NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:779
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

"Turi!"

Suara tarikan ditambah gedoran pintu, membuat seorang gadis muda tersentak. Tanpa sengaja menjatuhkan piring cuciannya.

"Turi! Buka pintu! Atau aku dobrak!"

Si gadis, sambil meraba, mencari pegangan untuk berjalan. Namun belum sampai ke gagang pintu. Sebuah tangan menariknya kasar.

"Dengar ya, Melati buta! Kalau kamu sampai mengatakan aku ada di rumah, aku tak segan akan mengusirmu dari rumahku ini, paham," bisik seseorang, menahan suaranya agar tetap rendah.

"Bi Turi minta aku berbohong lagi?" tanya Melati, dengan suara gemetar.

Baru sang bibi akan membuka mulut. Suara pintu terbuka kasar terdengar. Keras. Brak!!

Turi membulatkan mata, begitu melihat beberapa orang dengan tubuh besar, berhasil menerobos masuk.

"Hei Turi! Kupingmu soak ya? Dipanggil-panggil nggak menyahut. Sudah bosan hidup kamu?" Seorang pria, dengan kulit legam dan kepala plontos melangkah, menghampiri.

"Anu ... saya belum ada duit buat ...."

"Alasan!" Pria itu memotong tajam. Lalu memberi kode ke rekannya. "Ambil barang apa saja di sini, yang penting bisa buat nutup asokan."

"Tunggu! Tolong berhenti!" Turi berteriak, panik. "Tolong jangan ambil barangku!" Ia melirik Melati, yang sama bingungnya. "Bagaimana kalau dia, aku jadikan jaminan utang." Tanpa diduga ia menyeret Melati, lalu menyodorkannya ke para preman suruhan sang juragan.

Melati berusaha menepis. Namun Turi terus memaksa. "Melati ini masih perawan. Masih segel. Ambil saja dia. Aku tak peduli. Asal jangan kalian ambil barang di rumahku."

"Bi Turi ...." Melati tercekat. "Bibi tega menyerahkanku sebagai jaminan utang?" Ia hampir menangis.

"Iya!" sahut Turi ketus. "Kamu itu nggak ada gunanya. Sudah buta, nggak menghasilkan uang lagi.”

Para preman menatap Melati, dari atas sampai bawah.

"Sudah jangan dilihatin terus. Cepat hubungi Juragan Herwanto. Utangku, aku ganti sama Melati. Meski buta, dia bisa dijadikan cewek bispak!" Turi mendesak.

"Wah, mulus juga barang jaminanmu, Turi.” Seringai si kepala plontos, membuat bulu kuduk merinding. Tangannya yang kasar mulai mencengkeram rahang Melati, memaksa wajah gadis itu mendongak.

Atmosfer ruangan seketika mendingin, dipenuhi ketegangan yang mencekam.

"Lepaskan saya! Tolong!" Melati menjerit histeris, meraba udara dengan panik saat tubuhnya diseret paksa menjauh dari dinding panti. Jantungnya berpacu liar.

"Diam atau mulutmu aku lakban!" bentak preman lain yang langsung merampas ponselnya, menekan nomor Juragan Herwanto dengan cepat. "Bos, Turi ngasih jaminan perawan. Bagaimana?”

Suara diseberang menjawab, “Bagaimana rupanya?”

“Lumayan, Bos. Cantik. Cuma cacatnya dia kurus dan buta.”

“Buta?” suara di seberang twrsnetak kasar. “Siapa namanya?”

“Melati, Bos.”

“Oh, dia anak kakaknya si Turi. Tak apa. Bawa saja dia. Sampai janda Turi nggak ngasih asokan. Gadis buta itu, akan aku jual, buat menutup utang. Hahaha!”

Sambungan terputus.

Melati menggeleng kuat, air matanya luruh membasahi pipi. "Bi Turi, demi Tuhan, aku ini keponakan Bibi! Tolong jangan buang aku, Bi," ratapnya memilukan, memohon pada kekosongan di depannya.

"Alah, berisik!" Turi justru melangkah mundur, sengaja mengunci rapat lemari bajunya seolah kehadiran Melati tak pernah ada di sana. "Bawa dia pergi secepatnya! Yang penting utangku nutup. Aku nggak peduli lagi sama si buta itu.”

"Sialan, dia berontak terus!" Si kepala plontos menjambak rambut Melati, menariknya kasar hingga gadis itu tersungkur ke lantai.

Tak sampai di situ. Seorang preman bahkan membuang tongkat, dan menyeretnya paksa.

Melati terus meronta. Berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku! Aku bukan budak! Tolong!"

Jeritan diselingi isaknya, mengundang perhatian tetangga. Namun mereka hanya diam. Nama besar Juragan Herwanto, cukup membuat bergidik ngeri. Mengingat track-record sang juragan di kota kecil 'T'.

Para preman terus menyeret melati. Masuk ke dalam mobil. Mengacuhkan tangisan si gadis. Seakan itu hanya embusan angin tak berarti.

Begitu melati sudah masuk. Pintu mobil ditutup kasar. Mulai melaju.

"Kenapa kalian membawaku? Aku cuma gadis buta. Tidak akan memberi manfaat apapun kepada kalian!"

"Buta kan cuma matamu. Tubuh-mu tidak cacat kan?"

Para preman mulai melontarkan kalimat bernada ejekan.

"Yang penting bisa nganu, buta tak masalah, hahaha."

Gelak tawa, mulai menggiring kata ke pe-lecehan verbal.

Melati tak bisa berkutik. Tubuhnya gemetar hebat. Ia terus melafalkan doa. Berharap sang pencipta mengulurkan tangan, untuknya.

Di saat hampir putus harapan. Tiba-tiba mobil berhenti.

Dalam kegelapan, Melati bisa mendengar suara umpatan. "Dasar sopir geblek! Bisa-bisanya bongkar muatan di tengah jalan!"

Tak lama, suara pintu terbuka terdengar. Melati mulai meraba. 'Pintunya, tidak ditutup!' batinnya mulai melihat kesempatan.

Tak membuang waktu. Melati turun. Ia mengayunkan kakinya ke luar, menginjak aspal yang kasar. Berjalan sempoyongan, meraba dinding lembab di sisinya, dengan jemari yang bergetar hebat. Jantungnya berdegup kencang bak ditabuh bertalu.

"Hei jangan lari!"

Suara teriakan di belakang, membuat Melati panik. Meski demikian, ia tak berhenti. Terus berjalan cepat. Bahkan sampai berlari. Demi menghindari tangkapan. "Ya Tuhan! Tolong aku!"

Dalam pelariannya, Melati tak henti berdoa. Sampai seseorang menarik. Kemudian membekap mulutnya.

"Emphhhh."

"Melati tenanglah!"

Suara bisikan itu tak asing. Membuat Melati mengingat.

"Siapa mereka, kenapa mereka mengejarmu?"

Bekapan tangan itu, akhirnya mengendur lalu perlahan lepas. Melati dengan terengah, mencengkeram udara kosong.

"Bibiku ... dia mau menjualku," suara Melati gemetar, menahan isak. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menepis takut. "Kamu siapa? Dan ini di mana?"

"Kamu lupa padaku? Ini aku Satya. Sekarang kamu ... sedang berada di gang masuk, rumah kontrakanku."

"Setya? Kau Satya teman pantiku?" Melati mulai meraba, hampir mengenai wajah, tapi Setya menepis cepat.

"Jangan sentuh aku!" bentak Satya dengan suara serak, mundur selangkah hingga punggungnya membentur tiang listrik di belakangnya. Atmosfer seketika mencekam tatkala derap langkah para preman terdengar kian mendekat ke arah gang.

"Maaf aku lupa," bisik Melati, menggeser kakinya mundur. “Kamu selalu tak mau aku menyentuh wajahmu. Maafkan aku.”

Ceplosan Melati, membuat hati Satya mencelos. Ia memang tak pernah mengizinkan, demi menutupi wajah cacat, yang menurutnya adalah aib.

“Tak apa. Ayo ikut aku!” ajak Satya, mendesak. “Sementara … kamu bisa bersembunyi di rumahku.”

Melati dengan tubuh yang masih gemetar, mengikuti arahan Satya. Tangan sang pemuda itu, menuntun si gadis yang terperangkap dalam kegelapan abadi.

"Brengsek, mereka sudah di depan!" umpat Satya tegang. Tanpa membuang waktu, ia segera membopong tubuh Melati. Berlari.

Satya menurunkan tubuh Melati. Di depan pintu tertutup. Sebuah rumah sederhana. Dengan napas terengah.

"Aku merepotkanmu lagi ya," ujar Melati, pelan. Menunduk, wajahnya mendadak berubah memerah. "Ma-af."

"Kamu tidak pernah merepotkanku, Mel." Satya mengulurkan tangan, membuka pintu. "Masuklah."

Melati menurut. Ia meraba tangan Satya. Untuk bisa masuk ke dalam rumah.

"Maaf, berantakan." Satya mengelus tengkuknya kikuk. Bergegas merapikan serak pakaian, dan bungkus plastik makanan, bekas sarapan tadi pagi.

"Aku mana tahu berantakan atau tidak, hehehe." Melati terkekeh. "Aku kan buta."

Satya terdiam sejenak. "Aku juga sama. Kamu kan tahu, kalau dulu … Aku tak bisa berjalan. Tapi berkat kamu, aku akhirnya bisa menampakkan kaki lagi."

"Itu karena usahamu Satya." Melati tersenyum getir.

"Kamu juga pasti bisa melihat, Mel. Aku yakin." Melihat raut sedih sahabatnya, Satya mencoba memberi semangat.

"Kakimu itu utuh. Kamu semula kan memang bisa jalan, Sat. Masih bisa diusahakan. Sementara aku ...." Melati memutus kalimat. Menghela napas sejenak, baru melanjutkan, " .... Aku dari lahir sudah buta."

"Jangan putus asa begitu!" suara Satya meninggi. "Selama Tuhan beri nyawa. Jalan itu pasti ada."

"Jalan? Jalan apa?" sambar Melati tajam. "Coba jelaskan padaku. Bagaimana cara supaya aku bisa melihat? Dengan operasi? Uang dari mana, Sat? Ini saja Bi Turi, menjualku, karena nggak mampu bayar utang.”

Satya terdiam. Ia bukan tak tahu, kalau Melati berasal dari keluarga kurang mampu. Hanya saja, ia ingin memberi penghiburan. Pada gadis yang pernah melewati, pahit manis, hidup di panti.

"Aku punya uangnya, Mel! Akan aku usahakan kamu bisa melihat. Bisa mendapat dokter terbaik ...."

Melati terkekeh getir, memotong, “Ah, kamu dari dulu suka sekali halu.” Sambil mengibaskan tangan. “Apa kamu lupa? Kita ada di panti karena kita miskin. Hehehe.”

Setya ingin berterus-terang, tentang siapa dirinya. Namun lidahnya kaku. Ia tak mampu, membuka jati dirinya. Sebab percuma. Harta yang seharusnya miliknya, tak lagi menjadi … miliknya.

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!