nama elegan berukir huruf timbul Sweet Crumb.'Untuk apa aku repot repot menyamar datang ke toko roti murahan ini ditengah jam kerja? Aku.... Aku cuma ingin memastikan secara langsung bahwa gadis garang itu tidak menggunakan nama besar keluarga Pratama agar bisnisnya berjalan lancar, siapa tahu dia pamer kan? Ya, itu saja alasannya. Tidak lebih.'
Dengan langkah ragu namun sok COOL, Rangga mendorong pintu kaca toko roti tersebut. Suara lonceng kecil di atas pintu berbunyi nyaring menyambut kedatangannya.
Suasana di dalam Sweet Crumb terasa sangat hidup dan sibuk. Aroma mentega panggang, vanila murni, dan roti susu segar mengepul menggugah selera. Di balik etalase kaca bening, berjejer rapi berbagai macam pastry dan kue tart berdekorasi cantik. Sejumlah pengunjung tampak duduk di beberapa meja kafe kecil di sudut ruangan, sementara di balik meja kasir dan konter dapur terbuka, para karyawan bekerja dengan gesit.
Dan di tengah kesibukan itu, netra Rangga langsung menangkap sosok wanita yang dicarinya.
Rania tampak mengenakan kaos polos berwarna putih yang dibalut apron linen hijau lumut, dengan rambut panjangnya yang dicepol rapi menggunakan sumpit kayu. Gadis itu sedang sibuk menghitung nota pesanan di tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk mengatur tata letak kotak-kotak kue tart pesanan pelanggan dengan gerakan cepat, tegas, dan efisien. Sesekali, Rania meneriaki karyawannya untuk segera merapikan loyang sisa adonan dengan nada cerewet namun akrab.
Rangga menarik napas pelan. Ia memilih sebuah meja kecil di pojok ruangan yang agak tersembunyi di balik tanaman hias pot besar. Ia duduk di kursi kayu, menyilangkan kaki, dan melipat tangannya di dada, berusaha bersembunyi di balik kacamata hitam dan topi baseballnya.
Meski Rangga sudah berusaha menyamar sedemikian rupa dengan topi rendah dan kacamata hitam, kehadiran seorang pria berpostur tinggi atletis, dengan garis rahang tegas dan aura karismatik yang kuat di sudut ruangan kecil itu tetap tidak bisa disembunyikan begitu saja.
Dalam waktu singkat, perhatian beberapa pengunjung—terutama para wanita muda dan pelanggan yang sedang mengantre—mulai teralihkan ke meja pojok tersebut.
"Eh, kalian lihat pria yang duduk di pojok sana tidak?" bisik seorang mahasiswi kepada temannya sambil menyenggol lengan sahabatnya, melirik curiga ke arah meja Rangga. "Pakai topi hitam sama kacamata gelap di dalam ruangan siang-siang begini... curiga artis korea atau maling elit."
"Sumpah, ganteng banget!" sahut temannya berbisik heboh dengan mata berbinar-binar. "Meskipun wajahnya setengah tertutup topi, tapi garis rahang dan postur tubuhnya itu loh... wah, sekelas aktor Korea! Tapi kok auranya dingin banget ya, kayak kulkas dua pintu berjalan."
"Heh, jangan diliatin terus, nanti ditelan mentah-mentah sama dinginnya. Tapi beneran deh, tinggi banget badannya. Berasa ada pangeran nyasar beli roti disini."
Bisik-bisik kekaguman itu mulai menyebar dari meja ke meja. Beberapa karyawan toko bahkan sempat melirik penasaran ke arah pojokan, berbisik-bisik di balik konter karena merasa postur pria misterius itu sangat mencolok dan tidak biasa bagi pengunjung toko roti pada umumnya.
Di tempat duduknya, Rangga mendengar sayup-sayup bisikan para pengunjung. Di balik kacamata hitamnya, sudut bibirnya sedikit berkedut geli. Ia mendengus pelan, merutuki kebodohannya sendiri yang memilih duduk di tempat terbuka hanya demi memuaskan rasa penasarannya yang terselubung.
'dasar manusia jaman sekarang,' batin Rangga mencibir dalam hati.'Hanya aku berpenampilan seperti ini langsung dibilang aktor korea tapi lebih mending lah daripada tadi ada yang bilang maling elit, tapi kenapa Rania gak terpesona sama aku ya? Apa aku kurang menarik? Tapi mereka bilang aku tampan. mungkin mata Rania burem kali ya?' Rangga menggelengkan kepalanya, dia menepis pikiran itu.
Ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah Rania. Dari tempat duduknya di pojokan, Rangga mengamati bagaimana gadis itu melayani para pembeli dengan ramah—meski sesekali masih menyisipkan nada protes galak saat ada pelanggan yang menawar harga terlalu murah.
Rangga menggelengkan kepalanya perlahan, sebuah senyuman tipis tanpa sadar terukir di balik bibirnya yang tertutup rapat. Selama berjam-jam lamanya, pria berdarah dingin itu rela duduk diam di kursi kayu yang keras, mengawasi setiap gerak-gerik istrinya sambil terus bergumam dalam hati untuk menutupi gengsinya:
'Aku cuma mau memastikan dia tidak bangkrut.... Aku cuma mau memastikan tokonya tidak memakai uang perusahaanku... Aku cuma mengawasinya sebagai bentuk tanggung jawab suami.....'
Alasan demi alasan konyol terus dirangkai oleh kepala Rangga, menolak mengakui kenyataan sederhana bahwa ia sebenarnya sedang merindukan keberadaan si kucing garong cerewet itu di sisinya.
•
•
•
•