Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadis!
"Kau gila, ya!" salah satu dari mereka mendesis tajam, matanya membelalak menatap tubuh Aji yang masih mengejang di lantai. Nada suaranya penuh dengan kemarahan dan ketakutan yang tertahan.
"Itu tidak ada dalam rencana! Kita hanya perlu menakut-nakuti, bukan membunuh!"
Pria yang menebas leher Aji hanya mendengus dingin. Ia menyeka bilah parangnya yang basah ke kain celana Aji tanpa sedikit pun rasa sesal.
"Terus, kau mau kita ketahuan? Kau mau wajah kita dikenali dan akhirnya membusuk di penjara? Hah!" balas si penebas dengan nada lebih tinggi, menekan setiap kata seolah ingin membungkam bantahan.
Ia menatap rekan-rekannya satu per satu, matanya yang tajam menyapu wajah mereka yang tertutup masker.
"Kalau dia sampai hidup, habislah kita semua. Sekarang, pilihan kalian cuma dua, ikut aku menyelesaikan ini, atau kalian mau membusuk di penjara." Suasana di teras menjadi semakin mencekam. Keempat rekannya terdiam.
Mbok Warsih yang sudah jatuh terduduk. Lututnya terasa lemas, tak lagi mampu menopang bobot tubuhnya yang gemetar hebat.
Ia tidak lagi mampu mengeluarkan suara, paru-parunya seolah membeku, menolak untuk menghirup udara yang kini berbau anyir darah.
Di luar sana, kelima bayangan itu tidak berhenti. Mereka tidak mempedulikan tubuh tanpa kepala milik Aji. Pria yang wajahnya sempat dikenali Aji tadi, kini menyarungkan kembali parangnya dengan gerakan dingin.
Ia menendang tubuh Aji hingga bergeser ke samping, membuka jalan untuk masuk ke dalam vila.
"Selesaikan ini dengan cepat," ucapnya.
Mbok Warsih merangkak mundur dengan sisa tenaganya, mencoba menjauh dari pintu yang terbuka lebar. Pikirannya kalut. Bagaimana dengan Pak Gunawan? Bagaimana Bu Sri, Lela dan Sumi?
Di lantai dua, Pak Gunawan tersentak dari tidurnya saat teriakan Mbok Warsih yang melengking. Matanya terbuka lebar, jantungnya berdegup kencang di balik kegelapan kamar. Ia segera menyingkap selimut dan bergegas turun dari tempat tidur.
"Ada apa itu?" gumamnya dengan nada cemas.
Baru saja ia akan melangkah menuju pintu, tangannya di tahan oleh Bu Sri yang ternyata juga sudah terbangun karena teriakan itu.
"Mas, mau ke mana?" tanya Bu Sri, mencengkeram lengan suaminya erat-erat.
Pak Gunawan menatap istrinya sejenak.
"Di bawah sepertinya ada keributan. Aku harus melihatnya. Aku mendengar suara Mbok Warsih tadi."
"Aku ikut mas." Kata Bu Sri.
"Tidak. Kamu tetap di sini."
"Tapi, Mas..."
"Sri!" potong Pak Gunawan.
"Tetap di dalam kamar. Aku hanya akan melihat sebentar, siapa tahu ular masuk kedalam." Kata Pak Gunawan.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Pak Gunawan melepaskan tangan istrinya dan bergegas menuju pintu.
Pak Gunawan melangkah cepat menyusuri koridor lantai dua. Namun, langkahnya terhenti kaku tepat di bibir tangga. Dunianya seakan runtuh dalam satu kedipan mata.
Pak Gunawan menuruni anak tangga dengan langkah gemetar. Pandangannya terkunci pada sosok Mbok Warsih yang tergeletak tak berdaya di lantai marmer yang dingin. Darah segar mengalir deras dari perutnya yang robek menganga akibat tebasan parang.
Dengan napas yang tersengal, Pak Gunawan menjatuhkan diri di samping Mbok Warsih. Ia menangkup wajah wanita tua itu dengan tangan yang gemetar hebat.
"Mbok... Mbok Warsih..." suara Pak Gunawan pecah.
Mata Mbok Warsih yang sayu perlahan terbuka. Ia menatap Pak Gunawan dengan sisa-sisa kesadaran yang tipis.
Tangan kirinya yang berlumuran darah mencengkeram lengan Pak Gunawan dengan tenaga terakhir yang ia miliki.
"Pa... Pak... pergi... lari..." bisik Mbok Warsih tertahan, disusul batuk darah yang keluar dari mulutnya.
"Jangan... jangan ke sini... segera... selamatkan..." Kalimatnya menggantung. Kepala Mbok Warsih terkulai lemas, tangannya terlepas dari lengan Pak Gunawan, dan napasnya berhenti seketika.
Di saat bersamaan, Lela dan Sumi muncul dari balik sudut ruang tamu, tepat di ambang tangga. Mereka membeku melihat pemandangan mengerikan di depan mata. Wajah mereka pucat pasi, tak mampu mengeluarkan suara selain isak tertahan.
"Mbok...?" panggil Sumi dan Lela lirih, hampir berupa bisikan yang bergetar.
Belum sempat duka merasuk, langkah kaki berat terdengar dari balik ruangan lain.
Pria yang tadi menebas leher Aji muncul kembali ke ruang utama dengan parang yang masih meneteskan darah. Begitu matanya menangkap sosok Pak Gunawan, ia berhenti sejenak, lalu menyeringai lebar.
Pak Gunawan tersentak berdiri. Melihat empat rekan perampok lainnya mulai berdatangan dari arah dapur dan ruang tengah, ia sadar nyawa mereka semua terancam.
"Sumi! Lela! Selamatkan Ibu!" Ucap Pak, mengalihkan perhatian para perampok.
Tanpa membuang waktu, Pak Gunawan menerjang pria yang baru saja kembali itu, menahan tubuhnya dengan sekuat tenaga agar tidak bisa naik ke tangga.
Pria itu terkejut, namun langsung mengayunkan parangnya dengan brutal. Sementara itu, keempat perampok lainnya mengabaikan Pak Gunawan dan langsung berlari menuju tangga, mengejar Sumi dan Lela.
"Cepat lari!" teriak Pak Gunawan lagi sambil bergulat sengit, membiarkan tubuhnya terkena sabetan demi memberi kesempatan bagi kedua pelayan itu.
Sumi dan Lela berlari menaiki tangga dengan sisa tenaga mereka, air mata bercucuran. Mereka menerobos masuk ke kamar Bu Sri dan membanting pintu, lalu segera menguncinya rapat-rapat.
Bu Sri yang masih di atas ranjang langsung bangkit dengan wajah cemas.
"Apa yang terjadi?! Di mana Bapak? Mengapa kalian menangis?"
Sumi dan Lela jatuh tersungkur di lantai, napas mereka memburu dan tak beraturan. Lela menatap Bu Sri dengan tatapan kosong, tubuhnya berguncang hebat.
"Nya..." isak Lela terbata-bata.
"Mbok Warsih... Mbok Warsih sudah meninggal..."
"Apa?!" Kata Bu Sri, suaranya mulai meledak. Ia turun dari ranjang dengan gerakan terburu-buru, tangan kanannya refleks mendekap perutnya yang membuncit besar, melindungi nyawa yang tumbuh di dalamnya dengan naluri keibuan yang membaja meski tubuhnya gemetar hebat.
"Lela, katakan padaku itu tidak benar! Apa maksudmu Mbok Warsih meninggal?"
Lela, yang terduduk di lantai, menatap Bu Sri dengan pandangan kosong yang mengerikan. Air mata terus mengalir, membasahi wajahnya yang pucat.
"Mbok Warsih... mereka... Membunuh..." isaknya lirih, belum sempat dia melanjutkan ucapannya, suara sudah tenggelam oleh suara gedoran keras yang tiba-tiba menghentak pintu kamar.
BRAK! BRAK! BRAK!
Kayu pintu itu bergetar hebat. Bu Sri tersentak, wajahnya yang tadi penuh kecemasan kini berubah menjadi harapan yang putus asa.
"Itu Bapak!" serunya, kakinya melangkah tertatih menuju pintu.
"Jangan, Nyonya! Jangan buka pintunya!" Lela menerjang maju, mencengkeram kaki Bu Sri dengan erat, menahan langkah wanita itu.
"Itu bukan Bapak! Itu mereka! Itu penjahat yang membunuh Mbok Warsih!"
Sumi, yang sejak tadi terdiam karena syok, tiba-tiba berdiri. Matanya yang merah menatap sekeliling kamar dengan liar.
"Kita tidak bisa diam di sini, mereka akan mendobrak pintu. Kita harus pergi!"
"Pergi ke mana?" tanya Lela dengan suara gemetar, menatap pintu yang kini mulai retak di bagian engselnya.
"Kita terjebak di lantai dua!"
Sumi menoleh ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman belakang.
"Lewat jendela," jawab Sumi tegas.
"Tidak bisa!" potong Lela cepat, suaranya naik satu oktaf karena panik.
"Nyonya sedang hamil besar! Bagaimana mungkin dia turun dari ketinggian seperti itu!"
Bu Sri hanya bisa terdiam, tangannya yang memegang perut terasa dingin sedingin. Pikirannya kosong. Ia tidak memahami sepenuhnya situasi apa yang sedang terjadi.
Sumi tidak menghiraukan debat itu. Ia bergerak cepat, menyambar selimut tebal dari atas tempat tidur, lalu menarik lemari pakaian hingga terbuka lebar. Ia mengeluarkan beberapa potong kain, sarung, dan sprei cadangan. Dengan tangan yang gemetar hebat namun terampil, ia mulai mengikat ujung-ujung kain itu menjadi satu.
"Kita tidak punya pilihan lain, Lela!" seru Sumi, simpul demi simpul ia kencangkan dengan kekuatan sisa tenaganya.
"Kalau kita tetap di sini, kita semua akan mati. Bantu aku mengikat ini ke tiang ranjang!"
Lela tertegun, lalu dengan cepat berdiri dan membantu Sumi. Mereka bekerja seperti orang kesurupan, mengabaikan suara dobrakan yang kembali terdengar di pintu.
BRAK!
Kayu pintu mulai retak.
"Nyonya," panggil Sumi lembut namun mendesak, menatap Bu Sri yang masih mematung.
"Dengarkan saya. Ini satu-satunya jalan. Kita akan turun perlahan." Bu Sri menatap selimut dan kain yang kini terjalin menjadi tali darurat yang panjangnya menjuntai ke arah kegelapan halaman di bawah sana.
"Tapi Bapak bagaimana?" Tanya Bu Sri memikirkan suaminya.
"Bapak yang meminta kami menyelamatkan nyonya. Jadi nyonya harus pergi dari sini dengan selamat."