NovelToon NovelToon
Gagal Miskin Karena Sistem

Gagal Miskin Karena Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Bagi orang lain, mendapat warisan adalah jalur cepat menjadi kaya. Namun, berbeda dengan Budiman. Warisan yang ia dapat, malah membuat hidupnya nelangsa karena mendapat warisan toko kelontong yang mau bangkrut karena hutang warga yang tak kunjung dibayar.

Lelah menagih dan kesal setiap hari ditipu janji manis, Budiman justru berharap warung itu bangkrut saja. Ia ingin menutupnya dan bekerja sebagai karyawan biasa, hidup tanpa pusing memikirkan hutang orang lain.

Namun, takdir berkata lain.

Saat ia benar-benar mencoba menghancurkan warung peninggalan orang tuanya dengan menjual murah semua, menolak pembeli, bahkan membiarkan stok habis, sebuah suara aneh tiba-tiba muncul di kepalanya:

[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]



Bagaimanakah kisah Budiman yang berusaha bangkrut tetapi tak kunjung sukses? Ikuti alur cerita ini yah ....

#kehidupandidesa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Tragisnya Nasib Warisan

​Aroma debu langsung menyengat hidung Budiman begitu ia menggeser pintu kayu warungnya yang mengeluarkan derit nyaring.

​Kalau bukan karena papan nama tripleks bertuliskan "Kedai Budiman" yang sudah miring dan hampir copot di bagian depan, orang-orang pasti akan mengira tempat ini adalah rumah kosong tempat untuk uji nyali, bukan sebuah warung kelontong.

​"Huuufftt ..." Hanya helaan napas berat yang terdengar di warung sepi itu.

Lalu, matanya beralih ke sudut langit-langit warung, tampak seekor laba-laba raksasa terlihat sibuk merajut sarang baru tepat di atas rak sabun cuci batangan.

​"Oi, laba-laba. Untung kau ndak pakai berhutang pula tinggal di sini. Kalau iya, ntah lah? Macam mana hidup awak ni sampai serangga pun tak bisa menghargai awak," gumam Budiman pasrah menatap makhluk berkaki delapan yang tak memedulikan keluh kesahnya itu.

​Kondisi warung warisan mendiang orang tuanya ini sudah berada di ujung tanduk. Modal sudah habis tak bersisa. Sebagian besar rak-rak kayu di dalam warung terlihat kosong tak mampu diisi karena kehabisan modal.

Barang yang tersisa bisa dihitung dengan jari, dan hampir semuanya adalah "pasukan elite" alias barang-barang hampir expired karena tidak laku.

​Ada tiga kaleng sarden yang labelnya sudah mengelupas dan menyisakan waktu dua minggu sebelum kadaluwarsa. Ada beberapa bungkus mi instan rasa ekstrem yang debunya sudah setebal bedak sasetan, serta dua renteng kopi saset yang mungkin isinya sudah mengeras karena terlalu lama dipajang.

​Sebelum ini, warung kelontong itu tidak lah sepi. Sedari pagi hingga sore selalu ada saja yang datang. Masalahnya, mereka yang datang bukan membawa uang, melainkan membawa kalimat sakti:

"Catat dulu ya, Man. Besok pas gajian Ambo bayar."

​Budiman berjalan ke balik meja kasir yang tripleksnya sudah mulai lapuk. Di sana terletak musuh terbesar dalam hidupnya. Tak lain dan tak bukan adalah sebuah buku bergaris dengan sampul batik yang tebalnya sudah menyamai kamus bahasa.

Begitu dibuka, lembarannya penuh dengan coretan nama tetangga lengkap dengan nominal angka yang membuat kepala Budiman berdenyut.

​Baru saja Budiman meratapi nasibnya, pintu warung diketuk keras. Seorang wanita paruh baya dengan daster bunga-bunga masuk dengan langkah mantap. Dia adalah Uni Linda. Tanpa permisi, tangannya langsung menyambar dua kaleng sarden yang hampir expired tadi.

​"Diman, Uni ambil dulu sarden dua kaleng, ya. Sama mi instan lima bungkus. Catat dulu kayak biasa," ucap Uni Linda tanpa dosa, langsung menyodorkan barang-barang itu ke meja kasir.

​Budiman menahan ujung daster Uni Linda, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya karena luapan emosi yang menumpuk selama ini.

"Maaf, Uni. Sebelum Uni menambah hutang yang baru, tolong lah cicil dulu utang Uni yang bulan lalu sebesar empat ratus lima puluh ribu tu. Modal Ambo sudah habis, Uni. Ndak bisa lagi mutar uang buat belanja ke pasar Agen."

​Wajah Uni Linda langsung berubah drastis. Kedua tangannya langsung berkacak pinggang, dadanya membusung menantang.

"Ondeh, Diman! Baru jadi pemilik warung berapa bulan saja sudah pelitnya minta ampun! Kita ini bertetangga, harusnya saling membantu. Lagipula utang segitu saja kenapa diributkan, nanti kalau ada uang pasti dibayar! Tak akan lari warungmu ini kan? Nanti Uni antarkan."

​Belum sempat Budiman membalas, malah masuk lagi Uda Zal, seorang pria bersarung yang memakai kaus kutang sambil merokok. Tanpa melihat situasi, ia langsung menyambar sabun mandi, dua saset sabun cuci, dan satu kaleng sarden terakhir di rak.

​"Diman, gabungin sama utang kemarin ya. Total berapa semuanya?" tanya Uda Zal tanpa beban.

​"Nah, ini satu lagi. Uda Zal! Utang Uda yang bulan kemarin saja sudah enam ratus ribu!" Suara Budiman mulai bergetar karena frustrasi.

"Katanya mau bayar habis panen, tapi panen Uda sudah lewat tiga kali tapi tak kunjung dibayar juga. Tolonglah dicicil dulu, Uda ... Uni. Kalau diutang terus, barang Awak habis, tapi uangnya tak ada!"

​Uda Zal malah mendengus remeh, mengembuskan asap rokoknya tepat ke arah wajah Budiman.

"Heh, Budiman! Kamu jangan sok menghakimi kami. Ambo memang sudah panen, tapi semua gagal karena hama, kamu kan tak tahu bagaimana susahnya menjadi petani? Lagian warungmu ini cuma warisan gratisan, modalnya pasti banyak dari almarhum ayahmu. Masa sama masyarakat kecil yang lagi kesusahan kamu perhitungan kali? Macam lintah darat kapitalis saja kau! Sudah, catat saja!" cecarnya lebih beringas dibandinh

​Tanpa rasa bersalah, kedua tetangga egois itu melenggang pergi membawa sisa barang berharga di sana. Budiman hanya bisa melongo menatap rak warungnya yang kini benar-benar kosong melompong. Semua lenyap ke dalam pusaran utang tanpa kepastian.

​Penderitaan Budiman belum berakhir. Tak lama kemudian, suara motor bebek berhenti di depan warung. Dua orang pria berseragam biru-kuning turun sambil membawa tangga dan tang pemotong. Jantung Budiman langsung berdebar hebat melihat kedatangan petugas PLN.

​"Permisi, dengan pemilik Kedai Budiman?" tanya salah satu petugas, ramah namun mematikan.

"Berdasarkan data sistem, aliran listrik di warung ini sudah menunggak selama tiga bulan dengan total tagihan satu setengah juta rupiah. Sesuai prosedur, hari ini kami harus melakukan pemutusan jaringan."

​Budiman langsung berlari keluar, nyaris bersimpuh di tanah kering.

"Pak, tolong Pak ... beri saya waktu tiga hari saja. Saya baru mau menagih utang ke warga. Jika listrik diputus, warung saya akan mati total, Pak."

​Petugas itu menggeleng prihatin. "Maaf, Uda Budiman. Perintahnya sudah mutlak dari pusat. Nanti kalau sudah dilunasi tunggakannya, baru bisa kami pasang lagi."

​Dengan cekatan, petugas itu naik ke tiang, dan dalam hitungan menit ... KRETEK! Kabel utama dipotong. Aliran listrik ke warung Budiman resmi mati total.

.

.

.

​Saat malam datang, Budiman duduk sendirian di dalam warung yang gelap gulita. Hanya ada sebatang lilin kecil yang menyala di atas meja kasir, bergoyang ditiup angin malam yang masuk dari celah pintu kayu yang rusak. Di luar, hujan mulai turun rintik-rintik, menambah penderitaan Budiman.

​Ia menatap buku utang bersampul batik di depannya di bawah temaram sinar lilin. Buku itu penuh berisi angka jutaan, tapi laci kasirnya kosong melompong. Jangankan uang satu setengah juta buat bayar PLN, uang sepuluh ribu buat beli sebungkus nasi ramas saja dia tidak punya malam ini. Perutnya berbunyi nyaring, keroncongan.

​Air mata Budiman akhirnya menetes juga, jatuh tepat di atas halaman buku utang Uni Linda yang buram.

​Ia lelah. Sangat lelah. Menagih haknya sendiri malah dicaci-maki dan dianggap sebagai penjahat di kampung sendiri, sementara perutnya lapar dan listriknya diputus, tak ada satu pun warga yang peduli.

​Dengan frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun, Budiman menggebrak meja lapuknya hingga lilinnya hampir padam. Ia mendongak menatap langit-langit, lalu berteriak histeris meluapkan seluruh emosinya.

​"TUHAN!!! KALAU TAHU JADI JURAGAN WARUNG MENDERITA BEGINI, AKU NDAK MAU KAYA! BIARKAN WARUNG SIALAN INI BANGKRUT SEBANGKRUT-BANGKRUTNYA BIAR TUTUP SEKALIAN! AKU MAU JADI MISKIN DENGAN TENANG SAJA TANPA PERLU LIHAT ORANG MENGUTANG LAGI!!! DENGAR ITU?! AKU MAU WARUNG INI HANCUR!!!"

​Budiman menyeka air matanya dengan kasar, berniat meniup lilin dan tidur di atas lantai semen yang dingin agar besok pagi bisa menggembok warung ini selamanya.

​Namun, tepat saat bibirnya baru saja mengerucut di depan sumbu lilin...

[​ TIINGG! ]

​Sebuah suara denting digital yang sangat jernih mendadak bergema di dalam batok kepalanya.

​Detik berikutnya, seberkas cahaya biru neon misterius memancar vertikal dari udara kosong, menembus kegelapan, dan langsung memindai buku utang bersampul batik di atas meja.

​[ Mendeteksi Gelombang Frustrasi Mutlak dari Pengguna ...]

[ Sistem Kompensasi Finansial 'Makin Bangkrut Makin Kaya' Resmi Diaktifkan! ]

​Budiman melotot, mulutnya terbuka dengan lebar, rahangnya jatuh ke bawah menatap tulisan hologram yang melayang di depan hidungnya.

*bersambung*

1
arielskys
senangnya ngprank ya sistemnya
arielskys
episode ini ngakak bgt loh?
arielskys
ada ambulance 🤭
arielskys
wahahaha🤣
arielskys
nah tuh, akal2anmu budiman, bener2 gak bisa dihubungi jadinya kan
Syahril Maiza
lanjut up dong thor. kok cuma 1 bab
Syahril Maiza
nikahin aja sanah
Syahril Maiza
bukti cinta diam2 ya
Syahril Maiza
harusnya jiwa kaya raya yg ditingkat kan man
Safira Aurora
greget bgt, org senang kalau kaya, ini pengen bgt miskin
Safira Aurora
santui syekali
Safira Aurora
ga ada pembeli = ga ada yang mengusik
Aku Rajin Membaca
jiwa miskinnya kmbali bngkit 😂
Aku Rajin Membaca
tiba2 bhgia
Syahril Maiza: kebahagiaan terselubung
total 1 replies
Aku Rajin Membaca
niatnya buat bntu mkin rugi, trnyta malah mkin pinter ya
arielskys: belajar secara otodidak
total 1 replies
Aku Rajin Membaca
bgus roni 🙏 nanti kalau gempa, ttp lanjutkan tugasmu
Aku Rajin Membaca
berarti bertugas dengan baik 😂
MomyWa: sesuai yang diharapkan
total 1 replies
Aku Rajin Membaca
hmmm, gimana nih? kok bisa?
arielskys: bisa2 aja
total 1 replies
Syahril Maiza
makin seru aja dan bikin penasaran dgn reaksi budiman 😭
arielskys
kok sekarang pelit up nya thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!