NovelToon NovelToon
Doctor Dom

Doctor Dom

Status: tamat
Genre:Dokter Ajaib / Identitas Tersembunyi / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:75.2k
Nilai: 5
Nama Author: dee Irma

Kecelakaan membuat nyawanya masuk dalam tubuh seorang anak SMA yang menjadi korban saat menolong seorang gadis saat terjebak tawuran siswa.
Mengetahui dirinya telah meninggal, Dom tidak bisa menerima hal itu. Terutama saat dia mulai sering bermimpi buruk yang membuatnya tidak nyaman.
Dom yang seorang dokter bedah ternama, sekaligus dokter peneliti obat obatan, yang memiliki laboratorium, serta pewaris tunggal dinasti dari keluarga yang bergerak di bidang farmasi, harus bisa menerima kenyataan bahwa raganya telah tiada.
Dom menjalani kehidupan sebagai anak SMA, sambil menyelidiki kematiannya sendiri.
Dalam perjalanannya menyelidiki, banyak hal yang tak terduga dialaminya.
Penghianatan, rahasia keluarga, dan teman membuat hidup Dom yang sebagai Arthur semakin berwarna.

Ikuti terus kisahnya hanya di sini.
Jangan lupa like dan komentarnya, baca secara urut juga ya.

Terima kasih 😘💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keributan

"Halo, Dom!" Seringai Stella sambil tertawa lebar.

"Mengapa kamu lakukan ini semua?"

"Kamu tak pantas hidup!"

Stella mengacungkan senapan tepat di kepala Dom, lalu menembaknya.

"Astaga!"

Dom terbangun sambil terengah engah, mimpi buruk lagi.

Dia bangun dari sofa, dan mengambil air mineral, meneguk hingga habis. Dom mengatur napasnya kembali, lalu menoleh ke arah Lucy yang masih tidur dengan nyenyak di atas ranjang.

Dada Dom berdesir.

"Persetan dengan semua. Aku masih normal, lagi pula, ini adalah tubuh Arthur, masih muda."

Dom mulai memikirkan ucapan Lucy yang menyukai dirinya. Namun, dia tak terlihat sungguh sungguh.

Dom kembali mengambil laptopnya, dan meraih botol minumnya yang kosong.

"Yah, habis!" Gerutu Dom, bergegas keluar kamar dan mengambil air mineral.

Sayup sayup, Dom mendengar Lea berbicara di kamarnya, Dom perlahan mendekati dinding kamar dan mendengarkan.

"Ya, aku baik baik saja. Terima kasih untuk semuanya. Tapi, tolong katanya pada Dokter Hana, untuk tidak usah terlalu memperhatikan aku. Aku merasa tidak pantas menerima ini semua. Aku malu Henry. Tolong, cukup. Aku tak ingin membuat lebih banyak orang lain terluka."

Dom tercenung mendengar ucapan Lea, ibu Arthur.

"Ya, Hana juga bilang, Arthur salah satu calon dokter hebat. Ya, Hana juga membantu Arthur merekomendasikan universitas yang bagus, dan akan memberi surat rekomendasi pada perguruan tinggi, karena Arthur sangat berbakat. Ya, virus T20, sama seperti yang mediang Dominic teliti. Aku tak tau akan dampaknya, semoga Arthur tak menyadari hal itu, hingga aku siap untuk mengatakan semua padanya. Besok dia ada pertandingan, aku akan menonton, jika sempat datanglah, ajak Hana juga."

Dom terdiam, lalu bergegas kembali ke kamarnya, setelah mendengar percakapan antara Lea dan Henry, papanya.

"Astaga, apakah Arthur adalah anak dari papaku juga, bersama Lea? Ya Tuhan, apa ini?!" Rutuk Dom dengan kesal sambil memukul dadanya sendiri saat sedang sangat kesal.

"Arthur, kenapa kamu?" Lucy terbangun dan langsung memeluk Dom, menghentikan lelaki itu menyakiti diri sendiri.

Dom menahan rasa marah dan kecewanya yang seakan akan meledak. Dalam pelukan Lucy terasa damai. Dom, tidak merasa seperti Jane, atau mamanya, namun dia merasa sangat tenang saat bersama Lucy.

"Astaga, apakah aku menyukainya? Mengapa aku harus berurusan lagi dengan cinta? Arrgh...?!" Dom kembali merutuki dirinya sendiri.

"Ayahku adalah Henry Luther." Ucap Dom usai mengurai pelukan Lucy.

Lucy melotot menatap Dom.

"Hah, kamu sudah menguji sampel Dokter Henry?"

Lucy memegang wajah Dom dengan penasaran.

"Belum."

"Lalu?"

"Barusan aku tak sengaja mendengar Lea mengobrol dengan papa."

Tanpa sadar Dom menyebut Lea dan mengatakan Henry adalah papa.

Lucy mengerutkan keningnya.

"Mungkin ada alasan tersendiri dari ibumu. Kamu jangan menyalahkannya."

Lucy menatap Dom sambil tersipu.

"Kamu senang?"

"Hah?" Lucy tergagap sambil memalingkan wajahnya.

"Seandainya Dominic masih hidup, siapa yang akan kamu pilih?"

Lucy terdiam.

"Heh, kamu jangan ge er. Sampel belum kamu uji. Lalu, kamu sudah mengaku keturunan keluarga Luther. Seandainya dia masih ada, pasti dia belum tentu menyukaiku."

"Jawaban diplomatis!" Sindir Dom.

"Pikir saja, pria dingin seperti dia mana bisa mendapatkan wanita. Lalu, kamu, jelas berbeda dengannya. Yang pasti aku lebih sering bertemu denganmu."

"Kamu bilang dia pria dingin?"

"Ya memang dia secuek itu, kan?"

Dom menatap Lucy tak percaya. Bagaimana bisa remaja yang masih sekolah bisa menilai kepribadiannya.

Dom langsung mengunci tubuh Lucy, namun, belum sempat menyentuh, Lucy dengan sigap menghindar dan langsung membalas serangan pada Dom.

Lucy melempar bantal pada Dom, lalu Dom membalasnya.

"Astaga kalian!" Pekik Rea sambil melotot.

"Ini jam dua dini hari, kalian masih saja membuat gaduh. Atau kamu mau pindah ke sofa luar, Arthur?!" Ucap Rea tegas.

"Ada apa?" Lea berdiri di ambang pintu menatap dua remaja yang terlihat berantakan sambil geleng geleng kepala.

"Kak, mereka buat ribut dini hari. Bibi mengijinkan kalian tidur di dalam kamar berdua, supaya kalian nyaman, malah bikin gaduh. Atau kalian akan bercinta, hah?"

"Tidak!" Sahut Dom dan Lucy berbarengan.

"Dia yang memulainya, Bi." Lucy mengadu pada Rea.

"Enak saja, kamu yang duluan menggangguku." Bela Dom.

"Enak saja, kamu yang lebih dulu menyerangku.!

" Tidak, kamu!"

"Kamu!"

"Kamu!"

"Astaga kalian ini!" Pekik Rea sambil melotot.

"Mama mu menghubungiku, dia menitipkan kamu pada ku selama dia berada di Eropa. Kamu sekarang tanggung jawabku, Lucy. Jangan mau hamil dengan bocah ini dulu sebelum kalian lulus dan sukses!" Imbuh Rea dengan tegas.

"Bibi, tenang saja. Bocah ini akan menjaga Lucy." Dom menepuk dadanya sambil nyengir.

"Sudah, kalian tidur saja lagi. Besok masih harus sekolah, bukan?" Lea menengahi.

"Maafkan kami, Bibi Lea, dan Bibi Rea. Silahkan melanjutkan tidur kembali." Tukas Lucy.

Akhirnya Lea dan Rea kembali lagi ke kamar masing masing.

"Lucy, apa menurutmu kematian Dominic itu karena sengaja?"

"Bisa jadi. Apa sebaiknya aku mulai menyelidiki papaku? Dia masih bekerja di rumah sakit, aku bisa mencari hal hal yang mencurigakan di rumah sakit."

"Bisa. Tapi, kamu harua berhati hati, Lucy. Aku tak mau kamu terlibat terlalu jauh dan membahayakan dirimu." Dom menatap Lucy.

"Ya." Lucy memalingkan wajahnya yang telah merona karena salah tingkah.

Tiba tiba ponsel Lucy bergetar. Nama Nick tertera pada layar ponsel. Dom melirik, saat mengetahui Nick yang menghubungi, dia hanya bisa menghela napas.

"Ngapain bocah itu menghubungi Lucy lagi?" Gerutu Dom dalam hati.

"Hai, Nick. Ada apa?" Lucy menjawab panggilan Nick sambil duduk di sofa tempat tidur Dom.

"Ya, aku belum tidur. Tidak. Aku terbangun sebenarnya. Kamu tidak mengganguku. Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Seharusnya aku tak meninggalkan kamu kemarin. Oh, aku dan Arthur tidak ada hubungan apa apa. Kami hanya berteman..."

Dom menoleh pada Lucy sambil melotot. Memberi isyarat supaya menyudahi pembicaraan.

Lucy seakan menantang Dom dengan terus berbicara pada Nick.

Dom tersenyum, sebuah ide muncul di kepalanya untuk mengganggu Lucy dan menghentikan pembicaraan Lucy dengan Nick yang lama lama membuat Dom mual.

Dom duduk di samping Lucy, lalu mulai mengusap pundak Lucy perlahan.

Lucy terdiam sejenak, sambil melirik pada Dom. Lalu menepis tangan Dom, yang mulai usil padanya.

"Sudah, cukup, Arthur!" Bentar Lucy sambil menoleh pada Dom.

"Hai, kamu bersama Arthur?" Tanya Nick.

"Eh, ya, tapi, maksudku aku dan dia hanya berteman."

Lucy memberi alasan.

"Jadi benar gosip yang mengatakan kalian tinggal bersama?"

"Secara teknis, ya. Terserah kamu mau percaya atau tidak. Aku dan Arthur hanya berteman."

Lucy melotot pada Dom supaya jangan menganggunya.

"Baik, sampai jumpa besok Nick. Bye!"

Lucy meletakkan ponselnya, lalu mulai merebahkan dirinya ke tempat tidur.

"Kamu mau kembali kencan dengan Nick?"

"Aku tidak mau jawab!" Sahut Lucy dengan ketus.

"Aku sudah peringatkan kamu, dia tak baik bagimu. Aku tak ingin kamu sakit hati padanya."

"Lalu, maksudmu apa? Jangan pikir aku menciummu, dan menyukaimu, lantas kamu bisa melakukan hal posesif padaku."

Dom hanya menghela napas. Lalu, menoleh pada Lucy dan mengangguk.

"Sudah, tidurlah lagi. Besok kita masih harua sekolah."

Dom beranjak menuju sofa, dan merebahkan dirinya di sofa.

Lucy menghela napas panjang, lalu membenarkan selimutnya lagi, dan tidur.

1
MyFamily
mungkinkah Dom anak adopsi
wayang
terimakasih 😊😊😊 telah menghibur 😊😊😊🙏🙏🙏 walaupun diluar ekspektasi endingnya 😂😂😂 🙏🙏🙏 AQ pikir cerita berhubungan dengan doc. dom
wonder mom
tersisa 1 g y? modelan Domi a.k.a Arthur. meski sdh beralih body dan genre pun kesetiaannya tak tergoyahkan. 11 tahun. di dunia nyata, 1 bulan jg udh cari yg baru
wonder mom
jodoh tu g kemana. meski harus pake alur balik bin jungkir dlu. y ttp ketmu
Putri Ayu pertiwi
jurus paling ampuh nyosor bibir ya dom
wonder mom
menarik
Firdaus Tjahyono
lanjut Thor minim 1 hari satu bab /Facepalm/
Firdaus Tjahyono
menarik sekali alur ceritanya
¢ᖱ'D⃤𝐀⃝🥀 iman A.♉ ⏤͟͟͞R
jalan cerita yg menarik smoga sampe end ya thor
Ayu Octaviany
next Thor...
ari sachio
tegang bet akuhhhh kek lg nontong film horor 🤭
Nurul Hikmah
ujian
Nurul Hikmah
ngeces lg
Nurul Hikmah
yaa tdk terus terang.. kurang seru
Nurul Hikmah
lanjutkan thor 😂
Nurul Hikmah
bibi datang
Nurul Hikmah
saling berhubungan saudara
Nurul Hikmah
alasan
Nurul Hikmah
keras kepala
Nurul Hikmah
hahaha 🤣... terus terang saja... bahwa pindah raga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!