Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rahasia masa lalu
"NGAPAIN LO LIAT LIAT FOTO GUE?!"
pekik Azura yang tiba-tiba saja datang entah dari mana.
Leon terkaget, langsung berbalik menatapi Azura yang berdiri dekat kursi dengan ransel yang menggantung di sebelah bahunya.
Alis gadis itu menukik seram, menatap Leon tajam yang tengah memegangi fotonya.
Azura melangkah dengan langkah besar, merebut foto yang di pegang Leon. Matanya melotot dengan rahang terbuka, menatap foto itu sejenak lalu menatap Leon penuh curiga.
Leon gelagapan, ingin bicara namun seolah ada yang menahan mulutnya, jadi dia hanya mangap mangap tidak jelas.
'mampus kau Leonard!'
Mata Azura memincing. "Maksud Lo apa liat foto gue yang ini?" Katanya penuh tekanan "Jangan bilang... Lo lagi ngelihatin foto gue buat dijadiin bahan fantasi? Iya kan? Ngaku!" Tuduh Azura menggebu-gebu.
Leon menggeleng keras.
"Aku tidak-"
"APA?! mau ngelak? Gue tau gue cantik. Tapi Lo jangan berbuat jijik gitu dong, gak sopan tau gak?!"
Teriaknya marah, menaruh foto itu kasar. "Eeh-"
Leon melangkah cepat. Dalam sekejap, punggung Azura sudah menempel di dinding. Kedua tangan Leon menahan kedua tangan gadis itu di sisi kepalanya.
Azura melotot kaget.
"Lo- ngapain? Jangan macem-macem! Gue tendang telor Lo!" Katanya panik, kepalanya menoleh kanan kiri memastikan tidak ada yang melihat adegan mereka yang terlihat ambigu.
Leon malah mendekatkan wajahnya, menatap wajah Azura yang tampak lucu ketika sedang ketakutan seperti ini.
" Kau takut?" Bisiknya pelan. Wajahnya tetap tenang, namun ada rasa kesal di matanya.
" Enggak-"jawab Azura cepat, sialnya jantungnya malah berdetak keras, dengan pipi merona.
Pasalnya wajah Leon sangat dekat dengan wajahnya, sehingga Azura bisa mencium aroma mint dari nafas pria itu.
Leon semakin mendekatkan wajahnya ketika mendengar perkataan Azura.
Dia menatap bibir kecil yang merah merona di depan matanya. Menelan ludah dengan gugup.
"Lepasin gue! Gila ya Lo? Kalo ada yang liat bakal di sangka aneh-aneh, Lo mau di marahin mami?" Berontak Azura.
Namun Leon malah semakin mendekatkan wajahnya. Azura bahkan tidak bisa berbuat apa-apa, lengan dan kakinya di kunci oleh pria itu.
Dia hanya bisa memejamkan mata dengan pasrah.
Leon mendekatkan bibirnya pada telinga Azura, membuat bulu kuduknya meremang karna hembusan nafas Leon.
"Jangan pernah mengataiku gila. Sekali lagi kau mengulanginya, aku tidak akan tinggal diam." Ancam Leon berbisik pelan.
Azura sedikit gentar, suhu di ruangan mendadak dingin sampai menusuk ke tulang.
Leon melepaskan lengan Azura, dan mundur.
Azura mengusap pergelangan tangannya yang sedikit merah. Lalu menatap tajam Leon. "Sakit tau gak? Lo keterlaluan ya?" Ucapnya meringis. "Terus ngapain Lo liatin foto gue yang ini? Kan banyak foto lain yang bisa Lo liat, kenapa harus yang ini?" Cercanya.
Leon melengos, membuang nafas kasar, memasukan kedua tangannya ke saku celana.
"Aku hanya melihat pemandangannya," ujarnya, seraya melihat ke arah lain.
"Idih... Bohong banget, bilang aja liat gue, gue kan cantik" ucap Azura pede seraya mengibaskan rambutnya.
Leon melengos pergi. "Tapi di sana kau terlihat jelek" cibir Leon seraya melangkah menjauh.
Azura mengangga. "bukan gue yang jelekk! Tapi mata Lo aja yang rusak! SIALAN!!" Makinya "cewek cantik gini kok di bilang jelek, mata Lo aja yang rabun. DASAR PURBA!!"
Leon tak perduli, terus melangkah menuju dapur.
Azura memutar matanya, menenangkan nafasnya, lalu pergi ke kamar dengan hati panas.
Di Valeriona.
Aurora tengah duduk tenang di depan jendela kamar, menatap langit malam yang gelap. Rembulan tseolah enggan menampakkan diri, dia bersembunyi di balik awan. Membuat malam terasa begitu gelap.
Aurora terlihat beberapa kali menghela nafas, tangannya memegang secangkir teh yang sudah dingin, yang sama sekali belum dia munim.
Ceklek!
Everial masuk ke dalam kamar, dia melihat Aurora yang masih duduk diam. Everial menghampiri Aurora, memegang pundaknya pelan.
Aurora sedikit menolehkan kepalanya, menyentuh tangan Everial yang berada di bahunya.
"Ada apa?" Tanya Everial, seraya duduk di samping perempuan itu " kenapa kau belum juga tidur? Hari sudah malam, nanti tubuhmu sakit" tatapan lembut Everial berikan pada Aurora.
Aurora menatap Everial dengan cemas, dia sedikit menunduk sebelum mengatakan sesuatu.
"Aku takut... Dia pulang"
Everial memegangi bahu Aurora, menatapnya lembut, dengan sorot mata lelah.
"Heii, dengar aku. Kejadian itu sudah bertahan tahun lamanya, bahkan Elva sudah menutup semua akses menuju ke sana?" Ucapnya tak yakin. Everial menatap ke depan, menghela nafas panjang "bahkan dia tidak tau tentang itu sedikitpun"
Mata Aurora berembun, ingin percaya, namu ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Tapi dia pergi meninggalkan mahkotanya," dia berdiri, berjalan pelan menuju ranjang, membaringkan tubuhnya dengan lesu.
Everial menatap punggung istrinya yang tengah berbaring, dia menutup jendela, mematikan obor. Membuat ruangan itu remang-remang.
Dia juga membaringkan tubuhnya di kasur. Setelah hilangnya Leon, dia menjadi sibuk dengan pencarian pemuda itu. Sehingga dia menjadi kurang istirahat.
Setelah mencoba beberapa saat untuk tidur, tapi mata Everial seolah enggan tertutup, dia terbaring dengan satu tangan di jadikan bantal, menatap langit-langit kamar seraya menatap jauh ke masa lalu.
'*apa mungkin? Tapi, Elva sendiri yang menutupnya*,'
Everial merasa seluruh tubuhnya lelah akibat kurang istirahat, dia terus memaksa matanya untuk terpejam
Lunaventia.
Dhapne tengah tertidur nyenyak di kasur, namun dia terganggu dengan tepukan di dadanya. Sedikit membuka mata, mendapati Arselia tengah bermain di atas ranjangnya.
Dhapne tersenyum kecil, mendudukkan dirinya, mengusap kepala Arselia pelan.
"Kau sudah bangun?" Tanyanya. "Apa kau sudah makan?"
Arselia mengangguk kecil, tersenyum ceria pada Dhapne, seraya memperlihatkan boneka beruang nya. "Kaka, lihat" ujarnya "kake baru saja mengirimkan ini untuk ku, ini sangat imut kan?"
Dhapne mengangguk kecil. Lalu Arselia memberikan sehelai kertas pada Dhapne.
"Lihat, aku menemukan ini di depan pintu kerja ayahanda, aku tidak mengerti itu apa, apa itu surat cinta? Hihihihi"
Dhapne melotot samar, mengacak rambut Arselia gemas. "Heii, dari mana kau tau kata itu?" Dhapne mengambil kertas di tangan Arselia.
Arselia terkekeh kecil, sambil memainkan boneka nya.
Dhapne mengernyit heran melihat tulisan yang tidak dia mengerti di dalam kertas itu.
"Bahasa apa ini?"
Bersambung...